MasukLisa, Perempuan mandiri yang sudah lim tahun menjadi istri Riko. Lima tahun menikah namun Lisa dan Riko belum juga dikarunia keturunan. Suatu hari Lisa mengikuti mobil Riko yang tidak sengaja dilihatnya di jalan. Lisa mengikuti Riko karena merasa ada seseorang yang sedang bersamanya. Setelah diikuti kemana perginya mobil Riko, Lisa mendapati jika Riko pergi ke rumah Ibunya, mertua Lisa. Lisa sangat kaget saat tahu jika ternyata Riko telah menikah siri dibelakangnya. Bahkan istri siri Riko saat ini juga sedang hamil. Lisa merasa sangat kecewa juga dengan kedua mertuanya yang ternyata juga telah mengetahui pernikahan siri Riko. Lisa merasa dikhianati oleh keluarga Riko. Dia lalu menceritakannya pada kedua sahabat baiknya. Namun sangat di sayangkan juga jika salah satu dari sahabat Lisa ternyata juga mengetahui pernikahan siri Riko dan menyembunyikan kebenaran itu dari Lisa. Lisa yang merasa dikhianati juga oleh sahabatnya kemudian memilih untuk mengakhiri persahatan itu. Entah kenapa dia jadi merasa jika tidak ada orang yang bisa dipercaya selain dirinya dan kedua orang tuanya. Lisa akhirnya menyuruh Papanya selaku bos perusahaan di mana mertua laki-lakinya bekerja memecatnya. Keluarga Riko pada akhirnya meminta maaf dan menyesali perbuatan mereka. Namun nasi sudah menjadi bubur. Lisa tidak ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Riko. Laki-laki yang dulu sangat dia cintai.
Lihat lebih banyak"Kenapa kau tega? Kau tega melakukan hal itu?!" Bentak gadis berambut coklat panjang.
"Amanda, Dengarkan aku! Dengarkan penjelasan ku!" Sahut pemuda yang ada di depannya. "Dia sahabatku, Bobby! Sahabatku!! Dan, kau? Kau adalah tunangan ku! Kenapa begitu mudahnya kau tidur dengannya?!" "Itu sebuah kesalahan, Amanda!" Amanda mendengus. "Kesalahan? Hingga dia hamil, kau sebut itu kesalahan? Lalu, kau akan minta maaf padaku? Dan, berharap aku melupakan semuanya?" "Aku akan menyelesaikan masalah ini. Kau jangan khawatir." Bobby membalik badan, berniat untuk pergi. "Bagaimana caranya? Kau akan menggugurkan kandungannya? Kau akan membunuh darah dagingmu?" "Itu masih janin!" Kata Bobby, seraya menghadap Amanda. Amanda kembali mendengus. "Hanya janin? Wah, aku benar-benar tak menyangka.. lelaki yang ingin ku nikahi ternyata lebih busuk dari berton-ton sampah yang berada di tempat pembuangan!" "Lalu, apa yang harus aku lakukan?!" "Kenapa kau tanyakan itu padaku?!" "Kau.. ingin aku bertanggung jawab?" Amanda bungkam. Bernafas berat. "Kau ingin aku menikahi dia?" Sekali lagi Bobby bertanya. Amanda tetap diam. Kali ini Bobby berjalan mendekatinya. "Tatap mataku, Amanda! Haruskah aku melakukan itu?" Mata memerah Amanda yang dibanjiri air mata, menatapnya. "Ini akhir dari hubungan kita, Bobby." "Kau tidak mencintaiku?" "Tidak." "Kau bohong. Matamu mengatakan kau bohong." Amanda kembali bungkam. "Jika memang kau sudah tak mencintaiku, maka biarkan aku membuktikannya." "Apa-" Belum selesai Amanda berbicara, Bobby dengan cepat mencium bibirnya. "Lihat.. hatimu masih berdebar untukku," kata Bobby. Riuh tepuk tangan terdengar saat kata-kata itu diucapkan. Panggung menjadi gelap. Pertunjukan teater satu setengah jam itu selesai untuk hari ini. Dua kali pertunjukkan dari tujuh hari, di gedung yang tidak begitu besar juga terapit dua gedung lainnya. Meski, panggung mereka hanya sebesar sepuluh langkah kaki, tapi kelompok teater mereka cukup terkenal di kota itu. Diara adalah ketua kelompok teater yang biasa disebut "A Little Big". Dia juga yang memerankan sosok Amanda bersama sang kekasih, Hara. Keduanya selalu menjadi pemeran utama dalam cerita yang dikarang oleh Diara. Tidak ada yang protes selama ini.. kecuali, "Aku juga ingin mencoba peran utama," kesal gadis berambut bob pendek. "Kalian tidak bosan? Melihat Diara menjadi pemeran utama wanita selama berbulan-bulan?" Mereka yang berkumpul di dekatnya hanya diam. Ada sebagian yang menggeleng. "Ayolah, jangan takut. Meski, Diara ketua kelompok kita, tidak seharusnya dia mengambil peran utama itu secara menerus! Aku yakin para penonton akan bosan melihatnya! Mereka juga ingin melihat sesuatu yang baru." "Kau benar," sahut Diara, yang berjalan dari arah belakang gadis bermata lebar itu. "Setelah kita menyelesaikan cerita "Janji Tuhan" ini, kau akan menjadi pemeran utamanya, Mila." "Ide bagus. Kita juga bisa mengadakan audisi untuk pemeran yang lainnya," sahut Hara. "Kau yakin? Aku bisa jadi pemeran utamanya?" tanya Mila, melirik Diara. "Kata-katamu sangat meyakinkan tadi. Kenapa kau sekarang jadi tidak percaya diri?" Mila berdeham. "Baiklah. Aku pasti bisa." Diara tersenyum. "Baiklah, kerja bagus untuk hari ini. Kalian boleh berkemas. Ingat, dua hari lagi kita latihan seperti biasa." Mereka kompak menjawab, lalu semburat pergi. "A Little Big" terbentuk sejak lima tahun yang lalu. Selaras dengan usia hubungan Diara dan Hara. Kelompok itu terbentuk karena keduanya. Sama-sama menyukai akting. Itu satu sebabnya. Sekalipun tiket belum pernah terjual habis, tapi keyakinan mereka kuat, jika suatu saat mereka akan banyak disorot oleh banyak kamera. "Kau tidak ingin mampir?" tanya Diara, sesaat setelah turun dari motor Hara. "Lain kali saja. Kita sama-sama lelah. Lebih baik kita cepat beristirahat." "Baiklah." Diara melepaskan helm, menyerahkan pada Hara. Menyisir rambut coklat blonde panjangnya dengan jemari. "Hara.. kau tidak lupa kan?" "Apa?" "Lima hari lagi.." "Lima hari lagi? Ada apa?" "Ck! Ya sudahlah, cepat pergi." Hara tertawa. "Tentu saja aku ingat, sayang. Pesta pernikahan kita, kan?" Diara tersenyum malu, mencubit pelan lengan sang kekasih. "Cepat pergi." Deru motornya terdengar kencang, lalu perlahan menghilang. 9 Hari Kemudian Diara gelisah, berjalan kesana-kemari, menggenggam ponselnya. Para anggota teater hanya mendesah singkat seraya menatapnya. "Sebenarnya kemana dia? Aku pergi ke rumahnya, tidak ada. Di rumah teman-temannya juga tidak ada." Diara dan Hara memang sudah menikah secara Agama. Namun, secara hukum—mereka belum terdaftar. Karena itu, mereka belum tinggal dalam satu atap. "Mila juga tidak datang beberapa hari ini," sahut Randy, salah satu anggota. "Diara.. coba lihat ini," kata Selly, anggota yang lain juga sahabat Diara. Selly menunjukkan sebuah foto di akun SNS Mila. Foto yang cukup membuatnya mengernyit lalu melebarkan mata. "Antar aku ke apartemen Mila." Beberapa puluh menit kemudian, keduanya turun dari taksi. Berjalan masuk ke sebuah gedung apartemen. Masuk ke dalam lift dan pergi ke lantai 6 kamar 307. Sembari menekan bel, raut wajah Diara sangat terlihat gelisah. "Tidak mungkin.. ini tidak mungkin." Dia meyakinkan dirinya sendiri. Bel terus berbunyi, namun sang pemilik kamar tak kunjung membuka pintu. Dengan garangnya, jari telunjuk Diara tak henti membunyikan bel, hingga Mila membuka pintu. "Diara?? Kau-" "Minggir!" Diara mendorong Mila ke samping. Berhenti sejenak menatap sepasang sepatu yang tak asing baginya. Sepatu yang sama, yang ia lihat di akun SNS Mila. Sepatu yang sama, yang ia berikan pada laki-laki tersayang, di hari ulang tahunnya. Tanpa melepas sepatunya, dia masuk ke dalam dengan nafas memburu. Lalu berhenti seketika. "Kenapa kau disini?" Tanya Diara. Laki-laki berponi tersebut terkejut dan berdiri dengan cepat. "Diara? Kenapa kau ada disini?" "Jawab pertanyaan ku! Kenapa kau ada disini?!" "Aku-" "Kau tidur dengannya?" "Apa?" "Kau tidur dengan gadis brengsek itu?!" "Diara.. dengarkan aku." "Jangan membuat alasan, jawab saja pertanyaan ku!!" Mata Diara memerah, melihat tak tentu arah. Tak sengaja, ia melihat sebuah alat yang hanya wanita bersuami yang memilikinya. Dia mengambil alat tersebut. Terkesiap saat dua garis merah terpampang di alat itu. "Kau.. menghamilinya?" ** Diara menangis di dalam kamarnya, yang gelap. Membiarkan TV yang menyala, dengan kebisingannya. "Rasanya.. Aku ingin memutar waktu saja. Andai, aku bisa kembali pada masa ketika belum bertemu dengan laki-laki brengsek itu—aku ingin menjauh darinya." Air mata Diara terus menetes tanpa henti. Ia menundukkan kepala. Di detik selanjutnya, ia mengangkat kepala. Melihat ke arah TV. Di mana, film favorit dirinya bersama Hara, tengah di putar. Film jadul tahun 1991, dengan genre komedi. Kesedihan semakin memuncak. Ia turun dari ranjangnya. Berjalan perlahan, mendekati TV. Jemarinya bergerak pelan, menyentuh tabung TV. Dan—lampu berkerlap-kerlip. Diara tersedot masuk. ** Pasar rakyat di pinggiran kota itu sangat ramai pengunjung. Lampu dari setiap wahana berkerlap-kerlip. Warna-warni. Gulali kapas. Gorengan. Martabak telur. Mainan plastik. Kios kaset radio. Musik dari salah satu penyanyi ternama kala itu terdengar keras. Jenuh aku mendengar.. Manisnya kata cinta Lebih baik sendiri Bukannya sekali Sering ku mencoba Namun, ku gagal lagi.. -Nike Ardila, Bintang Kehidupan- Usianya baru 14 tahun, tapi dia sudah terkenal di mana-mana. Tapi, sayang keberuntungan hidupnya tak seperti keberuntungannya di dunia musik. Ia meninggal dalam kecelakaan saat usianya masih terbilang sangat muda. Langit di bulan Juni terlihat cerah. Bintang tersebar. Gugusan bintang beberapa terlihat. Musim kemarau tahun ini cukup membuat kerongkongan selalu kering. Pun daun-daun banyak yang berubah cokelat. Bunyi deru motor yang buas memekakkan telinga. Ngeri. Tapi, banyak orang yang melongokkan kepala melihat. Memegang erat pembatas kayu di depannya. Agar tidak jatuh ke bawah. Sementara sang pengendara motor berputar-putar pada tembok kayu di depan penonton. Dari bawah, memutar ke atas. Begitu mencapai puncak, penonton mengibar-ibarkan selembar uang kertas yang nantinya akan diambil oleh si pengendara. Seru. Orang-orang menyebutnya tong edan. Di luar, anak kecil merengek meminta dibelikan balon pada ayahnya. "Kau, kan tadi sudah beli pistol." "Aku mau balon. Pokoknya, aku mau balon biru." Anak itu menangis kencang. Si Ayah hanya mendesah panjang, menggandeng tangannya. Diara muncul dari balik Ayah dan anak tersebut. Mengedarkan pandangan. "Di mana aku?" gumamnya. Sementara itu, dari belakang Diara— ada seseorang berlari cepat. Menyenggol bahu Diara. Untuk sesaat mereka saling bertatap muka. "Randy?" gumamnya, dengan mengernyitkan dahi. Seseorang itu kembali berlari. Diara pun mengikutinya. Rambut pendek rapi seseorang itu, basah karena keringat. Entah berapa lama dia berlari. Mimik wajahnya, tampak takut. Dia terus berlari hingga menjauh dari pasar rakyat. Berlari ke jalanan yang sudah sepi. Berhenti di telepon umum, pinggir jalan. Merogoh kantung celananya dengan gemetar. Memasukkan koin pada lubang di atas angka. Menekan beberapa nomor setelah itu. Matanya melihat sekitar. "Halo.. Siapa ini?" Suara pria di seberang telepon menjawab. "Ya-yang di katakan Sinta benar. Sepertinya, detektif itu berbohong. Sinta tidak bunuh diri. Tapi, dibunuh!" "Apa maksudmu? Kau di mana sekarang?" Pria yang mengenakan kacamata itu diam. Terbelalak. Melihat seseorang berdiri, di bawah penerangan jalan. Separuh wajahnya tertutup kain hitam. Tangannya memegang sebuah golok. Ia menelan ludah berat. Berlari kemudian. Meninggalkan gagang telepon yang menggantung ke bawah. Angin dingin malam, tak membuat tubuhnya segar. Keringat terus menetes di pelipisnya. Kini ia bersembunyi di belakang gedung bioskop yang sudah sepi. Menangkup mulutnya rapat-rapat. Air matanya terbit. Otot merah halus di matanya mulai terlihat. Nafasnya sangat gugup. Terdengar suara khas sebuah besi yang di gesekkan pada tembok. Mengerikan. Pria itu mulai menangis dalam diam. "Tolong. Jangan kesini. Jangan kesini," katanya dalam hati. Siulan tak bernada menambah kengeriannya. Dia semakin menekuk tubuhnya. Dan sunyi. Tiba-tiba saja, suara-suara itu menghilang. Bola matanya bergerak tak jelas. Memasang telinga. Mungkin saja, terdengar langkah kakinya. Tapi, tidak terdengar apa pun. Dia memejam takut. Meyakinkan diri, kalau si pengejar sudah berlalu pergi. Diangkat tubuhnya perlahan. Selangkah. Lagi selangkah. Si pengejar yang akan menjadi malaikat mautnya itu, mengulurkan kepala. Menatap pria itu. Pria tersebut berteriak. Melangkah mundur. Terjebak. "Sebenarnya, siapa kau?! Kenapa kau mengincar ku? Apa salahku?!" Si pengejar yang mungkin saat ini bisa di sebut sang pembunuh terus melangkah maju. Tanpa bicara. "Tolong, jangan lakukan ini. Maaf, kalau aku ada salah denganmu. Aku, mohon lepaskan aku." Si pembunuh justru memegang erat-erat gagang golok. Di ayunkan nya golok tersebut. Bersamaan dengan teriakan menggema dari pria itu. Darah segar mengalir begitu cepat. Melewati sepatu putih dengan garis 3 warna milik si pembunuh. 2 biru dan 1 merah, di dekat talinya. Pria itu tergeletak dengan mata terbuka. Lehernya hampir putus. Diara terkesiap. Menutup mulutnya dengan kedua tangan. Berjalan mundur. Dan, menabrak tembok, yang di tempeli poster. Lalu, menghilang. Keesokan harinya, gempar seluruh kota. Pembunuhan dengan cara yang sama. Di gorok lehernya menjadi pemberitaan hangat. Kali ketiga, pembunuhan seperti ini terjadi. Dalam kurun waktu 3 minggu.Hari ini sepulang dari salon, aku pergi ke rumah Mila. Aku merasa khawatir dengan salah satu karyawan salonku itu. Tidak bisanya dia begini. Dia selalu menghubungiku jika ada urusan ataupun saat dia sakit. Tapi kenapa kali ini tidak? Hari ini aku akan menyelesaikan dulu soal Mila. Lebih baik aku menghubungi bapaknya mas Riko dan mengatakan apa yang sedang anaknya itu perbuat pada istri sirinya. Ku ambil ponselku kemudian menghubungi nomer pak Beni. Nomer yang sengaja tidak kuhapus sampai saat ini. Tut...tut...tut... Panggilanku segera terhubung ke ponsel mantan bapak mertuaku itu. Tak perlu menunggu waktu lama, bapak segera menjawab panggilan dariku. "Halo, Lisa. Ada apa? Tumben sekali kamu menghubungi bapak. Pasti ada hal yang penting kan?" tanya bapak. "Iya, Pak. Ada sesuatu yang harus bapak tahu," balasku. "Apa, Lisa? Apa ini ada hubungannya dengan Riko?" "Iya, Pak. Mas Riko menyekap tante Laras, istri siri bapak," lanjutku. "Kamu serius, Lisa? Bukankah Laras bilang akan
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih seperempat. Kubuka pintu gerbang rumah kemudian mengeluarkan motor butut kesayanganku. Hari ini aku akan pergi ke salon. Sudah lama aku tidak ke salon semenjak proses perceraianku dengan mas Riko. Kunyalakan motor butut itu kemudian langsung berangkat menuju salon. Tiga puluh menit perjalanan akhirnya aku sampai juga di salon. Kulihat salon sudah ramai pelanggan. "Selamat pagi, Bu," sapa Eni. "Pagi, En." Aku melihat karyawan salonku satu persatu. Namun aku tidak melihat Mila sama sekali. "Di mana Mila, En?" tanyaku pada Eni. "Mila nggak datang, Bu." "Loh sejak kapan?" "Dua hari yang lalu," jawab Eni. "Loh kok nggak ada yang kasih tahu saya? Apa dia sakit?" tanyaku. "Saya nggak tahu, Bu. Dia nggak menghubungi saya juga soalnya," balas Eni. "Oh begitu, makasih ya, En." "Iya, Bu. Kalau begitu saya lanjut kerja lagi ya," kata Eni. Aku segera masuk ke dalam ruanganku untuk menghubungi Mila. Gara-gara banyak masalah yang terjadi
"Hai, Tante," sapaku pada tante Laras. "Halo, Sayang," balas tante Laras. "Maaf ya udah bikin tante menunggu," lanjutku. "Nggak papa, Sayang. Tante juga baru saja datang kok. Justru tante yang minta maaf karena sudah menganggu waktumu," ujar tante Laras kemudian."Aku nggak merasa terganggu sama sekali, Tante. Aku justru senang jika tante berkenan menceritakan masalah tante padaku," jawabku. Tante Laras kemudian mulai menceritakan hubungannya dengan pak Beni. "Apa menurutmu hubungan tante dengan mas Beni harus diakhiri saja ya, Lis?" tanya tante Laras padaku."Kenapa diakhiri, Tante? Bukankah kalian sama-sama saling menyayangi?" "Itu benar. Tapi tetap saja pernikahan kita hanyalah pernikahan siri yang tidak diakui oleh negara. Tidak lebih dari itu," ungkap tante laras."Memangnya apa salahnya menikah siri jika kalian sama-sama merasa nyaman?" kataku berusaha membuat tante Laras tetap semangat. Bukan membenarkan pernikahan siri ini, namun aku hanya tidak ingin membuatnya sedih. A
Ponselku berdering saat aku hendak memejamkan mata. Saat kulihat ternyata sebuah panggilan masuk dari tante Laras. "Ada apa dia menghubungiku malam-malam begini?" gumamku.Merasa penasaran kenapa dia menghubungiku malam-malam begini, aku pun langsung menjawab panggilan dari tante Laras."Halo, Tante," kataku memulai obrolan."Hai, Lis. Lagi ngapain?" tanya tante Laras."Lagi mau tidur nih, Tante. Ada apa Tante menghubungiku malam-malam begini?" tanyaku kemudian."Tante ganggu ya?" tanya tante Laras."Nggak kok, Tante. Tenang saja," sambungku."Sebenarnya Tante mau cerita sama kamu. Apa kamu nggak keberatan dengerin cerita Tante?" tanya tante Laras setelah itu."Cerita soal apa, Tante?" tanyaku."Soal hubungan tante dengan mas Beni," jawab tante Laras setelah itu."Kenapa memangnya dengan hubungan kalian?""Tante mau kita ketemu saja ya besok. Bisa nggak kira-kira, Lis?" tanya tante Laras."Em sebenarnya aku mau ke salon sih, Tante. Tapi nggak papa deh. Ke salonnya bisa lusa saja," j
Ponselku berdering beberapa kali saat aku sedang mandi. Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari nomer baru dan satu pesan dari nomer tersebut. Kubuka isi pesan itu setelah selesai mandi. Ternyata pesan dari ibu mas Riko. Aku sudah menghapus nomernya ternyata.(Apa masalahmu pada Riko sebenarnya? Kamu
"Kamu nggak perlu takut, Ria. Kamu harus melaporkan perbuatan mas Riko padamu," tuturku setelah Lidia berhasil membawa Ria ke rumah orang tuaku."Apa bu Lisa bisa jamin jika saya dan keluarga saya akan aman?" tanya Ria."Saya yang akan menjaminnya. Kamu tidak perlu khawatir begitu, Ria. Saya paling t
Hari ini sidang perceraian kedua ku akan dilaksanakan. Kali ini mama dan papa yang akan mengantarkanku ke pengadilan."Bagaimana, Lis? Sudah siap?" tanya mama melalui sambungan telepon."Sudah, Ma. Bentar lagi aku akan berangkat. Kita ketemu di sana saja ya," jawabku."Oke," jawab mama.Setelah menelepo
"Bagaimana rasanya dihianati oleh suami sendiri, Bu? Sakit nggak?" tanyaku."Dari mana kamu tahu? Jangan-jangan ini semua rencanamu ya, Lisa?!" tanya Ibu kemudian."Seharusnya ibu berterimakasih padaku karena sudah menunjukkan kelakuan pak Beni di belakang Ibu. Ibu kan jadi tahu kalau ternyata selama












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan