Share

Bab 9

Penulis: ZZ
Usai pelaksanaan ujian kelulusan selama dua hari yang melelahkan, tibalah masa-masa penantian yang panjang.

Satu bulan kemudian, hasil ujian pun diumumkan. Surat keputusan kelulusan serta penerimaan universitas mulai dikirimkan secara bertahap.

Pada hari pengumuman kelulusan di sekolah, para murid berkumpul bersama untuk saling bertukar kabar dengan penuh antusias.

Velen yang memegang surat penerimaan dari universitas ternama yang sama persis dengan milik Yuga langsung memeluk pria itu dengan emosional, "Bagus! Yuga! Akhirnya kita bisa masuk universitas yang sama! Kita bisa bareng-bareng selamanya!"

Yuga membalas dekapannya dengan sunggingan senyum di wajahnya. Namun, lubuk hatinya mendadak terasa kosong entah mengapa, membuat dia agak hilang fokus.

Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas, mendapati hampir seluruh teman sekelasnya hadir di sana, kecuali ... sosok familier yang kerap membuat perasaannya gundah itu tidak tampak di mana pun.

Pada saat ini, Velen pun seolah baru menyadari hal tersebut, lalu bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, "Lho? Shania kok nggak datang? Dia ... dia jangan-jangan nggak lulus ujian, ya?"

Yuga menepis rasa tidak nyaman serta kegundahan aneh yang menyergap hatinya, lalu menyahut dengan suara dingin, "Dia datang atau nggak, lulus atau nggak, udah nggak ada urusannya lagi sama kita. Mulai sekarang, kita juga nggak bakal ketemu dia lagi."

Kalimat itu diucapkannya dengan teramat tegas, seolah-olah dia ingin menghapus keberadaan gadis itu sepenuhnya dari dunianya.

Kemudian, dia menggandeng tangan Velen, lalu berbalik melangkah meninggalkan SMA Nogara tanpa pernah menoleh lagi sekali pun.

10 tahun berlalu dalam sekejap mata.

Yuga sudah bukan lagi sosok pemuda yang polos seperti dulu.

Dia telah bertransformasi menjadi taipan baru yang merajai dunia bisnis, sosok muda, tampan, dan kaya raya yang kerap menjadi incaran berbagai majalah finansial serta acara bincang-bincang.

Saat ini, dia sedang duduk di bawah sorotan lampu studio, menjalani sesi wawancara eksklusif dengan salah satu program finansial yang tengah naik daun.

Dengan setelan jas formal yang rapi, tutur kata yang tenang, serta pembawaan yang cakap, dia berhasil mengundang decak kagum serta tatapan penuh kekaguman dari para penonton di bawah panggung.

Menjelang akhir sesi wawancara, jurnalis wanita yang berparas cantik melontarkan sebuah pertanyaan yang agak mengarah pada ranah pribadi, "Pak Yuga, di usia Anda yang masih sangat muda dan sukses ini, kisah asmara Anda pasti sangat berwarna, bukan? Apa Anda bisa menceritakan tentang cinta pertama Anda yang paling membekas di hati?"

Yuga yang sebelumnya selalu menjawab dengan sangat lancar, mendadak bergeming dalam keheningan yang jarang terjadi usai pertanyaan tersebut dilontarkan.

Suasana studio seketika menjadi hening, semua orang mengarahkan pandangan mereka kepadanya.

Setelah waktu berlalu cukup lama, dia baru perlahan mendongak menatap ke arah kamera dengan pancaran mata yang dalam serta kompleks, lalu berbicara dengan nada suara rendah, "Saya nggak punya cinta pertama yang membekas di hati ...."

Dia menjeda kalimatnya sejenak, lalu menambahkan satu kalimat lagi dengan membawa serta riak emosi yang sulit diartikan, "Hanya ada satu orang yang saya benci setengah mati."

Sesi wawancara pun berakhir dalam atmosfer yang terasa agak janggal.

Begitu dia kembali ke ruang tunggu belakang panggung, asisten bergegas menghampiri untuk melaporkan agenda kegiatannya, "Pak Yuga, nanti malam ada agenda reuni sekolah SMA Anda, Anda ...."

Yuga mengernyitkan dahi, lalu memotong kalimatnya dengan tidak sabar, "Bukannya saya udah bilang, batalkan semua acara reuni kayak gini?"

Asistennya berulang kali melontarkan permohonan maaf, "Maaf, Pak Yuga! Saya lupa karena saking sibuknya! Saya akan segera menelepon untuk membatalkannya sekarang juga!"

Tepat saat asistennya bersiap untuk menelepon, entah kenapa Yuga mendadak mengubah keputusannya.

Dia teringat akan pertanyaan dalam sesi wawancara tadi, teringat akan sosok yang diklaimnya "dibenci setengah mati", tapi entah mengapa selalu berkelebat di dalam benaknya.

"Nggak usah." Dia melontarkan kata untuk mencegah asistennya dengan nada suara yang datar tanpa emosi, "Siapkan mobilnya."

Pada malam harinya, dia menghadiri acara reuni akbar SMA tersebut.

Kehadirannya seketika mengundang kehebohan yang tidak kecil. Teman-teman lamanya berbondong-bondong merapat untuk melayangkan pujian atas pencapaian kesuksesannya saat ini.

"Kak Yuga! Akhirnya Kakak datang juga! Sudah berapa tahun Kakak nggak pernah ikut reuni!"

"Iya nih! Sekarang udah jadi orang super sibuk, namanya sampai masuk daftar Forbes segala!"

"Kudengar Kakak bakal segera tunangan sama primadona sekolah, Velen? Benar-benar pasangan yang serasi, ya!"

"Selamat, ya! Selamat!"

Yuga hanya membalas mereka sekadar untuk bersikap sopan, tapi tatapan matanya bergerak menyapu kerumunan orang banyak secara diam-diam, seolah-olah sedang mencari sesuatu.

Setiap kali ada orang yang baru masuk, dia secara refleks akan mendongak untuk melihatnya, namun setiap kali pula, sosok yang muncul bukanlah wajah yang ingin dia temui.

Acara reuni sudah hampir berakhir, tapi gadis itu tetap tidak menampakkan batang hidungnya.

Dia tidak bisa mengartikan dengan jelas gejolak apa yang sedang dirasakannya saat ini, ada rasa gundah, sekaligus rasa hampa yang mengganjal.

Hingga akhirnya, dia tetap tidak bisa menahan diri, lalu melontarkan pertanyaan secara tidak langsung seolah tanpa sengaja, "Selama acara reuni beberapa tahun ini, selain aku yang absen, apa ada orang lain yang nggak pernah datang juga?"

Semua orang pun mulai membuka memori mereka dan menyahut dengan bersahut-sautan.

Tiba-tiba, salah seorang teman sekelasnya seperti teringat sesuatu, "Selain Kak Yuga yang super sibuk, ada satu orang lagi ... Shania! Shania juga nggak pernah datang sekali pun!"

Jantung Yuga seketika berdesir tajam, tapi dia tetap mempertahankan raut wajahnya yang tenang dan menyahut datar mengikuti alur pembicaraan, "Shania? Dia sekarang lagi sibuk apa, kenapa sampai nggak pernah datang?"

Seketika itu juga, raut wajah seluruh teman sekelasnya berubah menjadi teramat terkejut, "Kak Yuga, Kakak beneran belum tahu? Shania ... dia udah meninggal 10 tahun yang lalu!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 22

    Di hari-hari setelahnya, dia tetap berjalan membuntuti di belakang Shania, tapi tidak lagi berani maju mendekat secara gegabah.Dia menatap Shania yang selalu datang sangat pagi untuk membaca buku di kelas, melihat gadis itu fokus mengerjakan soal saat jam istirahat, dengan seluruh pikirannya yang hanya tercurah untuk belajar.Saat ada siswa pria yang memanfaatkan kesempatan ketika Shania sedang keluar untuk menyelundupkan surat cinta ke dalam laci mejanya, Yuga akan langsung mengambil surat tersebut pada kesempatan pertama untuk dibuang ke tempat sampah.Saat ada siswi yang sengaja menyembunyikan buku pelajaran milik Shania, Yuga akan mencarinya secara diam-diam lalu meletakkannya kembali ke dalam laci meja Shania.Bahkan saat Velen tidak terima dan berniat mencari masalah dengan Shania, Yuga langsung menghadangnya dengan tatapan dingin."Jauh-jauh dari dia, atau jangan salahin kalau aku nggak bakal tinggal diam."Velen merasa sangat kesal sekaligus kecewa, "Yuga, kamu sebenarnya kena

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 21

    Tetangga itu ... bukankah adalah ayahnya sendiri?Dan tante itu, tidak lain adalah ibunya Shania!Ternyata kejadian di masa lalu sama sekali bukan kesalahan ibu Shania!Ayahnyalah yang sudah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk memperkosa ibu Shania. Ayahnyalah yang sudah menghancurkan dua keluarga sekaligus!Sementara dirinya, justru karena pengecut dan tidak berani menghadapi aksi kejahatan sang ayah, tega melimpahkan seluruh kebenciannya kepada Shania.Membiarkan korban yang sesungguhnya menanggung seluruh penderitaan itu!"Ayah ... Shania ...." Yuga terduduk lemas di atas lantai sembari kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri dengan kuat, melontarkan raungan kepedihan yang teramat parah.Dia sudah salah dengan teramat parah, salah hingga tidak bisa dimaafkan lagi!Dia membeli seikat bunga krisan putih, lalu berdasarkan alamat yang pernah diucapkan oleh teman sekelasnya dulu, dia berhasil menemukan area pemakaman Shania.Di atas batu nisan tidak tertera foto apa pun

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 20

    Setelah Velen pergi, Yuga membawa pulang semua barang miliknya, menyisakan kesunyian yang memenuhi seisi rumah megah itu.Dia meletakkan foto kematian serta buku harian Shania di atas meja teh ruang tamu, lalu mengeluarkan seluruh persediaan alkohol dari lemari minumannya.Anggur merah, alkohol tradisional, hingga wiski.Apa pun jenis minuman yang bisa mematikan fungsi sarafnya, semua dia keluarkan.Tutup botol minuman berjatuhan ke atas lantai dengan suara "buk, buk". Dia mengambil sebotol alkohol tradisional, lalu menenggaknya dalam sekali tegukan besar langsung dari mulut botol.Cairan yang terasa membakar itu menyengat kerongkongannya, namun tidak mampu meredakan rasa sakit yang merajai lubuk hatinya.Dia menenggak minumannya gelas demi gelas, membuat tumpukan botol kosong di atas lantai kian hari kian bertambah banyak, menumpuk dari ruang tamu hingga ke area balkon.Tumpahan cairan alkohol membasahi lantai di mana-mana, membuat udara di sekelilingnya dipenuhi aroma alkohol yang te

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 19

    Di dalam kamar tidur Shania, gorden tampak tertutup rapat, hanya menyisakan berkas cahaya samar yang menyelinap masuk dari celah kain.Yuga meringkuk di atas lantai sembari mendekap erat buku harian serta foto kematian Shania di dalam pelukannya, sudah tidak bergerak sama sekali selama tiga hari penuh.Selama tiga hari ini, dia tidak makan dan minum, juga tidak tidur ataupun beristirahat, membuat air matanya sudah lama mengering tanpa sisa.Di dalam otaknya terus memutar kembali setiap rekaman gambar dari kamera pengawas, memutar kembali untaian kalimat di dalam buku harian Shania, serta memutar kembali seluruh tindakan kejam yang pernah dilancarkannya kepada Shania.Mendorong gadis itu dari tangga, memaksa lari keliling lapangan sambil menggendong kantong pasir, mendiamkan gadis itu disiram air kotor tanpa berbuat apa-apa ....Setiap kali kenangan itu melintas, rasa sakit di hatinya kian bertambah hebat, seolah-olah hendak mencabik-cabik tubuhnya sampai hancur."Nia ... maaf ...." uca

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 18

    Dia akhirnya paham kenapa Shania tidak pernah lagi membela diri setelah itu.Shania tahu dia tidak akan percaya, tahu bahwa di dalam benak pria itu, dirinya akan selalu menjadi anak dari seorang "pendosa" yang selamanya harus dihukum.Sementara Velen, wanita yang selama ini dia kira lemah lembut dan baik hati.Tidak hanya memfitnah Shania menyontek, bahkan masalah kartu ujian pun ternyata hasil rekayasanya sendiri!Perempuan itu sengaja menyembunyikan sobekan kartu ujian di dalam tas Shania, lalu sengaja menangis di hadapannya sambil bersikap seolah sudah dizalimi oleh Shania.Semua itu karena Velen sudah memperhitungkan bahwa dia membenci Shania, sehingga pasti akan langsung berpihak kepadanya tanpa ragu.Dia ternyata sudah dibodohi oleh Velen selama 10 tahun, bahkan ikut mendorong Shania ke dalam neraka yang lebih dalam!"Velen ...." Yuga mengatupkan giginya kuat-kuat dengan bagian putih mata yang sudah dipenuhi guratan darah, seiring dengan amarah yang bergolak hebat di dalam dada.

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 17

    Dia bahkan buat berdiri saja sudah kesusahan, bahkan sudah tidak punya tenaga untuk sekadar bertahan hidup, bagaimana mungkin dia punya energi buat mencuri dan menyobek kartu ujian?Bagaimana mungkin dia ada pikiran untuk mencelakai Velen?"Aku benar-benar bodoh ...." Yuga mengangkat tangan untuk menangkup wajahnya, nadanya dipenuhi keputusasaan dan penyesalan mendalam.Dia mengeluarkan ponselnya. Jemarinya yang gemetaran membuat dia beberapa kali salah menekan nomor, hingga akhirnya berhasil menghubungi asistennya."Segera cari tahu! Selidiki masalah Shania yang dituduh menyobek kartu ujiannya Velen sebelum ujian kelulusan 10 tahun yang lalu!"Nada suara Yuga terdengar parau, tapi menyiratkan perintah yang tidak boleh dibantah."Periksa rekaman kamera pengawas di rumah Shania dulu. Nggak peduli pakai cara apa pun, kamu harus temukan rekamannya!"Asistennya belum pernah mendengar Yuga berbicara dengan nada seperti ini, sehingga tidak berani menunda dan bergegas menyahut."Baik, Pak Yug

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status