INICIAR SESIÓNTiga hari telah berlalu dengan sangat cepat, dan latihan pertama juga dilalui panji dengan tekun, meskipun itu tak menutupi rasa lelah saat menguasai seluruh tubuhnya.
"Mari kita pulang!" kata Sanjaya. "Pulang guru?" kata Panji dengan wajah yang riang. "Iya, sudah tiga hari kau latihan tanpa henti, aku rasa sudah saatnya untuk tubuhmu istirahat satu hari!" kata Sanjaya. "Baik, aku setuju guru!" kata Panji. Panji dan Sanjaya berjalan, tapi wajah Panji sedikit berkerut karena Sanjaya ambil jalan memutar, padahal Panji bisa melihat kalau perguruan Anggek putih di atas kepala mereka. "Kenapa kita memutar guru?" tanya Panji. "Jangan hanya bertanya, lihat setiap tanda yang aku buat!" kata Sanjaya. "Tanda?" tanya Panji. Panji melihat kalau Sanjaya memegang sebuah pedang, dan setiap seratus meter dia akan menebas batas pohon besar, seolah itu tanda yang dia berikan. "Untuk apa tanda itu, guru?" tanya Panji. "Lusa kau akan segera tahu!" kata Sanjaya. "Lusa?" Panji, dipikirannya penuh dengan pertanyaan. Tapi saat dia bertanya, jawab Sanjaya selalu itu, tunggu hingga lusa. Hingga pada akhirnya mereka kembali ke awal mereka berputar, dan itu membuat Panji semakin bingung. "Kita kembali lagi guru!" kata Panji. "Iya, karena aku sudah selesai memberikan tanda!" kata Sanjaya. "Baiklah, lusa aku akan tanyakan!" kata Panji. "Hahaha, murid yang pintar!" ucap Sanjaya dan mengelus rambut Panji yang mulai memanjang. Berjalan mendaki, pada akhirnya Sanjaya dan Panji sampai di pondok, dan mereka berdua langsung istirahat, rebah di ruangan tengah pondok itu. Panji yang merasakan seluruh tubuhnya penat, tak bisa tidur. Beda dengan sanjaya yang bahkan sudah ngorok di samping Panji. "Sepertinya guru sangat lelah! Aku akan buatkan dia makanan!" kata Panji. Anak kecil yang masih berusia sepuluh tahun itu keluar, dia menimba air dan membawa air satu timba penuh dengan dengan ringan. "Eh, kenapa aku mudah menimba dan angkat air ini?" tanya Panji. Anak kecil itu, untuk pertama kalinya merasakan hasil dari tiga hari latihannya, dia merasakan apa yang dia latih berhasil. Panji melihat ke kedua tangannya, dan otot-otot tubuhnya mulai terlihat. Hal itu menjelaskan semua hasil latihan Panji. "Ternyata latihanku tak sia-sia!" gumam Panji. Dengan riang Panji masuk ke dalam. "Aku akan buatkan masakan yang enak untuk guru. Aku yakin dia akan suka!" kata Panji. Cukup lama, Panji berada di dalam dapur, hingga bau masakan yang begiru harum membangunkan Sanjaya. Hidungnya kembang kempis karena mencium bau makanan yang menggugah perutnya. "Siapa yang masak untukku?" tanya Sanjaya dan bergerak menuju ke dapur. "Kau memasak untukku, Panji?" "Iya, guru! Aku lihat guru lelah, jadi aku masak untuk guru!" kata Panji. "Anak baik! Mari kita makan!" ajak Sanjaya. Perut pemuda itu sudah keroncongan, dan sudah memaksa untuk diisi, jadi dia bantu Panji untuk menyiapkan makan. "Mari makan!" kata Sanjaya dan mencoba masakan Panji. Sanjaya tertegun dengan rasa masakan Panji. Dia tak percaya kalau Panji mampu membuat masakan selezat itu. "Bagaimana bisa?" kata Sanjaya. "Saat kakek masih hidup, aku sudah biasa masak untuk kakek!" jawab Panji. "Tapi, bagaimana pun juga ini masakan yang sangat enak?!" kata Sanjaya. "Itu semua resep dari kakek!" Brakkkkkkk!! Saat sanjaya akan bertanya lagi, pintu pondok di dorong kuat, dan dibuka dengan paksa. "Kakek tua ini lagi. Apa yang dia inginkan?" gumam Sanjaya yang kesal karena makan malamnya terganggu. "Hohoho! Sepertinya aku datang tepat waktu. Saatnya untuk makan!" kata orang yang baru datang itu. "Tunggu ketua, aku akan ambilkan piring untuk ketua!" kata Panji. "Anak baik!" kata lelaki yang tak lain ketua Kusuma, dia duduk dan wajahnya berseri saat mencium bau makanan masakan Panji. "Kenapa datang kemari?" tanya Sanjaya. "Jangan bicara saat makan," kata ketua Kusuma dan mulai menikmati makan. Wajahnya sama berserinya seperti wajah Sanjaya. Dia sangat menikmati masakan Panji. "Sanjaya, semakin hari masakanmu semakin enak!" puji ketua Kusuma. "Dia bilang jangan bicara saat makan, tapi malah dia yang bicara!" kata Sanjaya dalam hatinya. "Jika seperti ini, aku akan sering makan malam ke pondok ini!" kata ketua Kusuma lagi. "Ini bukan masakanku, ketua!" kata Sanjaya. "Eh, bukan masakanmu? Jadi siapa?" "Panji, ketua!" Ketua Kusuma melihat ke arah Panji, dan setelah itu tersenyum. "Mau masakan siapapun, yang penting enak. Aku akan datang lagi!" kata ketua Kusuma. "Jika ketua ingin datang lagi, ada baiknya ketua bawa bekal!" kata Sanjaya kesal. "Alah, hanya makan malam saja, apa ruginya?" "Tiap malam, memangnya semua bahan disini diambil gratis? Satu malam, bagaimana kalau satu tahu?" kata Sanjaya. "Jangan pelit padaku Sanjaya, aku ketua di perguruan ini!" "Ketua juga pelit!" kata Sanjaya. Panji melihat keduanya yang ributkan hal itu. Tapi bagi Sanjaya itu sebuah kedekatan yang terjalin antara ketua Kusuma dengan gurunya, Sanjaya. "Di perguruan ini, aku seperti menemukan keluarga yang baru!" gumam Panji di dalam hatinya. Selesai makan, Panji siapkan semua yang ada di ruangan itu, dan kumpulkan di dapur. "Tiga hari ini aku tak melihat kalian, apa kau sudah mulai melatih Panji, Sanjaya?" tanya ketua Kusuma. "Iya, ketua! Aku akan latih dia hingga jadi seorang pendekar!" "Jangan sia-siakan waktumu!" "Aku rasa tidak, Panji orang yang ulet. Bukan tak mungkin dia akan berhasil!" "Bagaimana pun usahanya, dia hanya akan mencari tingkat menengah, Sanjaya!" "Tingkat menengah, itu paling tidak akan menjaga Panji. Dia mampu menjaga dirinya sendiri!" tegas Sanjaya. Panji mendengarkan semua pembicaraan mereka dari dapur, setelah itu pelan-pelan dia datang ke ruangan tengah. Sanjaya melihat wajah murung Panji, dan dia melotot pada ketua Kusuma. "Panji, jangan dengarkan apa kata-kata kakek bau tanah ini. Guru akan lakukan segala upaya untuk menjadikan dirimu pendekar yang kuat!" kata Sanjaya. "Teriak kasih guru!" kata Panji dan kembali berlutut pada Sanjaya. "Masuklah ke kamarmu, istirahat dan kembaikan kondisi tubuhmu!" kata Sanjaya. "Baik, aku permisi ketua, guru!" kata Panji dan berjalan pelan ke lantai atas pondok milik Sanjaya. Ketua Kusuma melihat Panji yang patuh pada Sanjaya. Dan dia merasa kalau Panji sunguh tak pantas jadi pendekar. "Dia anak yang baik!" kata ketua Kusuma. "Iya, itu salah satu alasan aku melatihnya, ketua!" "Tapi, sayang. Dia tak berbakat jadi pendekar!" "Yah, apa boleh buat! Mungkin ini jalan yang harus aku jalani!" kata Sanjaya yang kali ini tak bohongi kalau Panji memang tak memiliki bakat yang tinggi. "Keberhasilan untuk dirinya jadi pendekar sangat kecil, kau pikir ulang saja rencanamu itu, Sanjaya!" "Aku tahu apa yang aku lakukan, ketua! Eh, aku yakin ketua datang bukan untuk bicarakan Panji, bukan?" kata Sanjaya. "Bukan, ada hal lain yang harus kita bicarakan!" "Apa itu?" tanya Sanjaya. "Mereka sudah ada disini, Sanjaya!" "Sudah disini, siapa yang ketua maksud?" tanya Sanjaya. "Perguruan singa timur!" jawab ketua Kusuma. "Sudah waktunya, ya?" ucap Sanjaya dengan kepala mendongak ke arah atas."Dia tak akan datang!" kata guru Sahdan dan langkahkan kakinya menemui pengawas sekaligus juri di turnamen itu.Tanpa ragu, guru Sahdan membisikkan sesuatu ke telinga pengawas turnamen itu."Apa kau yakin?" tanya pengawas itu."Iya, dia muridku, mungkin dia tak akan datang!" kata Guru Sahdan.Askan, lawan dari Panji merasa kesal karena dia tak dapatkan lawan. Dia ingin tunjukkan kemampuan, tapi kali ini ia gagal.Setelah mendengarkan alasan dari Guru Sahdan, pengawas turnamen tak lagi katakan apa-apa, dia berdiri ke depan semua penonton.Tapi sebelum ia bicara, Askan sudah berteriak keras."Panji Sanjaya keluarkan, jangan sembunyi seperti seekor kecoa, apa kau takut hadapi aku?" teriak Askan dengan amarah yang besar."Askan cukup! Aku yang akan bicara kali ini!" kata pengawas turnamen itu.Pengawas itu menarik napas. Dan mulai menggunakan suara yang keras."Dengan berat hati, dan karena alasan yang jelas, dengan ini peserta atas nama Panji Sanjaya kami eliminasi!" teriaknya dengan sua
Setelah berjalan bersama dengan Ki Sutopo, dan cucunya, Intan Agni, Panji tak lagi mengejar rombongan guru Sahdan, tapi Panji memilih untuk ikuti Ki Sutopo dan cucunya.Tapi ada satu hal yang membuat Panji heran, mereka tak memburu waktu, seolah-olah turnamen itu tak penting bagi mereka."Sepuh, apa kalian tidak takut terlambat?" tanya Panji."Hahah, tidak! Karena cucuku sudah mendapatkan nomor urut!" kata Ki Sutopo."Nomor urut?" tanya Panji."Iya, nomor untuk kapan bertanding!""Jadi dia sudah tahu kapan untuk bertanding?" tanya Panji."Iya, memangnya kau belum memiliki nomor urut, Panji?" tanya ki Sutopo."Belum, sepuh!""Kenapa tidak kau katakan dari awal! Dasar bocah bodoh!" bentak Ki Sutopo."Aku sungguh tak tahu soal itu, sepuh!""Dasar bodoh! Nomor urut itu penentuan kapan kau bertarung, dan jika kau bertarung di nomor yang kecil maka kau akan bertarung lebih dahulu!""Bagaimana ini?" tanya Panji."Besok turnamen itu akan dimulai dan jarak kita menuju kota Malengka masih ada t
Panji membuka matanya saat pagi datang, dan dia merasakan ada perubahan yang nyata pada tubuhnya.Tubuhnya kini jauh lebih kokoh, dan otot tubuhnya semakin terlihat nyata, itu karena peningkatan kualitas tulang Panji yang tak Panji sangka.Awalnya Panji kecewa karena dia tak berhasil menerobos naik ke tulang serigala perak, tapi nyata ia mampu.Bammmmmmm!!Panji memukul sebatang pohon untuk mencoba kualitas tulang serigala perak yang kini ia miliki.Brakkk!Pohon itu langsung remuk padahal Panji hanya gunakan kekuatan fisik saja."Luar biasa!" ucap Panji.Kualitas tulang Panji meskipun berada di tahap tulang serigala perak, tapi itu sudah setingkat dengan tulang harimau muda.Itu dikarenakan Panji melatih tulangnya dengan latihan yang keras. Dan latihan keras itu juga berpengaruh pada kekuatan fisik panji.Banyak pendekar yang mengejar kualitas tulang tanpa memperdulikan kualitas fisik, dia memang berhasil, tapi hanya tulang yang meningkat, tidak dengan kekuatan fisik.Kebanyakan oran
"Kenapa? Apa putriku kurang cantik?" tanya Ki Ireng yang membuat kepala Panji terasa sakit.Panji merasa bingung, dia masih berusia dua belas tahun, tapi sudah dijodohkan dengan seorang anak gadis yang akan dewasa. Ranti dengan usia lima belas tahun."Hahaha, kau tak usah pikirkan soal itu Panji, aku hanya berharap kau yang akan jadi pendamping putriku di masa depan!" kata Ki Ireng tertawa keras.Ki Ireng tak ingin membuat Panji lebih bingung, hingga dia memutuskan untuk tak lanjutkan pembicaraan itu."Aku masih dua belas tahun paman, dan paman sudah katakan tentang menantu padaku, apakah aku pantas?" kata Panji."Kau yang pantas, dan memang hanya dirimu!" kata Ki Ireng.Panji tak lagi menjawab, tapi memilih untuk diam karena jika diladeni maka pembicaraan itu akan semakin panjang.Bertepatan pula Ranti datang dan masuk ke dalam kamar itu. Hingga Panji selamat dari pembicaraan itu."Ranti, Panji mungkin akan ada di perguruan ini satu minggu ke depan, jadi ada baiknya kau siapkan kamar
Saat pagi datang, guru Sahdan dan tiga muridnya dengan berat hati meninggalkan Panji di perguruan Loreng merah."Jika dia sudah baikan, aku harap dia datang ke kota Malengka, mungkin dia akan kami butuhkan!" kata guru Sahdan."Aku akan coba bantu dia!" kata Ki Ireng.Ki Ireng melepas mereka pergi, dan setelah itu ia masuk ke dalam kamarnya. Dia memeriksa lagi kondisi Panji."Aku sudah meninggalkan penghalang di tubuh Panji. Apa penghalang itu tak berguna?" ucap Ki Ireng.Dia mendekteksi penghalang itu, dan penghalang itu masih di tubuh Panji. Tapi penghalang itu tak bereaksi padahal nyawa Panji dalam keadaan yang kritis."Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Panji!" kata Ki Ireng.Haaaaaaaaaaa!!Dia menekan tubuh Panji dengan tenaga dalam, dan mencoba menemukan apa yang disembunyikan oleh tubuh Panji."Ini?" ucapnya saat merasakan inti tenaga Panji.Wajahnya sangat kaget, dia tak percaya kalau Panji memiliki tenaga dalam yang tersimpan di inti tenaga dalam, dan itu bukan tenaga d
"Panji! Panji!" teriak guru Sahdan saat melihat Panji yang sudah tak sadarkan diri.Dia segera membawa Panji ke atas punggungnya, dan berlari cepat menuju kota yang sudah tak jauh dari tepian sungai itu.Pradana, dan dua saudara seperguruan Panji ikut di belakang guru Sahdan, mereka berusaha keras untuk ikuti langkah lari guru Sahdan yang berlari bagaikan kesetanan."Tabib! Tabib!" teriak guru Sahdan saat sampai di sebuah balai pengobatan."Ada apa ini?" tanya tabib yang bertugas di balai pengobatan itu."Tolong selamatkan muridku, dia terluka parah!" kata guru Sahdan dengan suara yang ketakutan."Letakkan dia di atas meja itu!" kata tabib itu.Guru Sahdan lakukan itu, dan dia terus menatap wajah Panji yang mulai pucat karena kehabisan banyak darah."Apa yang terjadi pada muridmu?" tanya tabib itu saat melihat luka di bagian dada Panji mulai membiru."Dia dilukai oleh siluman sungai!" jawab guru Sahdan.Tranggggg!!Alat-alat pengobatan yang ada di tangan tabib itu jatuh. Dia tak perca







