LOGIN"Apa?!" pekik Elloist keras.
"Benar, Yang Mulia," sahut pengawal itu terbata-bata sambil menatap ke arah Elloist dengan sorot takut. Ia bahkan berusaha keras menahan tangis. Bagaimanapun juga ia merasa berhutang budi pada sang tabib yang telah menyelamatkan nyawa putrinya di masa lalu. "Kok bisa?" tanya Elloist dengan bibir bergetar, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Matanya bergerak liar, berusaha mengingat alasan kenapa hal ini bisa terjadi, dan tatkala ia teringat penyebab kenapa sang suami berada di sana, yang tak lain dan tak bukan adalah ulah sang pemilik tubuh asli yang menjual pria itu berkat hasutan dari Ivander, dirinya tercekat dengan mata terbelalak lebar. Elloist bergegas kembali menatap sang pengawal dengan sorot tajam, membuat pria itu semakin gemetar. Elloist memang betina level terendah, tapi kekuatan yang mendukung semua tingkahnya adalah level tertinggi sehingga tidak ada yang berani melawannya. "Pengawal! Segera siapkan kereta kuda milikku! Eh, bukan! Antar aku ke Camp Pangeran Alexander!" Elloist menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskan nya dalam satu kali helaan napas panjang. "Aku ingin memakai kuda milik Pangeran Alexander! Aku akan menggunakannya untuk pergi ke pelelangan guna menyelamatkan Tabib Anand!" titah Elloist tegas. Untuk pertama kalinya membuat sang pengawal terpana, tidak menyangka jika akan melihat sang putri mahkota bertindak tidak seperti biasanya. Saat tersadar dari keterpanaannya. Pengawal itu bergegas menyahut dengan tegas juga memberikan tanda penghormatan khas militer, "Siap, Yang Mulia!" Ia lantas berbalik dan berlari cepat ke arah pintu keluar guna mengerjakan tugas. Sementara itu, Elloist kembali membuka mulut, "Pengawal!" panggilnya dengan keras pada para penjaga yang berjaga di luar ruangan. Tak lama berselang, dua orang pengawal datang dan memberikan salam penghormatan. "Siap, Yang Mulia!" "Bawa dan penjarakan pejantan hina ini di penjara bawah tanah. Tuduhannya karena berusaha membunuh putri mahkota," titah Elloist dengan suara berdesis yang sarat akan kebencian. "Baik, Yang Mulia!" sahut keduanya patuh. Lantas bergegas membawa Ivander yang masih jatuh pingsan pergi dari sana. Sementara itu, Elloist lantas berbalik, membersihkan tubuh secara kilat dan berpakaian sesederhana mungkin guna menghemat waktu agar bisa segera pergi guna melakukan misi penyelamatan. *** Sementara itu, di tempat pelelangan. Plak! Ctar! Ctar! Suara tamparan dan cambukan bertubi-tubi dilayangkan pada tubuh seorang pejantan berwajah tampan yang hanya memiliki sebelah tanduk rusa. Kedua tangannya yang terikat rantai yang terpancang pada dua buah palang kayu terlihat penuh luka menganga yang mengeluarkan darah segar. Begitupula bagian punggung, penuh luka menganga bekas cambukan, berdarah, juga wajah memerah bekas tamparan dengan cap tangan terlihat jelas, bibir pecah, juga sedikit memar di bawah mata sebelah kiri. Bajunya bahkan sudah tertanggal entah sejak kapan, menyisakan celana panjang kulit warna hitam yang tersisa selutut, juga kedua kaki telanjang yang berjejak di atas pasir. Ia menatap sosok wanita berpenampilan glamour khas bangsawan dengan bibir merah merona yang sedang memegang cambuk di tangan kanan dengan sorot menantang. Namun, tiada sepatah katapun terucap meskipun dirinya ingin sekali memaki-maki. Hanya gigi saling beradu sebagai pertanda betapa dirinya membenci keadaan ini. Sementara itu, sosok si nyonya bangsawan merasa semakin marah saat melihat sorot mata yang Anand berikan. "Berani sekali kamu menatapku seperti itu?! Apa kamu lupa jika kamu sudah dijual oleh Putri Elloist padaku?!" 'Aku tahu,' batin Tabib Anand sendu. Sadar jika dirinya sudah di buang layaknya sampah. Kesetiaannya selama ini tidak sebanding dengan satu patah kata penuh rayuan yang Ivander berikan di mata Sang Putri. Mata Tabib Anand Terlihat sedih. Namun, hanya sebentar karena setelahnya ia justru kembali menatap ke arah sang Nyonya, memberikan sorot benci pada wanita itu. Melihat tatapan yang Tabib Anand berikan, membuat Nyonya Celeste semakin murka. "Sepertinya pengajaran yang aku berikan belum cukup untuk membuatmu patuh!" Ia lantas kembali mengayunkan tangan ke atas. Berniat mencambuk pria itu kkembali "Baik. Aku akan mengajarimu sekarang agar patuh!" makinya kembali. 'Mungkin ini akhir kisah hidupku,' batin Tabib Anand kembali sambil memejamkan mata, pasrah. Namun, baru saja cambuk terayun ke udara, sebuah panah telah lebih dulu melesat, menabrak gagang cambuk dan membawanya melesat kuat ke arah dinding belakang hingga tertancap kuat di sana. Sekaligus menggores punggung tangan Nyonya Celeste, membuat wanita itu terpekik keras sambil memegangi tangannya yang berdarah. "Kurang ajar! Siapa yang berani—" Ia berbalik dan terkejut saat melihat siapa yang datang mengendarai seekor kuda hitam dengan pelana bergambar logo naga yang siapapun tahu, itu milik siapa? *** Beberapa saat sebelumnya di camp militer milik Pangeran Alexander. "Pinjamkan aku kuda milikmu!" titah Elloist pada Alexander yang kini berdiri membelakangi nya. Meskipun merasa enggan menjawab. Namun, rasa penasaran membuatnya membuka suara, meskipun yang keluar justru nada ketus nan dingin, "Untuk apa?" "Aku ingin menyelamatkan Anand!" Pangeran Alexander mengerutkan kening, tidak menyangka jika akan mendengar ucapan tidak masuk akal itu keluar dari mulut wanita jahat di belakangnya. Bahkan wanita itu berani sekali mengganggu jalannya rapat internal dengan para petinggi kemiliteran, tentang masalah pemberontakan yang terjadi di wilayah Selatan. Tepatnya di Desa Kabut Asap, dengan datang secara tiba-tiba dan memaksanya berbincang empat mata. Pria itu lantas berbalik, menatap Elloist dengan sorot datar, yang entah kenapa di matanya wajah gadis itu terlihat sedikit lebih bersih, meskipun tumpukan lemak masih betah bertahan di sekujur tubuhnya. Akan tetapi, bau busuk yang selalu menguar setiap kali berdekatan, kini justru berkurang drastis. Hanya samar aroma keringat bercampur aroma debu dan matahari, serta samar aroma sabun menguar dari tubuhnya. Pangeran Alexander merasa sedikit tertarik. "Kenapa? Bukankah bagi Yang Mulia kami berempat tidaklah penting seperti Kelinci kesayanganmu itu?" ejeknya, berusaha tidak terdengar seperti seorang suami pencemburu. Elloist sedikit mengeluarkan cengiran lebar, sadar betapa banyaknya masalah yang sudah dibuat oleh sang pemilik tubuh asli dan dia yang kini harus membereskan semuanya. Gadis itu perlahan mendekat, membuat Pangeran Alexander melangkah mundur. Sadar jika pria itu enggan berdekatan, Elloist lantas menghentikan langkah. Ia menautkan kedua tangan di depan perut, berusaha memilih kata-kata yang pantas. "Aku bersungguh-sungguh!" Pangeran Alexander menatapnya dengan sorot semakin tertarik. "Bagaimana jika ternyata kamu berbohong? Bukankah itu salah satu kepandaianmu?" Namun, suaranya sarat akan penghinaan. Wajah Elloist seketika merah padam. Kesal. Namun, apa yang Sang Pangeran katakan benar adanya. Ia lantas berdecak kecil. "Anggap aku sekarang sudah menyadari semua kesalahanku dan di sini aku sedang berusaha memperbaikinya. Jadi, aku mohon padamu, Pangeran Alexander. Tolong pinjamkan Si Black untukku," pinta Elloist dengan tulus. Pangeran Alexander yang semula tengah menyusun semua kata-kata pedas yang akan ia lontarkan selanjutnya, jika sang istri tidak diakui di depannya ini berniat melakukan taktik aneh kembali seperti yang sudah-sudah, seketika bungkam. Ia benar-benar tidak percaya akan mendengar ucapan penuh permohonan dari wanita terangkuh di dunia ini. Mata pria itu bahkan terbelalak beberapa saat, sebelum kembali memberikan sorot datar pada sang istri. "Apa buktinya jika kamu benar-benar akan menyelamatkannya?" Elloist terdiam sesaat, sebelum kemudian melakukan hal tidak terduga. Ia membuka cravat luar yang ia kenakan, membuat sang suami bergegas mengarahkan tangannya pada gagang pedang, khawatir wanita itu kembali berulah. Namun, apa yang ia sangka justru tidak terjadi. Elloist justru mendekat sambil mengeluarkan kotak kaca kecil transparan berisi sebuah batu berukuran sedang, berwarna ungu kehitaman yang Pangeran Alexander kenali dengan betul itu apa. "Apa maksud—" "Inilah bukti kesungguhan ku! Batu Jiwa Sang Naga milikmu, aku kembalikan!" potong Elloist cepat sambil meraih tangan sang suami, lalu meletakkan kotak tersebut dengan tatapan penuh tekad. Elloist perlahan mundur selangkah. Senyum manisnya tersungging tipis. "Jadi, Pangeran bersedia meminjamkan Black padaku, bukan?"Hembusan angin fajar yang menembus celah-celah gubuk reyot itu terasa membekukan tulang. Namun, hawa dingin itu sama sekali tak sebanding dengan sorot mata Liliyana.Gadis remaja bersuku rubah itu menatap punggung tangan Thomas yang terulur gemetar ke arahnya, lalu menatap wajah kakaknya dengan pandangan yang sarat akan kekecewaan absolut.Sang Penasehat Hukum Utama yang selalu memiliki ribuan rencana di dalam kepalanya, kini hanya bisa berdiri mematung. Wajah tampan Thomas sepucat kertas.Bibirnya terbuka, namun tak ada satupun kata yang keluar. Ego, keserakahan, dan cinta yang saling bertabrakan di dalam dadanya telah melumpuhkan pita suaranya.Melihat kakaknya hanya terdiam kaku tanpa bisa memberikan jawaban pasti, sisa-sisa kesabaran di hati Liliyana menguap tak bersisa."Kau benar-benar menyedihkan, Kak Thomas," desis Liliyana, suaranya tajam bagai serpihan kaca.Gadis itu menepis tangan Thomas yang menggantung di udara
Hembusan angin fajar yang menelusup dari atap gubuk reyot itu terasa seperti pisau es yang menyayat kulit. Namun, bagi Thomas, rasa dingin itu sama sekali tak sebanding dengan kebekuan yang kini merantai detak jantungnya.Sang Penasehat Hukum Utama, pria berekor sembilan yang terkenal dengan kelicikan dan kemampuannya memanipulasi setiap kata dan situasi di Pengadilan Tinggi Kerajaan Moon, kini berlutut tak berdaya. Wajah tampannya yang biasa dihiasi senyum meremehkan kini pucat pasi, dipenuhi oleh garis-garis keputusasaan yang teramat dalam.Di hadapannya, Liliyana berdiri tegak dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya. Sembilan ekor perak gadis remaja itu berayun pelan, memancarkan aura penolakan absolut yang tak bisa ditembus oleh sihir ilusi mana pun."Lili ... kumohon, dengarkan aku," bujuk Thomas dengan suara parau yang bergetar. Ia mendongak, menatap adiknya dengan sorot mata memohon yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun
Cengkeraman tangan Thomas di kedua bahu Liliyana bergetar luar biasa hebat.Hawa dingin dari sisa-sisa atap gubuk yang hancur seolah tak mampu menandingi kebekuan yang kini menjalar di aliran darah Sang Penasehat Hukum Utama.Sepasang netra biru ilusi Thomas membelalak lebar, memancarkan teror, permohonan, dan keputusasaan yang merobek seluruh sisa kewarasannya.Di bawah tatapan kakaknya yang sehancur itu, sisa-sisa pertahanan ego Liliyana akhirnya runtuh.Gadis remaja itu selalu menganggap kakaknya sebagai sosok yang tak tersentuh, pilar baja yang tak akan pernah goyah oleh badai emosi apapun.Namun kini, pria di hadapannya itu nyaris kehilangan akal sehatnya hanya karena membayangkan kematian seorang wanita.Bukti itu terlalu telak untuk ditampik.Sang rubah penipu benar-benar telah menyerahkan hatinya secara mutlak kepada Sang Putri Mahkota.Melihat kengerian yang menyiksa mata kakaknya, bibir Liliyana berget
Sumpah yang dituntut oleh Liliyana menggantung di udara, menjelma menjadi belati tak kasatmata yang menempel tepat di urat nadi kesadaran Thomas.Di dalam gubuk kayu yang nyaris rubuh itu, hanya terdengar suara angin fajar yang berembus melalui celah-celah papan lapuk, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.Bersumpah demi roh ibunya yang telah tiada?Bersumpah demi penderitaan adik satu-satunya yang baru saja kembali dari neraka ketiadaan?Bagi Thomas, ingatan tentang sang ibu dan Liliyana adalah dua hal paling suci yang tersisa di dalam hatinya yang telah lama membusuk.Menggunakan nama mereka untuk sebuah kebohongan adalah sebuah dosa besar yang tak bisa dimaafkan.Namun, untuk mengucapkannya dengan jujur, untuk mengatakan bahwa ia sama sekali tidak peduli jika Elloist mati perlahan-lahan di dasar jurang sana, lidahnya seketika terasa kaku.Tenggorokan Sang Penasehat Hukum Utama itu seolah disumbat oleh bon
Suara mesin EKG dari dunia nyata yang berbunyi lambat dan monoton itu terus terngiang di telinga Elloist, beradu dengan dengungan milyaran jiwa Orb yang mencoba mencabik-cabik kewarasannya di dasar Jurang Dunia Hampa.Bayangan pria misterius yang menangis putus asa sambil menggenggam tangannya di ruang ICU yang dingin itu seolah menjadi jangkar terakhir yang menahan jiwanya agar tidak terseret arus kematian.Ada seseorang yang menunggunya pulang.Seseorang yang menolak melepaskannya.Di atas tahta obsidian yang sedingin es, kelopak mata Elloist yang sebelumnya nyaris tertutup rapat kini terbuka lebar.Pendaran pelangi di sudut matanya yang sempat meredup, tiba-tiba meledak dengan intensitas cahaya keemasan yang seribu kali lebih terang.Cahaya suci itu menyapu miasma ungu kehitaman yang mencekik lehernya, memaksa pasukan Orb mundur beberapa jengkal."Kau benar, Momo," bisik Elloist dengan suara serak, darah seg
Siksaan abadi di dasar Jurang Dunia Hampa seolah telah merampas seluruh konsep waktu. Di atas tahta obsidian yang sedingin es, tubuh Elloist terkulai tak berdaya. Miasma kegelapan terus menerus merobek jaringan selnya, sementara Kekuatan Penyembuh Level SSS bekerja secara brutal menjahitnya kembali. Di tengah siksaan tanpa akhir itu, kesadaran sang Putri Mahkota perlahan memudar. Keputusasaan telah menelan sisa-sisa semangatnya. Rasa rindu pada kehidupan lamanya yang sederhana, kamar kos yang sempit, pekerjaan pabrik yang melelahkan, dan semangkuk mie instan di akhir bulan, terasa jauh lebih berharga daripada penderitaan menjadi inang bagi miliaran entitas ketiadaan ini. 'Aku menyerah ... Tolong, pulangkan aku. Aku tidak sanggup lagi,' rintih batin Elloist, membiarkan kegelapan mulai menutup pandangannya. Ia siap melepaskan segalanya. Namun, tepat ketika benang ke
'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?' Elloist semakin frustrasi. Ia tanpa ssadar mengacak-acak rambutnya. Sementara itu, Nyonya Celeste justru berjalan ke arah Tabib Anand, meraih ujung rantai yang terhubung pada lehernya, lalu menariknya sedikit kuat hingga pria itu t
Nyonya Celeste terpana sebentar, sebelum menyunggingkan senyum culas. "Well! Well! Well! Aku pikir siapa yang datang mengganggu—" Ia perlahan menoleh ke samping, membuat seorang pelayan wanita mendekat dan memberikan sebuah sapu tangan. "Ternyata sang putri buangan," hinanya pedas. Nyonya
Elloist menangis tersedu-sedu. Penampakan yang ia pikir sebelumnya adalah hantu, ternyata wajahnya sendiri. Bertepatan dengan itu, Momo kembali muncul, terbang berputar-putar mengelilingi kepala Elloist hingga debu perak sekilas terlihat berterbangan mengikutinya. [Tuan rumah jangan bersedih!
Elloist Ellianore, putri tunggal dari Raja Edward Ellianore, adalah sosok betina bangsawan di kerajaan antar binatang di planet Moon. Planet Moon adalah sebuah planet binatang, di mana semua wanita memiliki kedudukan yang tinggi karena dianggap sebagai jelmaan para Dewi karena memiliki kekuatan me







