เข้าสู่ระบบLeo melangkah dengan penuh percaya diri memasuki gedung perusahaan Wijaya Group. Para wartawan langsung mengambil fotonya karena semua orang sudah mengetahui bahwa hari ini adalah hari besar di mana akan diadakan rapat umum pemegang saham untuk menentukan masa depan Wijaya Group. Dan semua tatapan langsung tertuju pada Leo dan auranya yang langsung memikat banyak orang. Gary dan anak buah Leo serta satpam langsung menghalau para wartawan, sehingga Leo bisa melangkah dengan mulus. Namun, tatapan semua orang tetap tidak pernah lepas darinya, apalagi beberapa orang langsung mengenalinya sebagai Leo, mantan asisten Eddy. Penampilan Leo sendiri sudah berbeda dari Leo yang klimis dan berkacamata seperti dulu. Leo yang sekarang sudah melepaskan kacamatanya dan rambutnya pun ditata lebih stylish seperti gaya Leo yang sesungguhnya. Elisa sendiri yang sudah sering melihat gaya baru Leo pun tidak banyak bertanya, tapi Elisa tetap tidak tahu kalau hari ini Leo akan pergi ke Wijaya Group. "B
Bik Imah tidak pernah berpikir Elisa akan mengingat wajah Arman dan Lily yang sudah lama meninggal, apalagi saat itu, Elisa masih kecil. Karena itu, Bik Imah dengan jujurnya memberitahu siapa yang ada di foto itu. Elisa yang mendengarnya seketika membeku. Dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar.Matanya terpaku pada foto usang di tangannya, sementara ucapan Bik Imah terus bergema di kepalanya."Kedua orang itu adalah mendiang orang tua Leo.""Itu ... orang tua Leo ... adalah Om Anton dan Tante Lily?" ulang Elisa terbata. "Mereka ... dulu bekerja sebagai asisten Arman Wijaya dari Wijaya Group?" lirih Elisa lagi. Bik Imah tidak berani menjawab lagi. "Elisa, ini ...." Elisa menyela. "Mereka meninggal dalam kebakaran gudang, kebakaran gudang Wijaya Group. Itu ...." Elisa tidak pernah bisa menyelesaikan ucapannya karena kepalanya mendadak berputar hebat. Dadanya terasa sesak seperti ada sesuatu yang menghimpit kuat.Selama ini, Leo sudah mengetahui fakta itu, tapi tidak pernah
"Kita harus pergi ke rapat pemegang saham sekarang juga, Ayah, ini sudah terlambat." Darmawan akhirnya keluar dari rumah sakit dua hari lalu dan mengurung diri di rumahnya. Ia belum pernah keluar dari rumahnya karena di luar sana ia harus menghadapi tekanan yang lebih besar, apalagi menyangkut kepemilikan perusahaan. "Ayah tidak akan pergi, Arman! Ayah tidak mau melihat wajah-wajah pemilik saham baru itu. Kita hanya punya 10% sekarang! Bagaimana kita bisa bertahan dengan itu?" "Tapi kalau Anda tidak datang, posisi Anda akan semakin kalah, Pak," sahut Wira tiba-tiba. Ya, Wira sudah kembali mengikuti Darmawan. Tentu saja Darmawan masih tetap kesal pada pria itu, tapi tidak dapat dipungkiri, semua yang Darmawan inginkan, hanya bisa diselesaikan oleh Wira. "Aku tidak mau! Aku tidak mau! Sahamku adalah harga diriku!" geram Darmawan lagi. "Ayah, pengacara juga sudah mengatakan tentang ini kan? Kalau Ayah tidak muncul, bisa saja Ayah dilengserkan secara sepihak oleh orang-orang pemegan
Beberapa hari kembali berlalu dan hari ini adalah hari yang Leo tunggu, hari di mana ia akan mengungkap identitasnya yang sebenarnya. Proses pengalihan saham membutuhkan waktu, tapi semuanya sudah selesai. Dan secara resmi, Leo mempunyai 90% saham Wijaya Group, yang itu berarti bisa dikatakan Leo merupakan pemilik baru perusahaan itu. Leo pun bersiap dengan jasnya pagi itu sampai Elisa mengernyit sendiri melihat kekasihnya yang begitu rapi. "Apa ada acara penting sampai kau memakai jas, Leo?" Elisa menatap Leo dengan tatapan kagum. Ini bukan pertama kalinya ia melihat Leo dalam balutan jas karena Leo beberapa kali memakainya dalam acara resmi. Hanya saja, Leo selalu sangat gagah dalam balutan jas. "Ada acara yang sangat penting yang harus kuhadiri. Doakan agar semuanya berjalan lancar." Elisa kembali mengernyit, tapi tidak lama kemudian, ia tersenyum. "Aku selalu berdoa untuk kelancaran usahamu, Leo. Maafkan aku tidak bisa membantu apa pun, tapi aku selalu berharap yang terbaik
"Bagaimana mereka?" Arman bersiap pagi itu, tapi sebelum ia benar-benar pergi, ia menyempatkan diri melihat istri dan anaknya di dalam gudang. "Mereka tidak berhenti berteriak, tapi menjelang malam, tidak ada suara sama sekali." "Buka pintunya!" Pintu terbuka dan cahaya langsung masuk ke dalam gudang. Hilda dan Susan yang masih tertidur pun langsung membuka matanya kaget. "Ibu? Ibu masih sadar, Ibu? Mereka membuka pintunya!" Susan langsung menatap Hilda cemas. Tadi malam, semua lukanya masih baru, walaupun terlihat mengerikan, tapi tidak seseram pagi ini saat semua sudah berwarna ungu kehitaman. Untung saja tidak ada cermin di sana atau Hilda pasti akan berteriak panik. "Ibu tidak apa! Tapi pintunya dibuka? Ayo!" Susan dan Hilda tidur di bagian sudut gudang kemarin malam untuk mencari tempat yang lebih hangat. Dan begitu pintu dibuka, Hilda langsung berusaha berdiri, apalagi saat ia melihat suaminya di sana. "Arman! Arman!" Susan membantunya berdiri dan melangkah mendekati A
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Susan terus memberontak saat dua anak buah Arman memegangi lengannya di kanan dan di kiri. Mereka menyeret Susan keluar dari kamar dan turun ke bawah. "Tolong! Ayah! Jangan lakukan ini padaku!" teriak Susan lagi. Setelah Susan dibaringkan di ranjang oleh Luki tadi, Susan masih terus berakting kesakitan. Bahkan ia sempat memberi kode pada Hilda dan setelah ibunya itu pergi, Susan masih tetap berakting. Pelayan pun datang memberinya air hangat. Luki sempat ingin pergi, tapi Susan terus memegangi tangannya bahkan mencakarnya, seolah begitu kesakitan. Namun, ia melihat jelas bagaimana Luki mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan, entah pada siapa. Yang ia tahu hanyalah tidak lama kemudian, dua anak buah datang dan membuatnya gemetar. Bukan hanya anak buah karena mendadak Arman juga datang entah dari mana. "A-Ayah?" lirih Susan tadi. "Ayah? Sejak kapan aku punya anak sepertimu?" geram Arman. Plak!Arman menamparnya sampai Susan membelalak kaget. Tap
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya







