تسجيل الدخولAmara tersenyum sangat manis, membiarkan raut wajah Nadine mendadak berubah masam melihat kedatangannya di tengah halaman.
Sebenarnya, Amara bukan tandingan Nadine yang masih gadis dan sangat cantik. Meski begitu, pesona Amara sebagai janda cantik berusia tiga puluh dua tahun itu, tetap menggoda. Dia lantas melangkah, mendekati Arga dan Nadine dengan langkah anggun. Dia langsung menyodorkan dua kresek belanjaan besarnya ke arah Arga tanpa memedulikan tatapan permusuhan dari sang mahasiswi. "Kebetulan banget kita ketemu di depan, Om. Boleh minta tolong bawain kresek belanjaan ini ke kamarku nggak? Lenganku udah pegal banget nenteng dari depan gang tadi." Arga langsung mengambil alih dua kantong plastik tebal tersebut, lalu menatap janda pemilik butik itu sambil tersenyum ramah. "Sini Om bawain sampai ke dalam kamar, Amara. Belanjaanmu lumayan banyak hari ini, borong baju seisi mall atau gimana nih?" canda Arga memecah kecanggungan. Mendengar interaksi santai tersebut, Nadine refleks mendecak kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Mahasiswi kebidanan itu menghentakkan kakinya ke rumput basah, merasa posisinya sebagai wanita yang baru diselamatkan semalam mulai terancam. "Ih, Mbak Amara manja banget deh pagi-pagi! Om Arga kan lagi sibuk nyiram tanaman, lagian dia juga masih harus nemenin aku ngobrol di sini." Amara hanya terkekeh pelan mendengar omelan bernada cemburu dari gadis yang usianya beda sebelas tahun di bawahnya itu. "Cuma minta tolong sebentar kok, Din. Masa bapak kos andalan kita keberatan ngebantuin janda lemah bawa belanjaan ke kamar?" balas Amara telak menggunakan nada elegan yang sulit dibantah. Gara-gara terjebak di tengah situasi panas itu, Arga buru-buru melepaskan pelukan tangan Nadine dari pinggangnya secara halus. "Om bantuin Amara sebentar ya, Din. Kamu masuk aja duluan ke kamarmu, awas nanti masuk angin lho berdiri terus di luar," bujuk pria paruh baya itu menengahi. Nadine akhirnya melengos pergi menahan gondok yang luar biasa. Gadis bermanja itu berjalan cepat menuju lorong, sengaja membanting pintu kamarnya sendiri lumayan keras sebagai bentuk protes terang-terangan. Arga hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah, lalu mengekor langkah anggun Amara menyusuri koridor menuju kamar nomor lima. Kamar milik sang janda itu selalu terasa paling rapi dan wangi di antara semua penghuni Kos Melati. Aroma lavendel yang menenangkan langsung menyambut indra penciuman Arga saat dia meletakkan kantong kresek tersebut ke atas karpet bulu. "Makasih banyak ya, Om Arga. Om duduk aja dulu di kursi itu, aku mau rapiin isi kreseknya sebentar," titah Amara seraya berjongkok membongkar barang bawaannya. Sambil bersandar di bingkai pintu, Arga memperhatikan wanita dewasa itu menyusun beberapa potong pakaian baru. Amara memang terkenal sangat mandiri, tenang, dan tidak pernah menggoda menggunakan cara agresif seperti anak-anak kos lainnya. Namun, janda cantik itu tiba-tiba berdiri memutar tubuhnya. Dia melangkah perlahan mendekati Arga, lalu menyodorkan selembar kaus oblong hitam yang masih tersegel plastik rapi. "Ini khusus buat Om Arga. Kausnya tadi lagi ada diskon besar di mall, jadi aku iseng beli sekalian buat hadiah." Arga menerima bungkus plastik itu dengan raut wajah kebingungan, menatap bergantian antara kaus baru tersebut dan senyum tulus Amara. "Wah, repot-repot banget kamu beliin Om baju baru, Amara. Padahal kaus di lemariku masih banyak yang layak pakai kok." Wanita dewasa itu menggeleng pelan, lantas memandangi bahu Arga dari atas sampai bawah menggunakan tatapan lekat yang mendebarkan. "Kaus oblong yang Om pakai sekarang kelihatan makin sempit di dada, Om. Aku perhatikan fisik Om hari ini makin tegap dan berotot, jadi pasti butuh baju ukuran lebih besar biar nyaman bergeraknya." 'Buset, insting janda satu ini tajam banget kayak silet! Dia bisa langsung nyadar ada yang berubah dari badanku cuma lewat sekali lirik doang,' batin Arga kaget luar biasa menyadari betapa telitinya pengamatan wanita tersebut. Belum sempat Arga mengucapkan terima kasih dengan layak, kenop pintu kamar Amara mendadak terbuka tanpa ketukan sama sekali. Nadine nekat menerobos masuk memakai alasan yang terlihat sangat dibuat-buat. Mahasiswi itu memegang sebuah alat pemotong kuku kecil di tangan kanannya, sementara wajahnya dipasang dengan ekspresi sepolos mungkin. "Mbak Amara, aku boleh pinjam gunting kuku punyamu nggak? Kuku kakiku mendadak panjang nih, takut nyakar kasur pas tidur nanti," ucap Nadine tanpa dosa. Alih-alih menunggu jawaban sang pemilik kamar, mahasiswi itu malah sengaja berjalan lurus melewati Amara. Nadine langsung menempelkan tubuhnya sangat rapat ke lengan kiri Arga, seolah ingin memamerkan kedekatan mereka berdua. "Eh, Om Arga belum selesai bantuinnya? Nanti habis ini temenin aku makan bubur ayam di depan gang ya, Om. Perutku masih lemes banget efek sakit semalam, butuh disuapin langsung sama Om." Nadine sengaja mengeraskan volume suaranya saat mengucapkan kata 'sakit semalam'. Dia bahkan menekan dadanya ke lengan kokoh Arga secara berani demi meruntuhkan pertahanan moral bapak kosnya itu. Melihat tingkah laku yang kelewat agresif tersebut, Amara menyilangkan kedua tangan di depan dada. Wanita dewasa itu tersenyum elegan, namun matanya memancarkan aura intimidasi yang sangat tajam. "Wah, Nadine ini beneran lagi sakit atau cuma cari-cari alasan biar bisa nempel terus sama penjaga kos kita ya? Kalau masih lemes, mending kamu tiduran aja di kasur biar nggak pingsan di jalan." Sindiran berkelas dari Amara sukses membuat telinga Nadine memerah padam menahan kesal. "Aku beneran masih sakit kok, Mbak! Makanya aku butuh perhatian ekstra dari Om Arga hari ini!" bantah Nadine keras kepala, makin mengeratkan pelukannya di lengan pria paruh baya itu. Arga menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin kembali membasahi tengkuknya melihat persaingan sengit antara dua wanita berbeda generasi di depan matanya. 'Gila, hawa di ruangan ini mendadak lebih panas dari gurun pasir! Kalau aku salah ngomong sedikit aja, perang dunia ketiga bisa pecah di Kos Melati hari ini!' batin sang penjaga kos dipenuhi rasa panik. Berusaha menetralisir keadaan, Arga hanya bisa tersenyum tipis menghadapi tingkah lucu kedua penghuni kosnya itu. Dia lantas melangkah mundur secara perlahan demi menjaga jarak sopan dari dekapan erat Nadine. "Makasih banyak hadiah kaus barunya ya, Amara. Om bakalan pakai kaus ini besok pagi," ucap Arga berusaha terdengar senatural mungkin. Pria itu kemudian menoleh ke arah Nadine, lalu mengusap bahu mahasiswi tersebut sekilas. "Kamu tunggu aja di kamarmu, Din. Nanti Om beliin bubur ayamnya ke depan. Sekarang Om harus pamit ngecek jemuran di belakang dulu, takut pakaian anak-anak kos kehujanan kalau mendadak mendung." Beralasan mengurus pekerjaan kos, Arga berjalan sangat cepat keluar meninggalkan kamar nomor lima tersebut. Dia setengah berlari menyusuri koridor sempit, mengembuskan napas lega karena berhasil lolos dari medan pertempuran batin para wanita itu. Udara segar di halaman belakang langsung menyambut wajahnya. Area servis Kos Melati ini cukup luas, memuat jejeran tali jemuran, dua mesin cuci besar, serta rak tempat menyimpan alat-alat kebersihan. Arga melangkah santai menuju pojok ruangan, lalu mulai merapikan deretan sapu lidi dan ember plastik yang posisinya berantakan tersenggol kucing liar. Suasana tenang itu rupanya hanya bertahan sementara. Telinga Arga yang kini sangat peka menangkap ketukan hak sepatu tinggi yang beradu nyaring dengan lantai keramik dari arah ujung lorong. Sejurus kemudian, sosok Siska Wijaya muncul menenteng setumpuk dokumen tebal di pelukannya. Karyawan bank berusia dua puluh enam tahun itu tampil sangat rapi mengenakan kemeja sutra dan rok pensil ketat yang membalut kaki jenjangnya. Wajah cantik Siska langsung tertekuk galak saat matanya menangkap keberadaan Arga di dekat rak ember. Gadis itu memicingkan matanya, bersiap meluncurkan rentetan omelan pedas yang sudah menjadi rutinitas wajibnya setiap pagi.Suasana ruang makan mansion Kos Melati mendadak hening total pasca Arga nendang meja sampai piring Michelin bintang lima meledak berantakan.Nadine, Siska, Vania, dan Amara cuma bisa bengong natap Arga yang berdiri tegap dengan aura naga pemusnah redup.Cincin Naga Tidur di jari manis Arga berdenyut pelan, warnanya emas redup.Benda mistis warisan kotak kuno itu seolah-olah ngerasain gejolak tenaga dalam naga sejati di sekitar Arga.'Hadeuhhh, kenapa gue jadi emosian begini sih? Efek aura naga pemusnah kemarin bener-bener ngerusak *image* penjaga kos gaul gue,' batin Arga meratapi nasib ketenangannya kemarin.Alya, yang sedang hamil besar, mulai merasakan anomali pada janinnya.Perut buncitnya mendadak kencang, dan Dia ngerasain denyutan aneh yang bukan kayak gerakan bayi biasa.Denyutan itu ngeluarin energi naga yang jauh lebih kuat dari ayahnya kemarin.Alya reflex megang perutnya, wajahnya pucat pasi nahan rasa sakit yang gak manusiawi."Aduh!
Suasana ruang makan mansion Kos Melati pagi ini bener-bener gak enak.Nadine, Vania, Siska, Amara, dan Tari duduk di sekeliling meja makan marmer mewah hasil jarahan aset Wu.Tapi gak ada yang nyentuh makanan katering koki Michelin bintang lima pesanan Siska.Arga duduk di ujung meja, pura-pura sibuk mainin garpu sambil ngebatin nasib kejantanannya.'Hadeuhhh, kenapa muka mereka tegang amat sih? Rasanya kayak mau sidang sengketa tanah warisan,' batin Arga meringis komikal.Cincin Naga Tidur di jari manis Arga berdenyut pelan, warnanya perak redup.Benda mistis peninggalan orang tuanya itu seolah-olah bangun dari hibernasi pasca perang kemarin, sensitif banget sama hawa cemburu di sekeliling Arga.'Kekuatan naga di tubuh gue emang makin sakti kalau sering 'ritual' intim sama mereka, tapi Cincin ini juga makin sensitif,' batin Arga meratapi nasib ketenangannya.Hening total selama lima menit, sampai Vania, dengan baju renang sutra putih yang elegan tapi
Ruang bawah tanah mansion Kos Melati yang dulunya gudang berdebu, kini berubah total. Siska, dengan kekuatan duit miliardernya, cuma butuh waktu semalam buat nyulap tempat itu jadi *dojo* latihan pribadi yang megah. Lantai dilapisi matras standar internasional, sansak tinju bergantungan, dan cermin besar hiasin dinding. Pagi-pagi buta, suasana di *dojo* udah panas. Arga berdiri tegak di tengah ruangan, pake kaos *buntung* yang nampilin otot lengan kekarnya. Fisik 39 tahun yang berubah jadi kekar kayak usia 20-an akibat nyerap racun kultivasi Nadine dulu, bener-bener kelihatan intimidatif. Di depannya, Nadine, Vania, Siska, Amara, dan Tari udah baris rapi pake baju olahraga ketat. Hanya Alya yang absen karena lagi hamil muda dan harus istirahat total. "Dengerin semua! Kecoak-kecoak Sekte Naga Hitam masih berkeliaran di kota-kota besar," seru Arga datar, suaranya dingin. "Gue gak bisa terus-terus
Suara tawa melengking wanita di atap mansion Kos Melati mendadak berhenti, diganti sama suara desisan ular yang bikin bulu kuduk merinding.Arga, yang celana renang naga imutnya udah basah kuyup, langsung loncat berdiri di pinggir kolam renang.Cincin Naga Tidur di jarinya berdenyut liar, ngerespon hawa permusuhan yang pekat.Benda mistis warisan kotak kuno itu seolah-olah bangun dari hibernasi pasca perang, siap buat nyerap emosi negatif musuh baru.Aura naga pemusnah yang menakutkan tadi nguap total, diganti sama aura penjaga kosan mesum yang lagi kelaparan.'Sialan! Kenapa urusan naga gak pernah kelar sih? Baru juga pesta cuan, udah ada lagi yang nyari gara-gara. Hadeuhhh,' batin Arga meratapi nasib istirahatnya.Nadine, Siska, Amara, dan Vania langsung ngerubungin Arga, wajah mereka tegang."Mas Arga! Itu suara apa?! Suaranya kayak suara ular yang mau matok!" seru Nadine posesif, megang lengan Arga kencang."Tenang, Dine. Paling cuma ular kadut y
Lampu LED di kolam renang mansion Kos Melati masih mati total, tapi suasana di pinggir kolam justru makin panas.Teriakan wanita dari atap mansion tadi ternyata cuma sisa ilusi audio ghaib dari Cincin Naga Tidur yang Arga pake.Benda mistis warisan kotak kuno itu mendadak 'ngorok' ghaib, ngerespon emosi persaingan gila Nadine, Vania, dan Siska yang berebut meluk Arga.Kekuatan naga di tubuh Arga emang aneh, makin sakti kalau sering 'ritual' intim sama para wanita kos, tapi Cincinnya suka bikin *glitch* kalau hawa cemburu di sekelilingnya meluap-luap.Arga, yang celana renang naga imutnya udah basah kuyup, berusaha ngelepasin diri dari kepungan Nadine dan Siska di pahanya."Aduh, cewek-cewek! Pelan-pelan sedikit! Paha gue... Aduh!" keluh Arga comikal, ngerasain kuku Nadine nyengkrem kencang.'Sialan! Kenapa paha gue jadi rebutan kursi panas begini? Hadeuhhh, kalau begini terus, bukannya naga, gue malah jadi ayam geprek,' batin Arga meratapi nasib kejantanannya
Suasana di Mansion Kos Melati benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat dalam semalam.Kabar Tari soal cewek cantik pingsan di pagar ternyata cuma modus operandi kurir pengantar dokumen aset hasil jarahan Sekte Naga Hitam.Siska, dengan koneksi perbankan dan duit miliardernya, bergerak cepet banget buat ngamanin seluruh harta karun Tetua Wu.Aset properti, rekening gendut, sampai koleksi barang antik ghaib Wu sekarang udah balik nama jadi milik Arga Mahendra.Hidup di Kos Melati kembali normal, namun penuh dengan kemewahan baru yang bikin geleng-geleng kepala.Pagar mansion yang tadinya cuma besi tempa biasa, sekarang dilapisi emas muda hasil leburan piala-piala Wu.Gudang belakang yang dulunya tempat nyimpen teplon Tari, sekarang penuh sama tumpukan koper isi duit tunai berbagai mata uang.'Hadeuhhh, Siska bener-bener gak main-main soal cuan. Rasanya kayak menang lotre seratus triliun tiap hari,' batin Arga takjub natap deretan mobil sport baru d
Nadine yang berbaring di bawah kungkungannya justru mulai menggeliat tidak karuan. Mahasiswi cantik itu membuka bibirnya perlahan, bersiap mengeluarkan desahan panjang akibat sisa-sisa efek racun yang masih mendidihkan aliran darahnya.Melihat gelagat super berbahaya itu, Arga buru-buru membekap mu
Arga Mahendra hanyalah pria paruh baya berusia tiga puluh sembilan tahun yang bekerja sebagai penjaga Kos Melati. Pekerjaannya sangat sederhana, gajinya pas-pasan, dan hidupnya berjalan lurus-lurus saja tanpa banyak drama. Bangunan dua lantai yang dia urus ini lumayan besar karena memiliki sepuluh
'Gila, wangi mi rebus pakai rawit begini emang paling juara! Perutku udah demo minta jatah karbohidrat dari sore tadi gara-gara ngeluarin banyak tenaga,' batin Arga tersenyum puas menatap air rebusannya.Sambil menunggu kuah mendidih sempurna, pria paruh baya itu memasukkan sebutir telur ayam segar
"Om Arga! Matanya ditaruh di mana sih waktu beres-beres tadi pagi? Lihat itu genangan air sabun dibiarkan menggenang sembarangan di jalanan!" omel Siska dengan nada tinggi melengking.Arga refleks membalikkan badannya sambil memegang erat gagang sapu lidi. Bapak kos itu menghela napas sangat panjan







