Share

Bangkitnya Dokter Agung
Bangkitnya Dokter Agung
Author: Skyy

Bab 1

Author: Skyy
last update publish date: 2025-09-22 16:43:12

Aroma parfum mahal dan anggur terbaik berbaur di udara, menjadi musik latar bagi denting gelas kristal dan tawa renyah para elite kota. Di dalam aula utama Hotel Movi yang bermandikan cahaya keemasan, setiap sudut adalah panggung kekuasaan. Karpetnya begitu tebal hingga mampu meredam suara langkah, seolah hanya bisikan transaksi miliaran rupiah yang pantas terdengar di sini.

Di tengah kemewahan itu, Harris Gunawan berdiri seperti sebuah sketsa usang yang salah tempat. Setelan jas murah yang dipinjamnya tampak kusam di bawah lampu gantung megah, dan kerahnya sedikit berjumbai. Lima tahun di balik jeruji besi telah mengikis semua cahaya dari dirinya, meninggalkan sepasang mata yang terlalu dalam dan diam. Dia tidak bisa bicara. Jerat kawat panas yang membakar pita suaranya di penjara telah memastikan itu.

Pandangannya terkunci pada dua sosok di panggung kecil di ujung aula. Sera—istrinya, dan Simon—sahabatnya. Tatapannya kosong, dipenuhi dengan keterkejutan yang mendalam.

Sera dalam balutan gaun malam berwarna merah darah yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, tampak seperti dewi. Di sisinya, Simon tersenyum puas, satu tangannya melingkari pinggang Sera dengan posesif. Mereka adalah raja dan ratu malam ini.

"Harris, aku tidak menyangka kau punya nyali untuk datang," bisik sebuah suara di sampingnya.

Harris menoleh. Itu Sera. Entah sejak kapan wanita itu sudah turun dari panggung dan berdiri di hadapannya. Senyum di bibirnya indah, namun matanya sedingin es.

"Lihat dirimu," lanjutnya, suaranya pelan agar hanya Harris yang mendengar, namun setiap katanya adalah tamparan. "Seorang narapidana yang bau terasi, berani menginjakkan kaki di perayaanku? Kau tahu, jas yang kau pakai itu bahkan tidak seharga satu botol anggur di meja sana," timpalnya seraya melirik ke arah meja nomor 8.

Harris mengepalkan tangannya di dalam saku. Jantungnya berdenyut nyeri, seolah diremas oleh tangan tak kasat mata. Dia ingin berteriak, ingin memaki, ingin menanyakan kenapa. Tapi yang keluar dari tenggorokannya hanyalah sunyi. Keheningan yang memuakkan.

"Oh, aku lupa," Sera terkekeh pelan, sebuah suara merdu yang kini terdengar mengerikan. "Kau bahkan tidak bisa memohon lagi, ya? Mesin jahit kecilku yang malang."

Dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, aroma manis parfumnya menusuk hidung Harris. "Dengar, Harris. Semua aset keluargamu, semua yang kakekmu bangun, sudah kujual. Ludes. Sekarang kau bukan siapa-siapa. Hanya pecundang bisu yang tidak punya apa-apa."

Dunia Harris seakan runtuh untuk kedua kalinya. Lima tahun lalu, dia menyerahkan segalanya pada wanita ini atas nama cinta, masuk penjara untuk menutupi kesalahannya. Dia pikir pengorbanannya akan dihargai. Betapa bodohnya.

Amarah, panas dan membara, akhirnya meluap. Dia menatap Sera dengan tatapan membunuh, mengambil satu langkah maju.

"Eits, mau apa kau?" Suara Simon memotong. Pria itu kini berdiri di antara mereka, senyum mengejek terpasang di wajahnya. "Jangan galak begitu, sobat. Kau harusnya berterima kasih padaku."

Simon merangkul bahu Harris dengan sok akrab, cengkeramannya terasa menyakitkan. "Istrimu kesepian selama kau pergi. Kalau bukan aku yang dengan baik hati menemaninya... yah, kau tahu, kan? Bahkan di malam pernikahan kalian saat kau mabuk seperti babi, akulah yang menunaikan ‘tugas’mu."

Tawa pecah di sekitar mereka. Beberapa tamu yang mendengar percakapan itu mulai menatap dengan senyum sinis. Badut pertunjukan telah tiba.

Cukup.

Sebuah raungan tanpa suara meledak di dalam dada Harris. Logika lenyap, digantikan oleh insting murni untuk menghancurkan. Dia menerjang maju, meninju wajah Simon yang terkejut.

Tapi itu hanya satu pukulan. Simon yang tubuhnya lebih besar dan terawat, segera membalas. Sebuah bogem mentah menghantam rahang Harris, membuatnya terhuyung. Sebelum dia bisa kembali seimbang, Sera bergerak.

KRAAK!

Nampan logam berisi gelas kosong diayunkan dengan kekuatan penuh ke belakang kepala Harris. Rasa sakit yang tajam meledak, diikuti oleh sensasi hangat dari darah yang merembes ke rambutnya. Pandangannya kabur, dan lututnya lemas. Dia jatuh ke karpet tebal, suara tawa di sekelilingnya terdengar menjauh.

"Aku akan memberitahumu satu rahasia lagi, anjing," desis Simon, berjongkok di sampingnya. Bau alkohol dari napasnya membuat Harris mual. "Semua 'kecelakaan' yang kau alami di penjara? Pisau di punggungmu, kawat panas di lehermu? Itu semua ide cemerlang Sera. Kami tidak menyangka kau bisa selamat. Tapi lihatlah, kau jadi bisu. Hasil yang cukup bagus, bukan?"

Sambaran petir. Itulah rasanya.

Pengorbanan, harapan, cinta... semuanya ternyata hanya lelucon kejam yang mereka rancang. Air mata panas bercampur dengan darah mengalir dari pelipisnya. Dia tidak membenci mereka. Dia membenci dirinya sendiri.

"Buang sampah ini," perintah Simon kepada petugas keamanan.

Tubuh Harris diseret tanpa perlawanan, melewati tatapan-tatapan menghina, dan dilempar ke gang belakang hotel yang gelap dan basah. Hujan mulai turun, dingin dan menusuk, membersihkan darah dari wajahnya, namun tidak bisa memadamkan api di dalam jiwanya.

Dia terbaring di selokan yang bau, air hujan yang kotor merembes ke dalam lukanya. Seekor tikus melintas di dekat kakinya. Dia tidak peduli. Dia hanya menatap langit kelabu, sebuah tekad yang mengerikan mulai terbentuk di dalam hatinya yang hancur.

‘Aku tidak akan mati di sini. Aku akan kembali. Dan aku akan mengambil semuanya.’

Saat kesadarannya mulai memudar, sepasang lampu mobil yang menyilaukan menembus kegelapan gang. Sebuah Bentley hitam berhenti dengan anggun. Pintu belakang terbuka, menampakkan sepasang kaki jenjang berbalut stoking sutra hitam, diakhiri dengan sepatu hak tinggi berwarna biru malam.

Seorang wanita dengan aura sedingin es keluar dari mobil. Gaunnya yang pas di badan tidak bisa menyembunyikan postur tubuhnya yang sempurna. Di tengah hujan lebat, wajahnya tetap tenang, seolah dunia di sekelilingnya tidak berarti.

"Nona, dia—" seorang pengawal berpayung mencoba bicara.

"Diam," potong wanita itu, suaranya tajam namun merdu. Dia melangkah mendekat, air hujan membasahi ujung gaunnya. Matanya yang tajam menatap wajah Harris yang babak belur. "Jadi, ini tunangan yang Kakek pilihkan untukku? Pewaris keluarga Gunawan... berakhir seperti ini?"

Ada nada keraguan dalam suaranya, tapi kemudian matanya menangkap kilau samar dari balik kemeja Harris yang robek. Sebuah liontin giok. Sama persis dengan yang melingkar di lehernya.

"Bawa dia," perintahnya dengan dingin. "Ke kamarku."

Saat Bentley itu melesat menembus malam, tak ada yang menyadari bahwa di gang kotor itu, takdir baru saja memutar rodanya. Sang Dokter Dewa, yang tertidur selama beberapa generasi, mulai membuka matanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 364

    Harris kemudian berbalik menghadap Aurora. Senyum tipis kembali menghiasi wajahnya ketika dia berkata dengan nada santai, "Nona Aurora, bagaimana keputusanmu? Tiga senjata kelas tinggi sebagai imbalan karena aku menjamin keselamatanmu selama tiga hari. Apa kau setuju?"Aurora masih belum sepenuhnya pulih dari rentetan kejadian yang baru saja dialaminya. Setelah menarik napas panjang untuk menenangkan diri, dia menatap Harris dengan sorot mata yang jauh berbeda dari sebelumnya, lalu mengangguk tanpa ragu."Baik. Aku setuju."Setelah menyaksikan sendiri kekuatan Harris, Aurora tidak lagi ragu. Hampir tanpa berpikir panjang, dia langsung menyetujui kesepakatan untuk mempekerjakan Harris sebagai pengawal pribadinya selama tiga hari dengan imbalan tiga senjata kelas tinggi.Di mata Aurora, kesepakatan itu justru sangat menguntungkan. Tiga senjata kelas tinggi memang bernilai luar biasa, tetapi mendapatkan perlindungan dari seorang ahli seperti Harris jelas jauh lebih berharga.Tak lama kem

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 363

    Aurora hanya bisa tersenyum pahit setelah mendengar ucapan Kirana Adiwangsa. "Untuk itu aku tidak membantah," katanya sambil menggeleng pelan. "Tapi tadi aku sempat bersikap kurang baik kepada Harris. Semoga saja dia tidak memasukkannya ke dalam hati."Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan nada sedikit bersalah. "Lagipula, imbalan yang kuberikan hanya tiga senjata kelas tinggi. Apa itu tidak terlalu sedikit?"Sebelumnya, Aurora memang sempat menganggap permintaan tiga senjata kelas tinggi dari Harris terlalu berlebihan. Namun, semua pemikiran itu telah lenyap setelah menyaksikan sendiri kekuatan Harris.Seorang jenius seperti Ariel yang menduduki peringkat ketujuh Mahabintang saja mampu dikalahkannya. Dengan bakat dan kekuatan seperti itu, mendapatkan pengawal sekelas Harris hanya dengan imbalan tiga senjata kelas tinggi jelas merupakan keuntungan besar bagi Keluarga Kasarius.Melihat Aurora masih memikirkannya, Kirana tersenyum jahil lalu menggoda, "Kalau menurutmu tiga senj

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 362

    Darren nyaris meledak karena amarah. Setelah mengetahui bahwa Harris bahkan mampu mengalahkan Ariel, dia sudah sama sekali tidak berniat membalas dendam. Satu-satunya hal yang dipikirkannya sekarang hanyalah mencari cara agar Harris bersedia melepaskannya. Namun, di saat genting seperti itu, Jonathan justru terus menuangkan api dalam bensin dan memprovokasi Harris, seolah sengaja ingin menyeretnya menuju kematian.Semakin memikirkan hal itu, kemarahan Darren semakin sulit dikendalikan. Dia kembali menerjang Jonathan, lalu menghujaninya dengan tendangan dan pukulan sambil memaki tanpa henti."Kenapa aku memukulmu?!" bentaknya geram. "Masih berani bertanya?! Semua gara-gara mulutmu! Kau sendiri yang mencari masalah, lalu menyeretku ikut menanggung akibatnya. Orang bodoh sepertimu memang pantas dipukul!"Jonathan sama sekali tidak berani melawan. Dia hanya bisa meringkuk di lantai sambil melindungi kepala, membiarkan tubuhnya dihantam bertubi-tubi. Jeritan kesakitannya terus menggema di

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 361

    Beberapa saat kemudian, Ariel menghembuskan napas panjang. Suaranya terdengar dipenuhi rasa tidak berdaya saat berkata, "Darren... kali ini aku tidak bisa membantumu.""Apa?" Darren berseru tidak percaya. "Kenapa? Harris bukan cuma berani menghina Kak Ariel, dia juga bilang kalau Kakak datang, dia akan melumpuhkanmu! Apa Kakak tidak ingin datang dan memberinya pelajaran?"Ariel hanya tersenyum pahit. "Tentu saja aku ingin membalasnya, tetapi aku tidak mampu." Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Pagi tadi aku sudah bertarung dengannya, dan aku dikalahkan hanya dengan satu serangan. Kalau aku datang sekarang, yang benar-benar dilumpuhkan justru aku."Ucapan itu menghantam Darren bak petir di siang bolong.Seluruh tubuhnya membeku. Ponsel yang digenggam hampir terlepas dari tangannya, sementara pikirannya dipenuhi gelombang keterkejutan yang tak mampu dibendung.Di ujung telepon, Ariel kembali berbicara dengan nada sungguh-sungguh. "Darren, kalau kau benar-benar telah menyinggung H

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 360

    Jonathan mengenal reputasi Ariel dengan sangat baik. Sebagai jenius yang menduduki peringkat ketujuh Mahabintang dan hanya selangkah lagi memasuki Fase Transenden, Ariel merupakan sosok yang nyaris tak tertandingi di kalangan generasi muda. Dalam bayangannya, Harris tidak mungkin mampu bertahan menghadapi orang seperti itu.Semakin membayangkan Harris akan tewas di tangan Ariel, Jonathan semakin merasa puas. Seluruh penghinaan yang baru saja diterimanya seolah akan segera terbalaskan, membuat suasana hatinya terasa begitu lega.Sayangnya, semua itu hanyalah khayalan Jonathan sendiri. Harris bahkan tidak meliriknya sedikit pun karena di matanya pria itu tidak lebih dari seorang badut yang terus melompat demi mencari perhatian. Menghabiskan waktu untuk menanggapi orang seperti Jonathan saja sudah terasa sia-sia, apalagi menganggapnya sebagai ancaman.Telepon di tangan Darren Atmaja akhirnya tersambung.Tak lama kemudian, suara Ariel terdengar dari seberang sana. "Darren, ada apa? Kenapa

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 359

    Melihat tindakan itu, Harris sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Dia hanya tersenyum tipis dan berkata, "Silahkan. Kalau memang ingin memanggil orang Keluarga Atmaja, aku akan menunggu. Kuharap orang yang kau panggil tidak mengecewakanku."Darren mendengus dingin. "Menghadapi orang sepertimu tidak perlu sampai mengerahkan seluruh Keluarga Atmaja." Senyum sinis kembali muncul di wajahnya. "Kakak seperguruanku kebetulan sedang berada di Kota Arcapura. Begitu dia datang, kau pasti mati tanpa tempat untuk dikuburkan."Harris sedikit mengangkat alis. Tatapannya tetap tenang, tetapi secercah rasa penasaran tampak melintas di matanya ketika dia bertanya, "Kakak seperguruanmu?"Darren langsung membusungkan dada. Wajahnya kembali dipenuhi kesombongan seolah telah menemukan penyelamat yang mampu membalikkan keadaan. "Kakak seperguruanku adalah Ariel Kusuma!" ujarnya dengan bangga. "Dia jenius yang menduduki peringkat ketujuh dalam daftar Mahabintang, telah mencapai ambang Fase Transenden,

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 6

    "Sentuh aku, dan dia akan berhenti bernapas dalam sepuluh detik," ujar Harris, tatapannya terkunci pada putra Tuan Hidayat, Bima.Ada aura tak terbantahkan dalam dirinya, sebuah ketenangan sedingin es di tengah badai emosi, yang membuat kedua pengawal berbadan tegap yang maju menjadi ragu. Langkah

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 5

    "Kau sudah punya alatnya. Sekarang apa?" tanya Queen saat mereka berada di dalam Bentley, melaju tanpa suara melewati jalanan lengang di kawasan elite. Di dalam mobil, aroma kulit mahal berbaur dengan aroma samar kayu cendana dari kotak yang tergeletak di pangkuan Harris. "Kau tidak bisa langsung m

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 4

    Queen mengangkat sebelah alisnya yang terpahat sempurna, sebuah gestur kecil yang memancarkan keraguan sedingin es. "Kau?" ejeknya, nada suaranya tajam menusuk. "Seorang pria yang beberapa jam lalu sekarat di selokan, akan menyembuhkan penyakit yang bahkan ditolak oleh tim dokter kepresidenan?"Sar

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 3

    Mendengar suara itu, Harris tidak tersentak. Dia hanya menoleh perlahan, matanya yang kini jernih dan tajam bertemu dengan tatapan dingin wanita itu. Di masa lalu, komentar sarkastis seperti itu akan membuatnya menunduk malu. Kini, dia hanya merasakan ketenangan yang aneh.Pengetahuan yang membanji

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status