共有

Bab 8

作者: ZZ
Menjelang ujian kelulusan, pihak sekolah memberikan libur belajar mandiri agar para murid bisa melakukan peninjauan materi sendiri di rumah.

Pada hari terakhir sekolah, guru membagikan kartu tanda peserta ujian ke tangan masing-masing murid.

Tidak lama setelah Shania tiba di rumah, bel pintu mendadak berdering dengan sangat mendesak.

Begitu membuka pintu, dia mendapati Yuga yang berdiri dengan wajah mendung, didampingi oleh Velen yang tampak menyedihkan dengan mata sembap kemerahan.

"Shania, apa kamu yang sembunyikan kartu ujiannya Velen?" Yuga menginterogasi tanpa basa-basi dengan nada ketus, seolah-olah sudah meyakini bahwa dialah pelakunya.

Shania tersentak, "Nggak, bukan aku."

"Kalau bukan kamu, siapa lagi?" Yuga sama sekali tidak percaya, lalu membeberkan "bukti" yang dia miliki, "Hari ini pas pulang sekolah, cuma kamu yang sempat berinteraksi sama dia! Lagian, kamu yang paling punya potensi buat menaruh dendam gara-gara masalah nyontek waktu ujian simulasi kemarin!"

Tanpa memedulikan hadangan Shania, pria itu menerobos masuk ke rumahnya dengan paksa, menggeledah kamar gadis itu, lalu mulai mengacak-acak isi lemari dan laci meja.

Hingga akhirnya, dia benar-benar menemukan potongan kartu ujian milik Velen yang sudah disobek-sobek menjadi serpihan, terselip di dalam kompartemen rahasia tas sekolah Shania!

"Shania! Ternyata beneran kamu!" Velen seketika menangis histeris dengan suara yang dipenuhi luapan amarah sekaligus rasa tertuduh, "Kenapa kamu tega lakuin ini! Kalaupun kamu mau nyuri kartu ujianku, kenapa harus kamu sobek-sobek juga! Apa kamu nggak tahu kalau kayak gini aku jadi nggak bisa ikut ujian kelulusan! Kamu sengaja ya mau hancurin masa depanku?!"

Menatap serpihan kertas tersebut, urat-urat di dahi Yuga tampak menegang parah dengan pancaran mata yang sedingin es dan menakutkan, "Shania! Sekarang apa lagi yang mau kamu omongin?"

Menyaksikan kilatan kepuasan yang berkelebat sesaat di dalam mata Velen, Shania seketika tersadar.

Ini merupakan aksi adu domba dan fitnah yang dilancarkan oleh Velen kesekian kalinya.

Dia pun teramat paham, seberapa keras pun dia mencoba memberikan penjelasan, Yuga tidak akan pernah memercayainya.

Alhasil, dia memilih untuk bergeming dalam keheningan.

Melihat keterdiaman Shania yang dianggap sebagai bentuk pengakuan, amarah Yuga kian menyala hebat, hingga dia langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi pihak kepolisian!

"Halo, kantor polisi? Di sini ada seseorang yang sengaja merusak dokumen penting milik orang lain dengan niat menggagalkan ujian kelulusan ...."

Shania akhirnya dibawa pergi oleh petugas.

Mempertimbangkan statusnya yang merupakan seorang siswi kelas tiga, pihak kepolisian tidak memberikan sanksi yang terlampau keras dan cenderung mengutamakan pembinaan, tapi karena sifat pelanggarannya yang dinilai buruk, dia tetap harus menjalani penahanan selama beberapa hari.

Di dalam ruang tahanan yang gelap dan sedingin es itu, Shania melewati hari-harinya dengan teramat lambat layaknya siksaan yang tiada akhir.

Rasa sakit akibat gerogotan kanker menyiksanya siang dan malam, membuat dia terus-menerus memuntahkan darah tanpa adanya obat pereda nyeri. Dia hanya bisa meringkuk di sudut ruangan sembari mengerang kesakitan, seolah sedang terperosok ke dalam neraka dunia.

Dia baru dibebaskan tepat satu hari sebelum ujian kelulusan dimulai.

Petugas kepolisian berpesan agar dia segera memulihkan kondisinya dan menghadapi ujian esok hari dengan sebaik-baiknya.

Namun dia tahu, dia sudah tidak akan bisa mengikutinya lagi.

Kehidupannya sudah berada di titik nadir, kondisi fisiknya sudah terlampau lemah hingga untuk sekadar berdiri tegap pun dia tidak lagi memiliki tenaga.

Pada hari pelaksanaan ujian kelulusan, dia menelan obat pereda nyeri dalam jumlah banyak demi memaksakan tubuhnya untuk bertahan, lalu duduk di atas kursi roda dan pergi menuju lokasi ujian seorang diri.

Dia hanya ingin ... menatap tempat ujian itu serta sosok pemuda itu untuk terakhir kalinya.

Anggap saja ....

Sebagai bentuk ucapan selamat tinggal yang terakhir.

Baru saja tiba di sana, dia sudah berhasil menangkap siluet tubuh Yuga di luar gerbang lokasi ujian.

Pemuda itu mengenakan kemeja putih bersih dengan postur tubuh yang tegap, tampak sangat menonjol di tengah kerumunan orang banyak.

Sinar matahari jatuh menerpa tubuhnya, mempertegas sosok pemuda bersinar yang pernah memikat hatinya dulu.

Jantung Shania berdesir samar, secara refleks dia berniat melontarkan kata untuk memanggilnya.

Namun, sebelum sempat suara itu keluar dari mulutnya, dia melihat Velen yang berjalan telonjak-lonjak dengan sunggingan senyum ceria dari arah tidak jauh, lalu merangkul lengan Yuga dengan manja.

"Yuga! Aku deg-degan banget nih!" rajuk Velen.

"Jangan tegang, kerjain aja kayak biasanya." Nada suara Yuga terdengar begitu hangat dan penuh dorongan semangat sembari menggandeng tangan Velen, "Yuk, kita masuk sekarang."

Sejak awal hingga akhir, pria itu sama sekali tidak menyadari keberadaan sesosok tubuh kurus kering dengan wajah pucat pasi yang duduk di atas kursi roda di dekatnya.

Sunggingan senyum di wajah Shania seketika membeku, sementara rasa sakit yang sempat mati rasa di hatinya kembali menyerang dengan sangat tajam.

Tidak mengucapkan selamat tinggal pun tidak ada salahnya.

Lagi pula, terhitung sejak hari ini dan seterusnya, sosok yang akan menemani sisa perjalanan hidup pemuda itu bukan lagi dirinya.

Dia menatap punggung mereka berdua yang melangkah beriringan memasuki area ujian, tampak begitu serasi dan dipenuhi dengan limpahan harapan masa depan.

Shania menggerakkan roda pada kursi rodanya dalam diam, melangkah pergi meninggalkan lokasi ujian yang bising, lalu mengarahkan tujuannya menuju aliran air sungai yang dingin di ujung kota.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 22

    Di hari-hari setelahnya, dia tetap berjalan membuntuti di belakang Shania, tapi tidak lagi berani maju mendekat secara gegabah.Dia menatap Shania yang selalu datang sangat pagi untuk membaca buku di kelas, melihat gadis itu fokus mengerjakan soal saat jam istirahat, dengan seluruh pikirannya yang hanya tercurah untuk belajar.Saat ada siswa pria yang memanfaatkan kesempatan ketika Shania sedang keluar untuk menyelundupkan surat cinta ke dalam laci mejanya, Yuga akan langsung mengambil surat tersebut pada kesempatan pertama untuk dibuang ke tempat sampah.Saat ada siswi yang sengaja menyembunyikan buku pelajaran milik Shania, Yuga akan mencarinya secara diam-diam lalu meletakkannya kembali ke dalam laci meja Shania.Bahkan saat Velen tidak terima dan berniat mencari masalah dengan Shania, Yuga langsung menghadangnya dengan tatapan dingin."Jauh-jauh dari dia, atau jangan salahin kalau aku nggak bakal tinggal diam."Velen merasa sangat kesal sekaligus kecewa, "Yuga, kamu sebenarnya kena

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 21

    Tetangga itu ... bukankah adalah ayahnya sendiri?Dan tante itu, tidak lain adalah ibunya Shania!Ternyata kejadian di masa lalu sama sekali bukan kesalahan ibu Shania!Ayahnyalah yang sudah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk memperkosa ibu Shania. Ayahnyalah yang sudah menghancurkan dua keluarga sekaligus!Sementara dirinya, justru karena pengecut dan tidak berani menghadapi aksi kejahatan sang ayah, tega melimpahkan seluruh kebenciannya kepada Shania.Membiarkan korban yang sesungguhnya menanggung seluruh penderitaan itu!"Ayah ... Shania ...." Yuga terduduk lemas di atas lantai sembari kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri dengan kuat, melontarkan raungan kepedihan yang teramat parah.Dia sudah salah dengan teramat parah, salah hingga tidak bisa dimaafkan lagi!Dia membeli seikat bunga krisan putih, lalu berdasarkan alamat yang pernah diucapkan oleh teman sekelasnya dulu, dia berhasil menemukan area pemakaman Shania.Di atas batu nisan tidak tertera foto apa pun

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 20

    Setelah Velen pergi, Yuga membawa pulang semua barang miliknya, menyisakan kesunyian yang memenuhi seisi rumah megah itu.Dia meletakkan foto kematian serta buku harian Shania di atas meja teh ruang tamu, lalu mengeluarkan seluruh persediaan alkohol dari lemari minumannya.Anggur merah, alkohol tradisional, hingga wiski.Apa pun jenis minuman yang bisa mematikan fungsi sarafnya, semua dia keluarkan.Tutup botol minuman berjatuhan ke atas lantai dengan suara "buk, buk". Dia mengambil sebotol alkohol tradisional, lalu menenggaknya dalam sekali tegukan besar langsung dari mulut botol.Cairan yang terasa membakar itu menyengat kerongkongannya, namun tidak mampu meredakan rasa sakit yang merajai lubuk hatinya.Dia menenggak minumannya gelas demi gelas, membuat tumpukan botol kosong di atas lantai kian hari kian bertambah banyak, menumpuk dari ruang tamu hingga ke area balkon.Tumpahan cairan alkohol membasahi lantai di mana-mana, membuat udara di sekelilingnya dipenuhi aroma alkohol yang te

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 19

    Di dalam kamar tidur Shania, gorden tampak tertutup rapat, hanya menyisakan berkas cahaya samar yang menyelinap masuk dari celah kain.Yuga meringkuk di atas lantai sembari mendekap erat buku harian serta foto kematian Shania di dalam pelukannya, sudah tidak bergerak sama sekali selama tiga hari penuh.Selama tiga hari ini, dia tidak makan dan minum, juga tidak tidur ataupun beristirahat, membuat air matanya sudah lama mengering tanpa sisa.Di dalam otaknya terus memutar kembali setiap rekaman gambar dari kamera pengawas, memutar kembali untaian kalimat di dalam buku harian Shania, serta memutar kembali seluruh tindakan kejam yang pernah dilancarkannya kepada Shania.Mendorong gadis itu dari tangga, memaksa lari keliling lapangan sambil menggendong kantong pasir, mendiamkan gadis itu disiram air kotor tanpa berbuat apa-apa ....Setiap kali kenangan itu melintas, rasa sakit di hatinya kian bertambah hebat, seolah-olah hendak mencabik-cabik tubuhnya sampai hancur."Nia ... maaf ...." uca

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 18

    Dia akhirnya paham kenapa Shania tidak pernah lagi membela diri setelah itu.Shania tahu dia tidak akan percaya, tahu bahwa di dalam benak pria itu, dirinya akan selalu menjadi anak dari seorang "pendosa" yang selamanya harus dihukum.Sementara Velen, wanita yang selama ini dia kira lemah lembut dan baik hati.Tidak hanya memfitnah Shania menyontek, bahkan masalah kartu ujian pun ternyata hasil rekayasanya sendiri!Perempuan itu sengaja menyembunyikan sobekan kartu ujian di dalam tas Shania, lalu sengaja menangis di hadapannya sambil bersikap seolah sudah dizalimi oleh Shania.Semua itu karena Velen sudah memperhitungkan bahwa dia membenci Shania, sehingga pasti akan langsung berpihak kepadanya tanpa ragu.Dia ternyata sudah dibodohi oleh Velen selama 10 tahun, bahkan ikut mendorong Shania ke dalam neraka yang lebih dalam!"Velen ...." Yuga mengatupkan giginya kuat-kuat dengan bagian putih mata yang sudah dipenuhi guratan darah, seiring dengan amarah yang bergolak hebat di dalam dada.

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 17

    Dia bahkan buat berdiri saja sudah kesusahan, bahkan sudah tidak punya tenaga untuk sekadar bertahan hidup, bagaimana mungkin dia punya energi buat mencuri dan menyobek kartu ujian?Bagaimana mungkin dia ada pikiran untuk mencelakai Velen?"Aku benar-benar bodoh ...." Yuga mengangkat tangan untuk menangkup wajahnya, nadanya dipenuhi keputusasaan dan penyesalan mendalam.Dia mengeluarkan ponselnya. Jemarinya yang gemetaran membuat dia beberapa kali salah menekan nomor, hingga akhirnya berhasil menghubungi asistennya."Segera cari tahu! Selidiki masalah Shania yang dituduh menyobek kartu ujiannya Velen sebelum ujian kelulusan 10 tahun yang lalu!"Nada suara Yuga terdengar parau, tapi menyiratkan perintah yang tidak boleh dibantah."Periksa rekaman kamera pengawas di rumah Shania dulu. Nggak peduli pakai cara apa pun, kamu harus temukan rekamannya!"Asistennya belum pernah mendengar Yuga berbicara dengan nada seperti ini, sehingga tidak berani menunda dan bergegas menyahut."Baik, Pak Yug

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status