Share

Bukan Cinta Pertama
Bukan Cinta Pertama
Penulis: Indah.poe.try

Hari Pernikahan

Penulis: Indah.poe.try
last update Tanggal publikasi: 2026-05-21 10:22:10

Pembawa acara yang telah mengantarkan seluruh rangkaian acara dari awal hingga akhir berseru penuh semangat. “Sang pengantin pria gagah dan tampan sementara pengantin wanitanya mungil, imut menawan.”

Kalimat santai itu menandai berakhirnya prosesi pernikahan antara Elang Rajendra dan Ivanka Julietta.

Kini keluarga dari kedua mempelai dan tetangga kanan – kiri yang tak mungkin kalau tak diundang mulai membentuk kelompok-kelompok, mengobrol gembira sambil menikmati cemilan yang semuanya berkualitas premium.

"Iva, silakan kalau mau istirahat dulu." Ibu mertuanya tersenyum hangat sembari menepuk lembut punggung anak mantunya. Wanita berusia mapan yang tampil mempesona itu tau betapa pegalnya terbalut kebaya sempit selama berjam-jam. Ditambah lagi dengan berbagai macam asesoris tradisional lengkap yang dilekatkan di tubuh ramping Ivanka.

"Mana bisa pengantin baru disuruh istirahat jam segini mbak." Salah satu kerabat sang suami yang tak dikenal oleh Ivanka menimpali sambil dengan sengaja mengedip-ngedip genit. "Pasti menjelang subuh baru bisa tidur." wanita itu merendahkan suara. "Apalagi Elang bugar perkasa begitu."

Ibu mertua Ivanka yang santun dan lembut itu tertawa pelan sembari menutup mulut menggunakan kipas berenda yang ada ditangannya. Rania Rajendra tak menimpali malah makin mendekat lalu merangkul Ivanka. "Sudah, jangan diambil hati Va. Masuk aja ke kamar untuk isirahat ya."

"Bener nggak apa-apa Ma?" mata Ivanka mengerjap. Sebenarnya ia juga malu menghilang dari tempat acara sekarang namun sedari tadi godaan demi godaan memang lebih banyak ditujukan kepadanya sampai ia merasa risih. Ia memilih menyingkir karena candaan mereka mulai melewati batas. Seputar kasur dan aktivitas di atas kasur melulu.

"Iya nggak apa-apa Va, beneran. Nanti begitu Mama menemukan Elang, Mama akan langsung menyuruhnya menyusul kamu ke dalam." Wanita itu menarik napas panjang. "Paling-paling dia lagi ngumpul sama teman-teman sablengnya di gazebo."

Pipi Ivanka merona. Ia mengangguk malu-malu. "Kalau begitu saya permisi dulu Ma." Gadis itu berjalan pelan-pelan meninggalkan tempat acara didampingi dua orang pegawai perias pengantin yang stand by sejak tadi pagi.

Satu orang akan membantunya berganti pakaian sementara satu orang lagi akan membantu membersihkan mukanya yang terasa tebal dan lengket oleh make up.

Ivanka mengeluhkan mukanya yang seberat lima ratus kilogram!

Periasnya tertawa geli sembari menjanjikan kalau mukanya akan kembali ringan, mulus dan polos seperti biasa setelah dibersihkan.

Sebentar saja mereka bertiga sudah akrab. Sambil melepaskan kaitan kancing kebaya Ivanka yang memang berada di punggung, mereka bertiga saling bertukar cerita. Seru sekali karena ternyata mereka memiliki beberapa hal favorit yang sama.

Ruangan itu berubah hening saat pintu kamar membuka.

Dua orang asisten perias tadi langsung menundukkan kepala lalu bekerja membuka kancing-kancing kemeja Ivanka dalam kesunyian.

Kedatangan Elang Rajendra seolah menjadi pertanda bahwa waktu mereka untuk keluar dari kamar sudah tiba.

Gerakan kedua orang itu berubah agak gugup dan terburu-buru, tak bersantai-santai seperti sebelumnya. Apalagi sambil berbagi kisah dan tertawa-tawa.

Suasana menjadi mencekam.

Padahal Elang melihat ke arah mereka pun tidak. Ia melewati tiga orang wanita yang berada di dalam kamarnya begitu saja tanpa kata. Lelaki berperawakan tinggi tegap itu langsung menghilang ke dalam kamar mandi.

"Kami permisi mbak." ucap salah satu dari mereka padahal tugasnya belum seratus persen selesai. Dua orang itu ngibrit besamaan keluar kamar begitu saja.

“Iya makasih mbak…” ucapan Ivanka hanya menyapa angin karena pintu kamar langsung menutup. Tatapannya berpindah ke pintu kamar mandi. "Ah keduluan." senyuman Ivanka kembali menyungging. "Padahal aku juga sudah kepingin banget ke toilet." Gadis itu pura-pura cemberut sambil tetap menatap pintu yang menutup rapat.

Tapi siapa yang bisa marah kalau sejurus kemudian pintu kamar mandi terbuka menampakkan Elang yang sudah berganti mengenakan pakaian santai. Ohh... God! Tampilan segar lelaki itu begitu menggoda iman.

Sejak dulu Ivanka lebih menyukai tampilan Elang yang seperti ini ; kaus oblong dan celana kolor sebatas lutut. Lebih... manusiawi.

Lelaki itu memilih duduk di sofa single yang terletak di sudut ruangan sambil menyilangkan sebelah kaki. Tangannya meraih hand phone yang entah kapan diletakkannya di atas meja kecil tepat disamping sofa. Jemari Elang sibuk menggulir layar.

"Mas Elang laper nggak? Apa mau aku ambilkan makanan atau cemilan kesini?" Astaga, pipinya pasti sudah semerah kepiting rebus sekarang. 

Elang bergeming. Jangankan menjawab, melirik pun tidak.

Ivanka tidak merasa sakit hati dengan respon dingin membeku itu. Ia punya ide lain. Sebenarnya bisa saja Ivanka membuka sendiri sisa kancing-kancing kebayanya yang sudah longgar tapi ia ingin menggoda suami. 

Keraguan menerpa gadis muda itu. Setahu Ivanka, Elang memang tak pernah kelihatan menggandeng perempuan. Itu sebabnya, lelaki itu perlu dipancing dulu agar bereaksi.

Ivanka menggigit bibir bawahnya. Apakah aku terlalu agresif? Tanyanya dalam hati. Memangnya ada lelaki yang jadi ilfeel karena istrinya terlalu genit? Harusnya enggak. Tapi ini Elang. Lelaki itu berbeda. Ah… Ivanka jadi mengkeret. "M... mas bisa bantu buka?" tapi ia paksakan dirinya untuk mencoba.

Tiba-tiba Elang mengangkat muka, beranjak dari single sofa menghampiri istrinya. Sorot mata lelaki itu tertuju lurus pada Ivanka.

Seketika jantung Ivanka berdebar. "Ma... mau apa mas? Apa mas mau mengajakku bercinta?" Ya Tuhan... bisa-bisanya pertanyaan seperti itu terlontar dari mulutnya!

Elang tak terpengaruh. Wajahnya biasa saja mendnegar pertanyaan sang istri. "Berapa nomor hand phone kamu?" tanyanya dingin sembari mengantongi handphonenya sendiri agar tangannya dapat membuka dua kancing terbawah kebaya pengantin yang dikenakan Ivanka. Setelah itu, ia kembali mengambil handphonenya, bersiap mencatat.

Ivanka menyebutkan nomornya dengan nada malu-malu. Pikirnya Elang akan marah kepadanya karena wajah lelaki itu seolah digelayuti mendung pekat yang mengerikan. Ia juga sempat berpikir kalau Elang akan menyergap tubuhnya ke tempat tidur. Ohh… pipinya merona lagi. Namanya juga pengantin baru, jauh sedikit pastilah diserang rindu. 

Bahunya menjengit manakala tak sampai semenit hand phonenya mengeluarkan bunyi notifikasi.

"Buka." ucap Elang masih dengan nada dinginnya. Kaki yang panjang dan kokoh itu melangkah kembali ke kursi.

Ivanka memilih untuk menanggalkan kebayanya dulu, menyisakan dalaman krem lengan panjang, barulah duduk di tepi tempat tidur, membuka pesan yang ternyata berasal dari suaminya.

Sebuah dokumen yang harus di d******d. Mata Ivanka yang semula berbinar indah seketika meredup membaca judul dokumen tersebut. "Su... surat perjanjian kontrak pernikahan?" tanyanya terbata-bata. "Kita kan sudah menikah secara sah." ujarnya kemudian dengan wajah terangkat. "Apa maksudnya ini mas?"

Sahutan Elang amatlah pendek dan kaku. "Baca."

Satu kata itu kembali membuat Ivanka mengkeret. Tegas dan terkesan garang sekali suara Elang. Ivanka menunduk, membaca baris demi baris kalimat dalam dokumen itu. Semakin banyak ia membaca dokumen berjumlah tiga lembar itu, semakin panas matanya.

Dua butiran bening meleleh dari sudut-sudut mata gadis berusia dua puluh lima itu seiring ia selesai membaca.

"Sudah mengerti?" Elang menatap dari dari posisinya yang berseberangan dengan Ivanka. "Cinta bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Aku nggak mempunyai rasa sedikitpun kepadamu. Satu-satunya alasanku menerima pernikahan ini adalah kondisi ibuku yang sakit. Beliau menderita lemah jantung jadi aku tak kuasa menolak keinginannya. Aku tak ingin ada apa-apa dengan ibu."

Nada bicara Elang melembut tapi hati Ivanka malah tertusuk-tusuk. 

Di jaman sekarang ini, ada berapa laki-laki yang memiliki kebaikan seperti Elang? Sanggup mengorbankan perasaannya demi sang ibu. Rasanya nggak banyak dan Ivanka merasa terluka karena orang sebaik itu ternyata tidak menyukainya.

Suara Elang kembali terdengar. "Jadi jangan berharap banyak dari aku. Kita menikah dan bersikap layaknya suami istri hanya di depan orang tuaku, hanya demi ibuku."

.

.

.

to be continued

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 17

    Ivanka betul-betul menikmati interaksinya bersama para volunteer yang terdiri dari mahasiswa, pekerja, bahkan turis. Apalagi ketika ia bisa berbagi cerita bersama anak-anak itu, kebahagiaannya jangan ditanya. Matahari telah terbenam saat rombongan itu turun bersama dengan hati-hati. Sudah ada jalanan yang biasa dilewati oleh penduduk setempat tapi bagi pendatang yang baru pertama kali seperti Ivanka, tetap harus waspada karena lumayan curam."Sampai ketemu minggu depan!" Pak Setia melambai ke arah rombongan volunteer.Iva melakukan hal yang sama. "Jaketnya sudah dipakai... Iva?" Lidahnya menggantung begitu saja, terasa kaku saat berusaha mengucap nama itu tanpa embel-embel 'bu'."Sudah Kang." Iva naik ke boncengan guru olah raga itu. masih dengan semangat yang sama. Karena tadi Iva memberitau panggilan akrabnya, Setiawan juga memberitau panggilan akrabnya yaitu Wawan tapi rasanya lebih nyaman memanggil lelaki yang lima tahun lebih tua darinya itu dengan sebutan 'kang' saja.Motor be

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 16

    Silva cemberut tapi mengambil sendok dan mulai menyuap. "Emh... enak banget mas. Beli dimana?"Elang terdiam sejenak kemudian mengangkat bahu. "Aku nggak tau tadi anak proyek yang aku minta membeli ini.""Tanyakan ya mas, ini bumbunya pas banget. Sawinya juga sesuai dengan seleraku, nggak kematengan."Selera makannya malah menguap mendengar pujian Silva pada masakan Ivanka. Elang tak pernah tau kalau Ivanka bisa memasak. Seingatnya, mama mertuanya malah meminta maaf kepada mamanya karena Ivanka nggak pernah ke dapur."Mas, kok diem sih?""Karena permintaanmu sulit Va. Aku hanya asal menyuruh tadi. Aku sudah nggak ingat anak proyek yang mana yang berangkat mencari tumis ini." Geramnya. Mendadak ia merasa jengkel pada kekasihnya. "Apa aku harus membuat pengumuman untuk mencari pekerja yang sudah membelikan tumis sawi ini?"Silva meminggirkan sejenak meja nampan di depannya. Perempuan itu beringsut mendekati kekasihnya, melingkarkan tangannya ke pinggang Elang. Perlahan telapak tangan Iv

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 15

    Belum juga sepuluh menit, ternyata Ivanka yang awalnya bertekad menunggui motor Mang Sarif diservis sampai selesai, memilih untuk pulang saja. Kerusakannya cukup banyak karena motor itu ternyata tak terawat sehingga tak akan selsai dalam satu - dua jam.Meskipun meragu, ia akhirnya menghubungi pak Setia. Tak sampai lima menit lelaki berkulit putih itu sudah tiba di depan bengkel.Iva membelalak takjub. "Kok cepet pak?""Biasa anak kos. Kalau dapat tawaran makan gratis paling cepet." Setiawan menyahut asal, menyembunyikan kenyataan kalau sejak awal ia memang tak melaju kencang, hanya merayapkan motornya pelan di belakang motor Ivanka. Ia merasa serba salah mau menolong saat motor matc itu bermasalah, takut dikira mau pedekate. Tapi tepat saat ia bersiap pergi setelah Ivanka berhasil mencapai bengkel sendiri, guru baru itu menghubunginya. Ini yang dinamakan pucuk dicinta ulam tiba. Setiawan langsung melajukan motor bebeknya.Sambil mengenakan helm-nya, Iva tertawa kecil. "Maaf ya pak,

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 14

    "Ide bagus bu." salah satu guru, bu Mira menyahut."Lagipula rumahnya nggak terlalu jauh dari sini." Sekarang bu Euis yang menambahkan.Dari posisinya yang agak terlindung, Iva mendengarkan itu semua dengan dada berdentam-dentam nyeri. Apakah ia berani bertemu secara langsung dengan pemilik hati suaminya? "Bu Iva, seingat saya di sekolah yang lama mengajar SD ya?" Suara bu Titik membuat Iva mengangkat kepala. Beberapa guru yang semula berdiri rapat di depannya bergeser sehinga perempuan bertubuh subur itu kini berhadapan dengan Iva."Benar bu." Gadis itu lega karena percakapan tentang suami dan kekasih suaminya berhenti sampai disitu saja."Kalau begitu nanti bu Iva bisa membantu di grup SD ya, sebentar lagi mereka datang." Senyuman bu Tutik masih sama hangatnya dengan kemarin."Baik bu." Iva mengekori pak Setia, sahabat barunya di sekolah ini."Anak-anak SD di kota mungkin lebih kooperatif karena orang tua mereka bisa membantu guru mengedukasi anaknya di rumah. Disini enggak bu. Mal

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 13

    Elang melajukan mobilnya menembus hujan. Mbok Narmi, perempuan tua yang ia bayar untuk menemani kekasihnya menghubungi. Demam Silva meninggi, kekasihnya itu juga terus-terusan muntah. Lokasi rumah dimana ia mengontrakkan Silva berada tepat di belakang lokasi project. Di sebuah pemukiman padat penduduk. Harusnya Elang tak perlu datang karena kekerabatan di perkampungan tidaklah sama seperti di kota yang individualis. Tetangga kanan - kirinya akan sigap menolong kalau Silva butuh sesuatu tapi sifat Silva memang tertutup dan Elang tak menyalahkannya.Mau ikut ke kota kecil ini saja sudah membuatnya merasa begitu beruntung. Perempuan lain belum tentu mampu beradaptasi. Ivanka contohnya, si cerewet manja yang bisanya cuma jadi beban. Godammit, sekedar mengingat istrinya saja ia sudah kesal.Everest Elang berbelok memasuki pekarangan rumah Silva. Ciri khas lain dari kota kecil ini adalah pekarangan yang memadai meskipun pemukiman cukup padat. Derasnya hujan membuat pakaiannya tetap basah

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 12

    "Jadi begitu ceritanya. Elang sudah lama berpacaran dengan perempuan itu, si Nona Silva." Sepanjang jalan, Ivanka memikirkan itu. Ia mengembalikan motor ke rumah mang Sarif lalu berjalan gontai ke arah teras. "Namanya cantik." gumamnya sembari menatap sandal berinisial ‘S’ yang ada disitu.Kira-kira... dua orang dewasa, jauh dari orang tua, jauh dari tetangga, berdua saja di dalam rumah besar yang menyeramkan begini ngapain ya? Hati Iva serasa dikerubuti semut merah membayangkannnya.Ia masuk. Setelah berganti pakaian, hal pertama yang ia lakukan adalah menelepon Mamanya. "Gimana keadaan Papa?" tanyanya datar begitu sang Mama mengangkat telepon."Papamu sudah stabil Va, besok jam 10 pagi akan masuk ke ruang operasi." Mamanya terdiam sesaat. "Harusnya sih hari ini tapi dokternya ada keperluan lain sehingga ditunda sampai besok.""Biayanya? A... aku punya tabungan kalau misalnya..." Iva terdiam karena sang mama memotong kata-katanya."Apa kamu lupa? Sudah ditanggung semuanya oleh pak Ra

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 9

    Suara everest Elang memasuki halaman.Iva terburu membawa pakaian itu ke belakang lalu menyambut sang suami. "Ada yang ketinggalan mas?" Sesuai dugaannya, Elang hanya melewatinya begitu saja tanpa kata. Entah apa yang diambil lelaki itu dari dalam kamar utama tapi sebentar saja Elang sudah pergi l

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 8

    Iva menunggu sang suami sampai jam 11 malam tapi tak ada tanda-tanda Elang akan pulang. Ia nekat menunggu diluar tapi tak sampai 5 menit sudah masuk kembali gara-gara sayup didengarnya suara burung hantu.Gadis itu meringkuk di sofa ruang tamu. Ia tergeragap bangun saat pintu dibuka. "Mas...!" Peki

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 7

    Beberapa kepala terangkat, menatap takjub pada sosok Ivanka yang tengah tersenyum manis."Saya mau melamar menjadi guru.""Wah kebetulan bu, sekolah memang kekurangan guru. Ada beberapa posisi yang kosong." Seorang lelaki berkemeja batik mengajak Ivanka mengikutinya hingga ke depan meja yang berada

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 6

    Kelopak mata Ivanka mengerjap kaget saat pintu dibanting tepat dimukanya. Ia mengurut dada. Beberapa saat lamanya ia mematung di depan pintu. "Aku panggil lagi kalau airnya udah siap ya mas!" serunya belum menyerah namun suaranya sudah berubah sendu.Tak ada jawaban dari dalam kamar utama.Gadis it

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status