Share

Part 5 - Bos Pelit

Author: Atika
last update publish date: 2026-05-21 13:33:31

Kilaara membatu.

Tepat di depannya kini, tengah berdiri seseorang yang paling menakutkan baginya. Apalagi sekarang, Kilaara merasa tatapan sinis dan geraman rendah dari suara seksi yang berasal dari pria itu, tertuju spesial untuknya.

Hati Kilaara mendadak berdesir melihat pria itu, namun bukannya berdesir karena jatuh hati, melainkan rasa takut. Yang benar saja, pahanya bergetar lirih saking ingin kabur dari lantai yang ia pijak saat ini.

"Se-selamat pagi Pak Adrian," gagap Kilaara sembari menundukkan kepalanya dengan sopan. Dalam hati, dia berdoa dan berharap jika Adrian tidak menyadari betapa kusut penampilannya.

Dibandingkan dengannya, sosok Adrian berhasil membuatnya terpukau. Kilaara akui, bosnya yang berstatus duda tampan ini memiliki kharisma yang luar biasa. Padahal Adrian hanya diam saja, tetapi auranya itu lho meluap-luap sampai tumpah.

"You look different," ucap Adrian lirih sehingga Kilaara susah mendengarnya.

"Hah?" Kilaara spontan menutup mulutnya. Bodoh! Bodoh! Kenapa bisa keceplosan sih? Ia pun langsung meneguk ludah kala Adrian melihatnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mungkin sebentar lagi, ia akan disemprot oleh mulut kejam bosnya perihal pakaiannya yang semrawut ini.

Namun ternyata, perkiraan Kilaara salah besar. Adrian justru melewatinya begitu saja seolah dia tidak melihat Kilaara di sampingnya. Melihat itu, Kilaara sontak mengembuskan napas lega. Rasanya beban berat seketika terangkat dari pundaknya.

Ia tersenyum lebar memandangi punggung Adrian yang mulai menjauh, diikuti dengan adik kandungnya, Reno, dari belakang. Mereka berdua mungkin ingin menemui manajer kantor cabang yang telah menunggu mereka dari luar pintu dengan muka pucat. Tak beda dengan manajer, beberapa pegawai yang menyambut Adrian juga terlihat kaku.

Kelihatan sekali bukan betapa besarnya kuasa Adrian di sini?

Leo segera mendekati Kilaara saat para atasan memasuki ruangan manajer. Ia memukul lengan Kilaara dengan heboh seakan baru terkejut dengan kejadian aneh.

"Sumpah demi apa?! Pak Adrian sama sekali gak permasalahin baju lo yang kusut ini?!" Leo menarik ujung pakaian Kilaara.

"Gue juga gak nyangka. Apa di kehidupan sebelumnya gue sudah menyelamatkan negara?" Kilaara menutup mulutnya haru dengan kedua tangan. Pertanyaan itu dijawab oleh Leo dengan jitakan di kepalanya.

"Gak usah lebay deh lo. Untung aja Pak Adrian gak peduli sama lo. Kalo gak, udah kena depak lo dari Sachdev Grup!"

"Ya iyalah ngapain beliau harus peduli sama gue!" Kilaara menoyor kening Leo meskipun temannya itu jauh lebih tinggi daripada dia, "udahlah, ngabisin waktu aja ngobrol sama lo. Gue mau balik ke meja gue. Bye!" Kilaara pergi dengan langkah manja yang dibuat-buat hingga membuat Leo bergidik jijik.

Meskipun kelakuan temannya agak nyeleneh, Leo tetap sayang sama Kilaara.

****

Suasana hati Kilaara baik-baik saja sebelum manajernya mendadak saja mengajak seluruh staf untuk rapat. Rapat tersebut dipimpin dan dipantau langsung oleh sang CEO yang kebetulan belum pergi juga sejak pagi tadi.

Kedatangannya saja sudah membuat geger satu kantor, sekarang beliau mengajak rapat pula? Demi wajahnya yang tampannya diluar nalar itu, Kilaara tidak bisa menebak apa tujuan CEO datang ke kantor cabang yang sering diabaikan ini.

Jujur saja, Kilaara bahkan tak ingat kapan Adrian datang terakhir kali kemari. Mungkin saat peresmian kantor dibuka beberapa tahun lalu-yang berarti Kilaara belum bekerja di Sachdev Grup. Fakta itu menunjukkan bahwa Adrian sama sekali tak menyentuh kantor mereka setelah sekian lama.

Tentu saja Kilaara paham soal itu, karena beliau memiliki banyak perwakilan yang bisa datang kemari demi menggantikan CEO super sibuk dengan pekerjaan segunungnya.

Kalau dipikir-pikir lagi memang sungguh aneh. Apalagi rapat yang berlangsung sejak pukul sepuluh pagi hingga hampir memasuki jam makan siang ini bisa dibilang rapat paling mencekam yang pernah terjadi di hidupnya.

Kilaara merasa sorot mata Adrian sering tertuju padanya tanpa alasan. Ketika mata mereka bertemu, Adrian langsung melengos ke arah lain atau berpura-pura seakan tidak terjadi apapun.

"Ra.. sst.. Ra."

"Eh." Kilaara sontak mengerjap ketika lengannya disikut oleh Nusi, staf bagian administrasi yang duduk di sampingnya.

Mata Kilaara dengan cepat mengelilingi satu per satu anggota rapat yang tengah memandangnya dengan tatapan tak percaya. Ia pun segera mengerti situasi saat ini, yang mana hidupnya bergantung pada keputusan Adrian.

"Kamu melamun saat rapat?" Suara Adrian membuat Kilaara meneguk ludah.

Kilaara menegakkan punggungnya kaku, "Tidak Pak. Saya hanya membayangkan realisasi atas solusi permasalahan sebelumnya di lapangan, Pak." Kilaara menjawab tanpa gugup sehingga jawaban yang barusan ia lontarkan tidak terlihat ngawurnya.

Padahal dia hanya melamun selama dua menit-tiga menit paling lama, tetapi kenapa Adrian sudah menyadarinya. Padahal Kilaara hanyalah sebutir debu bila dibandingkan para atasan yang berada di kanan dan kiri Adrian?

Adrian menaikkan sebelah alisnya, membuat wajahnya yang tampak sinis menjadi lebih sinis lagi. Tanpa diminta, bulu kuduk Kilaara terasa merinding. Dia menjadi lebih takut pada CEO yang berstatus duda seksi itu.

"Saya minta kamu fokus ke rapat ini meskipun mungkin kamu kurang tidur semalam," kata Adrian dengan tegas sebelum menyuruh yang lain membacakan laporan di tangannya.

Kilaara tidak menjawab ucapan tersebut, namun dia menganggukkan kepala dengan sopan sebagai respon. Ia tersenyum canggung ke arah Leo yang seperti akan menertawainya. Memang dia teman jahanam, selalu bahagia di atas penderitaan orang lain.

Tetapi Kilaara sudah sadar kalau jawabannya tadi memang terdengar ngaco. Untung saja Adrian tidak bertanya macam-macam lagi.

Ketika menit-menit terakhir rapat akan usai, pintu ruangan diketuk pelan dari luar. Walaupun Adrian belum memberikan izin masuk, namun orang yang mengetuk pintu sudah lebih dulu membukanya. Sontak semua orang menoleh ke arah suara.

"Kak-eh Pak. Ada ojol anterin makanan. Bapak yang pesan ya?"

Kilaara mendesah lega setelah mengetahui orang dibalik pintu tersebut adalah adik kandung dari CEO mereka, Reno, yang sedang magang di perusahaan ini sebagai tugas kuliahnya. Kalau bukan, mungkin saja Adrian akan memecatnya karena sudah bertindak tidak sopan.

"Ya, suruh dia tunggu di luar." Adrian mengeluarkan dompetnya dari balik jas mahalnya. "Kamu. Kemari."

Kilaara membelalakkan matanya saat Adrian menunjuk tepat ke arahnya. "Saya Pak?"

"Iya kamu. Tolong kamu bayar dulu ojeknya," kata Adrian mengeluarkan sejumlah uang, "itu untuk makan siang kalian."

Raut wajah teman-temannya mendadak cerah kala mendengar makan siang itu. Apalagi ini dibayarin langsung oleh bos sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan uang lagi buat makan hari ini. Kilaara juga ikutan senang sih, tapi dia terus bertanya-tanya dalam hati, kenapa harus dia yang membayar ke ojek online itu? Kilaara ingin menanyakannya langsung, tapi dia juga tak berani membantah perintah atasan.

"Baik Pak." Kilaara berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kursi Adrian yang berada di ujung tengah meja. Well, dia adalah bos.

"Ini uangnya." Adrian memberikan tiga lembar uang seratus ribu rupiah yang agak leceh seolah habis diremuk dengan keras, lalu dirapikan kembali seadanya.

Kilaara diam-diam membatin heran, orang seperti CEO punya uang selecek itu? Lagipula kenapa harus bayar tunai sih? Rachel Vennya saja punya saldo di aplikasi sampai satu juta lebih. Masa' Pak Adrian yang uangnya tak berseri itu tidak punya?

"Bilang ke driver-nya, kembaliannya simpan saja."

Entah kenapa, Kilaara merasakan sarkastik dari nada bicara Adrian. Ditambah lagi, senyuman miring yang seolah-oleh sedang mengejeknya secara langsung.

Yang Kilaara pikirkan adalah CEO mereka ini memesan apa sampai-sampai uang tiga ratus ribu rupiah saja masih ada kembaliannya? Jangan-jangan, cuman nasi tempe harga sepuluh ribuan? Ya ampun, Kilaara tidak mengira kalau Adrian termasuk bos yang pelit.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 38

    Kilaara merasakan sesuatu benda basah yang sedang menjilati bagian leher belakangnya. Ia melenguh tak nyaman sebab tidur lelapnya terganggu karena itu. Kilaara menepis benda basah itu dan menamparnya keras. Ia pun kaget saat mendengar suara pekikan sakit dari seseorang setelahnya. Kilaara spontan membuka mata dan menoleh ke belakang. Ia melihat Adrian sedang meringis sambil memegang wajahnya. "Maaf Sayang. Aku refleks." Kilaara membalikkan badan dan mengusap wajah suaminya, "sakit ya?" "Lumayan." Adrian terkekeh pelan, "padahal kamu lagi tidur, tapi tenaga kamu masih kuat aja ya Yang." "Hehehehe. Aku kira tadi ada apaan basah-basah di leher. Kirain ada lintah—secara kan deket sama kebun, makanya aku takut." Kilaara bangkit dari posisinya. "Memangnya sering ada lintah sampai masuk kamar?" tanya Adrian sambil mengernyitkan dahinya. "Dulu pas aku masih kecil sering, entah kalo sekarang. Makanya aku agak trauma," kata Kilaara mengusap lengan Adrian yang memang dia ti

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 37

    Rasanya begitu tenang. Lancar. Tanpa hambatan dan rintangan. Setidaknya itulah yang dirasakan Kilaara tentang proses menuju pernikahannya dengan Adrian. Semuanya berjalan dengan baik seolah memang dipermudah oleh Sang Pencipta. Apakah mungkin memang beginilah sepatutnya jika kita bertemu jodoh sejati? Kedua keluarga masing-masing setuju, teman-teman setuju, hingga orang lain pun ikutan senang melihat mereka bersama. Hanya berselang dua hari sejak kedatangan Adrian, Halimah dan Jonathan, beserta Reno, anak kedua mereka, lalu yang terakhir yang tak kalah pentingnya, Imo, menyusul ke rumah Kilaara di Jombang. Keluarga Adrian pun melamar Kilaara secara resmi. Setelah menentukan tanggal baik untuk melangsungkan pernikahan—yang diadakan pada bulan Januari 2023, hanya berselang satu minggu setelah lamaran mereka diterima oleh keluarga Kilaara—akhirnya hari ini Adrian dan Kilaara telah resmi menjadi suami istri. Pesta pernikahan mereka berdua diadakan di sebuah lapang

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 36

    "Ra, Ara, bantuin Ibuk ke belakang ya." Ningsih menyenggol sikut Kilaara. "Lho sekarang buk? Tapi kan bapak sama Adrian lagi ngobrol seru gitu," ujar Kilaada tak paham. Namun setelah diberi isyarat kedipan mata oleh Ningsih, ia pun akhirnya mengerti. Ibu tirinya itu ingin membicarakan sesuatu yang lebih private. "Ayo buruan." Ningsih yang tak sabaran langsung menarik tangan Kilaara hingga wanita itu sontak berdiri. Adrian yang kaget melihat pergerakan mendadak itu menoleh dan memandang Kilaara dengan alis berkerut. "Kami ke dapur dulu, buat masak makan malem nanti." Kilaara seolah tahu apa yang ada di pikiran Adrian sehingga dia bicara lebih dulu sebelum pria itu menanyakannya. "Betul. Kami mau masak. Kalian ngobrol dulu ya." Ningsih tersenyum canggung, lalu menepuk pundak suaminya, "Pak jangan dimarahin ya calon mantuku," lanjutnya. Hartono hanya memasang muka datar setelah mendengar ucapan Ningsih. Ternyata istrinya sudah memberikan kode kalau dia setuju Kila

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 35 - END Season 1

    Kilaara susah payah menjelaskan kepada orang tuanya, bagaimana idealnya Adrian menjadi calon suami idaman. Bagi Kilaara, Adrian telah memenuhi semua kriteria yang ia dambakan selama ini; tampan, mapan, dan penyayang. Terlebih lagi, Adrian sudah dewasa, dan maksud dewasa di sini, ialah dia mampu mengendalikan emosi saat marah dan tidak mengedepankan ego saat menghadapi masalah.Namun di mata bapak maupun ibunya, kekurangan terbesar Adrian adalah statusnya sebagai duda. Oke, si bapak tidak masalah kalau Adrian itu duda tanpa anak. Namun sayangnya, Adrian sudah memiliki buntut satu. Tentu saja orang tuanya menolak mentah-mentah.Kamu baru nikah tapi sudah ngurus anak? Anak orang lagi?!Apa kata tetangga nanti? Kamu pasti dicap orang sebagai gadis matre yang hanya mengincar harta saja.Tuh laki cuma mau manfaatin kamu aja buat jagain anaknya. Mau jadi babysitter gratis hah?Gimana kalau mantan istri pertamanya cari ribut sama kamu?Kilaara dicecar berbagai pertanyaan intimidasi yang terde

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 34

    Bagi Kilaara, keluarganya hanya keluarga yang biasa-biasa saja. Bapaknya petani padi, ibu tirinya adalah ibu rumah tangga biasa yang membuka toko kelontong di rumah mereka. Ibu kandungnya meninggal saat dia kelas delapan. Setahun dari ibunya wafat, bapaknya menikah lagi dengan janda beranak satu laki-laki yang berusia tiga tahun lebih muda dari Kilaara. Hasil pernikahan bapaknya dan ibu tirinya juga mendapatkan satu anak perempuan. Tidak seperti ibu tiri di sinetron, ibu tiri Kilaara justru sangat sayang padanya. Dia baik dan lembut. Bahkan ibu tirinya yang sering membela Kilaara kalau si bapak sedang memarahinya. Maka dari itu, Kilaara bersyukur memiliki ibu tiri yang selayaknya ibu kandung. "Jadi kamu anak pertama di keluargamu?" tanya Adrian. "Ya betul. Kata bapak sih dulu aku punya kakak laki-laki, tapi dia meninggal pas masih bayi." Kilaara menunjukkan foto lain dari keluarganya. "Nah ini foto yang paling terbaru, tapi aku gak ada karena waktunya gak cocok.

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 33

    Meskipun Adrian hanya menceritakan secara garis besarnya saja, namun Kilaara masih tidak yakin kalau wanita di dalam cerita itu adalah dirinya. Adrian menggambarkan sosok Ara dalam ceritanya adalah wanita yang agresif, dominan, dan liar. "Kamu yakin itu aku?" tanya Kilaara sekali lagi. Entah sudah berapa kali dia menanyakan hal yang sama. "Ya ampun Sayang. Iya itu kamu. Kamu bilang namamu Ara. Lagipula aku gak mungkin lupa dengan wajah kamu. Aku gak mabuk malam itu," ujar Adrian sembari membasahi lengan Kilaara dengan air. Sudah dua puluh menit terlewati, namun mereka masih betah bergumul di dalam bathtub. "Hmmm..." Kilaara menaruh busa sabun ke hidung Adrian, "ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Sudah terjadi, tidak bisa diulangi lagi." "Apa kamu menyesal?" tanya Adrian. Meski pertanyaannya tidak detail, tapi Kilaara paham maksudnya. "Nyesal?" ulang Kilaara, dan Adrian mengangguk, "ya gak lah! Ngapain? Malah aku bersyukur karena dapetin kamu. Hehhe, gak munafik

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 15 Cocok juga Jadi Istriku

    Adrian bingung tujuh keliling. Selama tiga puluh lima tahun hidupnya, dia tidak pernah merawat balita. Dia lebih memilih berkutat dengan berkas atau dokumen seharian daripada bersama dengan bocah sebentar saja. Ibunya yang tega meninggalkannya sendiri bersama Imo kini sudah pulang setel

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 14 - Ketemu Anak Adrian

    Sungguh membagongkan. Sepertinya pindah ke apartemen Adrian menjadi penyesalan baru bagi Kilaara. Dia merasa bukan wanita single lagi, melainkan sebagai wanita yang sudah bersuami. Sejak pindah ke sana, entah sudah berapa kali Adrian menggempurnya, entah itu di kamar, di sofa ruang tamu,

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 13 - Pindah Ke Rumahku Ara!

    Berhubung besok hari pekan dan libur bekerja, Kilaara berencana ingin tidur tengah malam setelah menonton serial di siaran nonton langganannya. Beberapa hari terakhir, hidupnya yang semula santuy dan biasa-biasa saja menjadi luar biasa oleh kehadiran Adrian, seolah hidupnya hanya berputar pada

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 12 - Ciuman Posesif

    Adrian membawa Kilaara menuju ruangannya. Ia tidak sadar jika sedari tadi tangannya mencengkram tangan Kilaara dengan penuh emosi. Namun anehnya, Kilaara menurut saja di belakang seperti anak ayam yang mengikuti induk. Dia tidak mengeluh ataupun berusaha melepaskan tangan Adrian dari tangannya. Se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status