Home / Romansa / Bukan Cinta Pertama / Bab 4. Sebuah Nama Lain

Share

Bab 4. Sebuah Nama Lain

Author: Indah.poe.try
last update publish date: 2026-05-21 10:46:12

Hujan turun dengan deras disertai kilat dan guntur.

Ivanka menjauh dari jendela. "Mas… kamu dimana?” desisnya dilanda takut.

Kaca jendela mendadak terang benderang. Begitu pula halaman samping yang gelap oleh kelabunya langit. Pohon besar diluar sana terlihat meliuk kencang. Anehnya, semakin menakutkan Ivanka justru makin tak dapat mengalihkan pandang padahal tubuhnya sudah mundur beberapa langkah.

Sosok terbalut pakaian serba putih berada ditengah hujan dan angin kencang.

Napas Ivanka tercekat.

Sosok itu mendekat dengan amat cepat, berlari menghampiri jendela kamarnya.

Gadis itu tak dapat lagi menahan ketakutannya. "Aaaaarrgghhh!!!" Ivanka menjerit keras, serta merta berjongkok disamping ranjang, memeluk lututnya kencang-kencang.

Jendelanya diketuk keras. "Neng! Neng buka pintunya neng, rumah ini ada bocornya nggak?"

Suara itu tidak jelas tapi samar-sama ia mendengar orang bicara. Pelan sekali mengangkat muka. "Arghh!!" Ivanka ngos-ngosan menahan debur jantung dan ketakutannya saat melihat kepala di jendela.

Kepala Mang Sarif! Tanpa berpikir lagi ia berlari ke arah dapur. Biasanya, rumah antik begini pintunya banyak! Ivanka tak salah. Ia menemukan pintu disisi kiri dan kanan dapur karena rumah itu memang berdiri di tengah pekarangan yang luas.

"Maaf neng, tuan muda pernah berpesan supaya memeriksa titik bocor kalau hujan deras." mang Sarif yang mengenakan jas hujan putih membuka tudung di kepalanya lalu menggantung jas hujannya disamping pintu dapur. Lelaki setengah baya itu membuka sepatu boot karetnya.

"Oh... iya, silakan aja mang." Ivanka minggir memberi jalan lalu mengekor di belakangnya. Gadis itu meragu. Ia ingin menarik sebilah pisau dapur untuk ia sembunyikan dibalik punggungnya tapi takut ketahuan. Mang Sarif bisa tersinggung dan mengira ia mencurigainya walaupun itu betul. Ya ampun, ia  masih ketakutan!

Matanya menatap benda tajam itu sekilas lalu melewatinya begitu saja.

"Dapurnya kering ya neng."

"Iya mang." ia masih tak habis pikir kenapa Elang memilih rumah antik yang mengerikan begini? "Mang... dari sini ke resort the ocean jauh nggak?"

"Dua apa dua setengah kiloan aja neng. Deket."

"Oh..."

Mereka kini berada di lorong dimana pintu-pintu kamar berderet-deret saling berhadapan. 

"Pintu di depan kamar utama itu pintu ruangan apa ya mang?" Pintu itu bersebelahan dengan pintu kamarnya sendiri.

"Ruang kerja tuan muda."

Ivanka mengangguk-angguk, baru menyadari kalau rumah tua yang antik ini dindingnya telah dilapisi wallpaper berbunga warna krem yang cantik sekali. “Mamang yang masang wallpaper, ini... kertas pelapis dinding dengan motif ini?”

Mang Sarif menggeleng. "Sudah dari jaman Belanda rumah ini seperti ini neng. Kata orang yang dulu sering datang hanya untuk melihat namanya sih... apa ya.. ar... artis.. ar..."

"Artistik." Ivanka tertawa kecil.

"Nah iya betul. Itu kali." Mang Sarif terkekeh-kekeh.

"Aahh!!" Ivanka menjerit kaget saat seluruh rumah mendadak gelap gulita. Seberkas cahaya menyala dari ujung korek mang Sarif. 

"Ada genset neng, ayo ikut. Siapa tau Mamang lagi nggak ada di rumah, mamang kasih tau letak gensetnya, pas disamping pintu."

Rumah itu letaknya agak tinggi dari permukaan tanah disekitarnya. Mereka berdua harus turun menentang angin dan hujan. 

"Nyalakan koreknya neng, mamang mau narik gensetnya."

Ivanka menurut. Separuh tubuhnya basah karena angin kencang membawa air hujan ke arah mereka berdiri.

Rumah kembali terang-benderang.

"Nyalakan lampu seperlunya aja neng supaya hemat genset."

Ivanka mengangguk.

Pencarian titik bocor dilanjutkan. Ada dua titik di lorong, di sudut ruang tengah dan rembesan di dinding. Selain itu tak ada lagi. 

"Besok pagi kalau nggak hujan langsung mamang baikin."

Ivanka hanya bisa mengangguk lagi. Ia bergidik melihat mang Sarif mengenakan jas hujan putih beserta tudungnya yang membuat ia teringat pada pocong gentayangan! Gadis itu menarik napas dalam-dalam, menutup pintu lalu menguncinya. 

Napasnya menghembus kasar. Ia malas membongkar koper namun pakaiannya basah jadi terpaksalah ia membuka pengunci kopernya lalu membukanya ditengah kamar. "Ya salaaam.... jendelanya nggak ada gordennya." keluh Ivanka. Makin malas saja ia menenteng pakaian gantinya menuju ke kamar mandi.

Gadis itu menatap pintu kamar mandi dengan dada berdebar. "Kenapa rasanya jadi horror begini sih?" desisnya kepada diri sendiri. Ia membayangkan sosok perempuan berambut panjang menggantung di tengah kamar mandi begitu ia membuka pintu atau... perempuan berpakaian serba putih berhias bercak darah berdiri disudut kamar mandi, ugh!

Ivanka mundur, urung membuka pintu kamar mandi. "Gimana kalau aku mau pipis? Astaga... apa iya aku harus pipis di baskom dan baru dibuag ke kamar mandi kalau mas Elang datang?" Ivanka mengeluarkan handphone. Ia tak tahan lagi.

Gadis itu mondar-mandir di ruang tengah yang jendelanya telah tertutup gorden, menunggu panggilannya diangkat oleh sang suami.

"Halo?" suara berat Elang begitu dingin dan kaku.

Namun Ivanka bahagia sekali mendengarnya. "Pulang sekarang mas, please... please... aku nggak berani ke kamar mandi." Ivanka langsung terisak-isak. "Pulang mas... pulang." rengeknya persis balita yang meminta ayahnya untuk pulang.

"Aku sedang bekerja, yang bener aja!" desis Elang. Lagi pula ini baru jam 3, masih siang. Apa yang kamu takutkan?"

"Gelapnya kayak tengah malam mas. Mati lampu lagi. Memangnya disana nggak ujan?" di antara isaknya Ivanka mencoba menawar.

"Terus? Kamu menyuruhku menerjang badai cuma untuk menemanimu ke kamar mandi? Aku tau kamu bakal jadi beban, bikin susah tapi nggak nyangka kalau secepat ini kamu sudah menyusahkan." Elang mendengus.

Tangisan Ivanka makin menjadi.

Lelaki itu membuang napas kasar. "Ya sudah, stop crying!" sentaknya seraya berdiri dari kursinya, keluar dari ruang kerjanya. "Silva, aku ada urusan sebentar kalau pak Sastro datang, minta dia menunggu."

Wanita itu mengangguk. "Siap pak." 

Di kantornya, selain Elang sebagai pimpinan, ada Silva sekretarisnya, bu Atik di bagian keuangan dan pengadaan barang, beberapa staff legal dan administrasi. Memang tak banyak orang karena setiap orang meiliki tugas rangkap. Semua staff yang satu atap dengannya ia bawa dari Jakarta untuk mengurusi pembangunan resort ini.

Jadi sebenarnya mudah saja baginya untuk meninggalkan kantor. Ia saja yang malas berada di rumah bersama Ivanka. Elang memacu mobilnya menembus hujan angin yang diperparah oleh posisi mereka yag tak terlalu jauh dari laut.

Lelaki jangkung dan tegap itu berlari kecil menembus hujan saat sampai di pelataran rumah. Ia akan meminta mang Sarif menambah atap supaya dirinya nggak perlu kehujanan begini. "Ivanka!" sentaknya sambil menggedor ketika mendapati pintu utama terkunci. Elang berdiri tak sabar saat mendengar suara kunci diputar.

"Mas...." Ivanka menghambur memeluk erat tubuh sang suami begitu pintu membuka. Tak peduli bagian depan gaunnya ikut basah karena Elang baru saja terkena hujan.

"Ayo ke kamar mandi." Elang mendorong tubuh Ivanka yang melekat erat di tubuhnya bagai lintah. Ditariknya pergelangan tangan gadis itu menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur. 

Ivanka menggigit bibir, matanya menatap takut-takut menyaksikan Elang membuka pintu kamar mandi yang gulita.

"Saklar lampu ada disamping pintu kamar mandi." Elang menatap tak suka kepada istrinya. Bibirnya membentuk garis ketus yang amat kentara. "Cepat."

"Iya. Nggak aku tutup rapat pintunya. Tungguin ya, mas jangan kemana-mana." Ivanka tersenyum manis.

"Makin banyak bicara makin lama. Aku ditunggu di kantor." Elang menyandar sebal.

"Iya mas." Ivanka sudah tenang melihat kamar mandi itu ternyata nggak menyeramkan. Dindingnya telah dikeramik begitu juga lantainya. Jadi ia hanya mengganti pakaiannya saja. "Bajuku tadi basah karena ikut mang Sarif menyalakan genset diluar. Bisa nggak gensetnya dipindahkan ke dalam aja jadi kalau kapan-kapan mati lampu lagi aku nggak perlu keluar rumah?"

Elang berdecak. "Itu diletakkan diluar supaya mang Sarif nggak masuk kesini kalau perlu menyalakan genset. Kamu hanya perlu meneleponnya." 

"Ohh... oke." Ivanka mengekori Elang. "Mau kemana mas?"

"Ke kantor. Urusanmu sudah selesai kan?"

"Masih hujan mas." Ivanka menengadah. "Tunggu sebentar lagi, aku masakin ya. Mas belum makan apa-apa kan? Aku juga belum. Tadi di dapur ada..." gadis itu terdiam.

Handphone Elang mendenging. Lelaki itu mengangkat sebelah tangannya sebagai isyarat supaya Ivanka menutup mulut. Sorot matanya yang dingin menghangat begitu melihat nama yang tertera di layar handphonenya. 

.

.

.

to be continued

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 34

    Elang melepaskan dekapannya. Napasnya masih menderu, jantungnya masih berpacu. "What did you say?" geramnya tak terima dengan mata mengarah ke leher Ivanka yang kini dihias bekas bibirnya.Ivanka tak tau harus menjawab apa. Bagaimanapun Elang adalah suaminya. Ia tadi terlalu emosi hingga mengatakan itu. Elang menengok ke arah luar.Gadis itu menarik napas lega saat pintu utama diketuk cukup keras. Makin lega saja rasanya saat Elang berbalik menuju ke pintu. Ia ngibrit ke dapur.Ya ampun... Ia sebenarnya berdebar sampai jantungnya seolah pindah ke mata kaki. Dalam mimpi pun ia belum pernah berharap sejauh itu, bahwa ia akan dicium oleh Elang Rajendra. Lelaki yang selalu membuatnya berdiri gelisah mencuri pandang. Lelaki yang membuatnya berani mengambil resiko bintitan karena seringnya mengintip keberadaan Elang tiap kali mereka bertemu di suatu acara yang sama.Dan... rasanya... melebihi ekspektasi. Semakin ia memberontak semakin kuat Elang menekan bibirnya, semakin tinggi juga ia mel

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 33

    "Ras, beneran ini nggak apa-apa?" Iva menatap perempuan yang dua tahun lebih muda dari dirinya itu dengan tatapan tak enak hati. Ini sudah rumah kos ketiga yang mereka datangi tapi Iva belum menemukan kecocokan.Waktu telah menggelincir begitu jauh sejak mereka meninggalan areal parkir sekolah."Nggak apa-apa teh, saya memang sudah dikontrak secara es.. eh, ek... eh.. apa sih, ek - se - ke - lu - sif." gadis berusia dua puluh dua tahun itu sampai merem melek saat mengucapkannya.Iva mengikik, "Ih, pinter kamu Ras bisa menyebutkan kata susah begitu."Saras mengacungkan jempol. "Pesennya mamah yang penting adzan maghrib sudah di rumah.""Disini jam berapa adzan maghribnya?"Saras mengangkat bahu. "Tunggu aja mesjidnya bunyi."Sekali lagi Iva tertawa kecil lalu menaiki boncengan gadis itu."Jangan dipaksa teh." Seru Saras sambil menoleh sebentar di antara deru motor maticnya. "Tempat tinggal itu kayak jodoh, cocok-cocokan. Akan menderita kalau dipaksakan.""Benar sekali." Raut wajah Elan

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 32

    "Selamat pagi bu Ivanka." Silva nyaris tak mampu menahan debur jantungnya yang berlompatan saat berhadapan muka sedekat ini dengan istri kekasihnya. Bukan cuma jantungnya, ia juga kesulitan mengatur napas. "Saya Silva Anindita, sekretaris pribadi pak Elang Rajendra."Kalau mengikuti ego-nya, maka ia ingin menyahut, 'oh, anda teman tidur suami saya,' tapi untungnya ia sudah berada di fase 'terserah kalian berdua mau apa' jadi senyumnya mengembang, tangannya terulur sopan menyambut tangan kekasih suaminya. "Saya guru baru disini." katanya datar.Silva menarik napas dalam-dalam. "Soal ruang kreatif itu. Dana yang diajukan oleh sekolah besar sekali. Malah, sejauh ini pengajuan dana ruang kreatif ini yang paling besar. Saya mohon maaf sebelumnya tapi... apa ada campur tangan bu Ivanka disini? Anda kan dari kota, terbiasa dengan fasilitas yang mewah lalu tiba-tiba berada di daerah yang minim fasilitas begini..." Bahu Silva bergerak ke atas. “Mungkin anda ingin menyamakan fasilitas disini de

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 31

    Pagi-pagi sekali Iva sudah berkutat di dapur. Tak ada apa-apa selain telur di kulkas. Satu bongkah kubis sudah ia gunakan kemarin. Gadis itu mematikan rice cooker lalu membuat telur orang arik. Selesai dengan telur orak-ariknya, ia melelehkan mentega lalu mulai menggoreng nasi. Ia masukkan telur orak-ariknya di akhir.Sebentar saja nasi goreng telur orak-arik-nya sudah tersaji di meja makan.'Aku berangkat pagi karena harus ikut upacara bendera.'Iva menatap note itu sebentar lalu menambahkan. 'Jangan lupa sarapan mas Elang.'Puas dengan pesannya, Iva segera bersiap. Sebenarnya ia tak tau apakah Elang sudah pulang atau langsung ke kantor dari rumah kekasihnya. Ia memang tak pernah menanyakan kemana suaminya saat tak pulang ke rumah karena sudah tau jawaban apa yang akan ia dapat dari Elang : lembur di proyek.Everest merah itu tak ada di halaman.Sesuai janji, pukul enam lebih lima belas menit Iva sudah berada di teras untuk mengenakan sepatu. Ia tak mau membuat pak Setia menunggu. Ga

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 30

    Ivanka sudah hapal nada dering itu. Tangannya mengepal di depan dada. Masih merasakan sakit hati bukan berarti belum menerima kenyataan. Itu sekedar bukti kalau dirinya masih hidup, masih punya rasa.Gadis itu menata meja sambil berusaha mengosongkan pikirannya dari chat mesra ala suami - istri antara Elang dan Silva yang tak sengaja ia baca. “Sudahlah Iva, sudah.” Katanya berulang-ulang sembari tangannya sibuk memotong telur dadar isi kubisnya menjadi beberapa potong.Setelah semuanya tertata dimeja, ia memilih untuk masuk kamar dan mengunci pintu. Diraihnya handphone dimana ia menyimpan nomor Elang dan nomor mertuanya.'Makanannya sudah siap mas.' - send!Gadis itu menghela napas. Tadinya ia tak berniat keluar lagi, enggan melihat mantan pujaan hati. Akan tetapi tubuhnya makin tak nyaman terbalut pakaian milik Silva. Mau tak mau ia berdiri.Menenteng handuk, Iva menuju ke kamar mandi. Sayup-sayup ia masih mendengar nada bicara suaminya yang lembut. Senyuman penuh luka menyungging

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 29

    Gadis itu hanya bisa diam mengawasi saat Elang berdebat dengan mama mertuanya tentang rencana kepulangan mereka ke Pangandaran yang dianggap Rania Rajendra terlalu mendadak."Ada alasannya kenapa Papamu memaksamu untuk bekerja di perusahaan keluarga mas." Rania menatap serius putranya. "Supaya kamu bisa mengatur sendiri kapan kamu harus bekerja dan kapan kamu harus mengurus keluarga." Napas Rania menghembus berat. "Seperti sekarang. Iva pasti masih ingin mengurus Papanya walaupun dokter mengatakan kalau perkembangan pak Adyakhsa bagus."Elang bergeming.Ivanka juga diam seribu bahasa. Ia yakin Elang sudah dikejar hasrat, itu sebabnya mereka harus segera kembali kesana. Silva dan lingerie pink-nya sudah menunggu."Kenapa harus buru-buru sih mas? Perjalanan Jakarta - Pangandaran kan cuma dua jam menggunakan pesawat carter." Rania masih berusaha menahan. "Kalau alasannya capek, ah... itu nggak masuk akal. Mama yang sudah seusia ini dan berpenyakit aja nggak terlalu capek kesana.""Ini pe

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 6

    Kelopak mata Ivanka mengerjap kaget saat pintu dibanting tepat dimukanya. Ia mengurut dada. Beberapa saat lamanya ia mematung di depan pintu. "Aku panggil lagi kalau airnya udah siap ya mas!" serunya belum menyerah namun suaranya sudah berubah sendu.Tak ada jawaban dari dalam kamar utama.Gadis it

  • Bukan Cinta Pertama   Bab 5. Ramalan Nenek Tua

    "Siapa mas?"Elang menerima panggilan itu. "Halo Ma, gimana kondisi mama?" Ia tau mamanya yang tengah sakit sudah memaksakan diri demi acara pernikahannya. Salah satu alasan lain Elang terburu keluar dari rumah adalah itu. Ia ingin rumah segera sepi sehingga Mamanya bisa beristirahat. "Aku baik Ma,

  • Bukan Cinta Pertama   Malam Pertama

    Keluarga besar Rajendra berkumpul di ruang makan. Suara obrolan dan canda terdengar jelas.Mengingat pesan Elang, Ivanka mengumbar senyum manisnya kepada semua orang."Santai amat jalannya yang belum malam pertama.”Mata Ivanka membulat mendengar siapa yang bicara. Wanita yang semalam ternyata masi

  • Bukan Cinta Pertama   Awal Hidup Baru

    Suara Elang kembali terdengar. "Jadi jangan berharap banyak dari aku. Kita menikah dan bersikap layaknya suami istri hanya di depan orang tuaku, hanya demi ibuku."Ivanka tak mau mengangguk karena ia ingin menjadi istri sungguhan, bukan istri pura-pura dari lelaki yang amat ia cintai, lelaki yang s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status