Masuk"Bangunlah, cucuku..."
Suara itu tidak datang dari luar. Tidak ada getaran di udara, tidak ada bisikan yang menyentuh telinga Harris. Suara itu menggema langsung di pusat kesadarannya, sebuah suara dari masa lalu yang penuh dengan wibawa dan kehangatan yang telah lama ia lupakan. Itu adalah suara kakeknya, Devin Gunawan.
"Warisan keluarga Gunawan tidak boleh mati dalam kehinaan."
Kegelapan yang memeluknya perlahan surut, bukan digantikan oleh cahaya, melainkan oleh ketiadaan. Harris merasa dirinya melayang di sebuah ruang hampa yang tak berujung, tanpa bobot, tanpa tubuh.
Di hadapannya, satu per satu, titik-titik cahaya mulai menyala, kemudian memanjang dan membentuk gulungan-gulungan perkamen yang melayang anggun di kehampaan, memancarkan pendar keemasan yang menenangkan.
Rasa ingin tahu mengalahkan kebingungannya. Ia mengulurkan tangan—sebuah tangan transparan yang terbentuk dari kesadarannya—dan menyentuh salah satu gulungan terdekat.
Seketika, sebuah tsunami informasi menghantam benaknya.
Informasi itu tidak dibaca, melainkan diserap, menjadi bagian dari dirinya dalam sekejap. Judulnya terukir di dalam jiwanya—Sutra Kaisar Medis. Ratusan ribu karakter kuno mengalir masuk, membawa serta pemahaman mendalam tentang aliran energi vital (Qi) dalam tubuh, keseimbangan Yin dan Yang, serta rahasia kehidupan dan kematian itu sendiri. Pikirannya yang dulu terbatas kini seolah terhubung dengan kebijaksanaan alam semesta.
Sebelum ia sempat pulih dari guncangan itu, ia menyentuh gulungan lainnya.
Teknik Jarum Sembilan Naga.
Jemarinya yang tak berbentuk tiba-tiba bisa merasakan bobot dan dinginnya jarum perak. Otaknya dipenuhi dengan diagram tiga dimensi tubuh manusia yang rumit, menunjukkan 361 titik akupunktur utama dan lebih dari seribu titik sekunder. Ia tahu persis bagaimana cara menusuk, memutar, dan menyalurkan energi melalui jarum untuk menyembuhkan, melumpuhkan, atau bahkan membunuh.
Gulungan demi gulungan ia sentuh. Ribuan resep herbal kuno, metode diagnosis hanya dengan melihat aura seseorang, teknik membedah tanpa pisau dengan memanipulasi energi. Semua pengetahuan yang mustahil, yang akan membuat komunitas medis modern tertawa tak percaya, kini terpatri di dalam memorinya seolah ia telah mempelajarinya selama ribuan tahun.
Di tengah lautan pengetahuan itu, sebuah visualisasi terbentuk. Sosok kakeknya berdiri dengan punggung tegap. Harris melihatnya melakukan keajaiban, dengan beberapa jarum perak, kakeknya membangkitkan jantung yang telah berhenti berdetak dengan ramuan sederhana. Ia menumbuhkan kembali jaringan kulit yang terbakar hangus dengan satu sentuhan di dahi, ia menenangkan jiwa yang tersiksa. Ini bukan sekadar pengobatan, ini adalah seni yang mendekati keilahian.
Sementara badai pengetahuan mengamuk di alam pikirannya, di dunia nyata, sesuatu yang sama ajaibnya sedang terjadi.
Di dalam kamar mewah yang remang-remang, di atas ranjang berseprai sutra Mesir yang terasa sejuk di kulitnya, tubuh Harris yang hancur mulai beregenerasi. Cahaya keemasan samar mulai memancar dari liontin giok yang menyatu di antara alisnya, menyebar ke seluruh tubuhnya seperti jaring laba-laba yang lembut.
Luka sobek di kepalanya merajut kembali dirinya sendiri tanpa meninggalkan bekas. Memar-memar di wajah dan tubuhnya memudar perlahan, seperti cat air yang disiram air bersih, hingga kulitnya kembali mulus.
Fokus utama dari energi penyembuhan itu adalah tenggorokannya. Sensasi panas dan robek yang ditinggalkan oleh kawat pijar di penjara, yang selama ini menjadi sumber penderitaan bisunya, kini digantikan oleh aliran energi yang sejuk dan menenangkan. Pita suaranya yang rusak diperbaiki, sel-selnya ditenangkan, dan kekuatannya dipulihkan lapis demi lapis.
Di alam pikirannya, suara sang kakek kembali terdengar, kali ini penuh dengan kesedihan dan harapan. "Gunakan kekuatan ini dengan bijak, Harris. Sembuhkan mereka yang pantas disembuhkan... dan hancurkan mereka yang pantas dihancurkan."
Sosok itu perlahan memudar. Gulungan-gulungan cahaya kembali meredup menjadi titik-titik kecil, dan kegelapan yang akrab kembali menyelimutinya. Namun, kali ini bukan kegelapan keputusasaan, melainkan kegelapan yang tenang dan penuh dengan kekuatan yang terpendam.
Dengan sebuah sentakan hebat yang terasa seperti sambaran petir, Harris membuka matanya.
Langit-langit berukir yang mewah dan lampu kristal redup menyambutnya. Aroma samar lavender dan udara sisa hujan memenuhi ruangan. Rasa sakit yang tadinya merobek setiap jengkal tubuhnya telah lenyap tanpa jejak, digantikan oleh perasaan vitalitas yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Ia mengangkat tangannya, melihat kulitnya yang bersih tanpa satu pun bekas luka. Ini nyata.
Dengan gerakan lambat dan penuh keraguan, ia menyentuh lehernya. Tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi sensasi terbakar. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara mengisi paru-parunya dengan cara yang baru dan menyegarkan. Kemudian, ia membuka mulutnya, membiarkan udara bergetar melewati pita suaranya untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun penyiksaan.
Satu nama, satu tujuan, satu sumber dari segala kebenciannya, keluar dari bibirnya. Suaranya serak karena lama tak digunakan, namun jelas dan penuh dengan gema kebencian yang membeku.
"...Sera."
Klik.
Tepat saat nama itu selesai diucapkannya, keheningan dipecahkan oleh suara pelan, diikuti oleh derit pintu kamar yang terbuka.
Sebuah siluet anggun berdiri di ambang pintu, bentuk tubuhnya terpahat sempurna oleh cahaya redup dari koridor. Wanita itu menatapnya, tatapannya dingin, tajam, dan penuh selidik.
"Sepertinya rumor tentang ketahanan seekor kecoak memang benar adanya," ucap Queen Hendrawan, suaranya datar tanpa emosi. "Kau sudah bangun."
Harris kemudian berbalik menghadap Aurora. Senyum tipis kembali menghiasi wajahnya ketika dia berkata dengan nada santai, "Nona Aurora, bagaimana keputusanmu? Tiga senjata kelas tinggi sebagai imbalan karena aku menjamin keselamatanmu selama tiga hari. Apa kau setuju?"Aurora masih belum sepenuhnya pulih dari rentetan kejadian yang baru saja dialaminya. Setelah menarik napas panjang untuk menenangkan diri, dia menatap Harris dengan sorot mata yang jauh berbeda dari sebelumnya, lalu mengangguk tanpa ragu."Baik. Aku setuju."Setelah menyaksikan sendiri kekuatan Harris, Aurora tidak lagi ragu. Hampir tanpa berpikir panjang, dia langsung menyetujui kesepakatan untuk mempekerjakan Harris sebagai pengawal pribadinya selama tiga hari dengan imbalan tiga senjata kelas tinggi.Di mata Aurora, kesepakatan itu justru sangat menguntungkan. Tiga senjata kelas tinggi memang bernilai luar biasa, tetapi mendapatkan perlindungan dari seorang ahli seperti Harris jelas jauh lebih berharga.Tak lama kem
Aurora hanya bisa tersenyum pahit setelah mendengar ucapan Kirana Adiwangsa. "Untuk itu aku tidak membantah," katanya sambil menggeleng pelan. "Tapi tadi aku sempat bersikap kurang baik kepada Harris. Semoga saja dia tidak memasukkannya ke dalam hati."Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan nada sedikit bersalah. "Lagipula, imbalan yang kuberikan hanya tiga senjata kelas tinggi. Apa itu tidak terlalu sedikit?"Sebelumnya, Aurora memang sempat menganggap permintaan tiga senjata kelas tinggi dari Harris terlalu berlebihan. Namun, semua pemikiran itu telah lenyap setelah menyaksikan sendiri kekuatan Harris.Seorang jenius seperti Ariel yang menduduki peringkat ketujuh Mahabintang saja mampu dikalahkannya. Dengan bakat dan kekuatan seperti itu, mendapatkan pengawal sekelas Harris hanya dengan imbalan tiga senjata kelas tinggi jelas merupakan keuntungan besar bagi Keluarga Kasarius.Melihat Aurora masih memikirkannya, Kirana tersenyum jahil lalu menggoda, "Kalau menurutmu tiga senj
Darren nyaris meledak karena amarah. Setelah mengetahui bahwa Harris bahkan mampu mengalahkan Ariel, dia sudah sama sekali tidak berniat membalas dendam. Satu-satunya hal yang dipikirkannya sekarang hanyalah mencari cara agar Harris bersedia melepaskannya. Namun, di saat genting seperti itu, Jonathan justru terus menuangkan api dalam bensin dan memprovokasi Harris, seolah sengaja ingin menyeretnya menuju kematian.Semakin memikirkan hal itu, kemarahan Darren semakin sulit dikendalikan. Dia kembali menerjang Jonathan, lalu menghujaninya dengan tendangan dan pukulan sambil memaki tanpa henti."Kenapa aku memukulmu?!" bentaknya geram. "Masih berani bertanya?! Semua gara-gara mulutmu! Kau sendiri yang mencari masalah, lalu menyeretku ikut menanggung akibatnya. Orang bodoh sepertimu memang pantas dipukul!"Jonathan sama sekali tidak berani melawan. Dia hanya bisa meringkuk di lantai sambil melindungi kepala, membiarkan tubuhnya dihantam bertubi-tubi. Jeritan kesakitannya terus menggema di
Beberapa saat kemudian, Ariel menghembuskan napas panjang. Suaranya terdengar dipenuhi rasa tidak berdaya saat berkata, "Darren... kali ini aku tidak bisa membantumu.""Apa?" Darren berseru tidak percaya. "Kenapa? Harris bukan cuma berani menghina Kak Ariel, dia juga bilang kalau Kakak datang, dia akan melumpuhkanmu! Apa Kakak tidak ingin datang dan memberinya pelajaran?"Ariel hanya tersenyum pahit. "Tentu saja aku ingin membalasnya, tetapi aku tidak mampu." Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Pagi tadi aku sudah bertarung dengannya, dan aku dikalahkan hanya dengan satu serangan. Kalau aku datang sekarang, yang benar-benar dilumpuhkan justru aku."Ucapan itu menghantam Darren bak petir di siang bolong.Seluruh tubuhnya membeku. Ponsel yang digenggam hampir terlepas dari tangannya, sementara pikirannya dipenuhi gelombang keterkejutan yang tak mampu dibendung.Di ujung telepon, Ariel kembali berbicara dengan nada sungguh-sungguh. "Darren, kalau kau benar-benar telah menyinggung H
Jonathan mengenal reputasi Ariel dengan sangat baik. Sebagai jenius yang menduduki peringkat ketujuh Mahabintang dan hanya selangkah lagi memasuki Fase Transenden, Ariel merupakan sosok yang nyaris tak tertandingi di kalangan generasi muda. Dalam bayangannya, Harris tidak mungkin mampu bertahan menghadapi orang seperti itu.Semakin membayangkan Harris akan tewas di tangan Ariel, Jonathan semakin merasa puas. Seluruh penghinaan yang baru saja diterimanya seolah akan segera terbalaskan, membuat suasana hatinya terasa begitu lega.Sayangnya, semua itu hanyalah khayalan Jonathan sendiri. Harris bahkan tidak meliriknya sedikit pun karena di matanya pria itu tidak lebih dari seorang badut yang terus melompat demi mencari perhatian. Menghabiskan waktu untuk menanggapi orang seperti Jonathan saja sudah terasa sia-sia, apalagi menganggapnya sebagai ancaman.Telepon di tangan Darren Atmaja akhirnya tersambung.Tak lama kemudian, suara Ariel terdengar dari seberang sana. "Darren, ada apa? Kenapa
Melihat tindakan itu, Harris sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Dia hanya tersenyum tipis dan berkata, "Silahkan. Kalau memang ingin memanggil orang Keluarga Atmaja, aku akan menunggu. Kuharap orang yang kau panggil tidak mengecewakanku."Darren mendengus dingin. "Menghadapi orang sepertimu tidak perlu sampai mengerahkan seluruh Keluarga Atmaja." Senyum sinis kembali muncul di wajahnya. "Kakak seperguruanku kebetulan sedang berada di Kota Arcapura. Begitu dia datang, kau pasti mati tanpa tempat untuk dikuburkan."Harris sedikit mengangkat alis. Tatapannya tetap tenang, tetapi secercah rasa penasaran tampak melintas di matanya ketika dia bertanya, "Kakak seperguruanmu?"Darren langsung membusungkan dada. Wajahnya kembali dipenuhi kesombongan seolah telah menemukan penyelamat yang mampu membalikkan keadaan. "Kakak seperguruanku adalah Ariel Kusuma!" ujarnya dengan bangga. "Dia jenius yang menduduki peringkat ketujuh dalam daftar Mahabintang, telah mencapai ambang Fase Transenden,
Queen mengangkat sebelah alisnya yang terpahat sempurna, sebuah gestur kecil yang memancarkan keraguan sedingin es. "Kau?" ejeknya, nada suaranya tajam menusuk. "Seorang pria yang beberapa jam lalu sekarat di selokan, akan menyembuhkan penyakit yang bahkan ditolak oleh tim dokter kepresidenan?"Sar
Mendengar suara itu, Harris tidak tersentak. Dia hanya menoleh perlahan, matanya yang kini jernih dan tajam bertemu dengan tatapan dingin wanita itu. Di masa lalu, komentar sarkastis seperti itu akan membuatnya menunduk malu. Kini, dia hanya merasakan ketenangan yang aneh.Pengetahuan yang membanji
Aroma parfum mahal dan anggur terbaik berbaur di udara, menjadi musik latar bagi denting gelas kristal dan tawa renyah para elite kota. Di dalam aula utama Hotel Movi yang bermandikan cahaya keemasan, setiap sudut adalah panggung kekuasaan. Karpetnya begitu tebal hingga mampu meredam suara langkah,
"Sentuh aku, dan dia akan berhenti bernapas dalam sepuluh detik," ujar Harris, tatapannya terkunci pada putra Tuan Hidayat, Bima.Ada aura tak terbantahkan dalam dirinya, sebuah ketenangan sedingin es di tengah badai emosi, yang membuat kedua pengawal berbadan tegap yang maju menjadi ragu. Langkah







