FAZER LOGINChelsea menikah dengan Roan karena keterpaksaan. Roan adalah pria yang dipilihkan ayahnya untuk menjadi suaminya. Padahal saat itu Chelsea memiliki kekasih. Namun ayahnya sama sekali tidak menyukainya. Karena ancaman yang diberikan ayahnya, Chelsea terpaksa menikah dengan Roan. Namun, pernikahan ini tidak pernah berlangsung dengan baik. "Kamu harus tahu, aku tidak menyukaimu! Ada pria lain yang aku cintai." "Aku tahu."
Ver mais"Tristan?" Argan mendengus remeh. "Apa yang dia punya? Dia bahkan tidak bisa membelikan sepatu untukmu."
"Ayah!" Chelsea memekik tak terima. Dia tentu sadar jika Tristan tak sekaya keluarganya. Tapi Chelsea benar-benar mencintai pria itu.
"Kamu sangat bodoh," ucap Argan, merutuki putrinya itu. "Setidaknya, pilihlah pria yang lebih baik. Dia bahkan setara dengan gelandangan di jalanan."
"Argan." Aliya merasa khawatir karena kata-kata suaminya terdengar memprovokasi. Putri mereka tidak akan bisa bersabar lebih lama. Dia mungkin sakit hati dan mengamuk. Aliya tentu tak ingin terjadi pertengkaran antara keduanya.
Argan tak mendengarkan teguran Aliya, namun dia tak mengabaikannya. Pria itu menggenggam tangan istrinya yang diletakkan di atas punggung tangannya. Meyakinkannya jika dia baik-baik saja meski bicara demikian pada putri mereka.
"Aku sudah menentukan pria yang layak bagimu, Chelsea. Jika kamu menolak, jangan harap pria pujaanmu itu akan baik-baik saja."
Argan tidak main-main dengan ucapannya. Dia menatap putrinya penuh intimidasi.
Chelsea tercekat. Dia tidak bisa mengatakan apapun lagi. Dia tidak bisa melarikan diri, saat ayahnya sudah memutuskan. Chelsea juga tidak diberi kesempatan untuk menolak.
Chelsea pun hanya bisa pergi dengan menangis. Ia merasa jika orang tuanya terlalu kejam dengan memaksa dirinya untuk berpisah dengan kekasihnya, juga memaksanya untuk menikah dengan pria lain. Ini tidak adil!
Apa mereka benar-benar orang tuanya? Bagaimana mereka bisa melakukan ini padanya?
"Apa itu tidak keterlaluan?"
Aliya menatap kepergian putrinya dengan perasaan bersalah.
"Kamu menyakiti putri kita."
"Sayang, kamu tahu sendiri pria seperti apa yang dia kencani." Argan menghela napas berat. Mungkin apa yang dia lakukan terkesan kejam. Tapi, sejujurnya Argan hanya ingin melindungi putrinya. "Aku tidak ingin dia bersama pria yang buruk."
Aliya setuju dengan suaminya. Dia sudah melihat pria yang dikencani putrinya. Dan Aliya langsung tidak menyukainya. Pria itu sepertinya bukan pria baik-baik.
Aliya tidak menemukan kesungguhan dari pria itu saat dia bersama Chelsea. Aliya khawatir jika pria itu sebenarnya tidak sungguh-sungguh mencintai putrinya, melainkan hanya memanfaatkannya saja.
"Tapi, seharusnya kamu bisa bicara baik-baik padanya," ucap Aliya. Meski dia juga tidak menyukai pacar Chelsea, Aliya tetap tidak membenarkan cara Argan menegur putri mereka. "Jika kamu seperti ini, dia akan berpikir jika kamu tidak menyayanginya."
"Itu hanya sebentar." Argan menanggapi dengan santai. Istrinya hanya terlalu khawatir. "Dia terlalu muda untuk mengerti. Saat dia sudah sedikit lebih dewasa, aku yakin dia akan paham akan semua sikapku."
Tak ingin membuat istrinya terlalu banyak berpikir, Argan mengusap lembut kepala istrinya itu. "Jangan terlalu memikirkannya."
****
Chelsea berjalan mondar mandir di kamarnya. Dia berusaha menghubungi Tristan. Tapi setelah beberapa kali mencoba, teleponnya tidak diangkat.
Chelsea tidak menyerah. Dia terus mencoba dengan gelisah, berharap Tristan akan segera menjawab panggilan darinya.
Sekitar lima kali mencoba, teleponnya akhirnya diangkat. Chelsea tak bisa menahan kegembiraannya.
Namun, kegembiraan itu menyusut dengan cepat saat menyadari jika yang mengangkat telepon bukan pacarnya.
"Hallo!"
"Ini ... ini siapa?" tanya Chelsea, bingung. "Mana Tristan?"
"Oh, Tristan! Dia sedang sibuk sekarang." Dia memberi jeda sesaat, tampak ragu-ragu untuk melanjutkan. "Sebaiknya, hubungi dia lagi nanti."
Sebelum sempat membalas, telepon itu sudah dimatikan secara sepihak. Chelsea masih termangu. Dia menatap layar handphone sembari termenung.
Sepertinya dia mendengar suara bising di telepon tadi. Mirip suasana saat di club malam. Tapi, bagaimana mungkin pacarnya berada di tempat seperti itu? Tristan adalah pria yang baik, yang bahkan tidak pernah menenggak setetes pun alkohol. Dia bukan pria liar yang senang menginjakkan kaki ke tempat seperti itu.
Lantas, bagaimana telepon Tristan bisa berada di tangan temannya itu? Apa Tristan benar-benar mengunjungi sebuah club malam?
Sepertinya Chelsea perlu memastikannya. Dia harus bertanya pada Tristan besok.
"Aku yakin dia tidak seperti itu," ucap Chelsea. Dia sudah menjalin hubungan cukup lama dengan Tristan. Tentu dia sangat mengetahui bagaimana sifat pria itu. "Tristan tidak mungkin di sana. Mungkin ... temannya itu yang meminjam handphonenya. Mungkin ...."
Semakin Chelsea berusaha meyakinkan diri, ia justru semakin merasa khawatir. Dia takut, jika kekhawatirannya adalah kebenaran.
Roan berjalan cepat menyebrangi jalan. Dia terpaksa berhenti di tengah perjalanan ketika istrinya meminta dibelikan kue yang pernah dia berikan tempo hari. Roan tentu tidak akan menolak mengabulkannya. Dia justru senang karena Chelsea sudah kembali meminta sesuatu. Tampaknya, istrinya itu sudah kembali ceria."Sayang, mau kubelikan kue yang mana?" Roan menunjukkan kue yang berjajar si etalase lewat Videocall yang tersambung di handphonenya. Chelsea yang melihat itu seketika berbinar."Yang berhiaskan strawberry itu sepertinya enak, Roan. Dan aku ingin yang coklat itu juga," balas Chelsea, mengatakan apa yang ia inginkan."Tolong bungkus keduanya," pinta Roan, pada pelayan toko."Ada lagi?" Roan bertanya pada istrinya, sembari memperhatikan pelayan toko membungkus pesanan miliknya. "Selagi aku masih di sini.""Aku rasa tidak. Aku hanya ingin kamu cepat pulang.""Baiklah." Roan tersenyum kecil, mendengar nada manja istrinya. Dia jadi tidak sabar untuk memeluk istrinya itu ketika tiba di
Dua minggu telah berlalu, namun Roan tidak pernah berhenti mencari keberadaan Tristan. Meski telah mengerahkan pasukan orang-orang kepercayaannya, bahkan menyewa tenaga ahli yang sudah berpengalaman dalam melacak jejak seseorang, keberadaan pria itu tetap sulit ditemukan. Seolah-olah Tristan benar-benar hilang ditelan bumi, tanpa meninggalkan satu jejak pun yang bisa diikuti."Kenapa dunia seolah-olah berpihak padanya?" gerutu Roan dalam hati, perasaannya terasa tidak terima dan penuh kekesalan.Pria itu jelas orang yang jahat. Dia telah menyakiti istrinya, membuatnya trauma. Tapi mengapa dia bisa mendapatkan keberuntungan seperti ini? Bahkan ayah mertuanya pun belum berhasil menemukan sedikit informasi pun tentang keberadaannya. Mereka benar-benar berada dalam keadaan buntu, tidak tahu harus berbuat apa lagi.Meskipun pencarian yang dilakukan belum membuahkan hasil yang diharapkan, Roan sama sekali tidak berputus asa. Dia memilih untuk mengalihkan fokus perhatiannya sepenuhnya untuk
Roan bergegas karena merasa ada sesuatu yang terjadi saat mertuanya tiba-tiba meminta untuk bertemu secara pribadi dengannya. Roan khawatir jika ada masalah serius yang sedang terjadi.Dia masuk ke ruang kerja Argan setelah sekretaris pria itu membukakan pintu untuknya. Roan melihat ayah mertuanya yang tengah berdiri melihat pemandangan di luar jendela.Saat Roan melangkah masuk mendekatinya, pria itu berbalik, menyadari kedatangannya."Kamu datang dengan cepat," ucap Argan. Pria itu memberikan intruksi pada Roan untuk duduk di kursi. Sementara dirinya menduduki kursi kerja miliknya. Mereka kini saling berhadapan satu sama lain, hanya dibatasi dengan meja besar saja."Ada apa, Ayah?" Roan bertanya, khawatir. "Apa terjadi sesuatu?""Ya, aku tidak mungkin memanggilmu ke sini untuk sesuatu yang tidak penting." Argan tampak berat mengungkapkannya. Pria itu mengambil waktu sesaat untuk menarik napas panjang. "Tahanan itu ... dia berhasil melarikan diri."Roan terkejut.Ini bukan kabar yang
Terseok-seok melewati gang sempit, Tristan perlu usaha keras untuk melarikan diri dari penjagaan yang ketat. Tubuh babak belurnya tak membuat keinginan melarikan dirinya pudar. Dia hanya ingin lepas dari tangan anak buah Argan.Pria itu membuang ludah bercampur darah ke tanah. Lalu mengelap mulutnya dengan punggung tangan. Ekspresi wajahnya menggelap, bibirnya berdesis penuh amarah, "keparat!"Pandangannya menyiratkan dendam membara. Kejadian hari ini membuat Tristan semakin membenci Argan dan keluarganya.Tunggu saja, Tristan akan pastikan satu keluarga itu merasakan balasan berkali-kali lipat."Tristan!" Seseorang datang menghampirinya.Tristan menatap orang di depannya. Dia menoyor kepala orang itu dengan tenaganya yang lemah."Kau terlambat, bodoh!" seru Tristan.Sam berdecak kesal. Dia sudah cepat-cepat datang demi menjemput temannya itu. Tapi yang ia dapatkan malah makian."Tidak tahu diri! Sudah bagus aku ke sini menolongmu.""Aku hampir mati di tangan pria sialan itu!""Salahm
Chelsea sampai di lantai dimana kamar Tristan berada. Dia menghitung setiap kamar, mencari nomor yang diberitahukan padanya sebelumnya. Tidak butuh waktu lama, Chelsea akhirnya menemukannya. Bibirnya tertarik ke atas. Ini semakin menegangkan dan membuatnya tak sabar.Chelsea memasukkan kunci di tanga
Roan menemui Chelsea di kamar. Istrinya pamit lebih awal dari yang lain. Dia berkata ingin segera beristirahat. Tidak ada yang menghalanginya karena semua tahu jika Chelsea baru saja mengalami kecelakaan.Roan sebenarnya cukup bersyukur. Karena tidak lama setelah istrinya pergi, kekasih dari istrinya
Roan membawa Chelsea ke kamar karena ia tak bisa berhenti menangis. Istrinya itu juga tak mau melepas pelukannya. Sehingga terpaksa Roan membawanya ke kamar, berharap dia bisa sedikit tenang.Roan menurunkan istrinya itu dengan hati-hati di tepi ranjang. Kedua tangan istrinya masih melingkar di leher
Chelsea terduduk, dia menangis tersedu-sedu. Perasaannya sangat kacau, tepat setelah ia mendengar penuturan pria itu terhadapnya.Dia tak merendahkannya. Dia tak mencela kekurangannya. Dia tak menurunkan harga dirinya.Roan justru memujinya. Dia menempatkan Chelsea pada posisi yang istimewa. Dia membu


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.