Share

Bab 4

Penulis: Startrek007
last update Tanggal publikasi: 2026-05-26 14:06:41

"Om Arga! Matanya ditaruh di mana sih waktu beres-beres tadi pagi? Lihat itu genangan air sabun dibiarkan menggenang sembarangan di jalanan!" omel Siska dengan nada tinggi melengking.

Arga refleks membalikkan badannya sambil memegang erat gagang sapu lidi. Bapak kos itu menghela napas sangat panjang menghadapi wajah cantik yang selalu memancarkan aura permusuhan tersebut.

'Gusti nu agung, baru juga kelar urusan tarik-tarikan sama Amara dan Nadine di depan. Sekarang udah muncul lagi singa betina tukang kredit ini,' batin Arga meratapi nasib paginya yang penuh dengan ujian kesabaran mental.

"Maaf, Siska. Om tadi buru-buru ke depan bantuin Amara bawa belanjaan, jadi belum sempat ngepel sisa buangan air cuciannya. Nanti Om pel sampai kering mengkilap deh," jelas Arga mencoba membela diri secara halus.

Mendengar nama Amara disebut, alis Siska makin menukik tajam menyiratkan rasa cemburu buta. Gadis itu sengaja menghentakkan hak sepatu tingginya ke lantai keramik berulang kali.

"Alasan aja terus! Om ini digaji buat jaga kebersihan fasilitas kos, makanya jangan malah asyik modusin janda tajir terus di depan! Nanti kalau ada anak kos yang kepeleset jatuh gimana? Om emangnya mau bayarin biaya patah tulang di rumah sakit?" sungut sang bankir tsundere itu tanpa filter pelindung mulut.

"Loh, Om kan cuma bantuin bawain kresek doang, Sis. Sama sekali nggak ada niatan modusin siapa-siapa di kosan ini. Lagian kamu kok tumben jam segini baru berangkat kerja? Biasanya jam tujuh pagi udah rapi jali manasin motor matikmu," bantah Arga sambil menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal.

"Nggak usah ngalihin pembicaraan deh! Aku telat karena sibuk ngurusin tumpukan laporan bulanan nasabah semalaman suntuk! Sekarang Om buruan beresin air busuk itu sebelum sepatu mahalku kotor kena cipratan!"

"Iya, iya, ini Om pel sekarang juga. Kamu jalan pelan-pelan aja lewat pinggir situ biar sepatumu aman sentosa, Siska bawel," goda Arga santai menanggapi kemarahan meledak-ledak gadis tersebut.

Siska sama sekali tidak mau menerima pembelaan maupun godaan jenaka tersebut. Karyawan bank itu melangkah terburu-buru menghampiri Arga berniat mendaratkan cubitan maut di lengan sang penjaga kos.

Gara-gara terlalu fokus menatap tajam mata Arga, Siska sepenuhnya mengabaikan pijakan kakinya sendiri. Hak sepatu tingginya mendadak masuk menjebol lubang saringan pembuangan air yang penutup plastiknya sudah agak melengkung.

"Kyaaa!"

Tubuh ramping berbalut kemeja kerja rapi itu langsung oleng ke depan kehilangan keseimbangan. Siska menutup rapat kedua matanya, bersiap merelakan hidung mancungnya hancur mencium lantai keramik basah yang sangat licin.

Arga melebarkan matanya kaget melihat insiden kecelakaan super cepat tersebut. Insting perlindungan dan kelincahan barunya otomatis mengambil alih kendali penuh atas otot-otot kakinya.

Pria paruh baya itu melesat maju menyapu jarak dua meter hanya dalam sekali kedipan mata. Arga berhasil merengkuh pinggang lentur Siska menggunakan lengan kanannya tepat sebelum wajah wanita itu menghantam ubin kasar.

Keduanya mendadak mematung kaku dalam posisi berpelukan yang luar biasa intim. Tangan kiri Siska refleks mencengkeram erat kerah kaus oblong Arga, sementara napasnya memburu kencang berusaha menahan syok.

Mereka saling bertatapan mengunci pandangan dalam jarak yang sangat dekat selama beberapa detik. Arga bisa menghirup aroma parfum sitrus segar bercampur wangi sampo dari rambut hitam Siska yang tergerai indah.

'Buset, pinggang anak ini kecil banget kayak gitar spanyol. Kulit wajahnya juga mulus bersih banget dari jarak sedekat ini,' batin Arga menelan ludah merasakan sensasi kelembutan tubuh wanita di dekapannya.

Di sisi lain, Siska justru merasakan hal yang jauh lebih mengejutkan kewarasannya. Telapak tangannya yang menempel di dada Arga bisa merasakan dengan jelas tekstur otot yang luar biasa keras dan bidang layaknya tameng baja.

Wajah Siska langsung memerah padam layaknya kepiting rebus menyadari betapa posesifnya pelukan pria yang usianya jauh lebih tua itu. Jantung sang bankir berdegup sangat kencang menabrak tulang rusuknya sendiri, seakan mau melompat keluar dari tenggorokan.

"O-Om Arga... lepasin pelukannya sekarang! Jangan cari kesempatan dalam kesempitan ya! Sengaja kan Om biarin lantainya licin begini biar bisa bebas meluk-meluk anak kos?" bentak Siska terbata-bata berusaha mati-matian menutupi kegugupan hatinya.

"Om kan cuma refleks heroik nolongin kamu biar nggak jatuh tengkurap, Sis. Harusnya kamu bilang makasih dong ke bapak kos penyelamat nyawa ini. Kalau wajah cantikmu itu nyium lantai keramik, bisa-bisa nasabah bank pada kabur semua nanti pas ngantre."

"Siapa juga yang minta ditolongin! Aku bisa jaga keseimbangan badanku sendiri kok tadi! Om Arga nyebelin banget sih, awas aja besok uang sewa kosnya aku potong setengah buat bayar denda pelecehan!" rutuk Siska dengan nada manja yang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan raut wajah galaknya.

"Wah, denda apaan tuh? Om kan murni bertindak sebagai pahlawan tanpa tanda jasa pagi ini. Mau dipeluk sepuluh detik lagi biar keseimbangan kakimu balik normal seratus persen?" canda Arga sengaja memancing emosi gadis tsundere itu sampai ke batas maksimal.

Siska buru-buru mendorong dada bidang Arga menggunakan kedua tangannya secara kasar. Gadis itu mundur dua langkah menjauh sambil merapikan letak rok pensil dan kemejanya dengan gerakan yang sangat salah tingkah.

"Bodo amat! Aku mau berangkat kerja aja, capek ngomong sama aki-aki ganjen tukang modus!"

Siska berbalik badan secara kaku tanpa berani menatap langsung bola mata Arga lagi. Dia melangkah cepat setengah berlari menuju kamarnya, lalu membanting pintu kayu jati itu sampai tertutup rapat berdebum.

Arga hanya bisa tertawa tertahan seraya mengangkat kedua bahunya pelan merespons kelakuan tsundere penghuni kosnya tersebut. Dia memungut kembali sapu lidinya dari tanah, lalu menyelesaikan sisa pekerjaannya menyingkirkan genangan air sabun di pojok dinding.

Menjelang malam hari, suasana Kos Melati terasa jauh lebih sepi merayap dari biasanya. Sebagian besar penghuni rupanya belum pulang dari aktivitas luar rumah, menyisakan keheningan yang cukup menenangkan pikiran.

Arga berjalan santai menuju area dapur umum yang terletak bersebelahan dengan ruang menonton televisi. Perut buncitnya yang kini sudah berubah rata menjadi cetakan six-pack itu berbunyi meronta minta segera diisi asupan karbohidrat.

'Jadi bapak kos itu emang harus siap fisik dan mental dua puluh empat jam. Pagi ngadepin mahasiswi manja, siang nahan omelan orang bank, malam giliran perut sendiri yang demo minta jatah makan,' batin Arga tersenyum masam meratapi nasib rutinitasnya.

Arga menyalakan kompor gas kecil, lalu meletakkan panci alumunium berisi air matang ke atas tungku api biru.

Malam ini dia berniat menyeduh dua bungkus mi instan rasa soto ayam sebagai menu makan malam darurat.

Sambil menunggu air rebusannya mendidih, Arga membuka lebar pintu kulkas umum untuk mencari tambahan bahan pelengkap gizi. Dia tersenyum sumringah menemukan sebutir telur ayam dan beberapa buah cabai rawit sisa yang kelihatannya masih sangat segar.

Tangan besarnya bergerak super cekatan memotong cabai rawit itu menjadi irisan kecil menggunakan pisau dapur. Aroma pedas menyengat perlahan menguar memenuhi sirkulasi udara dapur yang lumayan sempit tersebut.

Bagi Arga, semangkuk mi rebus super pedas adalah bentuk kemewahan tersendiri di tengah kerasnya gaya hidup ibu kota.

Arga mengambil mangkuk kaca besar dari rak piring, lalu menuangkan bubuk cabai dan minyak sayur ke dasar mangkuk. Wangi kaldu ayam yang sangat gurih langsung menyebar ke segala penjuru lorong belakang kos-kosan sewaktu bumbu itu tersiram kuah panas.

Tepat sewaktu mi rebus andalannya itu matang sempurna, ujung telinga Arga menangkap suara decitan langkah kaki dari arah pintu masuk dapur.

Seseorang rupanya sedang diam-diam menyelinap masuk menembus kegelapan malam lorong.

Arga menoleh cepat ke belakang bahunya, mendapati sosok Nadine sudah berdiri menyender di ambang pintu sambil memegangi perut.

Mahasiswi manja yang biasanya cerewet itu kini tampil sangat menggoda iman mengenakan baju tidur berbahan sutra tipis selutut. Wajahnya sengaja dipasang sememelas mungkin, memancing naluri alami sang bapak kos untuk segera bertindak melayani kemauannya.

"Om Arga... aku laper banget, perutku keroncongan parah dari sore tadi belum keisi nasi," rengek Nadine dengan suara serak yang memecah keheningan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bapak Kos Kesayangan   BAB 172: Janin sang Penguasa

    Suasana ruang makan mansion Kos Melati mendadak hening total pasca Arga nendang meja sampai piring Michelin bintang lima meledak berantakan.Nadine, Siska, Vania, dan Amara cuma bisa bengong natap Arga yang berdiri tegap dengan aura naga pemusnah redup.Cincin Naga Tidur di jari manis Arga berdenyut pelan, warnanya emas redup.Benda mistis warisan kotak kuno itu seolah-olah ngerasain gejolak tenaga dalam naga sejati di sekitar Arga.'Hadeuhhh, kenapa gue jadi emosian begini sih? Efek aura naga pemusnah kemarin bener-bener ngerusak *image* penjaga kos gaul gue,' batin Arga meratapi nasib ketenangannya kemarin.Alya, yang sedang hamil besar, mulai merasakan anomali pada janinnya.Perut buncitnya mendadak kencang, dan Dia ngerasain denyutan aneh yang bukan kayak gerakan bayi biasa.Denyutan itu ngeluarin energi naga yang jauh lebih kuat dari ayahnya kemarin.Alya reflex megang perutnya, wajahnya pucat pasi nahan rasa sakit yang gak manusiawi."Aduh!

  • Bapak Kos Kesayangan   BAB 171: Satu Naga, Banyak Bini

    Suasana ruang makan mansion Kos Melati pagi ini bener-bener gak enak.Nadine, Vania, Siska, Amara, dan Tari duduk di sekeliling meja makan marmer mewah hasil jarahan aset Wu.Tapi gak ada yang nyentuh makanan katering koki Michelin bintang lima pesanan Siska.Arga duduk di ujung meja, pura-pura sibuk mainin garpu sambil ngebatin nasib kejantanannya.'Hadeuhhh, kenapa muka mereka tegang amat sih? Rasanya kayak mau sidang sengketa tanah warisan,' batin Arga meringis komikal.Cincin Naga Tidur di jari manis Arga berdenyut pelan, warnanya perak redup.Benda mistis peninggalan orang tuanya itu seolah-olah bangun dari hibernasi pasca perang kemarin, sensitif banget sama hawa cemburu di sekeliling Arga.'Kekuatan naga di tubuh gue emang makin sakti kalau sering 'ritual' intim sama mereka, tapi Cincin ini juga makin sensitif,' batin Arga meratapi nasib ketenangannya.Hening total selama lima menit, sampai Vania, dengan baju renang sutra putih yang elegan tapi

  • Bapak Kos Kesayangan   BAB 170: Sentuhan sang Naga

    Ruang bawah tanah mansion Kos Melati yang dulunya gudang berdebu, kini berubah total. Siska, dengan kekuatan duit miliardernya, cuma butuh waktu semalam buat nyulap tempat itu jadi *dojo* latihan pribadi yang megah. Lantai dilapisi matras standar internasional, sansak tinju bergantungan, dan cermin besar hiasin dinding. Pagi-pagi buta, suasana di *dojo* udah panas. Arga berdiri tegak di tengah ruangan, pake kaos *buntung* yang nampilin otot lengan kekarnya. Fisik 39 tahun yang berubah jadi kekar kayak usia 20-an akibat nyerap racun kultivasi Nadine dulu, bener-bener kelihatan intimidatif. Di depannya, Nadine, Vania, Siska, Amara, dan Tari udah baris rapi pake baju olahraga ketat. Hanya Alya yang absen karena lagi hamil muda dan harus istirahat total. "Dengerin semua! Kecoak-kecoak Sekte Naga Hitam masih berkeliaran di kota-kota besar," seru Arga datar, suaranya dingin. "Gue gak bisa terus-terus

  • Bapak Kos Kesayangan   BAB 169: Cakar Naga sang Bucin

    Suara tawa melengking wanita di atap mansion Kos Melati mendadak berhenti, diganti sama suara desisan ular yang bikin bulu kuduk merinding.Arga, yang celana renang naga imutnya udah basah kuyup, langsung loncat berdiri di pinggir kolam renang.Cincin Naga Tidur di jarinya berdenyut liar, ngerespon hawa permusuhan yang pekat.Benda mistis warisan kotak kuno itu seolah-olah bangun dari hibernasi pasca perang, siap buat nyerap emosi negatif musuh baru.Aura naga pemusnah yang menakutkan tadi nguap total, diganti sama aura penjaga kosan mesum yang lagi kelaparan.'Sialan! Kenapa urusan naga gak pernah kelar sih? Baru juga pesta cuan, udah ada lagi yang nyari gara-gara. Hadeuhhh,' batin Arga meratapi nasib istirahatnya.Nadine, Siska, Amara, dan Vania langsung ngerubungin Arga, wajah mereka tegang."Mas Arga! Itu suara apa?! Suaranya kayak suara ular yang mau matok!" seru Nadine posesif, megang lengan Arga kencang."Tenang, Dine. Paling cuma ular kadut y

  • Bapak Kos Kesayangan   BAB 168: Manuver sang Miliarder

    Lampu LED di kolam renang mansion Kos Melati masih mati total, tapi suasana di pinggir kolam justru makin panas.Teriakan wanita dari atap mansion tadi ternyata cuma sisa ilusi audio ghaib dari Cincin Naga Tidur yang Arga pake.Benda mistis warisan kotak kuno itu mendadak 'ngorok' ghaib, ngerespon emosi persaingan gila Nadine, Vania, dan Siska yang berebut meluk Arga.Kekuatan naga di tubuh Arga emang aneh, makin sakti kalau sering 'ritual' intim sama para wanita kos, tapi Cincinnya suka bikin *glitch* kalau hawa cemburu di sekelilingnya meluap-luap.Arga, yang celana renang naga imutnya udah basah kuyup, berusaha ngelepasin diri dari kepungan Nadine dan Siska di pahanya."Aduh, cewek-cewek! Pelan-pelan sedikit! Paha gue... Aduh!" keluh Arga comikal, ngerasain kuku Nadine nyengkrem kencang.'Sialan! Kenapa paha gue jadi rebutan kursi panas begini? Hadeuhhh, kalau begini terus, bukannya naga, gue malah jadi ayam geprek,' batin Arga meratapi nasib kejantanannya

  • Bapak Kos Kesayangan   BAB 167: Pesta Cuan sang Naga

    Suasana di Mansion Kos Melati benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat dalam semalam.Kabar Tari soal cewek cantik pingsan di pagar ternyata cuma modus operandi kurir pengantar dokumen aset hasil jarahan Sekte Naga Hitam.Siska, dengan koneksi perbankan dan duit miliardernya, bergerak cepet banget buat ngamanin seluruh harta karun Tetua Wu.Aset properti, rekening gendut, sampai koleksi barang antik ghaib Wu sekarang udah balik nama jadi milik Arga Mahendra.Hidup di Kos Melati kembali normal, namun penuh dengan kemewahan baru yang bikin geleng-geleng kepala.Pagar mansion yang tadinya cuma besi tempa biasa, sekarang dilapisi emas muda hasil leburan piala-piala Wu.Gudang belakang yang dulunya tempat nyimpen teplon Tari, sekarang penuh sama tumpukan koper isi duit tunai berbagai mata uang.'Hadeuhhh, Siska bener-bener gak main-main soal cuan. Rasanya kayak menang lotre seratus triliun tiap hari,' batin Arga takjub natap deretan mobil sport baru d

  • Bapak Kos Kesayangan   Bab 2

    Nadine yang berbaring di bawah kungkungannya justru mulai menggeliat tidak karuan. Mahasiswi cantik itu membuka bibirnya perlahan, bersiap mengeluarkan desahan panjang akibat sisa-sisa efek racun yang masih mendidihkan aliran darahnya.Melihat gelagat super berbahaya itu, Arga buru-buru membekap mu

  • Bapak Kos Kesayangan   Bab 5

    'Gila, wangi mi rebus pakai rawit begini emang paling juara! Perutku udah demo minta jatah karbohidrat dari sore tadi gara-gara ngeluarin banyak tenaga,' batin Arga tersenyum puas menatap air rebusannya.Sambil menunggu kuah mendidih sempurna, pria paruh baya itu memasukkan sebutir telur ayam segar

  • Bapak Kos Kesayangan   Bab 3

    Amara tersenyum sangat manis, membiarkan raut wajah Nadine mendadak berubah masam melihat kedatangannya di tengah halaman.Sebenarnya, Amara bukan tandingan Nadine yang masih gadis dan sangat cantik.Meski begitu, pesona Amara sebagai janda cantik berusia tiga puluh dua tahun itu, tetap menggoda.D

  • Bapak Kos Kesayangan   BAB 1

    Arga Mahendra hanyalah pria paruh baya berusia tiga puluh sembilan tahun yang bekerja sebagai penjaga Kos Melati. Pekerjaannya sangat sederhana, gajinya pas-pasan, dan hidupnya berjalan lurus-lurus saja tanpa banyak drama. Bangunan dua lantai yang dia urus ini lumayan besar karena memiliki sepuluh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status