Mag-log inKilaara merasakan sesuatu benda basah yang sedang menjilati bagian leher belakangnya. Ia melenguh tak nyaman sebab tidur lelapnya terganggu karena itu. Kilaara menepis benda basah itu dan menamparnya keras. Ia pun kaget saat mendengar suara pekikan sakit dari seseorang setelahnya. Kilaara spontan membuka mata dan menoleh ke belakang. Ia melihat Adrian sedang meringis sambil memegang wajahnya. "Maaf Sayang. Aku refleks." Kilaara membalikkan badan dan mengusap wajah suaminya, "sakit ya?" "Lumayan." Adrian terkekeh pelan, "padahal kamu lagi tidur, tapi tenaga kamu masih kuat aja ya Yang." "Hehehehe. Aku kira tadi ada apaan basah-basah di leher. Kirain ada lintah—secara kan deket sama kebun, makanya aku takut." Kilaara bangkit dari posisinya. "Memangnya sering ada lintah sampai masuk kamar?" tanya Adrian sambil mengernyitkan dahinya. "Dulu pas aku masih kecil sering, entah kalo sekarang. Makanya aku agak trauma," kata Kilaara mengusap lengan Adrian yang memang dia ti
Rasanya begitu tenang. Lancar. Tanpa hambatan dan rintangan. Setidaknya itulah yang dirasakan Kilaara tentang proses menuju pernikahannya dengan Adrian. Semuanya berjalan dengan baik seolah memang dipermudah oleh Sang Pencipta. Apakah mungkin memang beginilah sepatutnya jika kita bertemu jodoh sejati? Kedua keluarga masing-masing setuju, teman-teman setuju, hingga orang lain pun ikutan senang melihat mereka bersama. Hanya berselang dua hari sejak kedatangan Adrian, Halimah dan Jonathan, beserta Reno, anak kedua mereka, lalu yang terakhir yang tak kalah pentingnya, Imo, menyusul ke rumah Kilaara di Jombang. Keluarga Adrian pun melamar Kilaara secara resmi. Setelah menentukan tanggal baik untuk melangsungkan pernikahan—yang diadakan pada bulan Januari 2023, hanya berselang satu minggu setelah lamaran mereka diterima oleh keluarga Kilaara—akhirnya hari ini Adrian dan Kilaara telah resmi menjadi suami istri. Pesta pernikahan mereka berdua diadakan di sebuah lapang
"Ra, Ara, bantuin Ibuk ke belakang ya." Ningsih menyenggol sikut Kilaara. "Lho sekarang buk? Tapi kan bapak sama Adrian lagi ngobrol seru gitu," ujar Kilaada tak paham. Namun setelah diberi isyarat kedipan mata oleh Ningsih, ia pun akhirnya mengerti. Ibu tirinya itu ingin membicarakan sesuatu yang lebih private. "Ayo buruan." Ningsih yang tak sabaran langsung menarik tangan Kilaara hingga wanita itu sontak berdiri. Adrian yang kaget melihat pergerakan mendadak itu menoleh dan memandang Kilaara dengan alis berkerut. "Kami ke dapur dulu, buat masak makan malem nanti." Kilaara seolah tahu apa yang ada di pikiran Adrian sehingga dia bicara lebih dulu sebelum pria itu menanyakannya. "Betul. Kami mau masak. Kalian ngobrol dulu ya." Ningsih tersenyum canggung, lalu menepuk pundak suaminya, "Pak jangan dimarahin ya calon mantuku," lanjutnya. Hartono hanya memasang muka datar setelah mendengar ucapan Ningsih. Ternyata istrinya sudah memberikan kode kalau dia setuju Kila
Kilaara susah payah menjelaskan kepada orang tuanya, bagaimana idealnya Adrian menjadi calon suami idaman. Bagi Kilaara, Adrian telah memenuhi semua kriteria yang ia dambakan selama ini; tampan, mapan, dan penyayang. Terlebih lagi, Adrian sudah dewasa, dan maksud dewasa di sini, ialah dia mampu mengendalikan emosi saat marah dan tidak mengedepankan ego saat menghadapi masalah.Namun di mata bapak maupun ibunya, kekurangan terbesar Adrian adalah statusnya sebagai duda. Oke, si bapak tidak masalah kalau Adrian itu duda tanpa anak. Namun sayangnya, Adrian sudah memiliki buntut satu. Tentu saja orang tuanya menolak mentah-mentah.Kamu baru nikah tapi sudah ngurus anak? Anak orang lagi?!Apa kata tetangga nanti? Kamu pasti dicap orang sebagai gadis matre yang hanya mengincar harta saja.Tuh laki cuma mau manfaatin kamu aja buat jagain anaknya. Mau jadi babysitter gratis hah?Gimana kalau mantan istri pertamanya cari ribut sama kamu?Kilaara dicecar berbagai pertanyaan intimidasi yang terde
Bagi Kilaara, keluarganya hanya keluarga yang biasa-biasa saja. Bapaknya petani padi, ibu tirinya adalah ibu rumah tangga biasa yang membuka toko kelontong di rumah mereka. Ibu kandungnya meninggal saat dia kelas delapan. Setahun dari ibunya wafat, bapaknya menikah lagi dengan janda beranak satu laki-laki yang berusia tiga tahun lebih muda dari Kilaara. Hasil pernikahan bapaknya dan ibu tirinya juga mendapatkan satu anak perempuan. Tidak seperti ibu tiri di sinetron, ibu tiri Kilaara justru sangat sayang padanya. Dia baik dan lembut. Bahkan ibu tirinya yang sering membela Kilaara kalau si bapak sedang memarahinya. Maka dari itu, Kilaara bersyukur memiliki ibu tiri yang selayaknya ibu kandung. "Jadi kamu anak pertama di keluargamu?" tanya Adrian. "Ya betul. Kata bapak sih dulu aku punya kakak laki-laki, tapi dia meninggal pas masih bayi." Kilaara menunjukkan foto lain dari keluarganya. "Nah ini foto yang paling terbaru, tapi aku gak ada karena waktunya gak cocok.
Meskipun Adrian hanya menceritakan secara garis besarnya saja, namun Kilaara masih tidak yakin kalau wanita di dalam cerita itu adalah dirinya. Adrian menggambarkan sosok Ara dalam ceritanya adalah wanita yang agresif, dominan, dan liar. "Kamu yakin itu aku?" tanya Kilaara sekali lagi. Entah sudah berapa kali dia menanyakan hal yang sama. "Ya ampun Sayang. Iya itu kamu. Kamu bilang namamu Ara. Lagipula aku gak mungkin lupa dengan wajah kamu. Aku gak mabuk malam itu," ujar Adrian sembari membasahi lengan Kilaara dengan air. Sudah dua puluh menit terlewati, namun mereka masih betah bergumul di dalam bathtub. "Hmmm..." Kilaara menaruh busa sabun ke hidung Adrian, "ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Sudah terjadi, tidak bisa diulangi lagi." "Apa kamu menyesal?" tanya Adrian. Meski pertanyaannya tidak detail, tapi Kilaara paham maksudnya. "Nyesal?" ulang Kilaara, dan Adrian mengangguk, "ya gak lah! Ngapain? Malah aku bersyukur karena dapetin kamu. Hehhe, gak munafik
Kilaara membatu. Tepat di depannya kini, tengah berdiri seseorang yang paling menakutkan baginya. Apalagi sekarang, Kilaara merasa tatapan sinis dan geraman rendah dari suara seksi yang berasal dari pria itu, tertuju spesial untuknya. Hati Kilaara mendadak berdesir melihat pria itu, namun bukanny
"Apa kamu bilang? Dia kerja di perusahaan kita?" teriak Adrian sembari menggebrak meja di depannya. Selepas meninggalkan kamar yang menjadi saksi bisu di saat harga dirinya hancur, Adrian segera mencari tahu identitas dari wanita yang menghabiskan satu malam panas bersamanya. Untuk seorang Adri
"Rasanya seperti Anda menjadi Iron Man." Kilaara membalas acuh tak acuh pertanyaan dari teman-temannya. Ia pulang pukul lima pagi, berharap dua teman sekosannya, yakni Lila dan Vero, belum bangun. Namun ternyata, dua cecunguk itu sudah rapi, cantik, dan seolah siap tuk pergi kerja. Ketika Kilaar
Adrian mengerjapkan matanya saat mendengar suara ketukan pintu yang terus berbunyi tanpa henti, hingga bisa menjemputnya dari alam mimpi. Ia mengerang seraya membalikkan badan—merasa lemas luar biasa setelah pelepasan seks semalam sampai tiga ronde. Sudah lama dia tidak bercinta lagi sejak Cecil







