MasukThalita amat terkejut ketika terbangun di pagi hari di sebuah kamar hotel. Rasa terkejut itu belum usai karena dirinya kembali dikejutkan dengan adanya penampakan bercak merah di alas tidurnya. Di dalam pusara kecemasannya, seseorang keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk kecil guna menutupi aset berharganya. “Sudah bangun kamu? Bagaimana tidurmu? Nyenyak?” Baskara memiringkan senyumnya. “Kenapa saya ada di sini, Pak? Dan semalam apa yang terjadi di antara kita?” “Kamu pura-pura lupa? Oh baiklah, biar aku ingatkan, semalam kamu begitu liar di atas ranjang. Aku sampai kewalahan.” “Bohong! Bapak kan atasan saya. Kita nggak mungkin melakukan itu, kan, Pak?” “Ck! Untuk apa aku berbohong? Karena aku sudah berkata jujur maka kuperintahkan padamu… Mulai hari ini, kamu adalah wanitaku, Thalita. Ini perintah!” Masalah tidak berhenti di situ saja, pria yang telah melakukan hubungan panas semalam bersama Thalita adalah pria beristri. Lalu apa yang akan terjadi pada keduanya?
Lihat lebih banyakKedua matanya terbuka perlahan. Thalita menggeliat malas.
“Ini di mana?” Thalita merubah posisi lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah di tempat yang tampak asing baginya. Wanita muda itu berusaha menyingkap selimut tebal yang sebelumnya membungkus tubuhnya dengan gerakan setengah sadar. Tiba-tiba wanita itu merasakan nyeri di pangkal pahanya berpikir serentetan fakta yang terjadi bersamaan. “Aww! Sialan, ada apa ini?” Thalita membelalakkan matanya ketika menyadari bahwa dirinya tak lagi mengenakan selembar kain pun guna menutupi tubuh mulusnya, ditambah lagi ia mengetahui ada bercak merah di alas tidurnya. “Ya Tuhan, ada apa ini? Nggak mungkin ini milikku, kan? Nggak, nggak mungkin!” Berusaha menolak sekuat tenaga pun akhirnya percuma karena yang ada di dalam kamar itu hanya dirinya sendiri. Bersama siapakah ia menghabiskan malam panas di atas tempat tidur ini? Jelas-jelas ia tak mungkin rela menggelontorkan uang dengan sia-sia menyewa kamar inap hotel yang ia huni saat ini. Gajinya sebulan akan sayang jadinya jika ia hambur-hamburkan begitu saja hanya untuk semalam di hotel mewah ini. Blamm Pintu kamar mandi terbuka lalu terbanting keras. Thalita kaget setengah mati. Buru-buru ia melarikan pandangannya pada sesosok pria yang bertelanjang dada berikut selembar handuk kecil yang menutupi aset berharga milik pria itu. Tatapannya memindai jelas ke arah pria tersebut. Pria yang amat tak asing baginya. “Pak Baskara? Apa yang Bapak lakukan di sini? Tunggu dulu… Kenapa? Kenapa Bapak yang—” Thalita melontarkan banyak tanya pada pria tampan di hadapannya yang kini melangkah santai seolah tak ada masalah yang terjadi di antara mereka. Baskara memiringkan senyumnya. Ia menghempaskan bokongnya tepat di bibir ranjang bersebelahan dengan Thalita. “Sudah bangun kamu? Bagaimana tidurmu? Nyenyak?” Baskara mengalihkan topik pembicaraan. “Kenapa saya ada di sini, Pak? Dan semalam apa yang terjadi di antara kita?” “Kamu pura-pura lupa? Oh baiklah, biar aku ingatkan, semalam kamu begitu liar di atas ranjang. Aku sampai kewalahan.” Baskara mengucap dengan tenang, sesantai itu. “Bohong! Bapak kan atasan saya. Kita nggak mungkin melakukan itu, kan, Pak?” “Ck! Untuk apa aku berbohong? Karena aku sudah berkata jujur maka kuperintahkan padamu… Mulai hari ini, kamu adalah wanitaku, Thalita. Ini perintah!” tegas Baskara tak mau dibantah. “Jangan bercanda, Pak! Bapak sudah memiliki istri. Saya akan menganggap apa yang terjadi di antara kita hanya kesalahan semata dan tidak perlu dibahas lagi. Permisi, Pak,” ucap Thalita cepat sembari mencari di mana ia meletakkan bajunya semalam. “Kamu lagi nyari apa? Dress kamu? Tenang saja, dress kamu lagi di binatu. Paling juga sebentar lagi kelar. Lagian ngapain sih kamu buru-buru pulang? Kamu kan di sini sama aku. Kenapa malah aku merasa seperti gigolo yang baru saja kamu pakai jasanya lalu kamu tinggal pergi seenaknya?” Baskara lagi-lagi berbicara dengan santai tanpa dosa dan kini mencubit dagu Thalita dengan senyuman melumpuhkan. “Saya mohon, Pak, lupakan apa yang telah terjadi di antara kita. Saya tidak mau–” Seseorang mengetuk pintu kamar inap yang dihuni mereka berdua semalam. Ucapan Thalita menggantung di udara. Baskara menyuruh Thalita diam dengan meletakkan jari telunjuk di depan bibir wanita itu. Lagi dan lagi ia tersenyum penuh intimidasi bagi lawannya. Baskara berjalan ke arah pintu dan membuka dengan tubuh yang separuh ia sembunyikan di belakang pintu. Pria itu mengulurkan tangannya pada seseorang di luar pintu. Tak lama kemudian, Baskara menutup pintu dan melangkah mendekati Thalita lalu menyerahkan bungkusan plastik binatu. “Pakailah sekarang juga! Setelah kamu berpakaian dengan benar, kita harus bicara serius, paham?!” Tak ada jawaban dari Thalita. Wanita itu segera menarik selimut tebal yang membalut tubuhnya menuju ke kamar mandi. Ia berjalan begitu cepat dengan ekspresi ketakutan luar biasa. ~~~~ “Ayo makan dulu! Tubuh kamu terlalu kurus. Jangan sampai orang berpikiran bahwa aku tidak bisa menggaji karyawan dengan benar sampai badannya begitu kering dan kurus seperti ini. Kamu ini sekretarisku dan aku nggak suka orang-orang membicarakan kita dengan seenaknya di depan maupun di belakangku,” tegas Baskara sembari memasukkan satu per sendok makanan hotel yang sengaja diantarkan ke kamarnya. “Bagaimana Pak Baskara bisa bersikap begitu santai setelah apa yang terjadi? Pak Baskara sudah memiliki istri, bagaimana kalau Bu Yola tahu tentang hal ini? Saya tidak mau dianggap wanita perebut suami orang, Pak!” tegas Thalita menanggapi ajakan Baskara untuk berselingkuh di belakang Yolanda beberapa saat lalu sebelum mereka menyantap makan pagi di ruangan ini. “Lalu kamu maunya kita bagaimana? Apa yang sudah terjadi memang harus terjadi. Masa kamu mau melupakan begitu saja? Apa yang sudah terjadi semalam meninggalkan bekas nyata di dalam hidupku, Thalita. Seperti yang kukatakan tadi, jadilah wanitaku. Aku tidak akan merubah keputusan. Kamu tahu jelas bagaimana sifatku. Jadi, patuhi saja perintahku. Gampang, kan?” Thalita buru-buru beranjak dari tempat duduknya. Di ruangan itu memiliki sebuah ruang tamu kecil dengan sofa yang mengelilingi meja kotak di tengah-tengahnya. Wanita itu terus berusaha menahan diri untuk tidak menggebrak meja di hadapannya demi meluapkan emosi yang mendera. “Pak Baskara, pikirkan baik-baik perasaan Bu Yola, Pak. Bagaimanapun juga Bapak sudah menikah, dan kejadian semalam terjadi karena saya mabuk, kan? Bukan karena Bapak atau saya sengaja melakukannya. Saya janji nggak akan mempermasalahkannya di kemudian hari, Pak. Saya mohon lupakan semuanya. Apa yang terjadi adalah sebuah kesalahan. Tidak perlu dilanjutkan demi membuat babak baru yang rumit ke depannya. Saya bukan seorang pelakor, Pak. Saya nggak mau cap tersebut melekat pada diri saya,” ungkap Thalita jujur dan tanpa keraguan. “Lalu bagaimana dengan kesucian kamu yang telah terenggut semalam? Apakah kamu tidak berniat meminta ganti rugi padaku? Jangan bercanda! Banyak wanita yang akan dengan senang hati menjadi wanitaku. Tapi kamu malah menolakku secara terang-terangan padahal apa yang terjadi semalam sungguh sayang untuk dilupakan. Aku berharap akan ada hari seperti semalam di antara kita berdua. Di balik keanggunan dan profesionalitas kerjamu, saat kamu di ranjang adalah hal yang tidak terduga. Kamu sangat seksi dan liar, Thalita,” balas Baskara dengan pertanyaan dominan mematikan. “Biarlah saya yang rugi dan menanggung semuanya sendiri, Pak. Sudah saya katakan barusan, saya tetap tidak mau menjadi simpanan Bapak. Saya memang sekretaris Bapak, tapi saya bukan wanita simpanan Bapak. Saya tidak mau hal semalam terulang kembali dan berujung membawa luka bagi semua pihak. Saya hanya ingin fokus bekerja, Pak. Bekerja dengan benar dan karena hasil kerja keras saya, bukan karena hasil bekerja keras mengolah keringat di ranjang bersama Bapak. Kalau begitu karena Bapak terus memaksa, lebih baik bagi saya memberanikan diri memilih resign dari perusahaan Bapak,” tegas Thalita yang kekeuh pada pendiriannya. Thalita menyambar tas tangannya yang senada dengan dress yang ia kenakan semalam. Dress hitam yang menjadi saksi bisu tentang apa yang terjadi semalam di kamar hotel ini telah kembali membalut tubuhnya yang jenjang dan seksi. Wanita itu berbalik badan dan melangkah cepat usai mengatakan segalanya pada Baskara. Ia berharap usahanya membuahkan hasil dan ia bisa terbebas dari perangkap gila sang atasan. “Melangkah sekali lagi, video dan foto-foto kamu semalam yang ada di ponselku akan tersebar di semua situs dewasa,” ancam Baskara dengan senyuman penuh kepuasan. Kedua bola mata Thalita terbuka lebar. “Apa?! Bapak menjebak saya?” To be continue…. ~~~~“Sebulan lalu waktu Baskara mabuk, kami melakukan hubungan suami istri. Wajar saja kan kalau aku hamil, Nek? Toh, dia memang suamiku. Lalu kalau bukan dia yang membuatku hamil, lantas siapa lagi?” Yola mengelus perutnya yang masih rata. Ia menitikkan air mata di hadapan Nenek Seruni. Yola berjalan mendekat. Ia berusaha meraih tangan Nenek Seruni. Wanita itu lah yang selama ini selalu ada di garda depan untuknya dan membela dirinya di rumah mewah tersebut. Ketika tangannya hendak menggapai tangan yang mulai dipenuhi keriput itu, usahanya menggantung. Tak ada hasil sesuai yang ada di dalam kepalanya. Bahkan sebelum ia berhasil menggapai tangan wanita tua itu, Nenek Seruni memilih memundurkan tubuhnya dengan gerakan cepat tanpa ia sadari. “Nenek—”“Sudah kubilang, jangan panggil aku Nenek! Kesalahanmu dan keluargamu sudah begitu banyak pada keluarga kami. Usahamu yang selama ini kamu lakukan sudah berhasil membuat hubungan antara nenek dan cucu merenggang. Memangnya kamu belum puas jug
“Kenapa? Ekspresi kagetnya bisa nggak sih yang natural aja? Toh kamu sudah mulai mencurigai hubunganku dengan sekretarisku, kan?” cecar Baskara sembari melangkah mendekat ke arah sang kakak. Ditatapnya netra gelap David yang mendadak mematung. “Dia pacarku, dan nggak lama lagi aku akan membuatnya menjadi istriku. Dan mengenai Yola, sekarang kuserahkan kembali sama kamu. Terserah apa yang mau kamu lakukan sama dia. Toh selama ini aku nggak pernah menyentuhnya. Aku paling nggak suka menyentuh barang kotor yang sudah dicicipi pria lain yang naasnya mengaku-ngaku sebagai saudara kandungku sendiri,” tegas Baskara lalu mengeratkan rangkulannya di tubuh sang kekasih. Pria itu seolah menunjukkan pengukuhan pada semua orang bahwa Thalita adalah wanitanya. “Baskara, aku mau bicara sama kamu. Aku tahu masalah di antara kita sudah terlalu banyak dan aku pun nggak tahu dari mana harus memulainya. Tapi mulai hari ini aku janji akan bertanggung jawab atas semua kekacauan yang sudah aku lakukan,”
“Setelah apa yang sudah aku ceritakan ke kamu tentang hidupku sampai peristiwa gila yang telah kita lakukan malam itu, apa yang kamu rasakan sekarang?” Baskara membelai lembut pipi Thalita menunggu sang kekasih hati menjawab pertanyaannya. “Kamu berniat meninggalkan aku?” tanyanya kemudian dengan wajah memelas. Tak pernah terlintas di dalam pikirannya bahwa Baskara akan menunjukkan sisi lemah yang tak pernah ia perlihatkan di hadapan orang-orang. Dikecupnya kening Baskara dengan lembut lalu menggeleng pelan. Entah mengapa walau ia tahu cara yang digunakan Baskara padanya termasuk cara seorang pecundang yang rela menghalalkan segala hal demi mendapatkan dirinya, Thalita bisa memaafkan Baskara begitu saja. Baskara seperti sudah kehabisan akal demi mendapatkannya dan mungkin hanya tersisa cara itu yang bisa dia lakukan sebagai upaya pengukuhan dan kepemilikan. “Aku nggak tahu harus bilang apa, Mas. Seharusnya aku marah dan kecewa tapi entah mengapa setelah mendengar pengakuanmu tadi,
Lembutnya bibir itu akhirnya ia rasakan juga. Baskara tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang datang padanya. Jika wanita itu menolak dan mendorongnya, ia akan gunakan teriakan darinyalah yang membuatnya mengambil tindakan nyata semacam ini. Andai wanita itu berani melakukannya. Namun yang terjadi, Thalita terbuai oleh sentuhan lembut yang kini menguasai bibirnya. Terasa dalam dan lembut. Pria itu benar-benar menguasainya luar dalam. Keinginan untuk memberontak hanya tinggal kenangan.Sial!Bukan Thalita yang melepas pertukaran saliva di antara mereka lebih dulu, melainkan Baskara. Ya, pria itu benar-benar melakukannya. Melakukan hal yang sebenarnya tak pernah ingin ia lakukan. Diambilnya handuk yang terhempas di lantai lalu diperbaikinya. Dipakainya dengan terburu-buru. Baskara segera mengambil satu set pakaian rumahan miliknya yang ada di apartemen tersebut. Hanya kaos lengan pendek berwarna hitam dipadukan dengan celana pendek yang biasa digunakan jika pria itu keluar untuk joggi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan