ログインElang melepaskan dekapannya. Napasnya masih menderu, jantungnya masih berpacu. "What did you say?" geramnya tak terima dengan mata mengarah ke leher Ivanka yang kini dihias bekas bibirnya.Ivanka tak tau harus menjawab apa. Bagaimanapun Elang adalah suaminya. Ia tadi terlalu emosi hingga mengatakan itu. Elang menengok ke arah luar.Gadis itu menarik napas lega saat pintu utama diketuk cukup keras. Makin lega saja rasanya saat Elang berbalik menuju ke pintu. Ia ngibrit ke dapur.Ya ampun... Ia sebenarnya berdebar sampai jantungnya seolah pindah ke mata kaki. Dalam mimpi pun ia belum pernah berharap sejauh itu, bahwa ia akan dicium oleh Elang Rajendra. Lelaki yang selalu membuatnya berdiri gelisah mencuri pandang. Lelaki yang membuatnya berani mengambil resiko bintitan karena seringnya mengintip keberadaan Elang tiap kali mereka bertemu di suatu acara yang sama.Dan... rasanya... melebihi ekspektasi. Semakin ia memberontak semakin kuat Elang menekan bibirnya, semakin tinggi juga ia mel
"Ras, beneran ini nggak apa-apa?" Iva menatap perempuan yang dua tahun lebih muda dari dirinya itu dengan tatapan tak enak hati. Ini sudah rumah kos ketiga yang mereka datangi tapi Iva belum menemukan kecocokan.Waktu telah menggelincir begitu jauh sejak mereka meninggalan areal parkir sekolah."Nggak apa-apa teh, saya memang sudah dikontrak secara es.. eh, ek... eh.. apa sih, ek - se - ke - lu - sif." gadis berusia dua puluh dua tahun itu sampai merem melek saat mengucapkannya.Iva mengikik, "Ih, pinter kamu Ras bisa menyebutkan kata susah begitu."Saras mengacungkan jempol. "Pesennya mamah yang penting adzan maghrib sudah di rumah.""Disini jam berapa adzan maghribnya?"Saras mengangkat bahu. "Tunggu aja mesjidnya bunyi."Sekali lagi Iva tertawa kecil lalu menaiki boncengan gadis itu."Jangan dipaksa teh." Seru Saras sambil menoleh sebentar di antara deru motor maticnya. "Tempat tinggal itu kayak jodoh, cocok-cocokan. Akan menderita kalau dipaksakan.""Benar sekali." Raut wajah Elan
"Selamat pagi bu Ivanka." Silva nyaris tak mampu menahan debur jantungnya yang berlompatan saat berhadapan muka sedekat ini dengan istri kekasihnya. Bukan cuma jantungnya, ia juga kesulitan mengatur napas. "Saya Silva Anindita, sekretaris pribadi pak Elang Rajendra."Kalau mengikuti ego-nya, maka ia ingin menyahut, 'oh, anda teman tidur suami saya,' tapi untungnya ia sudah berada di fase 'terserah kalian berdua mau apa' jadi senyumnya mengembang, tangannya terulur sopan menyambut tangan kekasih suaminya. "Saya guru baru disini." katanya datar.Silva menarik napas dalam-dalam. "Soal ruang kreatif itu. Dana yang diajukan oleh sekolah besar sekali. Malah, sejauh ini pengajuan dana ruang kreatif ini yang paling besar. Saya mohon maaf sebelumnya tapi... apa ada campur tangan bu Ivanka disini? Anda kan dari kota, terbiasa dengan fasilitas yang mewah lalu tiba-tiba berada di daerah yang minim fasilitas begini..." Bahu Silva bergerak ke atas. “Mungkin anda ingin menyamakan fasilitas disini de
Pagi-pagi sekali Iva sudah berkutat di dapur. Tak ada apa-apa selain telur di kulkas. Satu bongkah kubis sudah ia gunakan kemarin. Gadis itu mematikan rice cooker lalu membuat telur orang arik. Selesai dengan telur orak-ariknya, ia melelehkan mentega lalu mulai menggoreng nasi. Ia masukkan telur orak-ariknya di akhir.Sebentar saja nasi goreng telur orak-arik-nya sudah tersaji di meja makan.'Aku berangkat pagi karena harus ikut upacara bendera.'Iva menatap note itu sebentar lalu menambahkan. 'Jangan lupa sarapan mas Elang.'Puas dengan pesannya, Iva segera bersiap. Sebenarnya ia tak tau apakah Elang sudah pulang atau langsung ke kantor dari rumah kekasihnya. Ia memang tak pernah menanyakan kemana suaminya saat tak pulang ke rumah karena sudah tau jawaban apa yang akan ia dapat dari Elang : lembur di proyek.Everest merah itu tak ada di halaman.Sesuai janji, pukul enam lebih lima belas menit Iva sudah berada di teras untuk mengenakan sepatu. Ia tak mau membuat pak Setia menunggu. Ga
Ivanka sudah hapal nada dering itu. Tangannya mengepal di depan dada. Masih merasakan sakit hati bukan berarti belum menerima kenyataan. Itu sekedar bukti kalau dirinya masih hidup, masih punya rasa.Gadis itu menata meja sambil berusaha mengosongkan pikirannya dari chat mesra ala suami - istri antara Elang dan Silva yang tak sengaja ia baca. “Sudahlah Iva, sudah.” Katanya berulang-ulang sembari tangannya sibuk memotong telur dadar isi kubisnya menjadi beberapa potong.Setelah semuanya tertata dimeja, ia memilih untuk masuk kamar dan mengunci pintu. Diraihnya handphone dimana ia menyimpan nomor Elang dan nomor mertuanya.'Makanannya sudah siap mas.' - send!Gadis itu menghela napas. Tadinya ia tak berniat keluar lagi, enggan melihat mantan pujaan hati. Akan tetapi tubuhnya makin tak nyaman terbalut pakaian milik Silva. Mau tak mau ia berdiri.Menenteng handuk, Iva menuju ke kamar mandi. Sayup-sayup ia masih mendengar nada bicara suaminya yang lembut. Senyuman penuh luka menyungging
Gadis itu hanya bisa diam mengawasi saat Elang berdebat dengan mama mertuanya tentang rencana kepulangan mereka ke Pangandaran yang dianggap Rania Rajendra terlalu mendadak."Ada alasannya kenapa Papamu memaksamu untuk bekerja di perusahaan keluarga mas." Rania menatap serius putranya. "Supaya kamu bisa mengatur sendiri kapan kamu harus bekerja dan kapan kamu harus mengurus keluarga." Napas Rania menghembus berat. "Seperti sekarang. Iva pasti masih ingin mengurus Papanya walaupun dokter mengatakan kalau perkembangan pak Adyakhsa bagus."Elang bergeming.Ivanka juga diam seribu bahasa. Ia yakin Elang sudah dikejar hasrat, itu sebabnya mereka harus segera kembali kesana. Silva dan lingerie pink-nya sudah menunggu."Kenapa harus buru-buru sih mas? Perjalanan Jakarta - Pangandaran kan cuma dua jam menggunakan pesawat carter." Rania masih berusaha menahan. "Kalau alasannya capek, ah... itu nggak masuk akal. Mama yang sudah seusia ini dan berpenyakit aja nggak terlalu capek kesana.""Ini pe
Kelopak mata Ivanka mengerjap kaget saat pintu dibanting tepat dimukanya. Ia mengurut dada. Beberapa saat lamanya ia mematung di depan pintu. "Aku panggil lagi kalau airnya udah siap ya mas!" serunya belum menyerah namun suaranya sudah berubah sendu.Tak ada jawaban dari dalam kamar utama.Gadis it
"Siapa mas?"Elang menerima panggilan itu. "Halo Ma, gimana kondisi mama?" Ia tau mamanya yang tengah sakit sudah memaksakan diri demi acara pernikahannya. Salah satu alasan lain Elang terburu keluar dari rumah adalah itu. Ia ingin rumah segera sepi sehingga Mamanya bisa beristirahat. "Aku baik Ma,
Hujan turun dengan deras disertai kilat dan guntur.Ivanka menjauh dari jendela. "Mas… kamu dimana?” desisnya dilanda takut.Kaca jendela mendadak terang benderang. Begitu pula halaman samping yang gelap oleh kelabunya langit. Pohon besar diluar sana terlihat meliuk kencang. Anehnya, semakin menaku
Keluarga besar Rajendra berkumpul di ruang makan. Suara obrolan dan canda terdengar jelas.Mengingat pesan Elang, Ivanka mengumbar senyum manisnya kepada semua orang."Santai amat jalannya yang belum malam pertama.”Mata Ivanka membulat mendengar siapa yang bicara. Wanita yang semalam ternyata masi







