LOGINMereka akhirnya kembali ke mobil. Naomi langsung duduk di kursi penumpang sambil memangku buket mawar merah besar milik Mareeq.
Begitu mobil mulai melaju menuruni jalan bukit, suasana menjadi tenang. Lampu-lampu kota perlahan menjauh di belakang mereka. Naomi bersandar nyaman di kursi.
"Besok libur panjang ya."
Mareeq melirik sekilas. "Hm."
"Waktunya bermalas-malasan."
"Kamu terdengar sangat bahagia."
"Aku memang bahagia."
Beberapa menit kemudi
Naomi masih duduk di atas kloset yang tertutup. Air matanya sudah berhenti mengalir. Namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketenangan. Tatapannya kosong.Di tangannya, test pack itu masih tergenggam begitu erat hingga jemarinya memutih. Ia tidak tahu sudah berapa lama berada di sana. Lima menit. Sepuluh menit. Atau mungkin lebih. Yang ia tahu hanyalah pikirannya terasa kacau. Semua rencana hidup yang selama ini ia susun seakan runtuh dalam satu pagi.Tok... Tok..."Sayang?"Suara Leon terdengar dari balik pintu. Naomi tidak menjawab."Naomi?"Masih hening. Leon mulai merasa ada yang tidak beres. Perlahan ia memutar gagang pintu yang ternyata tidak dikunci. Pintu kamar mandi terbuka."Naomi."Leon mengamati kekasihnya. Ia mendapati Naomi masih mengenakan piyamanya, duduk diam di atas kloset dengan wajah yang sangat pucat. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya sembap."Kamu kenapa?" Leon langsung berjongkok di depan
Begitu tiba di apartemen, suasana yang sunyi langsung menyambut Naomi. Naomi melepas sepatu dan meletakkan tas di sofa. Tak ada suara televisi. Hanya dengungan pendingin ruangan yang terdengar pelan.Ia mengeluarkan kantong dari dalam tas. Perlahan, ia mengeluarkan satu per satu isinya. Obat pelancar haid. Lalu... Sebuah kotak kecil bertuliskan test pack.Naomi meletakkannya di atas meja di ruang TV. Tatapannya tidak berpindah. Tangannya perlahan meraih kotak itu. Lalu diurungkannya. Ia menarik napas panjang.Ia menggigit bibir bawahnya. Ia berharap bahwa ini karena terlalu banyak pikiran. Dia tidak bisa membayangkan jika hasilnya benar positif. Dadanya mendadak sesak.Naomi menutup wajah dengan kedua telapak tangan."Tidak boleh..."Bisiknya lirih.Berkali-kali ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Mungkin cuma telat. Mungkin karena stres. Mungkin karena kecapekan. Semakin banyak kemungkinan yang ia pikirkan, semakin besar pula rasa
Mareeq mengencangkan baut roda untuk terakhir kalinya, lalu berdiri sambil mengusap kedua telapak tangannya yang dipenuhi debu. Ban cadangan sudah terpasang dengan baik. Ia menepuk pelan ban itu, memastikan semuanya aman sebelum menutup bagasi.Saat membuka pintu pengemudi, pandangannya langsung tertuju pada Naomi. Naomi masih duduk di kursi penumpang. Tatapannya mengarah ke luar jendela, tetapi seolah tidak benar-benar melihat apa pun."Naomi."Naomi sedikit tersentak. "Hmm?""Sudah selesai.""Oh..." Ia memaksakan senyum tipis. "Terima kasih."Mareeq masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Namun bukannya langsung menjalankan mobil, ia justru menoleh ke arah Naomi."Kamu kenapa?"Naomi menggeleng pelan. "Nggak kenapa-kenapa.""Kamu dari tadi diam.""Aku cuma capek."Mareeq memperhatikan wajah Naomi beberapa detik. Biasanya, setelah pekerjaan selesai atau ada kejadian kecil di jalan, Naomi akan mengomenta
Sejak pagi, suasana kantor kembali dipenuhi kesibukan. Lift tak pernah sepi, mesin kopi di pantry bekerja tanpa henti, dan hampir setiap meja dipenuhi tumpukan dokumen yang menunggu diselesaikan.Naomi baru saja meletakkan berkas di mejanya ketika Mareeq muncul di depan meja Naomi sambil membawa map hitam."Naomi, ikut aku meeting sebenter di luar."Naomi kemudian melirik ke arah meja Claudia. Dia ada di sana, tapi tampaknya tidak memperhatikan Mareeq yang memintanya ikut meeting. Sepertinya Claudia mengerjakan hal lain yang lebih urgent.Naomi pun menatap Mareeq dengan senyuman. "Baiklah. Setidaknya ada suasana baru daripada di depan komputer terus.""Kita berangkat sekarang.""Oke."Mereka berpamitan kepada tim sebelum turun ke area parkir.Meeting berjalan hampir dua jam. Diskusi yang awalnya diperkirakan selesai sebelum makan siang ternyata berlanjut hingga beberapa kali membahas revisi anggaran dan jadwal kampanye.
Libur panjang benar-benar berakhir. Sejak pukul delapan pagi, lantai divisi pemasaran kembali dipenuhi suara keyboard, dering telepon, dan diskusi yang berlangsung hampir tanpa jeda."Naomi, revisi materi promonya sudah selesai?" tanya Claudia."Hampir." jawab Naomi sekenanya."File untuk klien dari We Food jangan lupa dikirim sebelum jam sebelas.""Itu sudah selesai. Aku kirim sekarang." jawab Naomi."Oke. Terima kasih."Setelah Naomi mengirim berkas pertama, notifikasi lain sudah bermunculan. Deadline demi deadline membuat seluruh tim nyaris tidak sempat mengobrol. Bahkan Claudia yang biasanya paling cerewet pun sejak pagi sibuk menatap monitor di mejanya.Di tengah kesibukan itu, Rian, office boy, muncul di depan ruangan."Permisi, ada yang mau titip camilan? Saya sekalian ke minimarket."Beberapa kepala langsung terangkat."Aku titip kopi.""Tolong belikan aku roti. Sepertinya tidak sempat turun untuk m
Selesai menikmati hidangan penutup, Mareeq memanggil pelayan untuk membayar tagihan. Setelah semua pembayaran selesai, mereka kembali ke mobil. Alih-alih mengantar Naomi pulang, Mareeq membelokkan mobil ke arah jalan yang sudah sangat mereka kenal.Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil berhenti di tepi jalan yang berada di atas bukit. Tempat itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa kendaraan yang sesekali berhenti untuk menikmati pemandangan.Langit masih berwarna biru muda, perlahan berubah keemasan di ufuk barat. Awan tipis bergerak pelan tertiup angin. Kota di bawah tampak jelas dengan lalu lintas yang masih padat.Tidak ada percakapan. Naomi melirik ke samping. Mareeq duduk diam sambil memandang jauh ke arah kota.Meski berusaha terlihat biasa, wajahnya masih menyimpan sisa kelelahan. Kelopak matanya beberapa kali berkedip lebih lambat. Bahu pria itu pun tampak sedikit turun, tidak setegap biasanya.Naomi menghela napas pelan. "Kamu ngantuk."
Aroma kopi hangat memenuhi rumah ketika Naomi melangkah keluar dari kamar. Rambutnya masih sedikit berantakan, terurai tanpa usaha, daster tidurnya jatuh longgar mengikuti tubuh, tampilan pagi yang jujur dan apa adanya. Ia berhenti mendadak di ambang ruang makan.Kakaknya ada di sana. Dudu
Mareeq memecah keheningan dengan suara yang lebih rendah dari biasanya. Seolah kalimat itu hanya ditujukan untuk ruang kecil di antara mereka.“Aku sudah dengar,” katanya perlahan, “kalau kamu ngotot mempertahankan proyekku. Sampai akhirnya dipilih.” Ia menatap Naomi dengan sungguh-sungguh
Lampu-lampu kota menyala seperti bintang yang turun ke bumi ketika Mareeq berhenti di depan kantor. Mobilnya tenang, berkilau tipis, seolah menyimpan rahasia malam itu di balik kaca gelap. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul tujuh lewat sedikit, seharusnya ini sudah waktunya Naomi kelu
Jumat siang yang terik itu terasa berbeda bagi Naomi. Saat ia berjalan menuju area parkir kantor untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di mobil, langkahnya mendadak terkunci. Di sana, di sebelah mobilnya, seharusnya itu tempat kosong. Tapi, dia melihat sebuah mobil hitam yang sangat ia kenali.







