مشاركة

Semakin Dekat

مؤلف: NaoMiura
last update تاريخ النشر: 2025-11-09 19:59:49

Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.

Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.

"Kami menunggumu dari tadi." Ujar Tia

"Aku justru mencari kalian. Jadi, aku duduk di sana tadi." Menunjuk ke arah Mareeq.

"Kamu dengannya?" Tanya Claudia.

"Siapa? Pak Mareeq? Nggak. Aku hanya duduk di dekatnya." Jawab Naomi.

"Aku teringat meeting dadakan produk terakhir," ujar Tia.

"Dia selalu menyusahkan. Dia lebih susah dari pada Rahaal" Imbuh Claudia.

"Rahaal lebih tampan juga" celetuk Tia.

Naomi memandang ke arah Mareeq lagi. Dia masih duduk di sana dengan rokoknya. Pandangannya lurus ke depan.

***

Naomi menghadiri peluncuran produk baru milik perusahaan Gigantic. Dia melihat Mareeq datang ke acara ini juga. Naomi melihat sekeliling. Tidak ditemukan seseorang yang bisa diajak bicara. Dia pun mendekatinya.

"Permisi." seru Naomi.

Mareeq yang sedang membaca sebuah brosur pun mengalihkan pandangan ke sumber suara. Dia hanya menatap Naomi. Beberapa detik tanpa percakapan.

"Bolehkah aku duduk di situ?"

"Ya. Silakan" ujarnya kemudian Mareeq kembali sibuk dengan brosurnya.

Naomi duduk di sebelahnya. Diliriknya pria itu. Sepertinya dia tidak mengenali Naomi. Apakah dia lupa? Atau dia pura-pura tidak kenal?

Naomi pun memperhatikan brosur yang ada. Tiba-tiba Naomi tersentak menahan tawa dan mengeluarkan suara aneh. Dia menutup mulutnya. Naomi memandang ke arah samping, Mareeq menatapnya. Wajah Naomi berubah menjadi merah padam.

"Maaf." Ujar Naomi yang merasa Mareeq terganggu.

"Bagaimana bisa dia benar-benar meluncurkan keripik bawang dan bukan keripik rasa bawang," gumam Naomi terkekeh sendiri.

"Aku penasaran sejak tadi. Ini benar-benar bawang?" Suara Mareeq terdengar.

"Ya. Ini tertulis keripik bawang." Timpal Naomi.

"Bagaimana rasanya?"

"Aku pikir itu renyah dan rapuh. Tekstur dan rasa mungkin bisa diterima. Tapi baunya, tidak banyak orang yang suka." Naomi mengungkapkan pendapatnya.

Mareeq terlihat mengangguk. "Aku penasaran mungkin ini akan lebih enak jika diberi butter dan keju" Celetuknya.

Naomi langsung bersemangat, "Oh! Seperti Garlic Bread. Itu terdengar enak."

Naomi melihat sekeliling untuk mencari di mana sampel makanan berada. Di sana! Sedang ditata. Naomi berdiri menyeret lengan Mareeq. Mareeq sedikit terkejut, tapi dia menuruti apa instruksi Naomi.

"Ada di sana. Ayo kita coba!"

Naomi segera menghampiri tempat sampel. Mengambil satu porsi di piring kertas kecil. Dia menaruh satu keripik kecil di mulutnya, dan menyodorkan sisanya pada Mareeq. Mareeq mengambil satu lalu mencicipinya.

"Ah, benar katamu. Ini akan lebih enak jika diberi butter dan keju."

"Aku setuju."

Seseorang mendekat pada mereka. "Kalian sudah mencicipinya? Bagaimana?" Tanyanya tiba-tiba.

Naomi menoleh ke sumber suara. Wajah yang familiar dan sangat dikenal.

"Gila!" Celetuk Naomi dengan berani, Mareeq membelalakkan mata karena terkejut.

"Ide aneh ini benar-benar direalisasikan," Naomi tertawa.

"Aku bilang ini bisa saja terjadi. Mungkin hanya celetukan bagimu, tapi bagiku ini peluang bisnis. Aku justru sangat berterima kasih untuk ide ini,"imbuhnya.

"Kamu harus memberiku royalti untuk ide yang luar biasa ini." Tuntut Naomi.

"Jika kamu masih bekerja untukku, kamu bisa mendapatkannya. Tapi karena kamu pergi ke perusahaan lain, maka itu salahmu."

Naomi melihat ke arah Mareeq. Dia pasti bingung dengan percakapan ini. "Aku pernah bekerja di Gigantic bersamanya," jelas Naomi.

"Oh, kamu dari Legacy juga bukan? Perkenalkan aku Vino," sambil mengulurkan tangan.

Mareeq terlihat menyambut uluran tangan itu. "Produk yang sangat bagus. Aku tidak akan terpikirkan hal ini. Pasti akan sukses di pasaran."

"Cewek tidak banyak yang suka dengan produk pure bawang seperti ini. Harus dibuat rasa-rasa." Komentar Naomi.

"Jika begitu kembalilah dan lakukan itu," pintanya.

"Tidak! Aku tidak ingin memperkaya perusahaan yang sudah kaya." Tolak Naomi.

***

Hari ini ada meeting terkait produk baru. Beberapa divisi diminta untuk ikut rapat. Claudia meminta Naomi untuk ikut juga. Tapi, karena Naomi harus menyelesaikan pekerjaan, jadi dia datang terlambat.

Ketika Naomi pergi ke ruang meeting, dari jauh Mareeq terlihat mengintip ke ruang meeting satu. Ketika menyadari keberadaan Naomi, dia berjalan ke ruang meeting dua. Ada apa dengannya? Naomi pun masuk ke ruang meeting satu.

Claudia sudah duduk dan mengobrol di sana. Naomi pun duduk di sebelah Claudia.

"Rapat apa ini?" Tanya Naomi.

"Kami belum tahu. Pak Mareeq yang memimpin katanya memiliki ide baru." Jawab Claudia.

"Pak Mareeq?" Tanya Naomi.

Claudia hanya mengangguk, "Tapi,entah kenapa dia belum datang."

Naomi pun melihat ke partisi kaca. Kepala seseorang terlihat masih berjalan kesana-kemari. Naomi pikir dia tidak tahu di ruang mana meeting dilakukan. Naomi pun berdiri dan keluar lagi.

Naomi menengok ke arah kanan ke arah ruang meeting dua. Mareeq masih berdiri di sana. Dia terlihat menarik nafas dan mempersiapkan diri untuk masuk. Naomi sedikit tertawa membayangkan dia akan salah masuk ruangan.

Naomi terkejut karena pak Mareeq benar-benar memasuki ruang meeting dua. Naomi sudah ingin memanggil, tapi kalah cepat dengan tangan pak Mareeq yang sudah membuka pintu. Tak berapa lama, pak Mareeq keluar lagi. Dia memandang ke arah Naomi, terlihat malu. Sangat lucu. Naomi melemparkan senyumnya.

"Pak Mareeq, ruangannya di sini" Jelas Naomi.

"Aku lupa di mana mereka mengatakan ruangannya. Terima kasih."

Naomi membiarkan Mareeq masuk lebih dulu dan dia mengikuti dari belakang.

Claudia memperhatikan Naomi kembali bersama Mareeq. "Kamu bersamanya?"

"Aku tadi melihatnya salah ruangan. Jadi aku menyusulnya," Jawab Naomi.

"Oh..."

"Kali ini tanpa pak Rahaal?" Tanya Naomi.

"Pak Rahaal ada project lain. Dia bersama tim lain mengerjakan produk makanan. Tapi, pak Mareeq bilang ingin membuat produk minuman." jawab Claudia.

Mareeq membuka presentasi. Dia menunjukkan judul "Minuman Rasa Klepon". Beberapa orang membaca judulnya sedikit bingung dan saling tatap.

"Aku ingin kalian mengembangkan minuman seperti ini."

Seseorang dari R&D mengangkat tangannya, "Jika kita lihat dari bahannya santan, gula aren, dan aroma pandan. Banyak minuman tradisional yang sudah ada seperti Cendol dan Dawet."

"Itu benar. Tidak ada bedanya dengan cendol atau dawet kemasan kaleng. Harus ada yang membedakan."

"Kita bisa menambahkan parutan kelapa, tapi aku tidak yakin teksturnya akan disukai karena terasa ngeres."

"Itu kenapa aku kumpulkan kalian di sini. Coba pikirkan ide" Kata Mareq.

Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.

Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Bilur Bulir Bertaut   Berbagi Perasaan

    Vino pun meletakkan cangkir berisi coklat. Dia membuat satu gelas lagi untuk adiknya. Ketika dua gelas coklat hangat sudah di tangan. Dia pun menghampiri adiknya."Minum dulu."Naomi menerima cangkir cokelat hangat yang disodorkan kakaknya. "Terima kasih, Kak."Vino duduk di sofa sebelah. Ia melirik Naomi sekilas. Mata sembap. Wajah pucat. Jelas sekali ada sesuatu yang sedang terjadi. Pasti ada masalah.Pikiran itu muncul begitu saja. Namun Vino memilih menyimpannya sendiri. Ia mengenal Naomi lebih dari siapa pun. Semakin dipaksa bercerita, adiknya justru akan semakin menutup diri. Dia belum mendapat informasi apa pun dari kaki tangannya."Mau nonton film?"Naomi menggeleng pelan. "Hm... nggak.""Mau main game?""Nggak juga.""Mau denger Kakak main piano?"Naomi akhirnya menoleh. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Itu kan minggu lalu."Vino terkekeh pelan. "Iya juga."Keheningan kembali hadir. Namun

  • Bilur Bulir Bertaut   Pulang ke Rumah

    Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam ketika mobil Mareeq memasuki kawasan apartemen Naomi. Tidak ada lagi perdebatan. Hanya keheningan yang nyaman.Naomi membuka sabuk pengamannya. Sebelum turun, ia menoleh."Terima kasih untuk malam ini."Mareeq tersenyum tipis. "Jaga diri baik-baik."Naomi mengangguk pelan.Begitu pintu apartemen terbuka, Naomi langsung melihat Leon yang sedang berdiri di ruang tamu. Pria itu tampak baru saja mondar-mandir. Begitu melihat Naomi, wajahnya berubah lega."Sayang!" Leon segera menghampirinya. "Kamu ke mana? Aku benar-benar khawatir."Naomi memaksakan senyum kecil. "Aku jalan-jalan sebentar karena butuh hiburan."Leon memperhatikan wajah Naomi. Mata perempuan itu masih sembap. Seolah habis menangis. Namun Leon memilih untuk tidak mendesaknya. Ia hanya menggenggam tangan Naomi."Ayo duduk."Mereka duduk berdampingan di sofa ruang tamu. Beberapa detik berlalu tanpa suara. L

  • Bilur Bulir Bertaut   Ngidam

    "Aku tidak tahu.""Ketika ban mobilmu kempes. Ketika aku hampir tertabrak. Kamu menarikku." paparnya. "Perutku berkedut. Rasanya aneh.""Hmm." gumam Mareeq. "Pantas saja kamu diam setelah itu."Naomi masih tetap memandang ke luar jendela. "Aku memang mengeluhkan terkait terlambat haid. Ternyata itu karena sesuatu tumbuh di perutku.""Mungkin dia mengenali ayahnya." Ia melirik ke arah Naomi.Naomi tidak langsung menjawab atau bereaksi. Hanya ada satu kata yang keluar. "Mungkin."Sekitar lima belas menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah kedai pizza kecil yang masih ramai meski malam semakin larut. Papan neon bertuliskan OPEN 24 HOURS menyala terang. Aroma adonan yang baru dipanggang langsung tercium begitu mereka turun dari mobil.Di balik etalase kaca, beberapa pizza baru saja keluar dari oven. Keju yang meleleh masih mengepul. Dihias berbagai toping.Naomi berdiri beberapa detik di depan kaca. Tatapannya mengikuti seora

  • Bilur Bulir Bertaut   Persetujuan

    Naomi menatap Mareeq. Mareeq terlihat membeku dengan apa yang dikatakan Naomi. Tatapannya sangat tidak percaya bahwa dia mengatakan hal itu."Apa maksudmu?" tanya Mareeq meminta penjelasan."Aku tidak bisa menikah dengan Leon." ujar Naomi. "Dan kamu tidak bisa meninggalkan keluargamu." air matanya pun mulai mengalir.Mareeq bangkit dari kursinya. Ia berjalan perlahan hingga berdiri di samping Naomi. Dengan sangat hati-hati ia berjongkok di hadapan Naomi agar tinggi pandangan mereka sejajar. Mareeq menggenggam tangan Naomi yang mengepal."Aku sudah bilang padamu Freya bukan anak kandungku." ujar Mareeq"Kamu tahu aku dan Raya adalah teman masa kecil. Aku menikahinya karena dia hamil dan pria itu tidak bertanggung jawab.""Cukup, Mareeq..." air matanya terus mengalir. "Jangan bilang begitu.""Naomi, dengarkan aku dulu." Mareeq mencoba meminta pengertian."Freya mungkin bukan anak kandungmu." sela Naomi. "Tapi dia tetap anakmu." S

  • Bilur Bulir Bertaut   Tidak Bisa Menghindar

    Pagi hari Jumat datang dengan langit yang mendung. Seolah cuaca ikut menyimpan beban yang sama dengan isi hati Naomi. Begitu tiba di kantor, ia langsung duduk di mejanya dan menyalakan komputer.Sepanjang pagi. Setiap kali melihat Mareeq keluar dari ruangannya, Naomi segera mencari alasan untuk berpindah tempat. Saat Mareeq datang ke area marketing, Naomi berpura-pura mengantar dokumen ke divisi lain. Bahkan ketika rapat singkat selesai, ia sengaja keluar bersama rombongan agar tidak pernah berada berdua dengan pria itu.Semua itu tidak luput dari perhatian Mareeq. Ia tidak memanggil. Tidak mengejar. Namun matanya selalu mengikuti ke mana Naomi pergi.Menjelang sore. Naomi sengaja menyelesaikan semua pekerjaan lebih cepat. Dia ingin menghindari Mareeq. Dia sangat yakin Mareeq akan berusaha untuk bicara.Naomi membeli sekaleng matcha. Dia turun ke lantai bawah. Bukan berencana pulang karena masih belum waktunya. Dia mencari tempat tenang untuknya menikmati

  • Bilur Bulir Bertaut   Bersembunyi

    Naomi mendorong pintu toilet wanita dan segera masuk ke salah satu bilik. Begitu pintu terkunci, tubuhnya langsung merosot ke lantai. Tangannya menutup mulutnya sendiri agar isaknya tidak terdengar keluar.Naomi mengurung diri di dalam bilik toilet cukup lama. Isaknya perlahan mereda. Yang tersisa hanyalah rasa lelah yang luar biasa. Ia keluar dari bilik berjalan menuju wastafel. Tidak ada orang, dia merasa lega. Ia pun membasuh wajahnya dengan air dingin.Namun pantulan dirinya di cermin tetap tampak sama. Mata sembap. Wajah pucat. Tatapan yang kehilangan arah. Dia bahkan membenci tampilannya saat ini."Aku harus kembali." Bisiknya pelan kepada dirinya sendiri.Dia tidak bisa terus menghindar. Masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Dia bergegas melangkah ke ruang kerjanya.Ketika melewati ruang hibernasi, kedua kakinya justru melangkah ke arah sana. Bukan kembali ke meja kerjanya. Melainkan menuju ke sebuah ruangan kecil yang disediakan ka

  • Bilur Bulir Bertaut   Lomba Karaoke

    "Mau aku pesankan steak lagi?" Tanya Claudia, berusaha keras memperbaiki suasana."Aku suka nasi goreng." jawab Mareeq, tanpa menoleh. Ia menyuap sesendok dengan tenang. Menegaskan bahwa ia baik-baik saja dengan nasi goreng.Rahaal menghela napas panjang. Suaranya pelan tapi cukup t

  • Bilur Bulir Bertaut   Tentang Claudia

    Wajah Naomi seketika memanas, rona merah menjalari pipinya hingga ke pangkal telinga. Serangan balik yang dilancarkan Mareeq, begitu terus terang dan berani. Mata Naomi sedikit melebar, mencari-cari kata yang tepat untuk membalas, tetapi otaknya terasa kosong.Naomi tidak sanggup lagi mena

  • Bilur Bulir Bertaut   Di Tempat Parkir

    Pagi itu kantor hiruk pikuk seperti biasanya. Naomi fokus dengan tugasnya, begitu pun rekan yang lain. Kemudian, Claudia berdiri dari kursinya dan menepuk tangannya dua kali untuk meminta perhatian."Guys, rundown acara gathering Jumat ini sudah ada. Silakan cek di Sl

  • Bilur Bulir Bertaut   Masa Lalu

    “Seseorang yang aku kenal,” jawab Naomi, nadanya dibuat seringan mungkin. “Kebetulan dia ada urusan di kantor, jadi kami bicara sebentar.”Ia segera mengalihkan topik, cepat, dan tanpa jeda. “Mau makan di mana kita? Aku sudah lapar.”Leon menatapn

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status