LOGINStok laki kayak Abra habis. Sold out, jangan pada ngarep lagi ya hihi...
"Mas…," panggil Serayu, nada suaranya terdengar menuntut. "Hm?" Abra menatap istrinya lembut. "Mau bahas apa, Sayang? Jadi ini yang dari tadi ingin kamu obrolin?" "Mas jawab aja." Serayu menarik napas pelan. "Jujur, sampai sekarang saya masih merasa tidak puas soal cerita kejadian yang menimpa Mas waktu itu. Cuma... saya memilih nggak memperpanjangnya." Abra terdiam, memberi kesempatan istrinya melanjutkan. "Lalu kenapa sekarang ditanyain, hmm?" tanyanya lembut. Serayu menggigit bibir bawahnya sesaat. "Jawab aja, Mas. Atau... Mas sedang melindungi si Sarah itu?" Abra langsung menggeleng. "Tidak." "Atau..." Serayu menelan ludah. Pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang ia benci. "Ada sesuatu yang Mas sembunyikan dari saya tentang pertemuan kalian waktu itu?" Abra mengusap pelan pipi istrinya. "Sayang–” "Saya cuma ingin dengar semuanya dari Mas." "Saya nggak sedang melindungi siapa pun." "Kalau begitu... ceritakan semuanya." Abra terdiam sejenak, lalu menghembus
Serayu menghabiskan makan siangnya yang tersisa sedikit lagi, lalu merapikan perlengkapan pumping dan menyimpan ASI perahnya di tempat penyimpanan khusus. Semuanya dilakukan dengan sedikit terburu-buru, tetapi ia tak ingin ada satu langkah pun yang terlewat. Hal itu penting baginya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk putra kecilnya. Setelah memastikan semuanya beres, ia segera menuju kafetaria. "Saya kayaknya pernah beberapa kali lihat perempuan ini datang ke rumah sakit, Dok,” ujar salah seorang rekan dokter yang berjalan di sampingnya. "Tapi saya nggak tahu kepentingannya apa. Biasanya kelihatan keluar dan masuk area administrasi." Serayu hanya mendengarkan. "Tadi saya sempat tanya namanya siapa, tapi dia nggak mau jawab. Maunya ketemu langsung sama Dokter. Saya bilang tunggu di kafetaria saja karena saya tahu Dokter lagi makan. Baru dia mau." Serayu mengangguk pelan. "Terima kasih, Dok,” balas Serayu. Ia mempercepat langkahnya. "Itu, Dok... yang pakai blazer hita
Setelah Abra kembali bertugas, kini giliran Serayu memulai hari pertamanya bekerja. Pagi tadi, ia menghabiskan waktu cukup lama memeluk Satria sebelum berangkat. Rasanya berat meninggalkan putra kecilnya, meski hanya untuk beberapa jam. Semua perlengkapan pumping pun sudah dipastikan masuk ke dalam tas. "Kenapa diam saja, hmm?" tanya Abra. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit Husada. Ia meraih tangan istrinya, menggenggamnya, lalu mengecup punggung tangannya. "Udah kangen anaknya masa," rajuk Serayu. Abra tersenyum tipis. "Nanti kangen papanya juga, nggak?" "Mas..." Serayu hanya mendesah pelan. Ia sudah terlalu hafal dengan godaan suaminya itu. Abra terkekeh kecil. "Nanti pulangnya saya sama Satria yang jemput." "Belum tahu selesai jam berapa juga," kata Serayu. "Kalau sudah selesai, kabari saya." Serayu mengangguk. Saat mobil berhenti di depan rumah sakit, Serayu belum juga turun. Tangannya masih melingkar di lengan Abra, seolah enggan melepaskannya.
Sesampainya di rumah, perhatian Serayu langsung tertuju pada Satria. Oleh-oleh terbaik untuk putra kecilnya itu adalah beberapa botol ASI hasil pumping yang menambah memenuhi kulkas khusus penyimpanan ASI. "Pangerannya sudah tidur?" tanya Abra sambil mengulurkan tangan ketika Serayu masuk ke kamar. Serayu menyambut uluran itu, lalu duduk di pangkuan suaminya. "Sudah. Malam ini anaknya tidur di kamarnya. Tidurnya pulas banget, jadi nggak tega dipindahin. Nanti kalau bangun dan minta susu, biar nanny yang hangatkan ASI," jelas Serayu. Abra mengangguk paham. "Nggak lama lagi kita bakal sama-sama sibuk. Jadwal operasi saya memang masih libur untuk sementara, jadi mungkin sesekali masih bisa kerja dari rumah." Serayu yang semula menyamping berputar menghadap suaminya. Kedua lengannya melingkar di leher Abra. "Sedih … di rumah sakit pasti padat banget. Syukur-syukur masih sempat video call," rajuknya sambil mengerucutkan bibir. Abra tersenyum tipis. "Apa pun kesibukan kita
Suasana yang berbeda menghadirkan debar yang tak biasa. Di ruangan yang sunyi itu, keduanya menikmati kebersamaan yang sempat tertunda. Kerinduan yang telah lama dipendam akhirnya menemukan pelabuhannya. Tak ada lagi jarak yang memisahkan, tak ada lagi salah paham yang menjadi sekat. Yang tersisa hanyalah dua hati yang kembali saling menguatkan, mengisi, dan menemukan ketenangan dalam dekapan satu sama lain. Keheningan ruang baca itu menjadi saksi ketika semua kerinduan yang akhirnya luruh. Abra mendekap Serayu begitu erat, seolah tak ingin membiarkan wanita itu menjauh lagi. Jemari mereka saling bertaut, saling menggenggam dengan hangat, sementara tatapan keduanya berbicara jauh lebih banyak daripada kata-kata. "Saya benar-benar merindukanmu," bisik Abra, tanpa menghentikan permainannya. Serayu membalas dengan senyum tipis. Ia mengusap lembut pipi suaminya, lalu turun lagi mengusap rahang tegas di hadapannya. Serayu melabuhkan kecupan-kecupan singkat penuh rasa sayang pada set
"Kita ke ruangan saya sebentar, ya," pinta Abra. Serayu hanya mengangguk. "Dokter Stephan mau pinjam buku." Begitu memasuki ruangan, Abra menutup pintu lalu menguncinya. Ia tahu istrinya masih merajuk. Serayu memilih duduk di sofa, sementara Abra berjalan menuju rak buku di sudut ruangan. Setelah menemukan buku yang dimaksud, ia kembali ke meja kerjanya membukanya, memotret beberapa halaman, lalu mengirimkannya kepada rekannya. Sesekali ia melirik ke arah Serayu. Wajah itu masih tampak murung saja. "Kamu menegur Sarah tadi?" tanya Abra tanpa mengalihkan perhatian dari layar ponsel. Serayu tetap diam. Abra kembali ke rak buku untuk memastikan edisi bukunya sudah benar. Baru saja ia hendak berbalik, dua lengan kecil melingkar di pinggangnya dari belakang. Senyum tipis langsung terbit di wajahnya. Serayu memeluknya erat. "Kamu masih kesal?" tanya Abra lembut. Tak ada jawaban, tapi Serayu mengangguk pelan. Abra membalikkan badan hingga kini mereka saling berhadapan.
Ara menyentuh pelipisnya, jari-jarinya sedikit gemetar meski napasnya sudah jauh lebih teratur dibanding beberapa menit lalu. “Dok… bisa ke RS Husada saja?” pintanya pelan, suaranya terdengar lebih stabil. “Saya sudah lebih baik. Di sana ada kenalan saya.” Abra melirik sekilas, memastikan perempua
Tidak dibenci oleh Riani, tapi mertuanya hanya malu memiliki menantu miskin. Nyatanya Itu bukan penolakan terhadap Serayu, tapi pengakuan atas luka Riani yang belum sembuh di masa lalu. Abra meminta Serayu untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Tidak perlu memikirkan apa yang Riani katakan. *** Ha
“Siapa, Mas?” tanya Serayu begitu Abra masuk ke dalam mobil. “Serius sekali.” Abra tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kaku, lalu mengusap puncak kepala kesayangannya. Setelah itu, ia pun menyalakan mesin mobil. “Kita berangkat sekarang ya,” katanya, jelas sekali mengalihkan pembicaraan. Serayu
Serayu duduk di depan meja rias memoles wajahnya tipis. Sementara Abra menatap istrinya dengan tatapan tak suka. “Mau tugas apa mau ngapain kamu?” tanya Abra sinis. Hari ini akhirnya tiba, hari pertama internship yang sudah lama Serayu tunggu. “Ayo, Mas. Saya sudah siap,” ajaknya sambil meraih le







