تسجيل الدخولMimpi apa aku semalam up jam segini hihi...
“Kamu dekat sama si ortopedi itu?” tanya Abra tiba-tiba. Amalia mengernyit bingung. Ia lalu melirik Serayu dengan sebelah alis terangkat. “Siapa si ortopedi?” Serayu membulatkan matanya seraya menggeleng pelan ke arah Abra, memberi isyarat agar suaminya tidak melanjutkan kalimatnya. Abra hanya berdeham pelan, lalu berbalik melangkah menuju kamar Satria. “Mas! Ih, malah kabur,” seru Amalia. “Jadi, siapa sih si ortopedi itu?” Amalia penasaran bertanya pada Serayu yang hanya meringis sambil terkekeh kecil. Malam itu Amalia pulang dengan hati yang jauh lebih lega. Setidaknya, ia sudah menumpahkan semua kegelisahannya kepada Serayu. Nasihat sepupunya itu sedikit demi sedikit membuat pikirannya lebih tenang dan terbuka. Ia pun memutuskan untuk berhenti menghindari Ezra. Ada baiknya mencoba untuk bicara. Tapi bukan malam ini juga… mungkin besok. Atau besoknya lagi, mungkin juga besoknya lagi. Ia butuh sedikit waktu untuk merangkai kata-kata yang tepat. Namun, begitu mobilnya memasuki
“Percaya nggak kalau aku nekat ngajakin dr. Ezra ketemu sama Papaku?” bisik Amalia. Serayu spontan menutup mulut sambil membulatkan mata. “Udah?” tanyanya antusias. “Ceritain!” “Ya... gitu deh. Setelah aku pikir-pikir omongan kamu waktu itu, aku coba tanya dia. Eh, ternyata dia mau bantu.” “Hah? Serius?” Amalia mengangguk. “Terus kamu tahu nggak? Papaku malah nanya kapan dr. Ezra datang sama keluarganya ke rumah...” Amalia menjatuhkan wajah ke bahu Serayu sambil merintih dramatis sejadi-jadinya. “Aaa… aku malu banget sama dr. Ezra.” Serayu makin terkejut. “Terus? Terus dr. Ezra gimana?” “Dia bilang belum bisa nentuin jadwal karena orang tuanya lagi di luar negeri. Ternyata papanya dokter bedah saraf di Jepang. Katanya dia mau ngobrol dulu sama orang tuanya.” Amalia mengembuskan napas panjang. “Serayu... aku malu banget.” “Terus?” “Ya terus aku bilang, dalam waktu dekat aku mau putus sama dia.” Serayu mengernyit. “Lho... emang kapan kalian jadiannya?” kekehnya, menggoda.
“Mas, kami berangkat." Abra tersenyum kecil membaca pesan dari Serayu. "Hati-hati di jalan. Jangan buru-buru,” balasnya. Hari ini jadwal imunisasi Satria. Aksa sudah mengambil antrian di poli. Ini atas permintaan Serayu, Satria harus tetap ikut prosedur rumah sakit. Abra pun menyanggupi. Tak sampai dua puluh menit kemudian, Serayu muncul sambil menggendong Satria yang masih terlelap. Bayi yang kini genap berusia tiga bulan itu mengenakan romper berwarna biru muda memamerkan paha padatnya semakin menggemaskan. Abra mengambil Satria dari gendongan Serayu, lalu menuntun kesayangannya menuju poli. Ketampanan Abra meningkat pesat saat menggendong buah hatinya. Masih berbalut kemeja yang lengannya sudah digulung sampai siku, lelaki itu tidak terusik dengan tatapan di sekitarnya. Belum lagi sebelah tangannya merangkul sang istri. Kehadiran keluarga kecil itu tak luput dari perhatian beberapa perawat yang berpapasan dengan mereka di koridor rumah sakit. “Iri ... sampai nggak berkedip l
Sejak membaca pesan dari istrinya, hati Abra tak benar-benar tenang. Bayangan Serayu yang sedang larut dalam kesedihan terus memenuhi pikirannya. Tanpa berpikir panjang, ia mengarahkan mobilnya ke Rumah Sakit Husada. Di kursi penumpang telah tergeletak sekotak dessert favorit Serayu yang sengaja ia beli di perjalanan. Mungkin saat ini ia tidak bisa menenangkan dan menghapus rasa bersalah istrinya, tetapi setidaknya ia berharap makanan manis itu bisa sedikit menghibur. Sesampainya di rumah sakit, Abra mencoba menghubungi Amalia. Namun, panggilannya tidak diangkat. Tatapannya kemudian menangkap Sedanu yang tengah berbincang dengan petugas ambulans. Ia menghampiri sepupunya menitipkan kotak dessert itu. Tak banyak komentar dari Sedanu, lelaki itu mengerti maksud Abra ini. Setelah itu Abra kembali ke mobilnya. Ia tampak enggan meninggalkan area parkir. Ada perasaan yang menahannya untuk pergi. Ia memilih tetap berada di dalam mobil, menunggu tanpa tahu sampai kapan. Tak lama kemudian,
Abra yang baru saja keluar dari lift menghentikan langkahnya begitu membaca pesan dari istrinya. “Pak?” panggil Aksa pelan saat menyadari langkah atasannya tiba-tiba berhenti. Abra mengangkat pandangannya. “Kunci mobil kamu bawa?” Aksa refleks merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan kunci mobil. “Bawa, Pak.” “Kamu gantiin saya rapat siang ini.” “Tapi, Pak—” Kalimat Aksa terputus saat Abra berbalik. Pintu lift yang hendak menutup kembali terbuka dan Abra melangkah masuk tanpa memberi penjelasan lebih lanjut. [Saya nggak akan ganggu kamu. Tapi jawab satu pertanyaan Mas. Apa kamu baik-baik saja?] Serayu menatap pesan dari suaminya. “Nggak,” tulisnya. Jemarinya gemetar, Serayu cepat menyimpan ponselnya ke dalam saku jas yang ia kenakan. Air matanya terus mengalir meski berkali-kali ia seka dengan punggung tangan. Dari balik pintu IGD, Ezra memperhatikannya dalam diam. Kakinya sudah gatal hendak menghampiri, tetapi dr. Sedanu lebih dulu menahannya. “Dokter Serayu butuh waktu
“Sesenang itu mau menjodoh-jodohkan orang?” tanya Abra ketika Serayu menceritakan tentang Amalia dan Ezra. Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Sementara yang lain masih melanjutkan acara karaoke. Serayu memilih pulang. Me time-nya sudah cukup, ia sudah sangat merindukan putranya. “Kayaknya mereka bakal cocok,” ujar Serayu sambil menoleh ke arah Abra. “Berarti saya harus turun tangan,” sahut Abra, membuat Serayu kembali menatapnya. “Bagaimanapun juga, si ortopedi itu harus saya uji dulu kalau memang mau mendekati adik sepupu saya.” “Sejak kapan peduli sama adik sepupu?” “Sejak yang mau dicomblangin itu si ortopedi. Kita sama-sama tahu dia pernah punya perasaan sama kamu. Jangan sampai Amalia cuma dijadikan pelarian.” Serayu terdiam sejenak. Ia baru menyadari hal itu. “Bisa aja ‘kan … dr. Ezra sudah benar-benar mengubur perasaannya?” “Mengubur perasaan, tapi masih nawarin kamu jaketnya? Hmm?” “Ih, Mas lihat, ya?” Abra hanya meliriknya sekilas dengan wajah datar. Tadi, saa
Serayu tiba di apartemen bersama Abra. Ragu-ragu, wanita itu melangkah. Sepanjang jalan menuju apartemen tadi pun, ia lebih banyak diam.Begitu pintu terbuka, hal pertama yang menyambutnya adalah foto besar pernikahan mereka yang terpajang di dinding ruang tamu—foto yang sejak lama tergantung di san
Bulu kuduk Serayu meremang mendengar ucapan Abra bahwa ia menunggunya di rumah. Belum lagi tatapan lelaki itu—tajam, namun entah mengapa seolah menghipnotis. “Tidak perlu menunggu, Mas. Sa–saya sudah siapkan semua keperluan Mas sampai besok. Pakaian, sarapan, tinggal dihangatkan saja—” “Saya menun
Pagi itu Abra langsung berangkat ke rumah sakit, tetapi ia tidak menemukan Serayu. Hingga jam poli berakhir, wanita itu tak juga terlihat. Ponselnya pun tak bisa dihubungi. Beberapa rekan Serayu juga sempat mencarinya, sampai akhirnya menjelang siang, Serayu baru menghubungi salah seorang rekan kerj
Serayu melirik ke arah dirinya, lalu merapikan kimono satin yang ia kenakan memperbaiki penampilannya. “Kenapa, Mas? Saya nggak sempat bersiap,” katanya polos. “Sayang!” protes Abra. Wajahnya tampak tak terima, rahangnya mengeras. “Serius amat. Bercanda,” kekeh Serayu. Seketika ketegangan di waja







