LOGIN"Apa kamu bilang? Dia kerja di perusahaan kita?" teriak Adrian sembari menggebrak meja di depannya.
Selepas meninggalkan kamar yang menjadi saksi bisu di saat harga dirinya hancur, Adrian segera mencari tahu identitas dari wanita yang menghabiskan satu malam panas bersamanya. Untuk seorang Adrian Sachdev, pemimpin Sachdev Grup yang tersohor serta memiliki kekayaan melimpah ruah hingga tak habis tujuh turunan, tentu saja mencari keberadaan seseorang sangatlah mudah seperti mencari emas di tumpukan berlian. Tak perlu waktu lama, dia menemukan wanita itu dan begitu terkejut saat mengetahui bahwa wanita itu adalah pegawainya sendiri. Adrian benar-benar telah menjilat ludahnya sendiri. Sejak ia bertekad ingin membangun perusahaan Sachdev, Adrian pernah bersumpah tidak akan memiliki affair dengan pegawai maupun partner kerjanya. Dan ia menepati sumpahnya itu selama beberapa tahun. Tetapi kenapa di awal tahun 2021 ini, sumpahnya itu menusuk dirinya sendiri? Sial. Ini semua gara-gara Kilaara—Ara atau siapalah itu, Adrian tak peduli. Dia harus memberi pelajaran pada wanita itu karena telah menghancurkan pendirian kokohnya. "Iya kak. Udah aku cari berulang kali di data perusahaan kita kalo nama 'Ara' itu cuma satu," jawab Reno, adik kandung Adrian yang sedang magang di kantornya. "Lagian kakak ajak aku ke kantor pagi-pagi cuman buat nyari tuh cewek? Ya elah kak, kakak kan gak pernah cari cewek kek gini. Memangnya dia berbuat apa sih?" "Jaga mulutmu Reno. Dia bukan cewek seumuran kamu, melainkan dia wanita yang lebih tua dari kamu." Adrian berdiri dari kursinya, kemudian berjalan menuju kaca yang menunjukkan langit kekuningan sebab matahari baru muncul ke permukaan. "Ketimbang itu, darimana ide kamu buat cari dia di perusahaan kita?" "Mudah aja dong kak. Kakak kan abis ngadain party semalem, dan semua yang diundang juga pegawai kakak semua. Pasti cewek—eh perempuan itu salah satu dari pegawai kakak lah. Clue-nya gak ada yang lebih susah lagi kah?" Kening Reno segera diketuk pelan oleh Adrian memakai pulpen. Adiknya ini memang sok hebat, tetapi sebenarnya itulah kelebihannya. Adrian lalu mengambil jasnya yang tersampir di punggung kursi dan memakainya dalam gerakan elegan. Reno enggan mengakuinya, tapi dia tak bisa menampik kalau kakaknya terlalu ganteng dan sempurna meski t'lah menyandang status duda. Tak sedikit wanita yang masih mengejar cinta maupun harta dari kakaknya ini. "Kakak mau kemana?" "Kantor cabang tempat wanita itu bekerja. Aku mau melihat langsung gimana reaksinya saat melihatku," jawab Adrian sembari menyeringai. Reno merinding sendiri melihag seringaian sinis itu. Dia paham betul dengan tabiat kakaknya yang memiliki harga diri setinggi langit. "Kakak yakin? Padahal menurut aku, lebih baik kakak gak ketemu lagi sama dia. Kalau dia minta tanggung jawab kakak gimana?" Adrian kembali memukul pelan kepala Reno, "kalau dia begitu, gak akan mungkin dia sudah kabur subuh-subuh. Ayo pergi sekarang, kamu yang nyetir mobilnya." Reno mencebikkan mulutnya, "kok aku terus sih yang nyetir? Kakak kan ada sopir pribadi tuh!" "Cerewet kamu Ren. Itu kancing kemeja jangan lupa dikancingin. Mirip berandalan kamu kayak gitu," kata Adrian sambil berjalan mendahului adiknya. Reno segera melakukan apa yang Adrian suruh demi menghindari ocehan kakaknya lebih banyak lagi. Adrian sebenarnya tidak cerewet, tetapi kalau ucapannya dibantah, aura bapak-bapaknya keluar. "Kakak gak jengukin Imo? Sudah hampir sebulan lho kakak gak balik ke rumah." "Bukannya Imo baik-baik saja diurus sama Mama Papa? Aku juga sudah kasih uang yang cukup banyak buat jajannya," balas Adrian acuh tak acuh. Reno mengernyitkan dahinya, "bukan itu maksud aku sih kak. Dia sudah lama gak lihat Papanya. Imo pasti kangen sama kakak." "Dia sudah besar. Jadi gak akan mungkin kangen sama ayahnya." Jawaban Adrian membuat Reno meringis sedih. Padahal dia tahu betul kalau Imo sering mengadu padanya bahwa bocah itu sangat merindukan Adrian. Adrian yang jarang pulang pun menjadi kado terindah bagi Imo. Imo memang senang setiap dibelikan mainan oleh Papanya, tetapi Imo lebih bahagia saat memeluk Adrian dengan tangan mungilnya. Namun sayang, sampai detik ini, Adrian masih berpikiran bahwa penyebab meninggal istrinya adalah karena melahirkan Imo. Adrian menyayangi anaknya namun di satu sisi, ia juga membenci Imo. Adrian tidak tahu bagaimana harus melupakan dan menghilangkan rasa benci ini. Adrian mungkin bisa memaafkan anaknya jika istrinya masih ada di sampingnya saat ini.Kilaara merasakan sesuatu benda basah yang sedang menjilati bagian leher belakangnya. Ia melenguh tak nyaman sebab tidur lelapnya terganggu karena itu. Kilaara menepis benda basah itu dan menamparnya keras. Ia pun kaget saat mendengar suara pekikan sakit dari seseorang setelahnya. Kilaara spontan membuka mata dan menoleh ke belakang. Ia melihat Adrian sedang meringis sambil memegang wajahnya. "Maaf Sayang. Aku refleks." Kilaara membalikkan badan dan mengusap wajah suaminya, "sakit ya?" "Lumayan." Adrian terkekeh pelan, "padahal kamu lagi tidur, tapi tenaga kamu masih kuat aja ya Yang." "Hehehehe. Aku kira tadi ada apaan basah-basah di leher. Kirain ada lintah—secara kan deket sama kebun, makanya aku takut." Kilaara bangkit dari posisinya. "Memangnya sering ada lintah sampai masuk kamar?" tanya Adrian sambil mengernyitkan dahinya. "Dulu pas aku masih kecil sering, entah kalo sekarang. Makanya aku agak trauma," kata Kilaara mengusap lengan Adrian yang memang dia ti
Rasanya begitu tenang. Lancar. Tanpa hambatan dan rintangan. Setidaknya itulah yang dirasakan Kilaara tentang proses menuju pernikahannya dengan Adrian. Semuanya berjalan dengan baik seolah memang dipermudah oleh Sang Pencipta. Apakah mungkin memang beginilah sepatutnya jika kita bertemu jodoh sejati? Kedua keluarga masing-masing setuju, teman-teman setuju, hingga orang lain pun ikutan senang melihat mereka bersama. Hanya berselang dua hari sejak kedatangan Adrian, Halimah dan Jonathan, beserta Reno, anak kedua mereka, lalu yang terakhir yang tak kalah pentingnya, Imo, menyusul ke rumah Kilaara di Jombang. Keluarga Adrian pun melamar Kilaara secara resmi. Setelah menentukan tanggal baik untuk melangsungkan pernikahan—yang diadakan pada bulan Januari 2023, hanya berselang satu minggu setelah lamaran mereka diterima oleh keluarga Kilaara—akhirnya hari ini Adrian dan Kilaara telah resmi menjadi suami istri. Pesta pernikahan mereka berdua diadakan di sebuah lapang
"Ra, Ara, bantuin Ibuk ke belakang ya." Ningsih menyenggol sikut Kilaara. "Lho sekarang buk? Tapi kan bapak sama Adrian lagi ngobrol seru gitu," ujar Kilaada tak paham. Namun setelah diberi isyarat kedipan mata oleh Ningsih, ia pun akhirnya mengerti. Ibu tirinya itu ingin membicarakan sesuatu yang lebih private. "Ayo buruan." Ningsih yang tak sabaran langsung menarik tangan Kilaara hingga wanita itu sontak berdiri. Adrian yang kaget melihat pergerakan mendadak itu menoleh dan memandang Kilaara dengan alis berkerut. "Kami ke dapur dulu, buat masak makan malem nanti." Kilaara seolah tahu apa yang ada di pikiran Adrian sehingga dia bicara lebih dulu sebelum pria itu menanyakannya. "Betul. Kami mau masak. Kalian ngobrol dulu ya." Ningsih tersenyum canggung, lalu menepuk pundak suaminya, "Pak jangan dimarahin ya calon mantuku," lanjutnya. Hartono hanya memasang muka datar setelah mendengar ucapan Ningsih. Ternyata istrinya sudah memberikan kode kalau dia setuju Kila
Kilaara susah payah menjelaskan kepada orang tuanya, bagaimana idealnya Adrian menjadi calon suami idaman. Bagi Kilaara, Adrian telah memenuhi semua kriteria yang ia dambakan selama ini; tampan, mapan, dan penyayang. Terlebih lagi, Adrian sudah dewasa, dan maksud dewasa di sini, ialah dia mampu mengendalikan emosi saat marah dan tidak mengedepankan ego saat menghadapi masalah.Namun di mata bapak maupun ibunya, kekurangan terbesar Adrian adalah statusnya sebagai duda. Oke, si bapak tidak masalah kalau Adrian itu duda tanpa anak. Namun sayangnya, Adrian sudah memiliki buntut satu. Tentu saja orang tuanya menolak mentah-mentah.Kamu baru nikah tapi sudah ngurus anak? Anak orang lagi?!Apa kata tetangga nanti? Kamu pasti dicap orang sebagai gadis matre yang hanya mengincar harta saja.Tuh laki cuma mau manfaatin kamu aja buat jagain anaknya. Mau jadi babysitter gratis hah?Gimana kalau mantan istri pertamanya cari ribut sama kamu?Kilaara dicecar berbagai pertanyaan intimidasi yang terde
Bagi Kilaara, keluarganya hanya keluarga yang biasa-biasa saja. Bapaknya petani padi, ibu tirinya adalah ibu rumah tangga biasa yang membuka toko kelontong di rumah mereka. Ibu kandungnya meninggal saat dia kelas delapan. Setahun dari ibunya wafat, bapaknya menikah lagi dengan janda beranak satu laki-laki yang berusia tiga tahun lebih muda dari Kilaara. Hasil pernikahan bapaknya dan ibu tirinya juga mendapatkan satu anak perempuan. Tidak seperti ibu tiri di sinetron, ibu tiri Kilaara justru sangat sayang padanya. Dia baik dan lembut. Bahkan ibu tirinya yang sering membela Kilaara kalau si bapak sedang memarahinya. Maka dari itu, Kilaara bersyukur memiliki ibu tiri yang selayaknya ibu kandung. "Jadi kamu anak pertama di keluargamu?" tanya Adrian. "Ya betul. Kata bapak sih dulu aku punya kakak laki-laki, tapi dia meninggal pas masih bayi." Kilaara menunjukkan foto lain dari keluarganya. "Nah ini foto yang paling terbaru, tapi aku gak ada karena waktunya gak cocok.
Meskipun Adrian hanya menceritakan secara garis besarnya saja, namun Kilaara masih tidak yakin kalau wanita di dalam cerita itu adalah dirinya. Adrian menggambarkan sosok Ara dalam ceritanya adalah wanita yang agresif, dominan, dan liar. "Kamu yakin itu aku?" tanya Kilaara sekali lagi. Entah sudah berapa kali dia menanyakan hal yang sama. "Ya ampun Sayang. Iya itu kamu. Kamu bilang namamu Ara. Lagipula aku gak mungkin lupa dengan wajah kamu. Aku gak mabuk malam itu," ujar Adrian sembari membasahi lengan Kilaara dengan air. Sudah dua puluh menit terlewati, namun mereka masih betah bergumul di dalam bathtub. "Hmmm..." Kilaara menaruh busa sabun ke hidung Adrian, "ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Sudah terjadi, tidak bisa diulangi lagi." "Apa kamu menyesal?" tanya Adrian. Meski pertanyaannya tidak detail, tapi Kilaara paham maksudnya. "Nyesal?" ulang Kilaara, dan Adrian mengangguk, "ya gak lah! Ngapain? Malah aku bersyukur karena dapetin kamu. Hehhe, gak munafik
Awalnya respon mereka hanya diam. Melongo. Terbelalak, tak percaya. Namun selang beberapa detik kemudian, Adrian harus siap menerima serangan pukulan dari sang Mama. Plak! Plak! Plak! Begitulah bunyinya. Terasa pedas di kulit punggung, lengan, dan tangan Adrian. "Ampun Ma! Sakit!" keluh
Kilaara menatap foto hasil USG tiga dimensi di tangannya. Tanpa sadar, ia tersenyum hangat menatap calon anaknya yang masih sangat kecil itu. Usianya baru delapan minggu tiga hari, namun sudah terdengar detak jantungnya dan beberapa organ tubuhnya juga sudah tercipta. Jika satu bulan itu empat
Kilaara hamil. Adrian sangat yakin itu. Hubungannya bersama Kilaara sudah berjalan hampir tiga bulan, dan selama mereka bercinta, Adrian tidak pernah menggunakan pengaman. Adrian memang paling tidak suka menggunakan kondom, karena ia juga tidak pernah jajan sembarangan. Adrian paling
Sesampainya Adrian di kantor, Kilaara ternyata sudah membersihkan diri dengan mandi di kamar pribadi dalam ruang kerja sang CEO dan berganti pakaian milik Adrian. Namun, wanita itu tidak memakai bra karena memang tidak ada. Bahkan untuk celana dalam saja, Kilaara rela meminjam punya Adrian m







