Share

Samar

Author: NaoMiura
last update publish date: 2025-11-10 20:00:00

Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.

Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat.

"Bagaimana jika kita fokus pada sensainya?" Naomi berpendapat.

"Coba jelaskan." Pinta Mareeq.

"Minuman dengan komoposisi santan, gula aren, dan pandan itu sudah lumrah. Tapi, kita buat seperti memakan klepon. Biasanya boba tapioka dimasak dengan gula aren. Atau popping boba dengan isian sirup. Kita gabungkan keduanya dengan membuat popping boba isian gula aren. Ketika menggigitnya, sirup gula aren meletus sensasinya sama seperti memakan klepon." Terang Naomi.

Orang-orang berpikir dan mulai mengangguk. Mareeq tidak melepaskan pandangan dari Naomi. Naomi tidak tahu apa yang ada di pikirannya, apakah dia setuju atau menolak.

"Bagaimana tim R&D?" Tanya Mareeq tanpa mengalihkan pandangan dari Naomi.

"Itu ide bagus dan bisa dicoba."

"Baiklah kita pakai ide itu. Yang lain seperti biasanya lakukan tugas masing-masing. Aku tunggu kemajuan kalian." Ujar Mareeq yang kemudian mengambil ponselnya sambil berjalan ke arah jendela untuk menelpon seseorang.

Semua orang meninggalkan ruang meeting kecuali Mareeq yang sedang sibuk menelepon. 

Di lorong, Naomi terusik dengan sebuah pemandangan di luar jendela. Kucing itu lagi. Dia berjalan di atas pagar pembatas.

"Berapa nyawa tersisa yang dia punya. Kucing siapa sebenarnya?" gumam Naomi.

"Kamu menyukai kucing?" Suara Mareeq membuat Naomi terkejut.

"Oh!" Naomi melihat Mareeq di belakangnya, "Aku suka. Tapi aku tidak bisa memelihara. Aku memiliki alergi debu dan bulu binatang."

"Aku baru akan memberi tahu bahwa aku punya kucing di rumah. Tapi aku akan mengurungkannya karena itu akan membuatmu iri,"

"Kamu sudah mengatakannya." Naomi dengan nada kesal.

Mareeq berlalu dengan sedikit tertawa. Naomi yang menyadari bahwa Mareeq bisa tertawa pun tersenyum. Dia menyusul Mareeq dan berjalan bersama.

***

Sabtu sore, Naomi dan Flora pergi ke mall bersama. Dia melihat kakaknya bersama seorag wanita. Mereka terlihat memasuki tempat makan. Naomi berpamitan pada temannya. Lalu menghampiri kakaknya.

"Sayang! Sedang apa kamu di sini?" Tanya Naomi.

Mereka berdua terlihat terkejut melihat kedatangan Naomi. Terlebih wanita itu.

"Sayang?" Ujar kakak Naomi yang keheranan.

Beberapa orang di sekeliling memandangi mereka. Itu seperti adegan seorang pria yang tertangkap basah sedang selingkuh.

"Siapa wanita ini? Dia selingkuhanmu?" Tanya Naomi dengan menunjuk wanita yang ada di sebelahnya.

Vino berdiri dan mencoba menenangkan Naomi. "Apa yang kamu bicarakan? Ayo, kita bicara di luar"

Wanita itu mendorong kursinya ke belakang. Naomi dan Vino memandangnya. Terlihat muka kesal darinya.

"Aku permisi" Pamit wanita itu.

"Tunggu!" cegah Vino tapi tidak berhasil.

Naomi hanya memandangi kepergian wanita itu.

"What are you doing?" Tanya Vino minta kejelasan.

Naomi menggigit bibirnya sendiri seolah tidak ingin bicara. Segera dia mengalihkan padangan. Naomi pergi meninggalkan Vino tanpa rasa bersalah.

Vino terlihat menghela nafas. Dia segera pergi ke kasir untuk membayar makanan yang belum sempat dimakan. Naomi terlihat berdiri menunggu di depan pintu.

Tidak ada percakapan selama di perjalanan. Vino terlihat kesal. Naomi tidak berani mengatakan sesuatu. Tentu saja setelah apa yang dia lakukan.

Sesampainya di rumah. Naomi bergegas masuk ke kamarnya menghindari kakaknya.

"Kakak butuh penjelasanmu!" Teriak Vino yang seketika membuat Naomi menghentikan langkahnya.

"Bukankah kakak sedang selingkuh? Bukankah pacar kakak seseorang bernama Angel?" Naomi menjawab dengan sebuah pertanyaan.

"Kamu pernah melakukan ini juga pada Angel. Dan karena itu pula kakak putus dengan Angel."

"Kakak berpacaran cewek itu?" Selidik Naomi.

"Belum" Jawab Vino datar.

Belum? Berarti ada niat kakaknya berpacaran dengan gadis tadi.

"Maaf. Aku kira kakak berselingkuh." Ujar Naomi melangkah pergi meninggalkan kakaknya yang sedang kesal.

***

Setelah beberapa bulan divisi Naomi bergabung. Naomi semakin akrab dengan gadis bernama Flora. Dia periang dan baik hati. Entah kenapa dia semakin mendekati Naomi. Bisa dibilang kini mereka bersahabat di kantor.

Naomi juga dekat dengan Claudia selaku manajer atau pimpinan di divisi baru ini. Claudia selalu mengajak Naomi rapat karena beberapa kali Naomi memberika ide yang bagus. Secara tidak langsung mengangkat nama divisi.

Tapi sudah beberapa kali ini Claudia pergi rapat tidak mengajak Naomi. Padahal Naomi juga ingin tahu perkembangan produk yang sedang berjalan. Ada ide Naomi juga yang tertuang di produk itu. Pagi ini pun Naomi melihat meja Claudia kosong.

"Kemana Claudia?" Tanya Naomi.

"Dia sedang rapat. Dia sibuk mengurus produk milik Rahaal dan Mareeq. Mereka memiliki cara promosi yang berbeda menurut mereka,"

"Tumben sekali dia tidak mengajakku" gumam Naomi.

"Mungkin dia yakin bisa mengurus semuanya. Padahal sebelumnya dia bilang mengahadapi mereka berdua itu menyebalkan. Tapi kulihat mereka makin akrab," celetuk Flora.

"Kamu merasakannya juga?" Naomi sependapat.

"Ini seperti dia sengaja mendekati mereka."

"Bukannya Claudia berpacaran dengan Max?" Tanya Naomi.

"Ya, aku yang menjodohkan mereka."

"Itu berarti itu memang urusan pekerjaan. Mungkin dua produk baru ini istimewa."

"Kita belum mendapatkan informasi tentang produk ini. Aku sih nggak mau diminta berpikir mendadak bagaimana mempromosikan ini nanti,"

Meskipun mencoba untuk berpikir positif, Naomi juga merasa ada yang janggal. Naomi dan Mareeq memang dekat setelah beberapa kejadian di luar pekerjaan. Tapi, Claudia seperti mencoba semakin dekat dalam pekerjaan. Dia selalu mengatakan Mareeq ataupun Rahaal itumenyebalkan. Apakah Claudia memiliki tujuan?

Usai makan siang, Naomi pergi ke kafe untuk membeli minuman. Di konter, Naomi melihat ada Mareeq. Naomi menyapanya dengan senyuman.

"Kamu sendirian?" Tanya Mareeq.

"Iya. Yang lain bilang sedang tidak ingin kopi,"

"Mau pesan apa?"

"Jika ingin mentraktir, kamu harus mentraktir anggota timku juga," pinta Naomi. Melihat tidak ada reaksi, Naomi segera tertawa. "Aku bercanda"

"Pesanlah untuk timmu," ujar Mareeq kemudian.

"Aku hanya bercanda. Dan aku akan membayar untukku sendiri," balas Naomi."Tolong, matcha satu" pesannya pada barista.

"Tambah lagi sepuluh dan masukkan ke tagihanku." kata Mareeq.

"Aku bilang aku hanya bercanda."

"Dan aku bilang aku yang akan membayar,"

"Terima kasih." Tutur Naomi. Dia kemudian penasaran dengan apa yang terjadi. "Kamu, Rahaal, dan Claudia tampak sibuk." Imbuhnya.

"Ya. Kami mempercepat peluncuran produk." Jawab Mareeq.

"Oh..." Gumam Naomi. Barista menyodorkan minuman pada Naomi. Naomi pun menyambutnya. "Terima kasih."

Mareeq segera mengambil alih sebagian minuman agar Naomi tidak kerepotan.

"Akan ada sesuatu yang mengejutkan nanti."

Naomi menatap bingung ke Mareeq. "Apa itu?"

"Kamu akan tahu nanti. Aku tidak tahu dengan yang lain, tapi kamu pasti akan suka." Jawab Mareeq berjalan lebih dulu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Aroma yang Personal

    Hari Jumat, langit mendung sejak siang. Menjelang jam pulang kantor, suara hujan mulai terdengar mengetuk jendela-jendela gedung. Semakin lama, semakin deras.Naomi berdiri di depan gedung. Ia menatap ke arah langit. Hujan turun tanpa ampun. Deras. Beberapa orang tampak berlari kecil menuju kendaraan mereka sambil melindungi kepala dengan tas.Naomi mengulurkan tangannya, merasakan air hujan. Tidak ada payung. Ia memang tidak membawa payung pagi tadi karena cuaca terlihat cerah."Bagaimana, ya?" gumamnya pelan.Menunggu hujan reda sepertinya tidak menjanjikan. Saat sedang berpikir, seseorang berhenti di sampingnya. Naomi menoleh. Rahaal. mPria itu masih mengenakan kemeja kerja yang rapi seperti biasa. Di tangannya tergenggam sebuah payung hitam."Kamu belum pulang?" tanya Naomi.Rahaal melihat hujan di depan mereka. "Hujannya deras.""Iya." ujar Naomi ikut memandang hujan. "Aku sedang mempertimbangkan apakah harus menerobos hujan atau

  • Bilur Bulir Bertaut   Tip

    Usai menyelesaikan meeting dengan klien, Naomi dan Mareeq berjalan keluar dari restoran yang berada di dalam pusat perbelanjaan. Jam makan siang telah lewat, tetapi mall masih cukup ramai. Orang-orang berlalu-lalang membawa kantong belanja, beberapa keluarga terlihat mengantre di restoran, sementara alunan musik pelan terdengar dari pengeras suara.Naomi berjalan sambil memeluk beberapa map berisi dokumen meeting."Kita selamat," kata Mareeq.Naomi meliriknya. "Memangnya tadi seseram itu?""Kamu tidak lihat ekspresi klien waktu minta revisi tambahan?""Masih wajar.""Itu karena kamu sudah kebal."Naomi terkekeh kecil. "Coba bayangkan ekspresimu di depan bawahanmu. Kurang lebih sama.""Benarkah?" gumam Mareeq.Mereka melewati beberapa gerai minuman sebelum Mareeq berhenti di depan sebuah booth matcha take away."Matcha?" tanya Mareeq menawari.Naomi yang tadinya terlihat lelah langsung mendongak. Naomi tersenyum. "Mau.""Baiklah."Mereka pun ikut mengantre.Saat giliran mereka hampir t

  • Bilur Bulir Bertaut   Bioskop

    Naomi membalas tatapan itu. Keduanya sama-sama tampak bingung. Suasana mendadak hening. Killa, yang baru duduk di sebelah Naomi sambil membawa minuman, membeku. Orang-orang di sekitar yang menyadari kejadian itu mulai menahan senyum.Wanita itu berkedip. "Eh..."Naomi juga berkedip. Lalu, entah kenapa wanita itu perlahan mengulurkan tangan. "Makasih." Ia mengambil segenggam popcorn.Kress. Dimakannya dengan santai. Naomi melotot kecil. Dia benar-benar mengambilnya. Wanita itu mengunyah beberapa detik. Pria di sampingnya tampak tidak percaya.Killa menunduk sambil menggigit bibirnya sendiri. Bahu pria itu mulai bergetar. Ia sedang berjuang keras untuk tidak tertawa.Wanita itu menoleh lagi pada Naomi. "Makasih, ya."Naomi menatap ember popcornnya. Lalu menatap wanita itu. Kemudian, dengan ekspresi datar dan polos, ia berkata, "popcorn buat kakak saja. Tapi, jangan marahin kakaknya. Kasihan." Naomi melirik pria di samping wanita itu.He

  • Bilur Bulir Bertaut   Popcorn

    Ketika Naomi sedang merapikan beberapa dokumen di mejanya ketika ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuatnya tersenyum kecil. Killa. Dia pun segera membuka isi pesannya.Killa: Mau nonton nggak?Naomi membalas cepat.Naomi: Tumben ngajakin nonton?Tak lama kemudian balasan masuk.Killa: Iya. Zara ada urusan keluarga mendadak. Sayang tiketnya kalau hangus. Daripada nonton sendirian.Naomi tertawa pelan.Naomi: Baiklah. Kamu yang jemput ke sini ya? Jam4 sore.Killa: Oke.Setelah membalas, Naomi kembali bekerja. Namun, tanpa sadar, senyumnya masih tertinggal di wajah."Ada kabar baik?"Naomi menoleh. Flora duduk di samping mejanya sambil memegang mug kopi."Hah?""Senyum-senyum sendiri natap HP kayak orang gila."Naomi terkekeh kecil. "Oh, bukan apa-apa. Killa ngajak nonton.""Killa?" Mata Flora membesar. "Kamu masih berteman dengannya?""Iya. Kami sahabata

  • Bilur Bulir Bertaut   Es Krim dan Parfume

    Usai dari toilet,Naomi tidak tahu apakah harus segera kembali ke booth atau dia harus jalan-jalan di sekitar mall. Saat sedang berjalan santai, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada sebuah butik parfum premium. Dan di sanalah ia melihat seseorang yang dikenalnya. Rahaal.Naomi otomatis melambat. Bukan karena ingin menguping. Hanya saja cukup mengejutkan rupanya keperluan lain ituy adalah membeli parfum. Apalagi di atas meja kasir sudah ada beberapa kotak parfum.Satu. Dua. Tiga. Empat. Naomi mengernyit. Sebanyak itu? Seolah sedang menimbun stok. Aneh. Namun sebelum rasa penasarannya berubah menjadi tindakan yang lebih memalukan, Naomi segera pergi dari sana.Ketika kembali, suasana di area booth jauh lebih tenang. Yang ada hanya Claudia yang duduk di kursi dekat meja display sambil memainkan ponselnya. Naomi menghampiri lalu duduk di kursi sebelahnya."Mareeq ke mana?" tanya Naomi.Claudia mengangkat kepala. "Pergi sebentar.""Ke mana?"

  • Bilur Bulir Bertaut   Booth Bazaar

    Mareeq keluar dari ruangannya dan berjalan ke depan meja Naomi."Naomi, ikut aku ke area bazar, ya. Aku mau lihat persiapan booth." ujar Mareeq.Naomi yang sedang memeriksa dokumen langsung mengangguk. "Baik."Belum sempat berdiri, Claudia yang mendengar percakapan itu segera menoleh. Mareeq lalu menatap ke arah Claudia."Claudia juga ikut." ucap Mareeq tegas.Claudia tersenyum lega. Mareeq masih mengajaknya untuk ikut dalam pekerjaannya. Claudia menganggap Mareeq masih mengandalkannya."Booth kita di Hall B, dekat pintu samping. Katanya backdrop-nya sudah dipasang," katanya.Claudia langsung mengangguk semangat. "Bagus. Aku mau lihat apakah warna backdrop-nya sesuai desain yang kita kirim atau tidak."Sejujurnya Naomi tidak terlalu antusias melihat booth. Bekerja bersama Claudia kadang membuatnya lelah. Dia harus menahan diri dengan Mareeq. Terkadang ada hal-hal yang dilakukan Claudia seperti menyerangnya secara halus.

  • Bilur Bulir Bertaut   Jamuan yang Mencekam

    Cahaya matahari Sabtu pagi yang biasanya menenangkan kini terasa menyengat di mata Naomi. Ia masih bergelung di bawah selimut, menikmati aroma kopi yang sedang diseduh Leon di dapur, sampai getaran ponsel di atas nakas menghancurkan ketenangannya. Nama Mareeq berkedip di layar."Ya, Mareeq

  • Bilur Bulir Bertaut   Kotak Mewah dan Rasa Bersalah

    Malam itu, suasana apartemen terasa begitu sunyi, hanya ada suara rendah dari televisi. Naomi sedang menyandarkan kepalanya di bahu Leon, sambil menatap layar televisi tanpa benar-benar memperhatikan tayangannya. Leon yang fokus dengan ponselnya, sesekali mengelus rambut Naomi dengan lembut.

  • Bilur Bulir Bertaut   Rasa Cheese Cake yang Tertinggal

    Restoran ini berada di lantai tertinggi salah satu gedung ikonik. Begitu pintu lift terbuka di lantai 18, Naomi disambut oleh pemandangan cakrawala kota di balik dinding kaca raksasa. Suasananya begitu sunyi, hanya ada alunan musik jazz instrumental yang sangat halus."Selamat siang, Tuan

  • Bilur Bulir Bertaut   Di Luar Kantor

    Jumat pagi itu, udara di kantor Legacy terasa lebih berat dari biasanya. Naomi melangkah masuk dengan setelan blazer yang rapi dan riasan wajah yang sedikit lebih tebal untuk menutupi lingkaran hitam di bawah matanya. Ia menarik napas panjang, mencoba menanamkan pada dirinya sendiri bahwa hari in

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status