Share

4. Angkuh Tapi Baik

Author: SAKABIYA
last update publish date: 2026-07-15 16:18:46

Freya jadi malu, jujur, kejadian di Cafe Bandara beberapa jam lalu masih melekat di ingatannya. Terlebih ia malu karena telah keliru menuduh pria itu menyerobot mejanya. 

“Kak? Bagaimana? Apa proses check in-nya mau dilanjutkan?” desak resepsionis itu nampak tak sabaran, mengetuk-ngetuk meja dengan pulpennya, membuat Freya makin kebingungan. 

“Saya, saya baru saja kehilangan uang di rekening saya, ... saya juga butuh waktu sebentar untuk menghubungi Kakak saya di Jakarta untuk meng-konfirmasi kode booking yang tadi,” ujar Freya dengan suara yang nyaris bergetar. 

Yasa Janitra, nama pria itu! Yasa melirik dan ia juga cukup kaget saat mendapati sosok gadis annoying itu kini sedang berdiri di meja resepsionis Resort yang sama dengannya. 

“Maaf, Nona, kami tidak bisa menunggu lebih lama. Antrean di belakang sudah cukup panjang,” balas si resepsionis dengan nada yang mulai tidak ramah. 

Di sampingnya, Yasa baru saja selesai melakukan proses check-in kilat. Pria itu menerima kunci kamar dari resepsionis, namun ia tidak langsung beranjak. 

Dengan gerakan lambat, ia memasukkan ponsel ke saku jasnya, lalu melirik ke arah Freya yang masih berusaha menahan napas agar tidak menangis di tempat umum. 

Alih-alih menawarkan bantuan, sudut bibir Yasa justru terangkat membentuk senyum sinis yang sangat tipis. Sebuah senyum yang bukan berarti simpati, melainkan cemoohan. 

“Atmosfer ruangan dan tensi selalu terasa panas setiap ada kamu, Nona,” gumam Yasa pelan, namun cukup jelas untuk didengar oleh Freya. Suaranya terdengar seperti sebuah ejekan yang tajam. 

Freya menoleh, matanya menyorotkan kemarahan yang tertahan. “Bukan urusan Anda! Bisa tolong pergi saja dan jangan mengganggu?” 

Yasa tidak marah. Pria 38 Tahun itu justru tertawa kecil, sebuah tawa dingin tanpa ada kehangatan sedikit pun di dalamnya. 

Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Freya bisa mencium aroma parfum maskulin yang tajam, seperti aroma kayu dan rempah yang mahal. 

“Melihatmu kebingungan dan berdiri di sini seperti orang kehilangan arah... benar-benar pemandangan yang menghibur,” ucap Yasa dengan nada merendahkan. 

Freya semakin tersudut, tak menyangka kalau pria angkuh malah membuat kondisinya semakin terpojok. Pandangannya terhadap sosok Yasa semakin jelas, yaitu sosok pria angkuh dan arogan! Menyebalkan! 

“Saran saya, daripada membuang waktu mencoba menghubungi rekanmu di Jakarta, lebih baik cari hotel murah di pinggiran sana. Tempat seperti ini tidak menerima tamu yang nggak mampu bayar.” 

“Saya nggak butuh saran dari orang angkuh seperti Anda, Om Arogan!” desak Freya dengan nada menantang, meski hatinya mencelos. 

Yasa memiringkan kepalanya sedikit, matanya yang tajam menatap Freya dengan ekspresi yang sulit diartikan. “Om Arogan?” 

“Ya! Anda adalah orang paling tidak ramah yang pernah saya temui! Hanya karena insiden kecil di Bandara tadi siang, Anda dengan teganya memojokkan saya daripada membantu saya!” Suara Freya meninggi, pecah di dalam Lobi yang tenang itu sampai beberapa orang menoleh dan memperhatikan. 

“Kamu mau dibantu?” 

“Nggak! Nggak perlu! Semoga saya nggak pernah bertemu dengan Anda lagi!” tegas Freya. 

Yasa nampak menyesal sudah menciptakan percikan konflik sehingga membuatnya merasa kehilangan wibawanya. 

“Oke!” Yasa berbalik arah, berjalan dengan langkah mantap dan angkuh menuju lift, meninggalkan Freya yang kini benar-benar merasa hancur. 

Resepsionis di hadapan Freya kembali berdeham, mengingatkan bahwa waktu untuk berpikir sudah habis. 

Freya menatap punggung tegap Yasa yang perlahan menjauh, lalu menatap layar ponselnya yang mati. Ia tidak punya pilihan, tidak punya tempat tujuan, dan pria menyebalkan itu baru saja memastikan bahwa hari ini akan menjadi hari terburuk dalam hidupnya. 

Waktu terus berlalu, tak terasa sudah 3 jam Freya terjebak dalam ketidakpastian. Tak ada seorang pun yang bisa ia mintai bantuan saat ini. Ia mulai merasa kalau Fiona sengaja mempersulitnya. “Kenapa sih Kak Fiona? Isshhhh!” gerutunya, sudah puluhan kali ia merutuki sang Kakak. 

Lampu kristal di lobi Resort yang megah itu seolah mengejek Freya yang masih duduk di sofa sudut, terpaku dengan tatapan kosong. 

Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Freya lelah, lapar, dan rasa dingin dari luar mulai menyusup masuk setiap kali pintu otomatis hotel terbuka. 

Sudah berulang kali Freya mencoba meminta bantuan customer service bank tapi ia wajib pergi ke Bank pusat yang di Jakarta, sementara saat ini ia sedang ada di Bali! Keadaan makin kacau saat ponselnya kehabisan baterai. Lengkap sudah kebingungan Freya saat ini. 

“Masih di sini?” 

Suara berat dan dingin itu membuat Freya tersentak dari lamunannya. Ia mendongak, mendapati si Om Arogan sudah berpakaian lebih santai, kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya yang kokoh. Pria itu tampak hendak keluar. 

Freya membuang muka, mencoba mengabaikan kehadiran sosok yang menyebalkan itu. “Bukan urusan Anda!” jawabnya ketus, meski suaranya sedikit serak. 

Yasa tidak langsung melangkah pergi. Ia berdiri di sana, mematung, menatap Freya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Memperhatikan keadaan Freya yang lemas dan kesulitan. 

Di balik wajah sedingin es itu, ia sebenarnya mengamati bagaimana jemari Freya yang gemetar meremas ujung cardigan-nya. Setitik rasa Iba cukup menghantui sejak perdebatan beberapa jam yang lalu. 

“Lobi ini bukan tempat pengungsian,” ujar Yasa, suaranya kini sedikit lebih rendah, kehilangan nada mengejeknya yang tadi siang. 

“Saya tahu!” sahut Freya cepat, matanya memanas. “Saya sedang mencoba mencari jalan keluar. Jadi, tolong, berhenti menghakimi saya dan pergi saja sana!” 

Yasa terdiam sejenak. Ia melihat sekeliling lobi yang mulai sepi. Jika Freya terus bertahan di sini, pihak Resort pasti akan memanggil petugas keamanan dalam waktu satu jam ke depan. 

Sekilas tadi, Yasa mendengar masalah yang sedang Freya hadapi. Kode booking palsu dan uang tabungan yang terkuras secara misterius. 

Pria itu menghela napas panjang, sebuah gestur yang menunjukkan bahwa ia sedang melawan egonya sendiri. 

“Kamu punya uang berapa?” tanya Yasa tiba-tiba, sambil duduk di sofa lain di dekat Freya. 

Freya mengerutkan kening, curiga. “Buat apa Anda nanya begitu?” 

“Jawab aja.” 

“Saya punya cukup uang untuk berlibur di sini! Saya Cuma lagi nunggu konfirmasi dari Kakak saya di Jakarta!” 

“Menunggu? Sampai kapan? Berapa jam lagi kamu akan menunggu kepastian itu? Saya rasa Kakak kamu sengaja memberikan voucher palsu itu untuk kamu!” 

Freya tidak membantah, ia pun semakin yakin kalau Fiona memang sengaja melakukan ini semua padanya. Freya senyap lagi dan merenungi kemalangannya. 

Yasa mendengus pelan, lalu beranjak menuju meja resepsionis yang melayani Freya tadi. 

“Siapkan satu kamar standard untuknya selama tiga malam,” pinta Yasa dengan nada otoriter yang tak terbantahkan. 

Tanpa drama, proses check in selesai dalam hitungan menit. Yasa pun kembali menghampiri Freya yang tetap menunggu dalam ketidak pastian. 

Tanpa basa-basi lagi, Yasa menyerahkan kunci akses kamar yang telah di pesan itu kepada Freya. 

Freya tergugah, wajahnya melongo, tatapan matanya penuh tanya. 

“Simpan sisa uangmu baik-baik!” ucap Yasa masih dengan tangan terulur pada Freya. 

“Ini maksudnya apa, Om?” tanya Freya meminta penjelasan. 

“Ini bentuk rasa Iba saya terhadap kamu!” 

Freya jadi malu. Sejak tadi ia bicara keras pada Yasa, tapi sekarang Yasa malah memberinya bantuan senilai puluhan juta rupiah. 

“Ambil ini! Dan ingat, besok pagi kamu harus sudah mulai punya rencana untuk pulang atau mencari tempat lain. Kamu Cuma punya waktu tiga malam di sini! Saya nggak akan menanggung hidup kamu lebih lama dari itu.” 

Freya menerima kunci kamarnya dengan tangan gemetar. Ia sangat malu, tapi ia tak munafik kalau ia senang karena bantuan Yasa membuat ia bisa beristirahat lebih nyaman malam ini. 

“Makasih banyak ... Om ....” ucap Freya segan. 

Tanpa menukas ucapan Freya, Yasa berbalik dan melangkah pergi menuju pintu utama, meninggalkan Freya yang terpaku dengan kunci kamar di tangannya, merasa campur aduk antara rasa lega yang luar biasa dan harga diri yang terkikis. 

‘Duh, kok jadi gini sih ....’ 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   6 Kepikiran Terus

    Karena obrolan itu dirasa sangat serius, Yasa pun mempersilakan Freya untuk masuk ke dalam kamarnya, ia sendiri sudah memakai pakaian. Freya terduduk lemas di sofa, ia nampak shock, napasnya naik turun menahan marah dan kecewa. "Atas nama Fiona? Oke ... kirimkan semua bukti transaksinya, jangan lupa sertifikatnya juga! Oke ...." Sementara Yasa sedang menelpon orang kepercayaannya untuk konfirmasi ulang soal transaksi toko Casa de Cake itu. Saat nama Fiona disebut, hati Freya semakin hancur. Ternyata benar kalau Fiona memang sengaja mengirim Freya untuk liburan ke Bali agar dia bisa leluasa menjual toko kue miliknya. Yasa kembali fokus pada Freya setelah selesai menelpon. Yasa juga nampak gusar karena baru tahu kalau toko yang baru saja ia beli dari Fiona adalah milik bersama dengan Freya. "Saya udah urus soal transaksi jual beli ini sejak 2 minggu lalu, emangnya kamu nggak tau sama sekali?" tanya Yasa nampak kesal. "Aku sama sekali nggak tau. Aku sama sekali nggak curiga

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   5. Hot Duda

    Freya melangkah masuk ke dalam kamar Resort yang diberikan Yasa dengan perasaan yang berkecamuk. Kamar itu cukup mewah, hangat, dan sangat nyaman—kontras dengan kekacauan yang sedang terjadi di hidupnya. Ia meletakkan kopernya di sudut ruangan, lalu segera mencari stopkontak untuk mengisi daya ponselnya yang mati total. “Awas aja Kak Fiona! Bener-bener tega ya mempermainkan aku kayak gini!” gerutu Freya sangat kesal. Begitu ponsel menyala, Freya berharap ada notifikasi pesan atau panggilan tak terjawab dari Fiona, tapi ternyata tidak ada! Tidak ada sama sekali! Freya mencoba menekan tombol panggil untuk kesekian kalinya. “Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi...” “Arghhhhhh!” Freya melempar ponselnya ke atas kasur dengan frustrasi. Kakinya lemas, ia terduduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela besar yang memperlihatkan halaman Resort yang hijau dan asri. Ia menyadari satu hal yang pahit, ia telah dipermainkan oleh Kakak kandungnya sendiri. “Kenapa, Kak Fiona?

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   4. Angkuh Tapi Baik

    Freya jadi malu, jujur, kejadian di Cafe Bandara beberapa jam lalu masih melekat di ingatannya. Terlebih ia malu karena telah keliru menuduh pria itu menyerobot mejanya. “Kak? Bagaimana? Apa proses check in-nya mau dilanjutkan?” desak resepsionis itu nampak tak sabaran, mengetuk-ngetuk meja dengan pulpennya, membuat Freya makin kebingungan. “Saya, saya baru saja kehilangan uang di rekening saya, ... saya juga butuh waktu sebentar untuk menghubungi Kakak saya di Jakarta untuk meng-konfirmasi kode booking yang tadi,” ujar Freya dengan suara yang nyaris bergetar. Yasa Janitra, nama pria itu! Yasa melirik dan ia juga cukup kaget saat mendapati sosok gadis annoying itu kini sedang berdiri di meja resepsionis Resort yang sama dengannya. “Maaf, Nona, kami tidak bisa menunggu lebih lama. Antrean di belakang sudah cukup panjang,” balas si resepsionis dengan nada yang mulai tidak ramah. Di sampingnya, Yasa baru saja selesai melakukan proses check-in kilat. Pria itu menerima kunci kamar dar

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   3. Salah Sangka

    “Saya meninggalkan koper saya di sini sebagai tanda,” sahut Freya tegas, menunjuk koper silver yang ada di dekat si pria. “Dan saya Cuma pergi sebentar aja lho ke toilet.” Pria itu mengerutkan kening, menatap Freya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan yang seolah sedang menilai.“Bagaimana bisa Anda begitu santainya duduk di meja yang sudah ada pemiliknya ini? Padahal masih ada banyak meja kosong yang bisa Anda pilih!” Freya agak mengomel karena kesal. “Menurut kamu ini meja kamu? Dan ini koper milik kamu?” tanya pria itu masih dengan sikap dinginnya.  “Ya! Jelas! Sebelum saya pergi ke toilet, meja ini adalah tempat saya!” tegas Freya. “Permisi, Kak.” Tak lama, di belakang Freya ada yang menyapa dengan sopan. Seorang petugas kebersihan Cafe. Freya menoleh dan merasa heran karena petugas itu menggeret sebuah koper yang sama persis dengan miliknya. “Apakah ini milik Anda?” tanya Office girl itu. “Oh ....” Freya kebingungan, ia memperhatikan koper itu lalu kemudian m

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   2. Pria Arogan

    Perceraian itu telah selesai, namun Freya terus dihantui dan diburu oleh para fans Rendra yang menghakiminya terus menerus. Postingan Freya selalu ramai dengan hinaan dan hujatan, bahkan saat Freya hanya memposting tentang toko kuenya.[Dasar mandul!][Kasian Rendra Saputra, buang-buang waktu selama 2 Tahun sama cewek nggak guna][Udah paling bener mereka cerai!][Mas Rendra aktor ternama, nggak sepadan sama tukang kue itu!]Kata-kata kasar, fitnah, bahkan ancaman pembunuhan kerap ia terima. Tapi meskipun itu sangat mengganggu, Freya hanya ingin kembali fokus dengan usaha kecilnya dan menutup setiap lembaran kelam dengan Rendra.Sejak lulus kuliah 4 Tahun lalu, Freya fokus meneruskan operasional toko kue peninggalan Ayah Ibunya. Toko kue tua yang hampir gulung tikar dipoles menjadi toko kue kekinian dengan konsep modern yang lebih segar. Alhasil toko kue itu kembali hidup dan jadi salah satu favorit pembeli.Pagi itu, toko masih sepi, Freya dibantu Mitha dan 2 orang pegawai lain sedan

  • Biar Janda, Aku Masih Perawan, Om!   1. Video Call Gila

    “Terus, Sayang! Lakukan sambil berdiri…” Freya seketika membeku. Tangannya yang baru saja ingin mengetuk pintu kamar untuk memanggil Rendra, suaminya selama dua tahun ini, seketika gemetar.“Mas Rendra… Kamu…”Suara itu terdengar menjijikan, bukan suara wanita, tapi Freya sedang mendengar suara seorang pria sedang beradu erangan dan desahan dengan Rendra. Apa mereka sedang melakukan Video Call? Freya sampai mual mendengarnya.“Apa-apaan ini?” gumam Freya, tangannya mendekap mulut. Jijik sekali mendengar suaminya sedang 'memuaskan hasrat masing-masing' secara virtual lewat sambungan video call. “Sakit tapi enak, Beb! Aahhh, sumpah aku nggak sabar kita ketemu dan ngelakuinnya secara nyata ...” Rendra mendesah manja. “Aku juga ....” “Terus ya ... aaah, terus ....” “Aku udah keluar.” “Aku juga ... aaah, enak banget, Sayang. Jadi kapan kamu ke Jakarta?” Freya semakin ternganga, perasaannya berantakan dan perutnya seakan sedang diremas-remas sampai mual. “Kita nggak bisa ngelakuinn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status