Share

Awal Hidup Baru

Penulis: Indah.poe.try
last update Tanggal publikasi: 2026-05-21 10:39:25

Suara Elang kembali terdengar. "Jadi jangan berharap banyak dari aku. Kita menikah dan bersikap layaknya suami istri hanya di depan orang tuaku, hanya demi ibuku."

Ivanka tak mau mengangguk karena ia ingin menjadi istri sungguhan, bukan istri pura-pura dari lelaki yang amat ia cintai, lelaki yang sekarang sudah menjadi suaminya. "Tapi kenapa setelah dua tahun kita harus bercerai mas?" Point itulah yang membuat air mata Ivanka jatuh tak tertahankan.

Rumah tangga apa yang dimalam pertama malah membahas perpisahan?

Melihat suaminya bergeming, ia melanjutkan perkataannya. "Aku akan berusaha menjadi istri yang terbaik untukmu mas, aku akan menunjukkannya, membuktikannya mas." isak Ivanka. Ia tak main-main. Berbekal cintanya yang sudah tersimpan selama sepuluh tahun, rasanya ia sanggup mengabdikan diri pada suami.

"Aku belum menginginkan istri."

Kedua mata Ivanka sudah basah hingga tatapannya kabur. Jawaban barusan membuat air matanya makin deras saja. "I... iya, ba... baiklah kalau begitu. Aku nggak akan memaksa mas untuk langsung jatuh cinta sama aku tapi... setelah kita bersama, perasaan siapa yang tahu kan?" ia masih saja ngotot.

Berbeda dengan dirinya yang setia mengikuti perkembangan Elang Rajendra, memandangnya dari jauh tiap kali mereka bertemu di acara yang melibatkan keluarga mereka berdua, Elang memang tak pernah memandang ke arahnya.

Selepas SMA, lelaki itu langsung meneruskan pendidikannya diluar negeri. Setahun sekali saja Elang kembali ke Indonesia untuk hari raya. Atau kadang lelaki itu datang untuk ikut papanya belajar mengelola perusahaan selama beberapa hari.

Ivanka mengetahui detil perubahan Elang dari cowok cute yang gagah menjadi lelaki matang atletis yang luar biasa gantengnya.

"Bagus kalau kamu sudah tahu. Jangan memaksaku untuk jatuh cinta padamu karena aku tidak bisa." Elang menatap tajam mata perempuan yang baru menjadi istrinya selama hitungan jam. "Kamu... jangan memaksa dirimu untuk mencintaiku juga. Nanti kamu kecewa."

Apakah Ivanka harus berterima kasih atas peringatan gamblang itu? Ia dilanda rasa bingung. Mereka berdua bicara baik-baik, duduk berhadapan dengan tenang tapi seluruh tubuhnya terasa remuk. Apalagi hatinya.

Masih dengan mata berlinangan ia mendongak saat melihat Elang berdiri. "Mau kemana mas?"

"Tidur, aku lelah menghadapi kegembiraan semua orang di acara pernikahan tadi."

Alis Ivanka menjungkit mendengar penuturan suaminya. "Tidur dimana? Ini kamar kita berdua kan?"

"Jangan memulai, hari pernikahan kita sedang dihitung mundur, satu hari telah berkurang menuju perceraian kita." Elang meneruskan langkah. Di dekat pintu keluar, lelaki itu berhenti.

Ivanka sungguh berharap suaminya berubah pikiran lalu kembali ke kamar bersamanya.

"Secepatnya kita tanda tangani surat perjanjian pernikahan kontrak itu secara resmi di kantor kuasa hukumku."

Gadis itu tergugu, mematung di tempatnya.

Elang membuka pintu.

"Mas... jangan tidur diluar, ini malam pertama kita. Apa kata orang-orang nanti. Silakan mas tidur di ranjang, aku akan tidur di sofa." Baginya, yang terpenting mereka tetap bisa satu kamar. Biarlah ia tidur berteman khayalan asalkan sumber khayalannya nyata, berada di hadapannya walau tak tersentuh.

Lelaki itu berbalik. Garis wajahnya yang aristokrat kelihatan berpikir, seolah mempertimbangan tawaran perempuan muda yang tak ia minati itu. "Aku nggak berselera melihatmu. Perutku mual gara-gara tampangmu." ucapnya datar.

Pintu itu sedikit membuka, siapapun bisa mendengar ucapan Elang tapi sepertinya lelaki itu sama sekali tak peduli.

"Aku harus bilang apa kalau ditanya ibu mas?" Raut wajah Ivanka memelas. "Paling tidak, beritahu aku mas Elang mau tidur dimana?"

"Bilang saja ada meeting mendadak. Aku akan tidur di kantor."

Ivanka menatap pintu yang menutup dengan perasaan tak menentu. Harusnya ia tak terkejut kalau seorang Elang Rajendra tak memiliki rasa suka terhadapnya. Mereka memang bagai langit dan bumi.

Elang yang metropolis tak sesuai bersanding dengan dirinya yang kelewat sederhana - kampungan - udik - dan nggak cantik. Alasan keluarga mereka bisa dekat meskipun ada jarak sosial yang lebar membentang hanyalah kenangan indah dimasa lalu antara kakek Ivanka yang pernah berjasa menolong kakeknya Elang.

Ivanka bahkan nggak tau detilnya seperti apa hingga berujung pada perjodohan ini. Nanti... pikirnya dalam keheningan dan kesendirian. Kalau kita sudah tinggal berdua aja, kamu akan melihat gimana kerennya aku sebagai istrimu mas.” 

Sambil merangkak naik ke atas tempat tidur, Ivanka mengingat kembali percakapan suaminya dengan mertuanya. Saat itu mereka berdua baru berdiri meninggalkan kursi pelaminan untuk mengambil makan.

“Besok Iva mau langsung dibawa ke rumah Lang?” tanya Mama mertuanya dengan nada antusias.

Elang mengangguk.“Biar dia belajar ngurusin aku Ma.” jemari yang panjang dan langsing itu menyentuh bahu Ivanka sekilas.

Hanya sentuhan kecil tapi seluruh tubuh Ivanka serasa disengat listrik. Sensasinya bercampur aduk. Senang, bingung, takut tapi juga mendamba Uhh… rasa yang terakhir itu membuatnya gelisah bercampur malu. Ivanka berusaha keras memejamkan mata. Semakin cepat ia terlelap maka semakin cepat pula ia akan berjumpa dengan pagi. 

Tak sabar lagi rasanya menempuh hidup baru bersama Elang.

Memang, kalau sudah terlanjur cinta, poop kucing rasa coklat itu benar adanya. Elang Rajendra sudah membuatnya berderai air mata lalu meninggalkannya begitu saja tapi atas nama cinta, Ivanka nggak merasa terluka, ia baik-baik saja bahkan sudah merindukan suaminya.

Tubuh ramping itu bergulingan di atas kasur selama beberapa saat. Tak tau harus berbuat apa. "Padahal ini malam pertama." desahnya.

Tangannya meraih handphone, memilih permainan lantas menyelesaikan beberapa level permainan dinner dash di hand phonenya kemudian menonton film hingga akhirnya ketiduran. Benda pipih itu jatuh disebelah keplanya, terus saja menyala sampai akhirnya mati kehabisan daya.

Pagi-pagi sekali, begitu membuka mata Ivanka menengok benda itu. Layarnya gelap tak bereaksi ketika tombol powernya ditekan. Aduh... mas Elang beneran tega nggak kesini semalaman. Keluhnya dalam hati. Gadis itu menelan rasa kecewanya. Kakinya menjulur turun ke lantai, bermaksud mencari colokan handphone.

"Enak ya tidur di ranjang orang lain?" Suara berat dan dalam itu begitu dingin dan angkuh.

Ivanka kaget, langsung didera perasaan tak enak mendengar suara berat suaminya yang ternyata berada di kamar itu. Kapan lelaki itu datang? Ia tak berani membayangkan tampang tak suka Elang kepadanya. Diperlakukan sinis oleh orang yang berhasil membuat kita jatuh cinta itu rasanya seperti diminta berjalan diatas seribu jarum.

Sakit!

"Kok nanya gitu mas?" Tapi bukan Ivanka namanya kalau langsung kalah begitu saja. "Aku tidur disitu karena mas Elang nggak ada. Sayang kan kasurnya dianggurin. Nanti nangis." senyuman manis langsung terpasang di bibir Ivanka.

Elang tak berkata apa-apa lagi. Lelaki itu memasuki ruangan, melewati istrinya begitu saja menuju ke kamar mandi.

Ivanka beranjak menuju ke lemari. Itu bukan lemarinya tapi lemari Elang. Ia harus memeriksanya satu per satu untuk menemukan apa yang ia cari. Satu set pakaian ganti : Celana, kaus, dalaman...

Selagi mencari, gadis itu teringat sesuatu. Tergesa ia bergerak ke arah kamar mandi. Ivanka mengetuk pelan namun tak sabar. "Mas... Mas Elang, Mas!" serunya dari luar pintu.

Sekitar satu menit, pintu kamar mandi membuka beberapa senti. "Apa?" tanya Elang dingin.

"Sudah bawa handuk?" Ivanka mendekap selembar handuk putih berukuran besar.

Elang menyahut sinis. "Apa kampungan itu sejenis penyakit? Kok kadar kampungan kamu parah begini?"

Ivanka tak berani menyahut. Ia mengingat-ingat kalau kamar mandi itu serupa kamar mandi hotel jadi mungkin... ada penyimpanan handuk juga di dalam kamar mandi. Ahh... ia merasa bodoh. "Maaf..." lirih ia berkata. Pipinya merona.

Pintu kamar mandi dibanting tepat di depan wajahnya.

"Ini memang salahku." Ivanka menggumam pelan. "Bukan salahnya. Sabar Iva, batu aja bisa berlubang kalau terus-terusan ditetesi air, apalagi hati..."

.

.

.

to be continued

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 17

    Ivanka betul-betul menikmati interaksinya bersama para volunteer yang terdiri dari mahasiswa, pekerja, bahkan turis. Apalagi ketika ia bisa berbagi cerita bersama anak-anak itu, kebahagiaannya jangan ditanya. Matahari telah terbenam saat rombongan itu turun bersama dengan hati-hati. Sudah ada jalanan yang biasa dilewati oleh penduduk setempat tapi bagi pendatang yang baru pertama kali seperti Ivanka, tetap harus waspada karena lumayan curam."Sampai ketemu minggu depan!" Pak Setia melambai ke arah rombongan volunteer.Iva melakukan hal yang sama. "Jaketnya sudah dipakai... Iva?" Lidahnya menggantung begitu saja, terasa kaku saat berusaha mengucap nama itu tanpa embel-embel 'bu'."Sudah Kang." Iva naik ke boncengan guru olah raga itu. masih dengan semangat yang sama. Karena tadi Iva memberitau panggilan akrabnya, Setiawan juga memberitau panggilan akrabnya yaitu Wawan tapi rasanya lebih nyaman memanggil lelaki yang lima tahun lebih tua darinya itu dengan sebutan 'kang' saja.Motor be

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 16

    Silva cemberut tapi mengambil sendok dan mulai menyuap. "Emh... enak banget mas. Beli dimana?"Elang terdiam sejenak kemudian mengangkat bahu. "Aku nggak tau tadi anak proyek yang aku minta membeli ini.""Tanyakan ya mas, ini bumbunya pas banget. Sawinya juga sesuai dengan seleraku, nggak kematengan."Selera makannya malah menguap mendengar pujian Silva pada masakan Ivanka. Elang tak pernah tau kalau Ivanka bisa memasak. Seingatnya, mama mertuanya malah meminta maaf kepada mamanya karena Ivanka nggak pernah ke dapur."Mas, kok diem sih?""Karena permintaanmu sulit Va. Aku hanya asal menyuruh tadi. Aku sudah nggak ingat anak proyek yang mana yang berangkat mencari tumis ini." Geramnya. Mendadak ia merasa jengkel pada kekasihnya. "Apa aku harus membuat pengumuman untuk mencari pekerja yang sudah membelikan tumis sawi ini?"Silva meminggirkan sejenak meja nampan di depannya. Perempuan itu beringsut mendekati kekasihnya, melingkarkan tangannya ke pinggang Elang. Perlahan telapak tangan Iv

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 15

    Belum juga sepuluh menit, ternyata Ivanka yang awalnya bertekad menunggui motor Mang Sarif diservis sampai selesai, memilih untuk pulang saja. Kerusakannya cukup banyak karena motor itu ternyata tak terawat sehingga tak akan selsai dalam satu - dua jam.Meskipun meragu, ia akhirnya menghubungi pak Setia. Tak sampai lima menit lelaki berkulit putih itu sudah tiba di depan bengkel.Iva membelalak takjub. "Kok cepet pak?""Biasa anak kos. Kalau dapat tawaran makan gratis paling cepet." Setiawan menyahut asal, menyembunyikan kenyataan kalau sejak awal ia memang tak melaju kencang, hanya merayapkan motornya pelan di belakang motor Ivanka. Ia merasa serba salah mau menolong saat motor matc itu bermasalah, takut dikira mau pedekate. Tapi tepat saat ia bersiap pergi setelah Ivanka berhasil mencapai bengkel sendiri, guru baru itu menghubunginya. Ini yang dinamakan pucuk dicinta ulam tiba. Setiawan langsung melajukan motor bebeknya.Sambil mengenakan helm-nya, Iva tertawa kecil. "Maaf ya pak,

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 14

    "Ide bagus bu." salah satu guru, bu Mira menyahut."Lagipula rumahnya nggak terlalu jauh dari sini." Sekarang bu Euis yang menambahkan.Dari posisinya yang agak terlindung, Iva mendengarkan itu semua dengan dada berdentam-dentam nyeri. Apakah ia berani bertemu secara langsung dengan pemilik hati suaminya? "Bu Iva, seingat saya di sekolah yang lama mengajar SD ya?" Suara bu Titik membuat Iva mengangkat kepala. Beberapa guru yang semula berdiri rapat di depannya bergeser sehinga perempuan bertubuh subur itu kini berhadapan dengan Iva."Benar bu." Gadis itu lega karena percakapan tentang suami dan kekasih suaminya berhenti sampai disitu saja."Kalau begitu nanti bu Iva bisa membantu di grup SD ya, sebentar lagi mereka datang." Senyuman bu Tutik masih sama hangatnya dengan kemarin."Baik bu." Iva mengekori pak Setia, sahabat barunya di sekolah ini."Anak-anak SD di kota mungkin lebih kooperatif karena orang tua mereka bisa membantu guru mengedukasi anaknya di rumah. Disini enggak bu. Mal

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 13

    Elang melajukan mobilnya menembus hujan. Mbok Narmi, perempuan tua yang ia bayar untuk menemani kekasihnya menghubungi. Demam Silva meninggi, kekasihnya itu juga terus-terusan muntah. Lokasi rumah dimana ia mengontrakkan Silva berada tepat di belakang lokasi project. Di sebuah pemukiman padat penduduk. Harusnya Elang tak perlu datang karena kekerabatan di perkampungan tidaklah sama seperti di kota yang individualis. Tetangga kanan - kirinya akan sigap menolong kalau Silva butuh sesuatu tapi sifat Silva memang tertutup dan Elang tak menyalahkannya.Mau ikut ke kota kecil ini saja sudah membuatnya merasa begitu beruntung. Perempuan lain belum tentu mampu beradaptasi. Ivanka contohnya, si cerewet manja yang bisanya cuma jadi beban. Godammit, sekedar mengingat istrinya saja ia sudah kesal.Everest Elang berbelok memasuki pekarangan rumah Silva. Ciri khas lain dari kota kecil ini adalah pekarangan yang memadai meskipun pemukiman cukup padat. Derasnya hujan membuat pakaiannya tetap basah

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 12

    "Jadi begitu ceritanya. Elang sudah lama berpacaran dengan perempuan itu, si Nona Silva." Sepanjang jalan, Ivanka memikirkan itu. Ia mengembalikan motor ke rumah mang Sarif lalu berjalan gontai ke arah teras. "Namanya cantik." gumamnya sembari menatap sandal berinisial ‘S’ yang ada disitu.Kira-kira... dua orang dewasa, jauh dari orang tua, jauh dari tetangga, berdua saja di dalam rumah besar yang menyeramkan begini ngapain ya? Hati Iva serasa dikerubuti semut merah membayangkannnya.Ia masuk. Setelah berganti pakaian, hal pertama yang ia lakukan adalah menelepon Mamanya. "Gimana keadaan Papa?" tanyanya datar begitu sang Mama mengangkat telepon."Papamu sudah stabil Va, besok jam 10 pagi akan masuk ke ruang operasi." Mamanya terdiam sesaat. "Harusnya sih hari ini tapi dokternya ada keperluan lain sehingga ditunda sampai besok.""Biayanya? A... aku punya tabungan kalau misalnya..." Iva terdiam karena sang mama memotong kata-katanya."Apa kamu lupa? Sudah ditanggung semuanya oleh pak Ra

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 9

    Suara everest Elang memasuki halaman.Iva terburu membawa pakaian itu ke belakang lalu menyambut sang suami. "Ada yang ketinggalan mas?" Sesuai dugaannya, Elang hanya melewatinya begitu saja tanpa kata. Entah apa yang diambil lelaki itu dari dalam kamar utama tapi sebentar saja Elang sudah pergi l

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 8

    Iva menunggu sang suami sampai jam 11 malam tapi tak ada tanda-tanda Elang akan pulang. Ia nekat menunggu diluar tapi tak sampai 5 menit sudah masuk kembali gara-gara sayup didengarnya suara burung hantu.Gadis itu meringkuk di sofa ruang tamu. Ia tergeragap bangun saat pintu dibuka. "Mas...!" Peki

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 7

    Beberapa kepala terangkat, menatap takjub pada sosok Ivanka yang tengah tersenyum manis."Saya mau melamar menjadi guru.""Wah kebetulan bu, sekolah memang kekurangan guru. Ada beberapa posisi yang kosong." Seorang lelaki berkemeja batik mengajak Ivanka mengikutinya hingga ke depan meja yang berada

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 6

    Kelopak mata Ivanka mengerjap kaget saat pintu dibanting tepat dimukanya. Ia mengurut dada. Beberapa saat lamanya ia mematung di depan pintu. "Aku panggil lagi kalau airnya udah siap ya mas!" serunya belum menyerah namun suaranya sudah berubah sendu.Tak ada jawaban dari dalam kamar utama.Gadis it

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status