Beranda / Romansa / Binar / Ch 5 | Tadi Kenapa Diem Aja?

Share

Ch 5 | Tadi Kenapa Diem Aja?

last update Tanggal publikasi: 2026-08-01 03:21:05

Satu notifikasi.

Aku yang baru saja memejamkan mata membukanya kembali.

Layar ponsel menyala di sisi kasur, cahayanya terlalu terang untuk ruangan yang sudah gelap ini. Aku meraihnya setengah sadar, setengah berharap itu hanya notifikasi grup angkatan yang tidak penting.

Tapi bukan.

"Wan.."

Dua kata. Bahkan bukan dua kata, satu kata dan dua titik yang menggantung, seperti kalimat yang belum selesai, seperti seseorang yang membuka mulut lalu ragu untuk melanjutkan.

Aku duduk.

Mataku yang tadi sudah hampir menyerah pada kantuk tiba-tiba tidak lagi mengantuk. Aku membaca pesannya sekali lagi. Lalu sekali lagi. Bukan karena tidak mengerti isinya hanya dua karakter, tidak ada yang perlu diurai tapi karena ada sesuatu yang aneh dari cara dua titik kecil itu bisa membuat dadaku tidak bisa tenang.

Apa maksudnya?

Bisa apa saja. Bisa sapaan biasa. Bisa ia mau bertanya sesuatu. Bisa ia lagi iseng. Bisa ia tidak sengaja mengirim. Bisa...

Sudah. Jangan dipikirkan terlalu dalam.

Aku mengetik.

"Gimana, Va?"

Singkat. Netral. Tidak berlebihan. Terkirim.

Aku meletakkan ponsel di dada, menatap langit-langit, menunggu. Beberapa detik berlalu. Lalu layar menyala lagi dua centang biru. Ia membacanya.

Dan kemudian balasannya masuk.

"Tadi kenapa kamu keliatan bingung banget? Aku ganggu kamu ya, Wan, tadi siang?"

Waktu seolah berhenti sebentar.

Aku membaca kalimat itu dua kali. Tiga kali. Dan setiap kali membacanya, ada sesuatu di dada yang semakin sesak bukan karena marah, bukan karena tersinggung, tapi karena kalimat itu adalah tamparan kecil yang datang dari arah yang tak kuduga.

Ia mengira ia mengganggu.

Ia yang tadi siang datang membawa air mineral, menyapaku dengan wajar, pergi tanpa drama mengira kecanggungankuitu adalah tanda bahwa kehadirannya tidak diinginkan.

Tidak Va. Justru sebaliknya.

Tapi tentu saja aku tidak bisa mengatakan itu.

Aku mulai mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi. Ada beberapa versi kalimat yang lahir dan mati di kolom ketik itu dalam hitungan detik ada yang terlalu panjang, ada yang terlalu jelas, ada yang terlalu jujur untuk dikirim kepada seseorang yang baru kukenal dua hari.

Aku tidak bisa berkata bahwa canggung itu lahir dari perasaan yang bahkan belum aku mengerti sepenuhnya. Terlalu gegabah. Terlalu cepat. Terlalu banyak untuk sebuah interaksi yang belum genap empat puluh delapan jam.

Jadi aku memilih sebagian dari kebenaran.

"Aku sebenernya anaknya agak introvert. Makanya tadi aku canggung pas ketemu kamu."

Terkirim. Aku meletakkan ponsel, menarik napas.

Balasan datang hampir seketika.

"Hehe... kamu lucu juga ya, Wan, ternyata."

Aku membacanya.

Lalu membacanya lagi.

Lucu? Aku lucu?

Pertanyaan itu berputar di kepala tanpa permisi. Bukan pertanyaan yang penting secara objektif tapi ada sesuatu yang kecil dan hangat dari kata itu, dari cara ia memilihnya, dari kenyataan bahwa dari semua kata yang bisa ia pakai untuk merespons, ia memilih kata itu.

Kepanikanku mereda pelan-pelan, seperti air yang surut setelah pasang. Ia percaya. Atau setidaknya ia tidak mengejar lebih jauh. Dan untuk sekarang, itu sudah lebih dari cukup.

"Va, gimana tadi ospeknya?"tanyaku, mencoba menggeser percakapan ke tanah yang lebih aman.

"Seru banget, Wan. Kamu gimana?"

"Sama. Seru juga. Setelah dua tahun nggak ada kegiatan di luar, rasanya kayak balik jadi anak-anak yang bisa main sama teman baru pas mudik. Aneh tapi menyenangkan."

Sebelum ia sempat membalas, aku menambahkan satu pesan lagi.

"Eh, btw anak kelompokmu gimana, Va?"

"Mmm... lumayan asik sih, Wan. Ada yang cerewet banget, ada yang humoris, ada yang centil, dan ada juga yang pendiem kayak kamu, hehe."

Aku menatap layar.

Ada sesuatu yang hangat di dada bukan dari kata-kata yang besar, tapi dari fakta bahwa di antara semua hal yang bisa ia ceritakan, ia sempat memperhatikan ada yang pendiam dan menghubungkannya denganku. Perhatian kecil yang mungkin ia sendiri tidak sadari sudah ia berikan.

"Jangan gitu lah, Va. Namanya juga introvert."

"Kan emang fakta Wan. Eh, tapi mungkin akunya aja yang terlalu cepat menyimpulkan."

"Iya sih, Va. Makanya kamu harus bener-bener kenal aku lebih dulu sebelum menilai."

Aku mengirimnya. Dan langsung menyadari.

Kalimat itu ambigu sekali.

Terlalu bisa diartikan dua arah. Terlalu terbuka untuk salah tafsir. Aku baru saja mengundang interpretasi yang mungkin bahkan aku sendiri tak siap untuk menghadapinya.

Tapi sebelum aku sempat memperbaiki, balasannya sudah masuk.

"Oh, yaudah kalau gitu aku mau kenal kamu lebih jauh lagi mulai sekarang, sebelum menilaimu lagi, Wan."

Aku membacanya. Senyum kecil hampir naik ke wajahku.

Hampir.

Karena langsung kusadari bahwa aku tidak boleh membiarkan ini salah arah. Bukan karena aku tidak ingin justru karena aku terlalu ingin, dan itu yang berbahaya. Perasaan yang terlalu cepat tumbuh di tanah yang belum tentu siap menerimanya.

Aku mengetik lagi, kali ini lebih hati-hati.

"Maksudku nggak cuma berlaku buat aku aja Va. Buat semua orang juga. Sudah sewajarnya kita nggak menilai buku dari sampulnya."

Ada jeda sebentar sebelum balasannya masuk.

"Iya, Awan Kailani. Aku juga paham maksudmu. Lagian aku udah punya seseorang, jadi nggak perlu khawatir."

Seseorang.

Satu kata.

Aku membacanya sekali. Dua kali. Dan di bacaan kedua, barulah kata itu benar-benar masuk bukan hanya ke kepala, tapi ke suatu tempat yang lebih dalam dari itu, tempat yang tidak punya nama tapi terasa jelas ketika ada sesuatu yang menyentuhnya.

Waktu tidak benar-benar berhenti. Tapi rasanya seperti itu.

Aku meletakkan ponsel di kasur. Berbaring. Menatap langit-langit yang gelap.

Di sini aku menyadari satu hal yang seharusnya sudah kusadari lebih awal bahwa selama ini, aku berjalan sendirian di sebuah jalan yang bahkan tidak pernah ia tahu ada. Ia datang membawa air mineral. Ia mengirim pesan duluan karena nanya jadwal ospek. Ia tertawa dan bercerita dan bertanya dengan cara yang wajar, dengan cara yang memang ia lakukan kepada siapa saja.

Dan aku aku memaknai semua itu dengan cara yang jauh lebih besar dari yang seharusnya.

Dia datang untuk bercerita, tetapi aku malah jatuh cinta.

jadi, siapa yang salah di sini?

Bukan ia. Ia tidak melakukan kesalahan apapun. Ia tidak pernah berjanji apapun. Ia tidak pernah memberi sinyal apapun yang cukup jelas untuk disebut sinyal. Yang ada hanyalah kebaikan biasa dari seseorang yang memang baik kepada semua orang dan aku yang memilih untuk membacanya sebagai sesuatu yang istimewa.

Akulah yang gegabah. Akulah yang terlalu cepat menanam di tanah yang belum pernah aku minta izin untuk ditanami.

"Oh iya, Va."

Hanya itu yang kukirim. Tiga kata. Karena memang hanya itu yang bisa keluar saat ini.

Balasannya datang cepat, ringan, seolah tidak ada yang terjadi karena baginya memang tidak ada yang terjadi.

"Oke deh, wkwkwkwk. Jangan lupa istirahat ya, besok masih ospek lagi."

Aku membacanya. Dan meski ada bagian dari dadaku yang masih terasa berat, ada sesuatu yang pelan-pelan melunak juga karena bahkan setelah semua itu, ia masih mengirim perhatian kecil yang tidak ia sadari nilainya bagiku.

"Iya, Va. Makasih udah ngingetin. Kamu juga jangan begadang, biar besok nggak kesiangan bangunnya."

Terkirim.

Percakapan malam itu berakhir di sana rapi, ringan, seperti dua orang yang berpamitan di depan pintu setelah obrolan yang tidak ada konfliknya. Ia tidak tahu ada apa di balik layarku. Dan mungkin memang tidak perlu tahu.

Aku meletakkan ponsel menghadap bawah di kasur.

Bahkan setelah harapan itu runtuh, ia masih menyempatkan perhatian-perhatian kecil yang entah mengapa justru membuatku semakin sulit bersikap biasa.

Aku tidak langsung tidur.

Berbaring diam di kasur selama beberapa menit, mataku terbuka, kepalaku terlalu ramai untuk menyerah pada tidur. Dari luar kamar, sudah tidak ada suara apapun Ibu dan Ayah sudah masuk kamar, rumah sudah sepenuhnya diam, hanya suara kipas angin yang berputar pelan di sudut kamar.

Aku bangun.

Berjalan ke dapur, mengambil gelas, menyeduh kopi sachet tanpa gula. Bukan karena haus. Lebih karena tangan perlu sesuatu untuk dilakukan ketika kepala sedang tidak bisa ditenangkan dengan cara biasa. Kopi tanpa gula sudah menjadi semacam ritual malam hari sejak entah kapan minuman yang tidak perlu enak, hanya perlu ada.

Segelas kopi panas di tangan, aku berjalan ke teras depan.

Malam di luar lebih dingin dari yang kubayangkan. Angin bergerak pelan, menggerakkan daun-daun di pohon kecil di sudut halaman. Aku meletakkan gelas di atas pagar teras, mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celana aku memang tidak selalu membawanya, tapi malam ini entah kenapa sudah kusimpan sejak pulang.

Korek. Sebatang rokok. Api kecil yang menyala sebentar lalu padam.

Asap pertama mengalir keluar pelan.

Aku menatap langit.

Malam ini langitnya bersih, tidak ada awan yang menutup, hanya gelap yang jernih dengan bintang-bintang kecil yang berpencar tidak merata, seperti garam yang ditaburkan di atas kain hitam. Bulan hampir purnama, bulat dan terang, cukup terang untuk membuat bayangan-bayangan tipis di lantai teras.

Melva.

Namanya muncul tanpa diundang, seperti biasa.

Aku menghisap rokokku. Mengembuskan asap ke udara yang dingin, asapnya terlihat lebih jelas dari biasanya, berpendar sebentar di bawah cahaya bulan sebelum menghilang.

Ia sudah punya seseorang.

Kalimat itu diputar ulang di kepala, bukan karena aku ingin mendengarnya lagi, tapi karena kepala memang punya kebiasaan buruk untuk mengulang hal-hal yang menyakitkan sampai terasa tumpul. Seperti lidah yang terus menekan gigi yang sakit, tahu akan terasa nyeri, tapi tetap melakukannya.

Aku menyeruput kopi.

Pahit. Tanpa gula memang selalu pahit. Tapi malam-malam tertentu justru butuh sesuatu yang jujur di lidah dan tidak manis, tidak menipu, hanya apa adanya.

Rokok kedua.

Aku menyalakannya dari puntung yang pertama, kebiasaan buruk yang sudah lama tidak berubah.

Di luar pagar, sesekali terdengar suara motor yang lewat di ujung jalan, selebihnya sepi. Kompleks perumahan ini memang selalu sepi setelah pukul sepuluh bukan sepi yang menakutkan, hanya sepi yang terasa seperti semua orang sudah masuk ke dalam kehidupan masing-masing dan menutup pintunya rapat-rapat.

Aku berdiri di antara dua pintu — pintu yang belum sempat kubuka dan pintu yang ternyata sudah ada yang menempatinya.

Apakah salah jika aku tetap berharap?

Pertanyaan itu datang tanpa izin, seperti tamu yang tidak diundang tapi tidak juga bisa diusir. Aku memikirkannya dengan jujur, tanpa menyaring, tanpa mencoba membuat jawabannya terdengar baik.

Berharap ia berpisah dari seseorang yang bahkan belum aku tahu wajahnya itu bukan harapan yang bisa aku banggakan. Laki-laki tidak seharusnya membangun kebahagiaannya di atas kemungkinan runtuhnya kebahagiaan orang lain. Dan aku tidak ingin menjadi laki - laki seperti itu.

Tapi menghapus perasaan juga tidak semudah menghapus chat.

Rokok ketiga.

Kopi sudah seperempat tersisa, sudah mulai dingin, tapi masih kuminum perlahan. Di langit, bintang-bintang tidak bergerak diam di tempatnya masing-masing, tidak peduli ada yang sedang duduk di teras di bawah sana sedang mencoba merapikan pikirannya yang berantakan.

Untuk sekarang, aku cukup berhenti mengejar.

Itu keputusan yang paling jujur yang bisa kuambil malam ini. Bukan melupakan, itu terlalu muluk untuk dilakukan dalam satu malam. Bukan juga menyerah sepenuhnya karena perasaan tidak bekerja seperti saklar yang bisa dimatikan sesuka hati. Tapi berhenti mengejar. Berhenti memaknai hal-hal kecil sebagai sesuatu yang lebih besar dari yang sebenarnya. Berhenti berjalan di jalan yang bahkan belum pernah ia tahu ada.

Dan jika suatu saat ia datang sendiri , bukan karena dikejar, bukan karena dipaksa, tapi karena memang begitu jalannya, maka aku ingin menjadi seseorang yang sudah cukup tumbuh untuk menyambutnya dengan cara yang benar.

Untuk sekarang, cukup itu dulu.

Rokok keempat kunyalakan, lalu kutarik setengah dan kuremat sisanya di asbak kecil yang selalu ada di sisi teras. Cukup.

Kopi kuhabiskan dalam dua tegukan terakhir sudah benar-benar dingin, sudah tidak ada gunanya dinikmati pelan-pelan.

Aku membereskan semuanya. Gelas dibawa masuk. Bungkus rokok dimasukkan kembali ke saku. Teras kembali bersih seperti tidak ada yang duduk di sana.

Di dalam rumah, segalanya sudah gelap. Aku berjalan pelan ke kamar karena tidak ingin membangunkan siapapun, meski sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ibu tidurnya selalu nyenyak setelah pukul sepuluh.

Kamar. Kasur. Selimut yang sedikit terlipat karena tadi aku bangkit tergesa-gesa.

Aku berbaring.

Ponsel masih menghadap bawah di sisi kasur. Tidak kubalik. Tidak ada yang perlu dilihat lagi malam ini, tidak ada notifikasi yang cukup penting untuk membuat mata ini harus tetap terbuka.

Langit-langit kamar yang sama. Gelap yang sama. Kipas angin yang masih berputar dengan kecepatan yang tidak berubah.

Aku menutup mata.

Hari ini terasa seperti roller coaster.Naik di pagi hari yang cerah dan menyenangkan, turun di malam yang dingin dan diam. Tapi roller coaster memang begitu cara kerjanya — tidak ada yang terus-terusan di atas, tidak ada yang selamanya di bawah. Ia hanya bergerak, dan yang bisa kita lakukan hanyalah duduk, memegang pegangannya, dan tidak melompat di tengah jalan.

Di luar, angin lewat sekali lagi. Daun-daun bergerak sebentar, lalu diam.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak ponsel menyala dengan nama Melva, aku akhirnya benar-benar bisa memejamkan mata bukan karena semuanya sudah selesai, tapi karena aku sudah memutuskan untuk berhenti mencari jawaban atas pertanyaan yang malam ini belum waktunya dijawab.

Semoga di kemudian hari, kesempatanku akan tiba.

Atau tidak.

Dan aku harus siap untuk kedua kemungkinan itu apapun kesempatanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Binar   Ch 5 | Tadi Kenapa Diem Aja?

    Satu notifikasi.Aku yang baru saja memejamkan mata membukanya kembali.Layar ponsel menyala di sisi kasur, cahayanya terlalu terang untuk ruangan yang sudah gelap ini. Aku meraihnya setengah sadar, setengah berharap itu hanya notifikasi grup angkatan yang tidak penting.Tapi bukan."Wan.."Dua kata. Bahkan bukan dua kata, satu kata dan dua titik yang menggantung, seperti kalimat yang belum selesai, seperti seseorang yang membuka mulut lalu ragu untuk melanjutkan.Aku duduk.Mataku yang tadi sudah hampir menyerah pada kantuk tiba-tiba tidak lagi mengantuk. Aku membaca pesannya sekali lagi. Lalu sekali lagi. Bukan karena tidak mengerti isinya hanya dua karakter, tidak ada yang perlu diurai tapi karena ada sesuatu yang aneh dari cara dua titik kecil itu bisa membuat dadaku tidak bisa tenang.Apa maksudnya?Bisa apa saja. Bisa sapaan biasa. Bisa ia mau bertanya sesuatu. Bisa ia lagi iseng. Bisa ia tidak sengaja mengirim. Bisa...Sudah. Jangan dipikirkan terlalu dalam.Aku mengetik."Gima

  • Binar   Ch 4 | Malam yang Tidak Perlu Banyak Kata

    Rumah kami beda komplek, tapi beda komplek yang dekat.Lima menit jalan motor, belok kiri di perempatan, lurus sampai pohon beringin besar yang sudah ada sebelum aku lahir, lalu belok kanan. Pagar besi hitam. Lampu teras yang selalu menyala meski tidak ada yang minta dinyalakan.Rumah.Motor kuparkir di samping mobil, ayah pasti sudah pulang. Dari dalam, samar-samar terdengar suara televisi dan tawa - tawa yang ringan, bukan tawa karena ada yang lucu di televisi, tapi jenis tawa yang tumbuh dari percakapan yang sudah berlangsung lama dan nyaman.Aku berdiri sebentar di depan pintu.Mereka lagi makan.Aku bisa tebak dari baunya, nasi hangat dan sesuatu yang digoreng. Dan dari suaranya, aku tahu mereka berdua. Bukan karena bisa mendengar kata-katanya dengan jelas, tapi karena ada frekuensi tertentu dari dua orang yang sudah hidup berdampingan bertahun-tahun, cara mereka bicara tanpa perlu keras, cara tawa mereka saling menyahut."Assalamualaikum.""Waalaikumsalam..." Suara ibu langsung

  • Binar   Ch3 | Rumah Kedua

    Motor belok kanan di persimpangan yang sudah hafal sendiri.Aku tidak langsung pulang.Sebenarnya tidak ada rencana ke sini. Tapi tangan ini seperti punya memori sendiri ketika pikiran sedang penuh dan badan sudah lelah, jari-jari yang menggenggam setang otomatis memilih jalan ini. Jalan yang lebih sempit, lebih teduh, dengan pohon mangga tua di ujungnya yang sudah tidak pernah berbuah tapi tidak pernah ditebang juga.Rumah Milo.Aku memarkir motor di depan pagar yang catnya sudah mengelupas di beberapa tempat sudah mengelupas sejak dulu, dan tidak ada yang pernah repot-repot mengecat ulang. Ada sandal jepit biru tua di depan pintu. Berarti Milo ada.Aku tidak mengetuk. Tidak perlu."Wan?"Suaranya terdengar dari dalam, dari arah dapur, diiringi bunyi sendok yang beradu dengan gelas."Iya."Beberapa detik kemudian Milo muncul di ambang pintu, kaus oblong abu-abu yang sudah kebesaran, rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur padahal sudah hampir sore. Di tangannya ada dua cangkir

  • Binar   Ch 2 | Tadi kenapa diem aja?

    Motor melaju pelan meninggalkan kompleks perumahan.Aku menyetel helm dengan satu tangan, mataku menyapu jalan yang masih sepi pagi-pagi begini. Baru setengah tujuh. Matahari belum terlalu tinggi, tapi udaranya sudah cukup hangat untuk membuat kerah bajuku terasa sedikit gerah.Aku tidak terburu-buru, Tapi juga tidak bisa diam.Semalam, setelah meletakkan ponsel dan memejamkan mata, ku pikir otakku akan langsung beristirahat. Tapi ternyata tidak. Pikiranku malah memilih untuk replay percakapan tadi malam, pesan demi pesan, seperti seseorang yang menonton ulang film yang baru saja ku tonton setengahnya.* Ngapain sih. * ucapku sembari menggeleng pelan di balik helm.Bukan apa-apa. Aku hanya menemukan seseorang yang nyambung diajak ngobrol. Itu saja yang terpikir olehku. Di kampus baru, di hari pertama yang panjang dan melelahkan, menemukan orang yang bisa diajak bicara tanpa harus menjelaskan diri sendiri terlalu banyak itu terasa... melegakan. Sesederhana itu.Melva suka film, begitu

  • Binar   Ch 1 | Namanya Melva

    Malam itu aku merebahkan tubuh di atas kasur.Hari pertama ospek akhirnya selesai."Melelahkan."Aku menghela napas panjang, memandangi langit-langit kamar yang diam. Tidak ada yang menarik di sana hanya cat putih yang mulai kusam di sudut-sudutnya, dan seekor cicak kecil yang dari tadi tidak bergerak di dekat lampu. Dari luar kamar, sayup-sayup terdengar suara televisi yang masih menyala di ruang keluarga.Ibu pasti belum tidur.Hari ini, ospek dijalani sepenuhnya lewat Zoom.Delapan jam penuh menatap layar laptop, mendengarkan suara-suara yang kadang terputus di tengah kalimat, melihat wajah-wajah kecil dalam kotak-kotak persegi yang berjajar rapi, tapi tetap saja terasa jauh. Ini tahun ketiga sejak pandemi melanda. Pemerintah masih mewajibkan masker untuk kegiatan di luar rumah, dan kampus memilih jalan aman: semua sesi hari ini dipindahkan ke dunia maya.Bukan hal yang asing bagiku. Selama tiga tahun terakhir, layar sudah menjadi jendela utamaku ke mana-mana. Tapi tetap saja, dela

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status