Compartir

BAB 8

last update Fecha de publicación: 2026-05-30 09:32:03

Iva menunggu sang suami sampai jam 11 malam tapi tak ada tanda-tanda Elang akan pulang. Ia nekat menunggu diluar tapi tak sampai 5 menit sudah masuk kembali gara-gara sayup didengarnya suara burung hantu.

Gadis itu meringkuk di sofa ruang tamu. Ia tergeragap bangun saat pintu dibuka. "Mas...!" Pekiknya, serta merta bangkit dari sofa.

Tekadnya untuk menyingkirkan cinta terpendamnya kepada Elang buyar saat mereka berdekatan begini. Penuh kerinduan Ivanka menghambur memeluk lelaki itu. "Darimana aja mas? Kok jam segini baru pulang? Aku nggak berani di kamar jadi aku nungguin disini sampai ketiduran." Berondongnya tanpa titik koma. Kedua lengannya melingkar erat di pinggang Elang.

"Lepaskan, aku mau buka sepatu." Ucap lelaki itu dingin.

"Enggak, aku kangen." Iva nekat menempelkan pipinya di dada Elang. Hidungnya kembang kempis mencoba mencari aroma manis khas perempuan yang tertinggal disana tapi tak ada apa-apa.

Kedua tangan Elang mencengkeram pinggang gadis itu, siap mendorongnya mundur. Ia tertegun saat menunduk. Ivanka tengah menengadah ke arahnya. 

Dua bulir air mata menetes di pipi istrinya.

"Jangan pulang tengah malem begini mas. Aku sudah masak untukmu, aku juga takut sendirian. Rumah ini serem." Terisak Ivanka mengadu.

"Cengeng." Elang berhasil mendorong tubuh ramping Ivanka. Belum sempat ia berjongkok membuka boot yang ia kenakan untuk ke site, istrinya sudah berjongkok membuka pengait sepatu itu lalu menarik lepas dari kakinya.

"Besok pagi aku bersihkan ya mas. Kalau ke site-nya masih beberapa hari lagi, aku cucikan." Ujar Ivanka sambil melucuti sepatu yang satu lagi. 

Elang tak menyahut.

"Mas mau mandi air hangat? Aku rebusin air ya."

"Nggak usah."

"Makan dulu mas." Iva mengekor. "Aku bikin sup daging dengan perkedel kentang. Tadi istrinya Mang Sarif mengantar sayur dan sekepal daging. Aku hangatkan sebentar ya."

"No need." Elang langsung mendorong pintu kamar utama.

"Mas...."

"Apa sih? Cerewet sekali kamu jadi manusia?" Kesabaran Elang menipis. Ia  berbalik sembari menyentak sebal. "Ngemil, kunyah sesuatu supaya mulutmu nggak bicara terus Ivanka!"

"Aku takut sendirian di kamar itu mas. Mana jendelanya belum ada tirainya. Siang aja aku takut, apalagi malam begini." Ivanka menengadah, menatap penuh permohonan. "Please... mas temani aku atau aku yang ikut masuk ke kamar ini?"

Lelaki itu bergeming.

"Sumpah, aku nggak akan melakukan apa-apa sama mas Elang."

Dalam hati, Elang merasa geli juga oleh perkataan sang istri barusan. Dimana-mana, perempuan yang harusnya takut 'diapa-apakan' oleh lelaki, bukan sebaliknya.

"Mas... tolong mas..." rengeknya.

"Ya sudah..." sahutnya ketus.

"Ah.... makasih." Iva mengekor dengan dada berdebar. Memasuki kamar itu di siang hari, berbeda dengan malam hari. Apalagi masuk berdua Elang. 

Lelaki tinggi atletis itu berdiri di depan deretan lemari, mulai membuka kemeja kantornya.

"Aku bantu ya mas." Iva sigap berpindah ke hadapan Elang. Tubuhnya yang ramping itu mudah saja menyusup di antara Elang dan lemari. Ia betul-betul senang saat Elang diam saja.

Sesuai janjinya, asal diijinkan, ia akan membuktikan kalau ia bisa menjadi istri yang baik.

Kancing kemeja sang suami sudah terbuka seluruhnya. Tak ada apa-apa lagi dibalik kemeja Elang kecuali kulit sang suami yang kencang berotot. Iva menelan ludah mendapati abs Elang yang ternyata terbentuk sempurna. "Mas tadi nge-gym?"

"Iya."

Iva mendongak. Tak menyangka Elang akan menjawab, tak menyangka juga kalau di kota kecil ini ada gym. Tapi ia sekedar manggut-manggut saja. Hatinya terlanjur bahagia. 

Tangannya beralih ke bawah, membuka ikat pinggang sang suami lalu menyentuh ritsleting celana kerja Elang. Bahunya menjengit saat tangannya ditangkap.

"Cukup."

Iva menggigit bibir sembari menghentikan kegiatannya. "Nggak apa-apa Va, ini permulaan yang bagus," pikirnya sambil mengatur detak jantungnya yang berdebum keras hingga serasa siap keluar dari rangkanya.

Elang berjalan menuju kamar mandi.

Sementara Iva terpaku menunggu ditempatnya. Gadis itu menunduk malu saat Elang keluar dari kamar mandi masih tanpa kemeja, hanya mengenakan celana pendek katun warna abu-abu yang memperlihatkan paha kekar lelaki itu.

Kalau begini, bagaimana ia bisa melupakan Elang? "Ma... makan dulu mas... icip aja." Katanya grogi. 

Elang menarik selembar kaus tipis dari lemari lalu menghempaskan diri ke tempat tidur.

"Ya udah kalau nggak mau, temani aku menyimpan makan malam dikulkas dulu mas. Besok bisa dihangatkan untuk sarapan kalau disimpan. Kalau enggak... pasti basi."

Elang mendengus. Enggan tapi toh ia bangun juga dari tempat tidurnya. Lelaki itu berdecak saat sampai di dapur, Ivanka menghangatkan dulu sup daging yang dikatakanya itu.

Aroma kaldu yang menguar memenuhi dapur membuat Elang tergoda. Ia makan malam jam 8 tadi sedangkan sekarang sudah jam setengah satu. Tapi tentu saja ia hanya mengatupkan mulut rapat-rapat.

"Sudah mas, besok pagi sarapan bersama ya."

Elang mendesis. "Cerewet."

"Cerewet tandanya sayang mas. Nanti kalau aku udah nggak sayang, aku akan diam." Ivanka terkekeh. "Tapi itu nggak akan terjadi karena aku sayang banget sama mas."

Lelaki itu menaiki tempat tidur. "Matikan seluruh lampunya. Aku nggak bisa tidur kalau ada cahaya."

"Tapi aku takut gelap mas." itu hanya alasan. Ia ingin menatap wajah Elang saat lelaki itu tertidur.

"Damn you Ivanka!!" Bentak Elang menggelegar. Mata lelaki itu melotot besar sekali. "Jangan menghabiskan stock sabarku yang cuma seujung kuku padamu!" Lanjutnya masih dengan suara keras.

Napas Ivanka memburu. Seumur-umur, baru kali ini ia dibentak sekeras itu. Gadis itu menciut. Wajahnya pias ketakutan.

"Tidur, jangan banyak bicara." Titah Elang. Suaranya sudah tak se-menggelegar tadi tapi masih keras dan kaku. "Dan jangan nangis. Aku benci perempuan cengeng." Geramnya sembari masuk ke dalam selimut.

"A... antar a.. aku ke kamarku mas." Isaknya.

"Tidur, satu kata lagi keluar darimu, aku nggak akan segan menampar mulutmu yang cerewet itu."

Iva menelan tangisnya. Ia meringkuk menghadap punggung lebar Elang, berusaha menghentikan tangisnya.

Entah jam berapa ia baru bisa tertidur. Mungkin karena sebelumnya ia sudah ketiduran di sofa. Pokoknya cukup lama ia mendengarkan deru napas Elang yang teratur sebelum ia akhirnya menyusul tertidur.

Pertama kali tidur bersama. Meski ciut akibat bentakan Elang, pipinya tetap merona saat kelopak matanya membuka keesokan pagi. Ia beringsut turun perlahan dari ranjang besar itu. Berjingkat ke arah jendela untuk menyingkap tirainya lalu menuju ke dapur.

Baru jam 6 pagi. Ia akan membangunkan Elang setengah jam lagi.

Kelar menghangatkan sup dan menata meja makan, ia kembali ke kamar utama. "Mas... bangun... sarapan dulu." Iva mengerjap menatap bulu mata Elang yang lebat dan lentik. 

Bulu mata itu tak sinkron dengan garis wajah Elang yang sangat maskulin tapi justru itu yang membuat Elang betul-betul tampan.

Lembut sekali Iva menyentuh pipi lelaki itu, mengulangi panggilannya. "Mas... sarapan dulu yuk..."

Kelopak mata Elang membuka. Ia langsung memejam lagi sambil beringsut mundur seolah jijik melihat pemandangan dihadapannya. "Shit..." desahnya sembari memilih turun dari sisi lain tempat tidur.

Iva beralih ke lemari, menyiapkan perlengkapan sang suami. Ia belum menyiapkan mental saat Elang keluar dari kamar mandi hanya berlilit handuk hitam yang menggantung begitu rendah. Longgar pula!

Handuk itu seolah siap melorot setiap saat.

"Pakai ini Mas." Iva tersipu. "Eh... Mas udah pakai celana dalam kan di kamar mandi?"

Elang bergeming. Matanya seolah membuat pertimbangan apakah ia akan memakai apa yang disiapkan istrinya atau tidak.

Iva mendekat dengan handuk kecil ditangan. Lembut sekali ia mengelap tetesan air dari rambut sang suami yang membasahi bahu dan dada lelaki itu.

Matanya yang dinaungi alis legam dan tegas tak lepas mengikuti gerak-gerik Ivanka yang luwes saat memakaikan kemeja hingga ikat pinggangnya. "Sudah sering?" Desis Elang.

"Apanya?" Iva mengangkat muka. 

"Melayani laki-laki seperti ini?"

Gerakan tangannya terhenti detik itu juga tapi sebentar saja. Ivanka dengan cepat pulih dari kekagetannya. "Iya. Aku biasa melakukan ini sama Papa atau Ivan adikku, sambil membayangkanmu mas. Dulu... aku sering berkhayal jadi istrimu." Gadis itu tersenyum. "It's dream come true."

Tak ada perubahan di wajah Elang.

"I love you... suamiku." Bisik Iva dengan wajah merona. Ya ampun... ia ingin waktu berhenti disini.

Elang menjauh dengan cepat.

"Eh, mas sarapannya udah siap, icip aja dikit mas." Iva mengejar. "Mas Elang, Mas!!" 

Everest merah Elang menggerung dan berdecit meninggalkan halaman rumah.

Iva membuang napas. "Jangan maruk Va, semalam sudah tidur bareng kan." Ia menghibur diri lalu ke kamar utama untuk mencari pakaian kotor. "Nyuci terus ke sekolah." Ucapnya pelan dan riang.

Keranjang pakaian kotor dari rotan itu hanya berisi pakaian yang semalam ia lepaskan dari tubuh suaminya. Iva memeluknya penuh sayang. Matanya menyipit melihat onggokan kain di single arm chair di sudut kamar.

Diraihnya benda itu. Selembar kemeja. Ada sisa lipstick di bagian kerahnya.

.

.

.

hi gaes.. bantu diriku grow di GoodNovel dengan leave komen dan kasih like yaaa... mampir juga baca karya aku yang lain di karyakarsa. search indah poetry atau bisa juga ketik judul "Before You Go" dan "Coming Home".

thanks a lot, love sekebon buat readers semua..

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 17

    Ivanka betul-betul menikmati interaksinya bersama para volunteer yang terdiri dari mahasiswa, pekerja, bahkan turis. Apalagi ketika ia bisa berbagi cerita bersama anak-anak itu, kebahagiaannya jangan ditanya. Matahari telah terbenam saat rombongan itu turun bersama dengan hati-hati. Sudah ada jalanan yang biasa dilewati oleh penduduk setempat tapi bagi pendatang yang baru pertama kali seperti Ivanka, tetap harus waspada karena lumayan curam."Sampai ketemu minggu depan!" Pak Setia melambai ke arah rombongan volunteer.Iva melakukan hal yang sama. "Jaketnya sudah dipakai... Iva?" Lidahnya menggantung begitu saja, terasa kaku saat berusaha mengucap nama itu tanpa embel-embel 'bu'."Sudah Kang." Iva naik ke boncengan guru olah raga itu. masih dengan semangat yang sama. Karena tadi Iva memberitau panggilan akrabnya, Setiawan juga memberitau panggilan akrabnya yaitu Wawan tapi rasanya lebih nyaman memanggil lelaki yang lima tahun lebih tua darinya itu dengan sebutan 'kang' saja.Motor be

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 16

    Silva cemberut tapi mengambil sendok dan mulai menyuap. "Emh... enak banget mas. Beli dimana?"Elang terdiam sejenak kemudian mengangkat bahu. "Aku nggak tau tadi anak proyek yang aku minta membeli ini.""Tanyakan ya mas, ini bumbunya pas banget. Sawinya juga sesuai dengan seleraku, nggak kematengan."Selera makannya malah menguap mendengar pujian Silva pada masakan Ivanka. Elang tak pernah tau kalau Ivanka bisa memasak. Seingatnya, mama mertuanya malah meminta maaf kepada mamanya karena Ivanka nggak pernah ke dapur."Mas, kok diem sih?""Karena permintaanmu sulit Va. Aku hanya asal menyuruh tadi. Aku sudah nggak ingat anak proyek yang mana yang berangkat mencari tumis ini." Geramnya. Mendadak ia merasa jengkel pada kekasihnya. "Apa aku harus membuat pengumuman untuk mencari pekerja yang sudah membelikan tumis sawi ini?"Silva meminggirkan sejenak meja nampan di depannya. Perempuan itu beringsut mendekati kekasihnya, melingkarkan tangannya ke pinggang Elang. Perlahan telapak tangan Iv

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 15

    Belum juga sepuluh menit, ternyata Ivanka yang awalnya bertekad menunggui motor Mang Sarif diservis sampai selesai, memilih untuk pulang saja. Kerusakannya cukup banyak karena motor itu ternyata tak terawat sehingga tak akan selsai dalam satu - dua jam.Meskipun meragu, ia akhirnya menghubungi pak Setia. Tak sampai lima menit lelaki berkulit putih itu sudah tiba di depan bengkel.Iva membelalak takjub. "Kok cepet pak?""Biasa anak kos. Kalau dapat tawaran makan gratis paling cepet." Setiawan menyahut asal, menyembunyikan kenyataan kalau sejak awal ia memang tak melaju kencang, hanya merayapkan motornya pelan di belakang motor Ivanka. Ia merasa serba salah mau menolong saat motor matc itu bermasalah, takut dikira mau pedekate. Tapi tepat saat ia bersiap pergi setelah Ivanka berhasil mencapai bengkel sendiri, guru baru itu menghubunginya. Ini yang dinamakan pucuk dicinta ulam tiba. Setiawan langsung melajukan motor bebeknya.Sambil mengenakan helm-nya, Iva tertawa kecil. "Maaf ya pak,

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 14

    "Ide bagus bu." salah satu guru, bu Mira menyahut."Lagipula rumahnya nggak terlalu jauh dari sini." Sekarang bu Euis yang menambahkan.Dari posisinya yang agak terlindung, Iva mendengarkan itu semua dengan dada berdentam-dentam nyeri. Apakah ia berani bertemu secara langsung dengan pemilik hati suaminya? "Bu Iva, seingat saya di sekolah yang lama mengajar SD ya?" Suara bu Titik membuat Iva mengangkat kepala. Beberapa guru yang semula berdiri rapat di depannya bergeser sehinga perempuan bertubuh subur itu kini berhadapan dengan Iva."Benar bu." Gadis itu lega karena percakapan tentang suami dan kekasih suaminya berhenti sampai disitu saja."Kalau begitu nanti bu Iva bisa membantu di grup SD ya, sebentar lagi mereka datang." Senyuman bu Tutik masih sama hangatnya dengan kemarin."Baik bu." Iva mengekori pak Setia, sahabat barunya di sekolah ini."Anak-anak SD di kota mungkin lebih kooperatif karena orang tua mereka bisa membantu guru mengedukasi anaknya di rumah. Disini enggak bu. Mal

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 13

    Elang melajukan mobilnya menembus hujan. Mbok Narmi, perempuan tua yang ia bayar untuk menemani kekasihnya menghubungi. Demam Silva meninggi, kekasihnya itu juga terus-terusan muntah. Lokasi rumah dimana ia mengontrakkan Silva berada tepat di belakang lokasi project. Di sebuah pemukiman padat penduduk. Harusnya Elang tak perlu datang karena kekerabatan di perkampungan tidaklah sama seperti di kota yang individualis. Tetangga kanan - kirinya akan sigap menolong kalau Silva butuh sesuatu tapi sifat Silva memang tertutup dan Elang tak menyalahkannya.Mau ikut ke kota kecil ini saja sudah membuatnya merasa begitu beruntung. Perempuan lain belum tentu mampu beradaptasi. Ivanka contohnya, si cerewet manja yang bisanya cuma jadi beban. Godammit, sekedar mengingat istrinya saja ia sudah kesal.Everest Elang berbelok memasuki pekarangan rumah Silva. Ciri khas lain dari kota kecil ini adalah pekarangan yang memadai meskipun pemukiman cukup padat. Derasnya hujan membuat pakaiannya tetap basah

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 12

    "Jadi begitu ceritanya. Elang sudah lama berpacaran dengan perempuan itu, si Nona Silva." Sepanjang jalan, Ivanka memikirkan itu. Ia mengembalikan motor ke rumah mang Sarif lalu berjalan gontai ke arah teras. "Namanya cantik." gumamnya sembari menatap sandal berinisial ‘S’ yang ada disitu.Kira-kira... dua orang dewasa, jauh dari orang tua, jauh dari tetangga, berdua saja di dalam rumah besar yang menyeramkan begini ngapain ya? Hati Iva serasa dikerubuti semut merah membayangkannnya.Ia masuk. Setelah berganti pakaian, hal pertama yang ia lakukan adalah menelepon Mamanya. "Gimana keadaan Papa?" tanyanya datar begitu sang Mama mengangkat telepon."Papamu sudah stabil Va, besok jam 10 pagi akan masuk ke ruang operasi." Mamanya terdiam sesaat. "Harusnya sih hari ini tapi dokternya ada keperluan lain sehingga ditunda sampai besok.""Biayanya? A... aku punya tabungan kalau misalnya..." Iva terdiam karena sang mama memotong kata-katanya."Apa kamu lupa? Sudah ditanggung semuanya oleh pak Ra

  • Bukan Cinta Pertama   Bab 4. Sebuah Nama Lain

    Hujan turun dengan deras disertai kilat dan guntur.Ivanka menjauh dari jendela. "Mas… kamu dimana?” desisnya dilanda takut.Kaca jendela mendadak terang benderang. Begitu pula halaman samping yang gelap oleh kelabunya langit. Pohon besar diluar sana terlihat meliuk kencang. Anehnya, semakin menaku

  • Bukan Cinta Pertama   Malam Pertama

    Keluarga besar Rajendra berkumpul di ruang makan. Suara obrolan dan canda terdengar jelas.Mengingat pesan Elang, Ivanka mengumbar senyum manisnya kepada semua orang."Santai amat jalannya yang belum malam pertama.”Mata Ivanka membulat mendengar siapa yang bicara. Wanita yang semalam ternyata masi

  • Bukan Cinta Pertama   Awal Hidup Baru

    Suara Elang kembali terdengar. "Jadi jangan berharap banyak dari aku. Kita menikah dan bersikap layaknya suami istri hanya di depan orang tuaku, hanya demi ibuku."Ivanka tak mau mengangguk karena ia ingin menjadi istri sungguhan, bukan istri pura-pura dari lelaki yang amat ia cintai, lelaki yang s

  • Bukan Cinta Pertama   Hari Pernikahan

    Pembawa acara yang telah mengantarkan seluruh rangkaian acara dari awal hingga akhir berseru penuh semangat. “Sang pengantin pria gagah dan tampan sementara pengantin wanitanya mungil, imut menawan.”Kalimat santai itu menandai berakhirnya prosesi pernikahan antara Elang Rajendra dan Ivanka Juliett

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status