Short
Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan

Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan

By:  ZZCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
22Chapters
3views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Shania Nando dulu merupakan gadis yang paling membuat iri seantero SMA Nogara. Tidak hanya karena wajahnya yang cantik dan prestasinya yang gemilang, tetapi juga karena di belakangnya selalu ada Yuga Adrian. Pria populer sekolah yang bersinar sekaligus pemberontak itu hanya sudi sepenuh hati memanjakan Shania. Mereka sudah berteman dekat sejak kecil, berjanji untuk kuliah di universitas yang sama, bahkan sudah menyiapkan nama untuk anak mereka kelak. Sampai hari itu tiba, saat ayah Yuga dan ibu Shania kepergok tidur bersama dengan pakaian berantakan. Ibu Yuga langsung terguncang hebat saat itu juga, lalu melompat dari balkon hingga darahnya menciprat ke seragam sekolah Yuga yang putih bersih. Hanya dalam semalam, keluarga mereka hancur berantakan. Yuga yang tadinya kesayangan semua orang langsung jatuh ke dalam neraka, tatapan matanya kepada Shania hanya menyisakan kebencian yang menusuk tulang. Yuga membenci Shania, membalas dendam kepadanya, merobek semua foto berdua dan membatalkan janji mereka, lalu menyuruh Shania pergi dari hidupnya. Shania pun pergi sesuai kemauan Yuga, dengan cara yang paling telak, yaitu menghilang selamanya dari dunia Yuga! 10 tahun kemudian, Yuga sudah sukses besar. Kini, di sampingnya ada seorang tunangan yang memiliki latar belakang keluarga sepadan serta berwajah menawan. Sampai suatu hari tanpa sengaja, Yuga kembali ke sekolah lamanya. Di bagian dalam laci meja kelas yang sudah lama terbengkalai, dia menemukan sepucuk surat kematian yang terlambat datang selama bertahun-tahun. Kalimat terakhir di surat itu berbunyi, [Yuga, aku udah nebus dosa pakai nyawaku, sekarang, kamu udah bisa maafin aku, belum?]

View More

Chapter 1

Bab 1

SMA Nogara, jam pelajaran olahraga kelas tiga.

Guru olahraga sedang ada urusan mendadak, jadi dia menyuruh ketua kelas pelajaran olahraga untuk mengorganisasi kegiatan.

Alhasil, beberapa pria di kelas yang suka merundung Shania mulai beraksi kembali menjalankan "rutinitas" mereka.

"Shania, sini! Gendong kantong pasir ini, terus lari keliling lapangan! Nggak boleh berhenti sebelum jam pelajaran selesai!" Ketua kelas pelajaran olahraga menunjuk kantong pasir militer yang berat di lantai dengan nada ketus.

Shania menghampiri tanpa sepatah kata pun untuk membantah, lalu dengan susah payah menggendong beban berat itu dan mulai melangkah ke lintasan lari.

Sejak kejadian itu, satu kelas, bahkan satu sekolah, hampir semua orang memakai cara seperti ini untuk melampiaskan kekesalan Yuga.

Keringat langsung membasahi seragamnya, poni di dahinya menempel di wajah yang pucat, dan parunya terasa sakit berderit seperti kipas angin rusak. Tepat di saat dia merasa akan mati megap-megap di detik berikutnya, sudut matanya menangkap pemandangan di bawah rindangnya pohon di pinggir lapangan.

Yuga sedang bersandar di pohon beringin, postur tubuhnya masih kelihatan keren dan tegap.

Sedangkan di pelukannya, ada pacar barunya yang sedang bersandar manja, Velen Sintia.

Velen tidak tahu sedang membicarakan apa sampai membuat sudut bibir Yuga agak terangkat, Yuga tertawa kecil lalu menoleh untuk mengecup bibir perempuan itu pelan.

Sinar matahari yang menembus celah dedaunan jatuh berbercak-bercak di tubuh mereka, kelihatan indah sekali seperti lukisan, tapi detik itu juga langsung membuat mata Shania perih.

Jantungnya rasanya seperti diremas kuat oleh tangan tidak kasat mata, sempat berhenti berdetak sedetik, rasa sakitnya membuat dia hampir limbung lalu terjatuh.

Dulu, orang yang berdiri di samping pria itu dan menikmati semua kelembutan serta kebaikan Yuga adalah dia, Shania.

Mereka tumbuh besar bersama sebagai teman masa kecil.

Yuga adalah idola sekolah, impian yang tidak akan bisa digapai oleh semua perempuan di SMA Nogara, tetapi di hati pria itu hanya ada Shania seorang.

Yuga akan membawakan dia susu hangat setiap hari, begadang demi merapikan catatan untuk Shania. Saat perut Shania sakit sampai mengeluarkan keringat dingin karena datang bulan, Yuga akan dengan canggung mengusap perutnya sambil memasang muka galak mengancam tidak boleh sering-sering makan es.

Mereka berjanji mau masuk universitas yang sama, bahkan sudah menyiapkan nama untuk anak mereka nanti, yang satu ikut marga Adrian dari Yuga, yang satu lagi ikut marga Nando dari Shania.

Yuga pernah menangkup wajahnya dengan tatapan mata yang berbinar seperti bintang, lalu bilang, "Nia, di setiap langkah rencana masa depanku, selalu ada kamu."

Namun, semua ini hancur berkeping-keping di satu siang yang memuakkan itu.

Ayah Yuga dan ibu Shania tidur bersama.

Sialnya, kejadian ini langsung dipergoki oleh ibu Yuga. Tidak lama setelah itu, ibu Yuga bunuh diri.

Kemudian ayah Yuga juga kabur membawa ibu Shania setelah skandal mereka terbongkar.

Hanya dalam semalam, Yuga kehilangan segalanya. Luapan kebenciannya tidak tahu harus ditumpahkan ke mana, sehingga dia benar-benar membenci Shania.

Sama seperti sekarang, Yuga jelas-jelas melihat Shania yang berjalan sempoyongan, berantakan, dan hampir pingsan, tapi dia hanya memasang senyum ejekan yang dingin, lalu memeluk Velen lebih erat lagi.

Senyuman itu rasanya seperti pecahan es beracun yang menusuk tepat ke hati Shania.

Shania paham dengan kebencian pria itu.

Tetapi ... kalau keluarga Yuga hancur, keluarga dia juga sudah tidak ada.

Dia juga sama-sama kehilangan ibu satu-satunya.

Di belakang mereka, sekarang sama-sama sudah tidak ada siapa-siapa lagi.

Shania sakit sekali sampai hampir tidak bisa berdiri tegap, tapi dia tetap menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa anyir darah, memaksa dirinya untuk bangun dan melanjutkan lari seperti robot.

Begitu bel tanda pelajaran selesai berbunyi layaknya sebuah pertolongan, Shania baru ambruk ke tanah seolah semua tenaganya sudah dikuras habis.

Dia berusaha merangkak ke bawah bayangan tiang basket, hanya ingin bernapas sebentar.

Namun, Velen malah datang menghampiri sambil membawa sebotol air mineral dan tersenyum manis.

"Shania, udah lari lama banget, pasti gerah, 'kan? Sini aku bantu ademin."

Sambil berbicara begitu, dia membalikkan pergelangan tangannya, lalu sebotol air mineral dingin langsung disiram dari atas kepala Shania!

"Ah!"

Shania kaget setengah mati karena kedinginan, airnya masuk ke mata sampai terasa perih dan sepat, rambutnya yang basah kuyup menempel di wajah, membuatnya makin kelihatan mengenaskan.

Velen membungkuk, lalu dengan suara yang cuma bisa didengar mereka berdua, dia memprovokasi dengan nada manis tetapi kejam, "Gimana? Menderita banget, 'kan? Lagian siapa suruh kamu punya ibu pelacur yang pintar banget goda orang? Kalau bukan karena ibumu, mana mungkin Yuga kehilangan kedua orang tuanya sekaligus? Ibumu sih enak ya, kabur bareng pria, terus ninggalin kamu ... kamu harus nebus dosa buat ibumu, tebus dosa selamanya!"

Shania memejamkan mata, membiarkan aliran air bercampur keringat menetes dari pipinya.

Dia tidak punya tenaga untuk berdebat, tidak punya kekuatan juga untuk melawan, hanya bisa pasrah menerima hinaan yang datang bertubi-tubi ini.

Begitu Velen selesai berbicara, Shania bertumpu memakai tangannya ke tanah, berniat bangun untuk pergi dari tempat yang membuat sesak napas ini.

Tepat di saat itu ....

"Krieeet!"

Tiang basket raksasa di samping mereka tiba-tiba goyang tanpa ada tanda-tanda apa pun, lalu langsung roboh ke arah mereka!

Hampir di waktu yang bersamaan, sebuah bayangan tegap melesat cepat dari arah samping!

Itu Yuga!

Raut wajahnya kelihatan panik dan cemas yang tidak pernah sekhawatir itu sebelumnya. Tujuannya jelas, tanpa ragu sedikit pun dia langsung menerjang Velen, mendekap perempuan itu erat-erat dalam pelukannya, lalu dengan posisi melindungi penuh, dia berguling cepat ke area aman yang jaraknya beberapa meter!

Hampir berbarengan dengan itu ....

"Braakkk!!!"

Tiang basket besar itu ambruk keras, kerangka besinya menghantam kaki dan tubuh Shania dengan telak!

"Kreeek."

Suara tulang retak terdengar jelas sekali.

Rasa sakit yang luar biasa langsung menyerang seluruh sarafnya, pandangan Shania menggelap, dia sakit sekali sampai hampir pingsan, tapi di tengah pandangannya yang kabur itu, dia bisa melihat dengan jelas ....

Yuga sedang memeluk Velen yang masih syok, berdiri di tempat yang aman sambil melihat dia diam saja.

Tatapan mata Yuga sempat tertuju ke kakinya yang luka parah mengenaskan, ada kilatan emosi yang samar sekali dan susah ditangkap, tetapi di detik berikutnya, emosi itu langsung tertutup oleh tatapan yang lebih dingin dan penuh kebencian.

Yuga tidak maju mendekat.

Tidak bertanya apa-apa.

Bahkan tidak berbicara sepatah kata pun.

Dia hanya melihat Shania untuk terakhir kalinya dengan tatapan dingin, kemudian tanpa ragu sedikit pun langsung balik badan, menggandeng tangan Velen dan pergi begitu saja.

Seolah-olah Shania hanya seekor kucing liar di pinggir jalan yang tertabrak mobil dan tidak penting sama sekali.

Shania menatap punggung Yuga yang pergi tanpa perasaan, luka robek di hatinya rasanya seperti ditusuk lagi kuat-kuat, membuat dia sampai susah bernapas karena saking sakitnya.

Pria itu benar-benar tidak mau ... berbicara dengan dia lagi, ya?

Padahal dia sudah sampai seperti ini, terkapar bersimbah darah di sini ....

Mereka ... benar-benar sudah tidak bisa kembali seperti dulu lagi, ya?

Sebelum kesadarannya benar-benar tenggelam dalam kegelapan, bayangan terakhir yang terlintas di otaknya adalah kejadian di siang itu, waktu Yuga memeluk mayat ibunya yang sudah dingin dengan tubuh penuh darah, sambil menatap Shania memakai mata yang merah padam penuh kebencian mendalam, lalu berbicara dengan penuh penekanan.

"Iya, Shania, kita nggak bisa balik kayak dulu lagi."

....

Saat bangun lagi, dia sudah ada di kamar rawat rumah sakit dengan bau menyengat cairan disinfektan.

"Anda udah sadar?" Suster sedang mencatat sesuatu, "Bagus deh kalau udah sadar, cepat kabari orang tua Anda buat datang ke sini."

Shania melihat sekelilingnya dengan bingung, suaranya parau, "Saya kenapa?"

Dokter yang memakai jas putih masuk, lalu menatap Shania dengan muka serius, "Shania, hasil pemeriksaan Anda yang tadi udah keluar. Anda ... kena kanker lambung, udah stadium akhir. Harus segera kabari orang tua Anda, kita perlu secepatnya diskusiin rencana pengobatan Anda."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
22 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status