MasukNadine yang berbaring di bawah kungkungannya justru mulai menggeliat tidak karuan. Mahasiswi cantik itu membuka bibirnya perlahan, bersiap mengeluarkan desahan panjang akibat sisa-sisa efek racun yang masih mendidihkan aliran darahnya.
Melihat gelagat super berbahaya itu, Arga buru-buru membekap mulut Nadine menggunakan telapak tangan kanannya yang entah sejak kapan terasa jauh lebih kekar dan berotot. Dia mencondongkan wajahnya sangat dekat, lalu menatap lurus ke arah mata sayu gadis tersebut. "Sssst! Tolong tahan sebentar suaramu, Din! Kamu mau kita berdua digerebek warga malam ini gara-gara ketahuan ngamar bareng? Tahan napasmu dan jangan bersuara sampai temenmu itu pergi menjauh," bisik Arga memberikan isyarat dari jarak yang sangat rapat. Mata Nadine langsung melebar kaget merasakan hembusan napas maskulin sang penjaga kos menerpa kulit lehernya. Wajah gadis manja itu mendadak memerah padam akibat sentuhan fisik yang begitu intens. Dia hanya bisa mengangguk pelan, menurut pasrah di bawah kendali pria yang usianya jauh lebih tua darinya itu. Di lorong luar, Vania terdengar mendengus keras karena panggilannya sama sekali tidak mendapat sahutan balik. "Ih, kebiasaan banget deh si Nadine ini! Palingan juga udah molor pakai earphone makanya budek dipanggil dari tadi. Awas aja ya, besok pagi aku tagih langsung catatannya pas sarapan!" gerutu Vania terdengar makin menjauh. Keduanya tetap diam menahan napas, terus menunggu sabar sampai ketukan langkah sandal Vania benar-benar menghilang di ujung tangga. Begitu suasana dipastikan seratus persen aman, Arga buru-buru menarik tangannya dari bibir Nadine dan melompat turun dari ranjang pegas itu secepat kilat. Sisa malam itu benar-benar dihabiskan dalam kecanggungan luar biasa sewaktu mereka berdua sibuk memunguti pakaian masing-masing yang berserakan di lantai keramik. Arga langsung menarik celana panjangnya dengan gerakan serabutan, berusaha keras menghindari kontak mata dengan mahasiswi yang sedang membungkus tubuhnya menggunakan selimut tebal tersebut. "Om keluar dulu ya, Din. Kamu istirahat aja yang tenang buat mulihin tenaga, besok pagi kita obrolin lagi masalah ini dengan kepala dingin. Om janji nggak bakal lari dari tanggung jawab," pamit Arga kaku sebelum bergegas kabur menuju pintu. Pria itu langsung memutar grendel kunci, melesat keluar kamar merapat ke tembok, lalu mengunci kembali kamarnya sendiri rapat-rapat. *** Keesokan paginya, udara terasa cukup segar saat sinar matahari mulai menyinari halaman depan Kos Melati. Arga sedang sibuk menjalankan tugas rutinnya menyiram deretan pot tanaman hias menggunakan selang air panjang. Pria berusia tiga puluh sembilan tahun itu berkali-kali mencuri pandang ke arah pantulan tubuhnya sendiri di kaca jendela nako kamar mandi. Tubuhnya kini terasa jauh lebih padat berisi, otot dadanya mengeras bidang, dan staminanya terasa penuh energi seolah usianya diputar mundur belasan tahun. 'Gila, efek nyedot racun semalam beneran bikin badanku balik muda lagi kayak umur dua puluhan! Cincin warisan kakek ini emang pusaka sakti mandraguna. Pantas aja semalam gerakanku rasanya enteng banget pas nolongin Nadine,' gumam batin Arga takjub sambil menggesek pelan cincin akik naga di jari manisnya. Untuk menguji kekuatan barunya, Arga mencoba mengangkat sebuah pot semen besar berisi pohon palem yang biasanya butuh tenaga dua orang dewasa. Ajaibnya, pot seberat puluhan kilo itu terangkat sangat mudah hanya menggunakan kepalan satu tangannya. Suara derit engsel pintu yang terbuka perlahan dari arah lorong bawah seketika membuyarkan sesi kekaguman sang penjaga kos. Nadine perlahan keluar dari kamarnya dengan wajah yang masih sembab dan langkah kaki sedikit tertatih-tatih menahan perih. Mahasiswi kebidanan itu berjalan menunduk dalam-dalam, terus meremas ujung kemeja putih kebesarannya dengan jari-jari yang gemetar. "Om Arga... Om lagi sibuk ya? Soal kejadian semalam, aku bener-bener mau minta maaf karena udah bikin repot dan maksa Om ngelakuin hal sejauh itu," gumam Nadine dengan suara serak menahan tangis. Gadis yang terbiasa hidup manja itu sengaja membuang muka ke arah jalan raya, merasa sangat malu menatap langsung ke dalam mata pria yang telah menolongnya semalam. Melihat tingkah canggung dari mahasiswi yang biasanya super cerewet tersebut, Arga langsung mematikan aliran keran air di dekat tembok. Dia meletakkan selang hijaunya ke tanah berumput, lalu melangkah pelan menghampiri Nadine yang masih berdiri kaku di depan teras. Tanpa banyak basa-basi, Arga mengangkat tangan kanannya, lalu mendekat untuk mengusap puncak kepala gadis itu dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh kehangatan. "Kamu nggak perlu merasa bersalah apalagi sampai mau nangis begini, Din. Om ngelakuin itu murni darurat demi nyelamatin nyawamu dari racun jahat itu. Buang jauh-jauh rasa malumu, anggap aja insiden semalam itu cuma takdir yang kebetulan numpang lewat." Perlakuan natural dan suara berat Arga yang mengayomi itu perlahan berhasil menembus pertahanan batin Nadine yang sedang kacau balau. Perlahan tapi pasti, rasa gundah di hati mahasiswi berusia dua puluh satu tahun itu luntur, tergantikan oleh sensasi nyaman yang luar biasa pekat. Nadine akhirnya berani mendongak mengangkat wajahnya perlahan. Dia menatap lekat-lekat rahang tegas Arga dengan pandangan sayu, menyadari betapa tampan dan berkarismanya sang bapak kos hari ini. "Makasih banyak ya, Om. Kalau semalam Om egois dan milih ninggalin aku, mungkin hari ini aku udah mati konyol di dalam kamar sendirian. Mulai detik ini, kesucian dan hidupku seutuhnya udah jadi milik Om Arga," balas Nadine seraya tersenyum sangat manis. Cara gadis itu menatap Arga kini berubah seratus delapan puluh derajat menjadi tatapan wanita yang sangat bucin dan posesif terhadap pahlawannya. Nadine bahkan maju satu langkah untuk setengah memeluk pinggang Arga, menyandarkan kepalanya ke dada bidang sang bapak kos tanpa ragu sedikit pun. 'Waduh, ini anak kenapa tiba-tiba jadi manja level maksimal begini? Perasaanku mulai nggak enak nih. Bukannya trauma atau marah, dia malah kelihatan kayak pengantin baru yang minta terus nempel sama suaminya,' batin Arga panik overthinking melihat gelagat kelewat agresif gadis tersebut. Nadine baru saja mau berjinjit merapatkan wajahnya ke dagu Arga, tapi suara derit nyaring gerbang besi depan langsung menginterupsi paksa niat nakal tersebut. Suasana melankolis dan intens itu mendadak buyar total sewaktu Amara melangkah masuk melewati celah gerbang depan Kos Melati. Janda berusia tiga puluh dua tahun pemilik butik tersebut berjalan anggun sambil menenteng dua kresek tebal berisi penuh barang belanjaan. Amara menghentikan langkahnya tepat di tengah halaman yang masih basah. Sosok paling dewasa di rumah kos itu memicingkan matanya yang tajam, menatap lurus ke arah kemesraan Arga dan Nadine yang belum sempat berpisah jarak. "Wah, pemandangan pagi yang lumayan bikin iri ya. Om Arga lagi sibuk merangkap jadi psikolog anak remaja atau memang lagi modusin anak kos sendiri nih?" sindir Amara santai, namun nadanya terdengar cukup menohok relung hati. Arga refleks memundurkan langkahnya terburu-buru seraya menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal. Sementara itu, Nadine hanya mendecak kesal menatap kehadiran janda cantik tersebut dengan tatapan permusuhan."WOY! TOLONG! ADA YANG MAU NYULIK ALYA LAGI!"Teriakan Tari lewat jimat komunikasi Amara bikin suasana makan malam haru di mansion Kos Melati langsung bubar jalan.Arga, yang tadinya udah lemes total nempel di sofa sama Nadine, mendadak loncat berdiri."Sialan! Siapa lagi sih yang berani ganggu bini gue?!" raung Arga, auranya kembali mendingin.Meskipun tenaga dalam naga sejatinya udah tiris, Cincin Naga Tidur di jarinya berdenyut kencang, ngerespon emosi Arga.Cincin warisan kotak kuno itu masih nyimpen sisa-sisa energi yin dari ritual keroyokan bersama Siska, Amara, Nadine, dan Vania semalam suntuk.Mekanisme kuno pengisian energi lewat hubungan fisik penuh gairah itu emang tokcer bikin sakti, tapi sisa hawa panasnya masih bikin Arga gerah."Tari! Di mana lo sekarang?! Alya aman?!" tanya Amara cepet, suaranya tegang setengah mati."Gue di belakang mansion! Tadi ada orang berbaju hitam mau narik Alya, tapi gue gaplok pake teplon!" sahut Tari terseng
Helikopter mewah milik Siska mendarat pelan di helipad atap Mansion Kos Melati. Pintu helikopter terbuka, dan Arga melangkah keluar dengan tubuh yang bener-bener rontok. Meskipun Tato Naga di punggungnya masih nyala redup, energi naga sejati yang tadinya meledak-ledak pasca Wu tewas perlahan surut. Cincin Naga Tidur di jarinya juga udah gak membara merah darah, balik lagi jadi cincin perak biasa yang kelihatan 'capek'. Aura pembantai yang menakutkan tadi nguap total, diganti sama aura penjaga kosan mesum yang lagi kelaparan. Lonjakan kekuatan gila akibat pemurnian racun dan sisa energi 'ritual keroyokan' semalam sama Siska, Amara, Nadine, dan Vania bener-bener nguras bensin nadinya. Hubungan fisik penuh gairah semalam suntuk itu emang mekanisme kuno yang tokcer buat ngisi ulang baterai naganya, tapi efek samping capeknya gak main-main. Arga nurunin tangga helikopter dengan langkah gontai, pegangan erat di *railing
Hawa dingin yang sempat membekukan air laut mendadak nguap gitu aja, ternyata cuma ilusi optik dari rasa takut ekstrem Tetua Wu.Arga masih berdiri tegak di atas permukaan air yang mendidih, menatap Wu dengan mata merah darah mutlak.Tetua Wu, yang udah berlutut di atas air yang membeku, gemeteran parah nunggu cakar Arga nembus kepalanya."T-tolong... Arga... Gue... Gue bakal kasih apa aja..." ratap Wu, suaranya udah kayak tikus kejepit pintu kosan.Arga ngerasa Cincin Naga Tidur di jarinya makin panas, ngerespon rasa takut Wu yang meluap-luap.Cincin warisan kotak kuno itu mendadak nyedot sisa-sisa energi yin dari ritual keroyokan bersama Siska, Amara, Nadine, dan Vania semalam suntuk.Energi murni hasil 'servis pamungkas' para wanita kosan itu meledak di dalam tubuh Arga, nyampur sama aura naga pemusnahnya.Ini bener-bener mekanisme kuno yang tokcer buat lipat gandain kekuatan Arga lewat hubungan fisik yang intens.Arga nurunin tangan kanannya pelan
Tetua Wu, yang pedang iblisnya baru saja dihancurkan Arga dengan tangan kosong, langsung melesat mundur ke arah reruntuhan vila mewah.Dia benar-benar syok berat melihat Arga, yang tadinya sekarat kena racun kuno, mendadak bangkit dengan aura pembantai merah pekat.Cincin Naga Tidur di jari Arga masih membara, terus memurnikan sisa racun di tubuhnya menjadi energi murni naga sejati.Energi murni ini berbenturan dan menyatu gila-gilaan dengan sisa energi yin yang didapat Arga dari ritual keroyokan bersama Siska, Amara, Nadine, dan Vania semalam suntuk.Hasilnya adalah lonjakan kekuatan yang tidak masuk akal, membangkitkan insting naga pemusnah purba di dalam darah Arga.Arga menatap Wu yang kabur dengan mata merah darah menyala, lalu melesat mengejarnya, meninggalkan jejak pasir yang melepuh panas.Wussss!Di area vila, belasan pengawal elit Sekte Naga Hitam yang tersisa langsung menghadang Arga dengan sisa senjata mereka."Adang dia! Lindungi Tetua Ag
Clegarrr!Pedang hitam Tetua Wu udah ngayun turun, tinggal secenti lagi nembus kulit leher Arga yang udah lemes total di atas pasir.Tapi, pas pedang iblis itu mau mutusin napas sang bapak kos, kejadian aneh mendadak muncul.Wussss!Niat membunuh yang pekat dari pedang Wu justru memicu pertahanan terakhir di tubuh Arga.Di tengah kondisi kritis, Cincin Naga Tidur di jari manis Arga mendadak membara merah darah, panasnya bukan main.Cincin warisan kotak kuno itu ngerespon emosi putus asa Arga dan langsung bekerja gila-gilaan.Deggg... Deggg...Secara ajaib, Cincin itu mulai menyerap racun hitam Pembunuh Naga yang tadinya ngerogotin nyawa Arga cepet banget."Eh? Apa-apaan ini?! Kok racun gue... nguap?!" teriak Tetua Wu kaget setengah mati, ngerasain energi racunnya ditarik paksa.Cincin itu gak cuma nyerap, tapi mengubah racun hitam tersebut menjadi energi murni naga sejati lewat jalur kultivasi yang udah terbentuk akibat ritual intim Arga sama
"MAS ARGA! JANGAN SENTUH MAS ARGA GUE, KAKEK PEOT SIALAN!"Teriakan melengking Nadine membelah udara Pulau Nirwana Hitam, menghentikan gerakan pedang Tetua Wu sepersekian detik.Arga tersungkur di atas pasir, penglihatannya bener-bener kabur akibat racun hitam yang menjalar cepet banget di pembuluh darahnya.Tubuh kekarnya yang biasa tegap, kini gemeteran hebat nahan rasa sakit yang kayak dibakar api ghaib.Tetua Wu tertawa terbahak-bahak, nurunin pedangnya dikit cuma buat ngenyek Arga yang udah gak berdaya."Hahaha! Lihat tuh, gembong naga kesayangan lo udah jadi cacing jompo, bocil!" seru Wu ke arah langit, ngeremehin kekuatan Arga habis-habisan.'Sialan... Mata gue... Kok jadi liat Tetua Wu ada tiga? Hadeuhhh, mana yang asli nih? Kalau salah pukul kan tengsin,' batin Arga ngaco di tengah sekaratnya.Cincin Naga Tidur di jarinya berdenyut lemah, warnanya makin ungu gelap kena kontaminasi racun kuno.Kekuatan naga yang Arga dapet dari hubungan fisik
"Om Arga! Matanya ditaruh di mana sih waktu beres-beres tadi pagi? Lihat itu genangan air sabun dibiarkan menggenang sembarangan di jalanan!" omel Siska dengan nada tinggi melengking.Arga refleks membalikkan badannya sambil memegang erat gagang sapu lidi. Bapak kos itu menghela napas sangat panjan
Amara tersenyum sangat manis, membiarkan raut wajah Nadine mendadak berubah masam melihat kedatangannya di tengah halaman.Sebenarnya, Amara bukan tandingan Nadine yang masih gadis dan sangat cantik.Meski begitu, pesona Amara sebagai janda cantik berusia tiga puluh dua tahun itu, tetap menggoda.D
Arga Mahendra hanyalah pria paruh baya berusia tiga puluh sembilan tahun yang bekerja sebagai penjaga Kos Melati. Pekerjaannya sangat sederhana, gajinya pas-pasan, dan hidupnya berjalan lurus-lurus saja tanpa banyak drama. Bangunan dua lantai yang dia urus ini lumayan besar karena memiliki sepuluh
'Gila, wangi mi rebus pakai rawit begini emang paling juara! Perutku udah demo minta jatah karbohidrat dari sore tadi gara-gara ngeluarin banyak tenaga,' batin Arga tersenyum puas menatap air rebusannya.Sambil menunggu kuah mendidih sempurna, pria paruh baya itu memasukkan sebutir telur ayam segar







