Masuk"Clara! Dia masuk UGD RS Premier dua jam lalu. Dipukuli." kata Bima. Suaranya terdengar terlalu cepat Serena berdiri dari kursinya tanpa sadar. "Apa?!" "Dia ditemukan Security apartemennya. Pintunya terbuka, Clara tergeletak di lantai." Bima menarik napas, dan untuk pertama kalinya, seperti orang yang sedang ketakutan. "Dia sadar. Tapi dia minta saya hubungi kamu duluan. Bukan polisi. Kamu." "Saya ke sana sekarang." "Serena—" Bima berhenti sebentar. "Dia bilang sesuatu sebelum dibawa. Katanya, 'bilang ke Serena, ini bukan dari Revan.'" Serena memandang Arga, yang sudah berdiri, sudah mengambil kunci mobilnya. Tapi sesuatu di nada Bima membuatnya berhenti sejenak. "Bima!" Suaranya lebih tajam sekarang. "Kalau kamu tahu sesuatu, jangan diam. Tidak sekarang." "Saya tidak—" Bima ragu, dan jeda itu sendiri sudah jawaban. "Investor baru itu. Mereka sempat tanya-tanya soal pergerakan kamu minggu ini. Saya pikir cuma basa-basi. Tapi sekarang—" "Kita bicara nanti. Cari tahu siap
Serena tidak membalas pesan itu.Ia menutup ponselnya, meletakkannya menghadap bawah, dan untuk beberapa menit hanya duduk di sana dengan kopi yang sudah dingin dan satu kalimat yang terus berputar di kepalanya."Hendra Prawiratama tahu kamu sudah temukan rekamannya."Ia tidak langsung menghubungi Arga. Ada bagian dari dirinya yang butuh tahu sendiri dulu, sebelum mendengar versi orang lain, siapa nama yang baru saja masuk ke dalam hidupnya.Ia membuka laptopnya kembali.Pencarian pertama tidak menghasilkan apa-apa. Namanya terlalu bersih, seperti seseorang yang sudah lama belajar tidak meninggalkan jejak. Tapi Serena mulai dari arah lain: unit yang Arga sebut, Operasi Garuda Hitam, 2019, Makassar. Berita-berita kecil, kematian yang dikategorikan sebagai "kecelakaan" untuk tiga nama yang tidak pernah muncul lagi setelahnya.Pukul satu pagi, ia menemukan satu titik yang menghubungkan semuanya — sebuah yayasan pendidikan dengan dewan pembina yang tidak pernah muncul di pemberitaan tapi
Serena tidak langsung membuka flash disk itu.Ia pulang ke apartemennya — pertama kalinya setelah beberapa malam. Mandi, ganti baju, duduk di meja dapur dengan laptop yang menyala dan secangkir kopi yang ia buat tapi belum ia sentuh.Flash disk itu di sebelah kanannya. Ia mencolokkannya pukul 21.15.Satu folder. Beberapa file. Ia melewati foto-foto dan dokumen yang sudah ia tahu konteksnya, langsung ke file yang paling tidak ingin ia buka — berlabel dengan tanggal, dua minggu sebelum Arga mengundurkan diri, format audio.Ia menekan play.Suara pertama yang keluar membuat sesuatu di dadanya berhenti sebentar — bukan karena asing, tapi karena terlalu kenal. Suara yang sudah ia hafal.Serena menekan play."Saya tidak bisa melanjutkan ini.""Duduk dulu—""Tiga orang mati! Bukan karena misi gagal. Mereka mati karena ada yang memang tidak ingin mereka pulang. Dan anda tahu itu."Hening beberapa detik."Anda tahu terlalu banyak untuk keluar begitu saja.""Iya. Dan itu yang akan saya pakai!"
Tangga ruko itu sempit dan berbau cat lama.Serena naik duluan, satu tangan di pegangan yang sudah goyang, Arga tepat di belakangnya. Tidak ada yang bicara. Di bawah, suara Revan yang menutup pintu depan terdengar pelan, diikuti langkah kakinya yang tidak ikut naik.Serena tidak yakin itu tanda baik atau buruk.Lantai dua: satu koridor pendek, dua pintu. Yang pertama terbuka adalah ruang kosong, kardus bertumpuk, jendela yang tirai hijaunya sudah pudar. Yang kedua tertutup, dengan cahaya tipis di celah bawah pintunya.Serena mengetuk. "Pak Wisnu?"Diam tiga detik. Kemudian suara kursi bergeser, langkah kaki yang pelan dan berat, dan pintu terbuka.Wisnu Prasetya terlihat lebih tua dari terakhir Serena lihat, bukan karena waktu, tapi karena kelelahan yang datang dari terlalu lama menyimpan sesuatu yang terlalu berat. Bajunya rapi, tubuhnya tidak tampak disakiti, tapi matanya punya kedalaman seseorang yang sudah memutuskan sesuatu sebelum mereka datang."Mbak Serena." Ia membuka pintu l
Arga parkir dua blok dari ruko yang Clara tandai.Dari posisinya, lantai dua terlihat jelas tirai tertutup rapat, tapi ada cahaya di baliknya. Seseorang di dalam. Mungkin lebih dari satu.Ia mengirim update pertama ke Serena: Sudah di lokasi. Aman.Balasan datang dalam sepuluh detik: Oke.Satu kata. Tapi Arga sudah cukup kenal Serena untuk tahu bahwa di balik kata itu ada orang yang sedang menahan diri untuk tidak mengetik lebih banyak. Ia keluar dari mobil.Kawasan ini sepi untuk ukuran Jakarta sore. Deretan ruko tua, motor parkir sembarangan, warung rokok di ujung yang pemiliknya lebih tertarik pada televisinya daripada siapa yang lewat. Arga berjalan dengan langkah yang tidak terburu-buru, tidak pelan, tangan di saku, seperti seseorang yang tahu ke mana ia pergi dan tidak perlu membuktikannya kepada siapa pun.Ia baru sampai di depan ruko nomor tujuh belas ketika pintu lantai bawah terbuka.Arga berhenti.Revan Arkana keluar dengan kemeja biru tua yang tidak kusut dan ekspresi sese
Serena terbangun dengan kepala yang lebih berat dari semalam.Ia seperti terbangun dari tidur yang terlalu nyenyak setelah terlalu lama tidak tidur cukup. Ia mengangkat kepalanya dari posisi yang tidak ia ingat bagaimana bisa senyaman itu, dan butuh tiga detik untuk menyadari bahwa ada jaket di bahunya yang bukan miliknya.Jaket abu-abu. Kemeja abu-abu.Serena memandang ke seberang meja.Arga sudah di kursinya. Laptop terbuka, kopi di tangan, rambut yang sama tidak teraturnya. Ia mengangkat kepala ketika Serena bergerak, dan untuk sepersekian detik sebelum ekspresinya kembali ke yang biasa, ada sesuatu di matanya yang berbeda. Lebih hangat dari biasanya. Kemudian ia mengangguk pelan. "Pagi.""Pagi." Serena menegakkan punggungnya, merapikan rambutnya dengan tangan, dan memutuskan bahwa jaket di bahunya tidak perlu dikomentari. "Sudah dari kapan?""Subuh." Ia mendorong cangkir kopi ke arahnya. "Sudah saya buatkan."Serena mengambilnya. Meminumnya. Dan memperhatikan. Pagi ini Arga tidak







