Share

Bab 384

Author: Ayesha
Di ruang rapat, lebih dari sepuluh perwira tinggi militer dan pakar medis sudah menunggu cukup lama. Raka masuk bersama seorang jenderal dan duduk di kursi utama masing-masing tim.

Di seberang meja, seorang pria paruh baya segera berdiri menyambut. "Dokter Brielle, akhirnya bisa bertemu langsung dengan Anda! Saya sudah membaca makalah Anda tentang Simulasi Sel Berbasis AI, teorinya luar biasa."

Brielle sempat tertegun, lalu tersenyum sopan. "Terima kasih."

Di sisi lain, Faye menahan tawa sinis.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
kan mulai...si Faye dgn segala pemikirannya yg pendek dan iri hati...
goodnovel comment avatar
Suryat
si faye kepo banget jadi orang..iri aja terus..haha..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1463

    Anya selesai mandi lalu naik ke tempat tidur. Dia memegang buku cerita bergambar sambil membacanya dengan patuh, menunggu mamanya naik ke tempat tidur untuk membacakannya.Setelah mandi, Brielle juga naik ke tempat tidur. Dia memeluk putrinya, membuka buku cerita bergambar itu, lalu menyadari bahwa kosakata yang bisa dibaca Anya bertambah jauh lebih banyak.Dengan penasaran dia bertanya, "Belakangan ini ada yang ajarin kamu membaca?""Iya, Tante Raline. Setiap hari dia selalu meluangkan waktu untuk mengajariku dan aku juga belajar dengan sungguh-sungguh!" jawab Anya dengan jujur.Hati Brielle menghangat. Dia mengecup kepala putrinya."Anak pintar."Brielle dan Anya berbaring bersama di tempat tidur. Anya terus bercerita tentang semua yang terjadi beberapa hari terakhir. Tak lama kemudian dia mulai mengantuk, lalu tertidur sambil menjadikan lengan Brielle sebagai bantal.Namun, Brielle sama sekali belum mengantuk. Dia perlahan menarik lengannya, lalu berjalan ke depan jendela besar. Di

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1462

    Begitu kesadarannya kembali sepenuhnya, hal pertama yang disadari Brielle adalah dirinya sedang bersandar di bahu seseorang. Dia langsung mengangkat kepala dan mendapati Raka sedang menatapnya sambil tersenyum.Pipinya seketika memanas. Dia buru-buru duduk tegak, lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan."Terima kasih.""Nggak perlu sungkan." Nada bicara Raka terdengar santai. "Tidurnya nyenyak?"Brielle mengangguk. "Lumayan.""Sekarang kita langsung pulang ke rumah Keluarga Pramudita untuk makan malam. Anya sudah nggak sabar ingin ketemu kamu.""Baik."Brielle juga sangat merindukan putrinya.Di rumah Keluarga Pramudita, setelah menerima kabar bahwa Raka dan Brielle akan pulang bersama untuk makan malam, Meira segera menyuruh para pelayan sibuk menyiapkan semuanya. Raline juga sangat gembira. Kali ini kakaknya sendiri yang pergi menjemput Brielle pulang dari luar negeri. Itu berarti Brielle sudah mulai memberinya kesempatan.Kalau dulu, Brielle lebih memilih naik pesawat komer

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1461

    Di sebuah vila di pinggiran Kyoza.Devina sudah tinggal di sini selama seminggu. Sejak insiden perundungan di internet itu berakhir, dia telah menjadi wanita simpanan di tempat ini selama satu minggu.Anwar memiliki banyak wanita dan Devina hanyalah salah satunya. Ditambah lagi, pria itu sering sibuk dengan berbagai jamuan dan urusan bisnis, sehingga dalam tiga atau empat hari pun belum tentu dia muncul. Meski begitu, perlakuan yang diterima Devina cukup baik. Dia diberi kartu tambahan dengan limit hingga puluhan miliar untuk berbelanja, serta seorang asisten yang mengurus seluruh kebutuhan hidupnya.Sejak mencari tahu identitas Niro, hati Devina justru semakin tersiksa.Dibandingkan dengan Brielle yang memiliki begitu banyak pilihan dalam hidupnya, kini dirinya malah berada di jalan buntu.Niro.Pria yang berasal dari keluarga sekuat dan setinggi itu, tetapi Brielle malah tidak memilihnya?Andai saja kesempatan seperti itu jatuh kepadanya.Devina mengenakan jubah tidur sutra mahal. Di

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1460

    Brielle teringat semua rapat yang sebenarnya tidak perlu dihadiri Raka. Memang benar, dia selalu datang. Saat itu dia bahkan berpura-pura memasang wajah penuh wibawa, seolah-olah mengerti semua yang sedang dibahas."Kalau begitu, mulai sekarang kamu nggak perlu menyiksa diri seperti itu lagi," kata Brielle."Kenapa? Karena sekarang aku sudah boleh mengajakmu makan atau minum kopi secara pribadi?" tanya Raka sambil tersenyum pelan.Brielle menatap balik matanya lalu mengangkat alis. "Mungkin aku nggak punya waktu.""Kalau begitu, sepertinya aku harus terus menggelontorkan dana saja. Setidaknya lewat pekerjaanmu, kita masih punya titik temu. Dan kamu juga nggak bisa mengusirku." Raka tersenyum tipis.Brielle memandang mercusuar di kejauhan. Cahayanya berkedip perlahan, seolah sedang menunjukkan arah ke depan.Raka ikut menatap ke arah yang sama. Tatapannya begitu dalam."Untungnya kamu bersedia mendengarkan penjelasanku. Untungnya kita bisa berdiri di sini seperti sekarang, membicarakan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1459

    Brielle terdiam. Dia juga ingat kejadian itu. Mobil Lambert berhenti di sampingnya dan membawanya pulang."Mobilku sebenarnya nggak jauh di belakang mobil Lambert. Aku melihat kamu naik ke mobilnya ...."Raka menarik napas dalam-dalam, seolah perasaan pada hari itu kembali memenuhi dadanya hingga membuatnya sesak."Jadi, setelah aku jatuh ke air hari itu, Lambert yang menyelamatkanku, lalu kamu cemburu dan memendam amarah?" tanya Brielle. "Makanya kamu nggak ngomong sepatah kata pun sama aku? Bahkan nggak mau menanyakan keadaanku?""Maaf! Hari itu aku benar-benar berengsek." Suara Raka serak, dipenuhi rasa benci pada dirinya sendiri. "Bukan karena aku nggak peduli sama kamu. Aku nggak berani dan aku juga takut. Emosiku menguasai akal sehatku.""Aku cemburu sama Lambert yang ada di sisimu. Aku juga takut kamu akan datang menanyaiku kenapa aku nggak langsung menyelamatkanmu. Penyakit ibuku, aku sembunyikan dari semua orang. Aku tahu, aku juga harus menyembunyikannya darimu. Dan aku memil

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1458

    Pelukan yang datang begitu mendadak itu membuat Brielle tidak sempat bereaksi.Namun, kali ini ... dia tidak menolaknya. Dagu Raka bersandar pelan di atas kepalanya. Kedua lengannya yang kuat memeluknya erat, seolah hak untuk memeluknya seperti ini telah lama sekali dia dambakan."Brielle ...." Suara pria itu terdengar dari atas kepalanya. Di dalam suaranya bercampur rasa sakit, penyesalan, dan permohonan yang nyaris terdengar begitu rendah hati. "Boleh nggak kamu kasih aku satu kesempatan lagi?""Kesempatan yang terakhir."Brielle memejamkan mata. Dia tidak menjawab. Karena saat ini, dia memang baru berdamai dengan masa lalunya. Dia belum memiliki niat untuk kembali memasuki sebuah pernikahan.Setidaknya, seseorang yang pernah terluka dan pernah jatuh sekali akan menjadi jauh lebih berhati-hati.Terkadang, pernikahan terasa seperti sebuah belenggu. Untuk saat ini, Brielle tidak ingin kembali terikat olehnya.Memang, dia sudah memahami masa lalu Raka. Dia juga telah melihat penyesalan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 658

    Ayah dan anak itu kembali tertawa. Lastri tak bisa menahan diri untuk memperhatikan. Pada saat ini, aura tegas dan dingin yang biasanya ada pada Raka benar-benar sirna. Dia terlihat seperti seorang ayah yang sabar dan lembut."Nyonya, makan malam sudah siap," kata Lastri.Raka menggendong putrinya d

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 612

    "Aku mau ke ruang rapat," kata Cherlina."Itu tempat rapat pemegang saham, untuk apa kamu masuk ke sana?" Faye langsung menariknya."Nanti Brielle ada presentasi, aku mau masuk untuk bantu," jawab Cherlina, lalu balik bertanya, "Kamu nggak tahu kalau semua pemegang saham datang ke sini untuk mendeng

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 642

    Rapat terus berlanjut, Raka menahan diri tetap fokus mendengarkan laporan persiapan proyek, meski sesekali masih terdengar suara batuk yang berusaha ditahannya.Brielle menunduk mencatat poin-poin rapat. Tiba-tiba Raka membuka suara dengan suara agak serak, "Brielle, untuk skema pengujian keamanan,

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 637

    Raka tiba-tiba berdiri dan berjalan ke depan jendela. Pandangannya menatap dunia yang tampak buram di luar. Emosinya sulit ditebak."Raka." Lambert berkata pelan, "Kalau kamu masih peduli padanya, biarkan dia menjalani hidupnya sendiri."Raka tidak menjawab, hanya berkata dengan nada datar, "Aku ngg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status