LOGINSuara everest Elang memasuki halaman.
Iva terburu membawa pakaian itu ke belakang lalu menyambut sang suami. "Ada yang ketinggalan mas?" Sesuai dugaannya, Elang hanya melewatinya begitu saja tanpa kata.
Entah apa yang diambil lelaki itu dari dalam kamar utama tapi sebentar saja Elang sudah pergi lagi.
"Iya kamu punya kekasih mas." Iva berujar lirih sambil berdiri di pintu utama menatap kepergian sang suami untuk yang kedua kali.
Tergesa Iva menuju ke kamarnya sendiri begitu everest itu hilang dari pandangan. Ia meraih handphone yang sejak semalam ia biarkan tergeletak disana. Jemarinya menekan nomor kontak mamanya. Sebentar saja ia sudah tersambung. Iva menarik napas panjang, memastikan suaranya terdengar ceria.
"Apa kabar Mama dan semua orang rumah?"
"Mama dan adik-adikmu baik Va tapi Papa enggak. Tadi malam papamu kena serangan lagi."
Iva menggigit bibir bawahnya mendengar itu. Mata kirinya langsung menjatuhkan setetes air mata.
"Untung saja mertuamu langsung membantu, Papa langsung ditindak dan dijadwalkan untuk pasang ring jantung. Semua biaya ditanggung oleh mertuamu." sambung mamanya dengan suara bergetar penuh haru.
Dadanya berdentum. Iva yang tadinya ingin meminta dijemput pulang jadi mengurungkan niatnya bicara. "Jadi... papa sudah aman?" tanyanya terbata dan tertusuk disaat yang sama.
"Iya Va, papa sekarang stabil. Papa mertuamu memaksa supaya Papa stay di rumah sakit. Katanya supaya lebih terkontrol kondisinya. Semakin bagus kondisinya, semakin cepat operasinya bisa dilakukan."
Iva mendengarkan dengan perasaan yang terbelah. Disatu sisi ia bahagia papanya tertolong, disisi lain ia terluka karena kalau begini ceritanya, ia nggak mungkin meminta cerai. Nggak secepat ini.
Alangkah nggak tau dirinya kalau ia nggak bersabar menghadapi Elang padahal keluarga Rajendra sudah menjadi penolong papanya.
"Kita nggak bisa membalas apa-apa kecuali kamu menjadi istri yang baik untuk Elang."
Sayup suara ibunya merasuk ke telinga Ivanka yang tengah melamun memikirkan sikap Elang dan juga sisa lipstick di kerah kemeja suaminya. Aku punya harga diri Ma, rintihnya dalam hati. ‘Aku tau mas Elang nggak menginginkan aku dan aku nggak mau terus-terusan melukai diriku sendiri dengan berpura-pura nggak tau betapa bencinya mas Elang kepadaku.’
Itu hanya suara di dalam kepalanya. Nyatanya, bibir Ivanka menyahut lemah. "Iya Ma, aku akan berusaha jadi istri yang baik untuk mas Elang." Kini mata kanannya yang menjatuhkan butiran bening.
Lengkap sudah, pipi kanan dan pipi kirinya basah.
"Iya, mengabdi pada suami Va, setia, penuhi kebutuhannya. Kalau perlu, tawarkan dirimu padanya. Istri menawarkan diri pada suami itu sah-sah saja, nggak usah malu."
Ivanka tak menyahut. Apa ia mampu merayu Elang sementara ia tahu hati Elang diisi perempuan lain walaupun ia belum tau siapa dan seperti apa perempuan itu. Semalam rasanya sudah habis-habisan ia mengeluarkan kemampuan merayunya yang terbatas.
"Iva." ibunya memanggil pelan.
"Iya Ma, aku dengar. Nanti dicoba." Tangannya meremas ujung rok yang ia kenakan. "Apa Mama tau kalau... mas Elang belum menyukaiku?" Ia mendengar tarikan napas panjang ibundanya. "Mama tau?" tuntutnya. Ia curiga mendengar tarikan napas berat itu.
"Nanti kita bicara lagi. Papa kamu bangun."
Klik!
Iva menatap layar hand phone nya yang berubah gelap. Perlahan ia bangkit, memeriksa waktu. Ia masih punya beberapa belas menit sebelum ke sekolah. Mau tak mau ia kembali ke rencana awal untuk ke sekolah itu padahal tadinya ia tak ingin kembali kesana. Ia ingin pulang dan mengakhiri pernikahan yang masih seumur jagung ini.
Iva mengucek sisa lipstick di kerah kemeja Elang sampai tak bersisa lalu memasukannya ke mesin cuci. Sambil menunggu ia mempersiapkan diri lalu keluar rumah dalam keadaan rapi.
Gadis itu menjemur cucian yang hanya beberapa lembar itu di halaman samping lalu berjalan ke rumah mang Sarif untuk meminjam motor.
"Mang, tau sandal jepit di depan rumah itu milik siapa? Ada inisial 'S' nya." tanyanya saat menerima kunci dari mang Sarif.
"S itu pasti untuk kata 'Sandal' neng." mang Sarif meringis.
Iva tak mau menjatuhkan Elang dengan terang-terangan bertanya 'apa itu sandal pacar suami saya yang tertinggal?' Jadi ia hanya mengangguk. Mang Sarif mungkin takut kepada Elang. Lagipula kalau dulu mereka pacaran disini, di rumah ini, itu bukan kesalahan. Waktu itu Elang belum menikah dengannya bukan?
Ia tertawa kecil agar lelaki setengah baya itu tak kecewa. "Pinjam dulu motornya. Hari ini mungkin agak lama ya pak, saya ingin melihat-lihat sebentar."
Mang Sarif mengangguk. Mana berani ia menolak keinginan sang nyonya. Toh motor itu juga milik Elang yang diserahkan untuk kendaraan operasional dirinya kalau Elang butuh sesuatu. Mata lelaki setengah baya itu hanya bisa menatap prihatin pada sang nyonya yang ramah dan lembut itu.
***
Tiga puluh menit lagi akan ada rapat dengan arsitek dan para mandor untuk membicarakan tata letak. Resort mereka hanya akan terdiri dari 3 lantai dengan bangunan terpisah sesuai type. Pagi ini mereka akan mendiskusikan lagi hal itu. Elang meletakkan berkasnya lalu mendongak melihat siapa yang berdiri di depan meja kerjanya.
"Gimana kondisimu? Kalau masih pusing harusnya nggak usah turun kerja." Elang bicara lembut. Tatapannya pun begitu.
"Saya baik-baik aja pak, terima kasih." sekretarisnya meletakkan map berisi agenda rapat di meja Elang lalu pamit undur diri.
"Sebentar." Elang berdiri. Tangannya menempel di dahi sang sekretaris. "Panas." ucapnya makin lembut. "Masih ada waktu sebelum meeting, mau aku antar pulang?"
Silva menggeleng. "Nggak perlu."
"Kamu marah karena semalam aku tinggal pulang?" Elang menarik perempuan itu menuju kursinya, mendorong lembut hingga perempuan itu duduk lalu ia berjongkok di depannya. "Aku hanya khawatir dia melapor pada orangtuaku kalau aku sampai nggak pulang."
Tak ada sahutan, hanya bibir yang mengatup semakin rapat saja.
"Pengacaraku sudah menyiapkan surat pernikahan kontrak selama setahun. Kami otomatis bercerai setelah satu tahun. Kalau kamu tanya kenapa harus satu tahun maka jawabnya karena itu waktu yang dibutuhkan Mamaku untuk pemulihan setelah operasi pengangkatan payudaranya."
Silva mengangguk lemah.
"Kita akan tetap bertunangan Silva dan menikah tahun depan. Oke?" Elang berdiri, membungkuk untuk mengecup kening sekretaris pribadi sekaligus kekasihnya. "Jangan ngambek lagi. Pulang sekarang untuk istirahat. Mau diantar aku atau diantar supir?"
"Supir aja, arsitek senior project sudah dalam perjalanan kesini."
Elang tersenyum menawan. Selain cantik, kerja Silva juga bagus dan profesional. hampir tak ada cacatnya. "Kalau ada apa-apa kamu masih bisa ditelepon kan?"
"Semua sudah ada dalam map itu pak." Silva berdiri. "Sudah lengkap."
"Kalau aku kangen." Elang berbisik mesra di telinga Silva. Lengannya merengkuh pinggang perempuan itu hingga dada mereka saling menempel. Elang memagut bibir perempuan itu sebentar lalu melepaskannya. "Aku akan menjengukmu pulang kerja nanti."
Silva mengangguk. "I love you." katanya sembari beranjak.
"I love you too." Elang kembali ke mejanya untuk mengambil berkas yang diperlukan sebelum menyusul keluar untuk menunggu tamunya di ruang meeting. Ia sempat memperhatikan mobil kantor yang dikemudikan sopir keluar dari perlataran kantor. Senyumnya menyungging samar.
Amran, yang nampaknya diserahi tugas oleh Silva mengetuk ruang meeting. "Maaf pak diluar ada tamu yang ingin menemui bapak." ujarnya hormat.
"Tamu? Sudah buat janji?" Elang tak mau repot-repot mengangkat kepala.
"Eh, saya nggak tau, bu Silva tadi ijin karena sakit tapi nggak meninggalkan note kalau mau ada tamu. Hanya memberi saya agenda meeting."
"Kalau begitu, sampaikan saja kalau saya sibuk."
"Baik pak, permisi."
Pintu ruang meeting menutup. Elang kembali menekuri gambar tata ruang yang akan mereka dibahas. Ia mendongak kesal saat ruang meeting kembali diketuk dan dibuka.
Kepala Amran kembali nongol di celah pintu. Wajah lelaki itu nampak serba salah. Pasalnya seluruh kantor termasuk dirinya tau kalau ada hubungan spesial antara Elang dan sekretarisnya.
Elang menatap tak sabar.
"Tamunya mengaku sebagai istri bapak." katanya dengan wajah yang makin serba salah.
.
.
.
bersambung...
.
kisah ini bakal nongol rutin tiap sabtu jadi don miss it ya.. jangan lupa tinggalin komen dan like. thank youuuu
Ivanka betul-betul menikmati interaksinya bersama para volunteer yang terdiri dari mahasiswa, pekerja, bahkan turis. Apalagi ketika ia bisa berbagi cerita bersama anak-anak itu, kebahagiaannya jangan ditanya. Matahari telah terbenam saat rombongan itu turun bersama dengan hati-hati. Sudah ada jalanan yang biasa dilewati oleh penduduk setempat tapi bagi pendatang yang baru pertama kali seperti Ivanka, tetap harus waspada karena lumayan curam."Sampai ketemu minggu depan!" Pak Setia melambai ke arah rombongan volunteer.Iva melakukan hal yang sama. "Jaketnya sudah dipakai... Iva?" Lidahnya menggantung begitu saja, terasa kaku saat berusaha mengucap nama itu tanpa embel-embel 'bu'."Sudah Kang." Iva naik ke boncengan guru olah raga itu. masih dengan semangat yang sama. Karena tadi Iva memberitau panggilan akrabnya, Setiawan juga memberitau panggilan akrabnya yaitu Wawan tapi rasanya lebih nyaman memanggil lelaki yang lima tahun lebih tua darinya itu dengan sebutan 'kang' saja.Motor be
Silva cemberut tapi mengambil sendok dan mulai menyuap. "Emh... enak banget mas. Beli dimana?"Elang terdiam sejenak kemudian mengangkat bahu. "Aku nggak tau tadi anak proyek yang aku minta membeli ini.""Tanyakan ya mas, ini bumbunya pas banget. Sawinya juga sesuai dengan seleraku, nggak kematengan."Selera makannya malah menguap mendengar pujian Silva pada masakan Ivanka. Elang tak pernah tau kalau Ivanka bisa memasak. Seingatnya, mama mertuanya malah meminta maaf kepada mamanya karena Ivanka nggak pernah ke dapur."Mas, kok diem sih?""Karena permintaanmu sulit Va. Aku hanya asal menyuruh tadi. Aku sudah nggak ingat anak proyek yang mana yang berangkat mencari tumis ini." Geramnya. Mendadak ia merasa jengkel pada kekasihnya. "Apa aku harus membuat pengumuman untuk mencari pekerja yang sudah membelikan tumis sawi ini?"Silva meminggirkan sejenak meja nampan di depannya. Perempuan itu beringsut mendekati kekasihnya, melingkarkan tangannya ke pinggang Elang. Perlahan telapak tangan Iv
Belum juga sepuluh menit, ternyata Ivanka yang awalnya bertekad menunggui motor Mang Sarif diservis sampai selesai, memilih untuk pulang saja. Kerusakannya cukup banyak karena motor itu ternyata tak terawat sehingga tak akan selsai dalam satu - dua jam.Meskipun meragu, ia akhirnya menghubungi pak Setia. Tak sampai lima menit lelaki berkulit putih itu sudah tiba di depan bengkel.Iva membelalak takjub. "Kok cepet pak?""Biasa anak kos. Kalau dapat tawaran makan gratis paling cepet." Setiawan menyahut asal, menyembunyikan kenyataan kalau sejak awal ia memang tak melaju kencang, hanya merayapkan motornya pelan di belakang motor Ivanka. Ia merasa serba salah mau menolong saat motor matc itu bermasalah, takut dikira mau pedekate. Tapi tepat saat ia bersiap pergi setelah Ivanka berhasil mencapai bengkel sendiri, guru baru itu menghubunginya. Ini yang dinamakan pucuk dicinta ulam tiba. Setiawan langsung melajukan motor bebeknya.Sambil mengenakan helm-nya, Iva tertawa kecil. "Maaf ya pak,
"Ide bagus bu." salah satu guru, bu Mira menyahut."Lagipula rumahnya nggak terlalu jauh dari sini." Sekarang bu Euis yang menambahkan.Dari posisinya yang agak terlindung, Iva mendengarkan itu semua dengan dada berdentam-dentam nyeri. Apakah ia berani bertemu secara langsung dengan pemilik hati suaminya? "Bu Iva, seingat saya di sekolah yang lama mengajar SD ya?" Suara bu Titik membuat Iva mengangkat kepala. Beberapa guru yang semula berdiri rapat di depannya bergeser sehinga perempuan bertubuh subur itu kini berhadapan dengan Iva."Benar bu." Gadis itu lega karena percakapan tentang suami dan kekasih suaminya berhenti sampai disitu saja."Kalau begitu nanti bu Iva bisa membantu di grup SD ya, sebentar lagi mereka datang." Senyuman bu Tutik masih sama hangatnya dengan kemarin."Baik bu." Iva mengekori pak Setia, sahabat barunya di sekolah ini."Anak-anak SD di kota mungkin lebih kooperatif karena orang tua mereka bisa membantu guru mengedukasi anaknya di rumah. Disini enggak bu. Mal
Elang melajukan mobilnya menembus hujan. Mbok Narmi, perempuan tua yang ia bayar untuk menemani kekasihnya menghubungi. Demam Silva meninggi, kekasihnya itu juga terus-terusan muntah. Lokasi rumah dimana ia mengontrakkan Silva berada tepat di belakang lokasi project. Di sebuah pemukiman padat penduduk. Harusnya Elang tak perlu datang karena kekerabatan di perkampungan tidaklah sama seperti di kota yang individualis. Tetangga kanan - kirinya akan sigap menolong kalau Silva butuh sesuatu tapi sifat Silva memang tertutup dan Elang tak menyalahkannya.Mau ikut ke kota kecil ini saja sudah membuatnya merasa begitu beruntung. Perempuan lain belum tentu mampu beradaptasi. Ivanka contohnya, si cerewet manja yang bisanya cuma jadi beban. Godammit, sekedar mengingat istrinya saja ia sudah kesal.Everest Elang berbelok memasuki pekarangan rumah Silva. Ciri khas lain dari kota kecil ini adalah pekarangan yang memadai meskipun pemukiman cukup padat. Derasnya hujan membuat pakaiannya tetap basah
"Jadi begitu ceritanya. Elang sudah lama berpacaran dengan perempuan itu, si Nona Silva." Sepanjang jalan, Ivanka memikirkan itu. Ia mengembalikan motor ke rumah mang Sarif lalu berjalan gontai ke arah teras. "Namanya cantik." gumamnya sembari menatap sandal berinisial ‘S’ yang ada disitu.Kira-kira... dua orang dewasa, jauh dari orang tua, jauh dari tetangga, berdua saja di dalam rumah besar yang menyeramkan begini ngapain ya? Hati Iva serasa dikerubuti semut merah membayangkannnya.Ia masuk. Setelah berganti pakaian, hal pertama yang ia lakukan adalah menelepon Mamanya. "Gimana keadaan Papa?" tanyanya datar begitu sang Mama mengangkat telepon."Papamu sudah stabil Va, besok jam 10 pagi akan masuk ke ruang operasi." Mamanya terdiam sesaat. "Harusnya sih hari ini tapi dokternya ada keperluan lain sehingga ditunda sampai besok.""Biayanya? A... aku punya tabungan kalau misalnya..." Iva terdiam karena sang mama memotong kata-katanya."Apa kamu lupa? Sudah ditanggung semuanya oleh pak Ra
"Siapa mas?"Elang menerima panggilan itu. "Halo Ma, gimana kondisi mama?" Ia tau mamanya yang tengah sakit sudah memaksakan diri demi acara pernikahannya. Salah satu alasan lain Elang terburu keluar dari rumah adalah itu. Ia ingin rumah segera sepi sehingga Mamanya bisa beristirahat. "Aku baik Ma,
Kelopak mata Ivanka mengerjap kaget saat pintu dibanting tepat dimukanya. Ia mengurut dada. Beberapa saat lamanya ia mematung di depan pintu. "Aku panggil lagi kalau airnya udah siap ya mas!" serunya belum menyerah namun suaranya sudah berubah sendu.Tak ada jawaban dari dalam kamar utama.Gadis it
Hujan turun dengan deras disertai kilat dan guntur.Ivanka menjauh dari jendela. "Mas… kamu dimana?” desisnya dilanda takut.Kaca jendela mendadak terang benderang. Begitu pula halaman samping yang gelap oleh kelabunya langit. Pohon besar diluar sana terlihat meliuk kencang. Anehnya, semakin menaku
Keluarga besar Rajendra berkumpul di ruang makan. Suara obrolan dan canda terdengar jelas.Mengingat pesan Elang, Ivanka mengumbar senyum manisnya kepada semua orang."Santai amat jalannya yang belum malam pertama.”Mata Ivanka membulat mendengar siapa yang bicara. Wanita yang semalam ternyata masi







