Share

BAB 22 Hukuman

Author: Endah Tanty
last update publish date: 2026-04-11 19:08:36

Devon menatap dalam Nazha, terlihat jelas di mata Nazha masih tersirat dendam, perlahan diraihnya telapak tangan Nazha, lalu dengan pelan Devon berkata,”jika bukan aku yang menyembuhkan lukamu, waktu yang akan menymbuhkannya,”ujar Devon

Nazha menghela napas pelan, menarik gengaman tanganya dari tangan Devon.”Aku tak yakin, karena luka itu akan membuahkan seorang anak yang akan aku rawat sampai seumur hidupku,”

“Jika bayimu lahir dia akan menjadi penyejuk hati, bukan menjadi beban masa lalu,”bal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • BUTIRAN CINTA DI MALAM PERTAMA   BAB 84 Reymon bebas

    Setelah pembicaraan bersama yang ayah, Vidya menuju kamar Bara, disana terlihat bayi mungil dengan kulit putih bersih sedang terlelap, Vidya mengurai senyum dan mengusap lembut kaki Bara.“Kamu tampan sekali, Bara, seperti ayahmu Devon,”gumam VidyaSuara langkah kaki menuju kamar, Bi Ratmi terlihat diambang pintu,“Non.,,ada tuan Devon di bawah,”ucap Bi Ratmi“Oh..kebetulan sekali, Bi.. siapkan makan siang untuk kami berdua di taman samping, “suruh Vidya“Baik Non.”Vidya melangkah keluar menuju ruang tamu, wajahnya berbinar bahagia menyambut kedatagan Devon.“Aku senang kau datang menemuiku, “ucap Vidya sambil duduk di sofa depan Devon“Aku mendapatkan kabar dari pak Mahesa jika kamu telah kembali ke rumah, itu berarti kamu sudah tahu apa yang sebenarnya membuatku berjanji menikahimu?”“Sudah,”suara Vidya tenang seakan tak terganggu dengan status Devon yang telah beristri“Jadi kamu bersedia menikah dibawah tangan dan menjadi istri keduaku?’“Aku bersedia,Dev, aku juga telah jatuh ci

  • BUTIRAN CINTA DI MALAM PERTAMA   BAB 83 Bersedia Menjadi Istri Kedua

    Devon menghempaskan tubuhnya di bangku, disampingnya duduk Vidya .“Tak seharusnya kamu berada di tempat ini, Vid?”“Iya seharusnya aku menikah denganmu, Meira sangat beruntung menikah denganmu,”sahut vidya“Bahkan Meira pun tak seberuntung kamu, setidaknya mentalmu terguncang tapi kamu masih kuat menghadapi hidup sedangkan Meira entah beban apa yang ia tanggung sampai akhirnya memilih mengahkhiri dirinya sendiri,”ungkap Devon pelan“Maksudmu, Meira bunuh diri?”“Betul, Meira mengakhiri hidupnya sebelum kami menikah,”jawab DevonVidya tertunduk, sesaat ia terlihat sedih, lalu menatap dalam ke arah Devon“Lalu kenapa kamu menemuiku?”Devon menoleh ke arah Vidya, bibirnya terasa kelu.”Heumm aku ingin kamu sembuh Vid,”jawab Devon“Aku sembuh jika kamu mau menikah denganku,”Helaan naps terdengar dari bibir Devon.”kamu masih terobsesi padaku Vid?”“Entah itu obsesi atau cinta aku menginginkan dirimu,”jawab VidyaSesaat mereka terdiam, tanpa sepengetahuan Vidya,dokter dan seorang perawat s

  • BUTIRAN CINTA DI MALAM PERTAMA   BAB 82 Kesepakatan

    Devon berdecak kesal, sambil membuang muka“Permintaan Anda sungguh di luar batas, menikahi Vidya sama saja membangun gunung es yang pasti akan mencair , itu sama saja sia-sia,”jawab Devon“Hanya itu tawaranku Devon, atau Bara akan menjadi anak angkatku selamanya, lihatlah aku sudah mengadopsi Bara, secara legal, perlu waktu lama untukmu mengugatnya dan selama dia masih dalam gengamanku, aku bisa berbuat apa saja pada bayi mungil itu, akan sangat mudah melenyapkannya, dengan dalih sakit, iya kan?”“Anda sungguh biadap jika melakukan hal itu,”“Aku tak peduli, aku hanya pria tua yang menginginkan putri satu-satu sembuh, “timpal Mahesa serius.Devon terlihat marah tatapan menajam, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara ponselnya yang bergetar dan berdering.Devon memgangkat ponsel, pangilan dari mbok War“Hallo mbok,”sapa Devon“Tuan, Non Nazha pingsan, saya sangat khawatir , keadaan memburuk, “jawab mbok War bernada cemas.“Aku akan segera pulang,”Devon dengan cepat menutup ponsel dan ba

  • BUTIRAN CINTA DI MALAM PERTAMA   BAB 81 Tuntutan

    Bibi Ratmi mengendong Bara.”Bagaimana ini tuan, apa kita harus mengembalikan Bara?”“Tidak Bi Ratmi, aku tidak akan mengembalikan Bara, setidaknya tidak semudah itu Bara kembali pada orang tuannya. Lihatlah siapa ayah dari Bara, apa kamu lupa pria itu?”Ratmi menajamkan penglihatanya di layar televisi, ia langsung membelalakan matanya“Ya ampun itu tuan Devon, pria yang membuat non Vidya depresi berat,”ujar Ratmi“Ini kesempatanku untuk membalas Devon, dia harus bertanggung jawab gara-gara dia Vidya puriku mengalami depresi.”Mehesa berkata dengan nada tegas.Mahesa melangkah menuju ruang kerjanya, lalu menelepon seorang pengacara, ia berencana, mengadopsi Bara, secara legal.Senyum kemenangan timbul di bibir Mahesa, pria tengah baya itu merencanakan sesuatu.“Mungkin ini saatnya Vidya sembuh dari depresinya,”gumam Mahesa menatap foto didrinya dan VidyaMahesa pun memutuskan untuk mengunjugi rumah sakit jiwa , tempat selama tujuh tahun ini Vidya dirawat.“Bagaimana perkembangan putrik

  • BUTIRAN CINTA DI MALAM PERTAMA   BAB 80 Ada Dendam Seseorang

    Devon dan Yuni pergi meninggalkan perkebunan karet, menuju sebuah pemukiman yang berjarak 200 meter dari perkebunan, Devon turun dari mobil, dan mulai menanyakan pada warga.“Apa warga disini, ada yang menemukan bayi, siang tadi diperkebunan karet?”tanya Devon“Para pekerja satu minggu ini libur, jadi disana sepi, aku rasa jika ada seseorang yang menemukan pasti sudah lapor pada ketua RT setempat,”jawab warga dengan sangat yakin“Heumm “desahan kecil, Devon putus asa, apa yang dikatakan warga ada benarnya, jika ada yang menemukan pasti sudah diserahkan ke kantor polisi.Yuni terdiam, merasa bersalah, apalagi melihat Devon yang sedih dan cemas, deringan ponsel, terdengar membuat Devon enggan mengangkat pangilan dari Nazha“Haloo Naz…kami belum menemukan Bara,”ucap Devon“Dev..kamu harus menemukan Bara,”mohon Nazha terdengar tangisan yang menyayat hati“Aku akan berusaha, “jawab Devon“Aku bisa mati jika kamu tak bisa menemukan anakku,”rengek Nazha“Maafkan aku Naz, aku pasti akan berus

  • BUTIRAN CINTA DI MALAM PERTAMA   BAB 79 Menghilang

    BAB 79 MenghilangYuni duduk di jok belakang taksi, sambil memangku Bara yang kini terlelap.“Baguslah kamu tidur, lebih memudahkan aku untuk membuangmu, kamu tak pantas menjadi bagian dari keluargaku, anak haram, bahkan kami tak tahu benih apa yang ada didalam dirimu,’batin Yuni dengan kebencian yang teramat sangat.Sementara itu baby sister yang sudah selesai makan, mencari keberadan Bara dan Yuni, semua ruang dalam rumah dicarinya tapi Yuni tak didapatinya, hingga langkahnya menuju luar rumah, halaman depan ,halaman samping dan belakang tetap saja tak didapatinya Yuni dan Bara, lalu baby sister itu menuju pos security depan.“Apa kamu melihat Nyonya Yuni?”“Ohh..setengah jam lalu ia keluar dengan Bara, naik taksi,”jawab sang security“Kemana?”“Katanya mau berobat , Bara, lagi demam,”jawab security dengan tenang“Demam? Bara tidak demam,”sahut baby sitter bingung“Coba aku hubungi Nyonya Yuni dan menanyakannnya,”Security meraih ponsel, dan menghubungi Yuni, tapi ponsel Yuni tida

  • BUTIRAN CINTA DI MALAM PERTAMA   Bab 34 Senjata Makan Tuan

    Sehariaan penuh rombongan Devon dan Salma berkerja, semua perencanan pembangunan dibahas hari itu juga, hingga menjelang malam mereka baru selesai, Devon memutuskan untuk kembali ke Jakarta esok hari karena hujan lebat saat itu pasti perjalanan akan berisiko.“Kita menginap lagi malam ini !”perinta

  • BUTIRAN CINTA DI MALAM PERTAMA   Bab 33 Duri Dalam Mawar

    Dimas menatap Sheren dan Devon yang sedang makan malam, entah kenapa perintah dari Salma untuk pertama kalinya Dimas engan melakukannya.Hembusan napas terdengar dari bibir Dimas, usai makan malam ia mencari udara segar disekitar resort, teringat akan perintah Salma untuk mencari celah kesalahan S

  • BUTIRAN CINTA DI MALAM PERTAMA   Bab 32 Hotel Meira

    Dengan kesal Laras meningalkan apartemen Nazha, wajahnya merah padam memendam rasa marah atas semua perkataan Nazha.“Awas kamu Naz…sombong sekali dirimu, aku akan membuatmu diusir Devon seperti ibumu diusir ayahmu ,”gerutu Laras kesalSementara itu setelah Laras meninggalkan apartemen, Nazha duduk

  • BUTIRAN CINTA DI MALAM PERTAMA   Bab 31 Bagai Cenderela

    Andi duduk disofa, Sheren membawakannya secangkir kopi, keduanya mulai berbincang.“Minggu depan aku dan Pak Devon akan meninjau lokasi yang akan diirikan hotel di daerah puncak Bogor,”’ujar Andi”Apa kamu juga akan ikut?”tanya Sheren“Pastilah aku ikut, ““Kalau begitu, aku juga ikut, bolehkan?’

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status