Masuk"Hgghh..." Ayyana melenguh pelan dalam tidurnya, lalu perlahan matanya mengerjap menyesuaikan cahaya terik yang masuk menusuk indra. Mata Ayyana terpejam beberapa saat begitu hembusan angin menerbangkan gorden putih dari jendela kamar dan sinar keemasan kembali menyilaukan pandangannya. Ia mencoba menggerakkan tubuh sedikit untuk merenggangkan badan, namun tubuhnya terasa berat dan sulit digerakkan. Seakan ada benda berat yang menimpanya. Ia mengumpulkan sisa kesadaran sebelum tatapannya menyusuri penjuru ruangan, suasana ruangan ini tampak tidak asing tapi Ayyana masih belum mencerna di mana ia berada saat ini. Namun satu yang janggal, kenapa ia bisa terbaring nyaman di ranjang empuk ini? Bukankah seharusnya ia berada di mobil bersama Ilham dan Anggi untuk liburan bersama keluarganya? Tatapan Ayyana turun ke arah perut saat merasakan sesuatu yang menimpanya dibawah sana bergerak sedikit, dan betapa terkejutnya ia saat melihat sebuah
"Loh, pada mau kemana ini?" Fakhri menatap bingung jejeran koper yang berada di ruang tengah rumah Dania. Jangan bilang, Daffa mengatur rencana bulan madunya sama seperti Raka dulu, dengan mengajak semua keluarga ikut liburan bersama? Atau malah keluarganya sendiri ada agenda liburan diam-diam tanpa berniat mengajaknya, sama seperti keluarga sang istri? Kecurigaan Fakhri makin bertambah ketika Kayla turut menyeret satu buah koper dari lantai atas. "Kita diajakin liburan sama Aya," beritahu Dania di ujung sofa. Sorot mata bingung Fakhri seketika berubah cerah, ia menarik senyum lebar dan mendekat pada sang Mami. "Serius, Mi?" Dania mengangguk, "Iya, katanya buat perayaan hari pernikahan mertua kamu." "Alhamdulillah," seru Fakhri beranjak dengan langkah ringan menaiki anak tangga. Berniat untuk ikut mengemasi barang-barangnya. Sampai seruan Kayla menahan paksa langkahnya, "Tapi Kak Fakhri nggak diajak."
"Maaf sudah membuat Ibu menunggu."Ayyana yang sedang menyesap jus jeruknya segera mengangkat pandangan untuk menyambut kliennya.Karena Dita masih dalam mode cuti pernikahan, ia terpaksa harus menemui klien sendiri lantaran semua karyawan lainnya tiba-tiba saja kompak ikutan sibuk.Pria yang diketahuinya bernama 'Angga' itu mendaratkan bokong di kursi depan Ayyana dengan senyum aneh.Kening Ayyana bertaut dalam, sosok pria berkumis dan berjanggut tebal dengan kaca mata hitamnya ini tampak sedikit familiar."Apa ada yang salah, Bu?" tanya pria itu melihat reaksi Ayyana."Ah, tidak." Ayyana mencoba untuk melenyapkan kecurigaan tak berdasarnya dengan menampilkan senyum profesional dan memanggil pelayan untuk memberi kesempatan pada kliennya memesan hidangan lebih dulu."Nama saya Angga Herdiawan, tapi kamu bisa panggil saya dengan panggilan apapun yang menurut kamu nyaman. Mas juga boleh." Perkenal pria itu dengan kalimat
"Kak Aya, masa Kayla dapat mobil aku enggak sih?""Mobil apa?" Kening Fakhri bertaut dalam tapi tidak ada yang menanggapi pertanyaannya.Vano justru melanjutkan dengan cuek, "Kalau dihitung-hitung, aku justru lebih sering nganterin barang ke Kak Aya. Bahkan selama Bang Fakhri di luar negeri, Kayla cuma beberapa kali doang.""Sirik aja lo, kan gue yang nganterin mobil itu. Lagian juga gue nggak minta, iya kan Kak Aya?" Kayla ikut bersuara.Ayyana hanya terkekeh pelan tapi tak urung mengangguk dan menatap Vano santai, "Kalau kamu juga mau, masih ada satu di rumah. Yang itu buat kamu ajah, Kakak juga nggak pake."Vano langsung berseru heboh, "Thank you, Kak.""Loh, sayang. Itu kan mobil pemberian aku?" protes Fakhri tapi masih juga tak mendapat respon dari sang istri.Dania, Alma dan beberapa anggota keluarga lain yang ada disana hanya bisa saling pandang dan menahan senyum melihat wajah frustasi Fakhri.Tidak berh
Sebulan berlalu, Ayyana tak pernah dapat kabar apapun dari suaminya setelah panggilan terakhir dari ponsel Bayu ketika pria itu pamit hendak berangkat ke luar negeri.Ayyana merasa sudah seperti istri yang tidak dianggap, bahkan mungkin status janda jauh lebih baik ketimbang apa yang tengah dijalaninya kini.Setidaknya jika janda, status mereka jelas tidak seperti Ayyana yang seolah digantung tanpa penjelasan atau apapun itu.Hal menyebalkan lainnya adalah pekerjaan yang digelutinya sebagai penyedia layanan jasa untuk para pasangan yang hendak merayakan hari bahagia dengan mengikat janji suci.Jujur saja, selama bertahun-tahun ia menggeluti pekerjaan ini, rasanya baru kali ini Ayyana begitu sangat ingin berhenti dari pekerjaannya.Berusaha profesional untuk mewujudkan wedding dream banyak orang di tengah masalah rumah tangganya yang tak kunjung ada kejelasan seperti ini adalah tekanan mental tersendiri bagi Ayyana.Sialnya, hal ini bertepatan dengan pernikahan Dita, sahabat dekatnya.
"Lo yakin, Rin?" Ayyana menggenggam erat sabuk pengamannya ketika menatap gedung menjulang di hadapan mereka."Percaya sama gue." Ririn membukakan sabuk pengaman Ayyana dan menarik perempuan itu keluar."Selamat pagi Bu Ayyana, Bu Ririn," sambut resepsionis kantor tersebut dengan ramah meski sempat menampilkan guratan wajah bingung saat mereka mendekat.Mungkin heran karena biasanya jika Ayyana datang, ia akan langsung naik saja ke ruangan Fakhri tanpa perlu melalui perantara mereka.Begitu pula dengan Ririn yang biasanya akan langsung disambut oleh Bayu. Tapi kali ini mereka justru mendatangi resepsionis lebih dulu."Pak Bayu ada?" tanya Ririn basa basi.Si resepsionis mengangguk sopan, "Ada, Ibu. Mau saya panggilkan, atau Ibu ingin langsung naik saja?""Nggak usah. Kalau Pak Fakhri?" tanya Ririn lagi."Oh, kalau Pak Fakhri, beliau tadi keluar menjelang makan siang, Bu. Katanya sih, ada keperluan ke kantor pusat."Kantor pusat yang dimaksud adalah kantor yang dipimpin langsung oleh P
"Kamu beneran nggak apa-apa aku tinggal?" "Enggak apa-apa Mas." "Aku minta Kayla temenin kamu ya?" "Enggak usah." Selama ini, Ayyana memang selalu tinggal sendiri jika Fakhri pergi. Ia sudah jauh lebih berani dibanding saat pertama dulu, mungkin karena suda
Jika biasanya sepulang kantor Ayyana akan langsung disambut dengan makanan jadi di meja makan, setelah menikah kebiasaan itu seakan hilang ditelan bumi. Kali ini semuanya harus ia siapkan sendiri, memasak, merapikan rumah, semuanya.Seperti sekarang, begitu sampai ia langsung bergegas ma
"Bagaimana keadaan Jihan?" Tanya Papi Fakhri sembari menikmati secangkir kopi di ruang tengah."Dia baik." Singkat Fakhri."Papi dengar dia sakit?"Fakhri menautkan alis, "Papi tahu dari mana?"Seingatnya, ia tidak pernah membicarakan soal itu dengan sang Papi. Atau mungkin Daffa yang memberi tahu.
Ayyana menggeleng, "Nggak apa-apa, itu kan tanggung jawab kamu." Fakhri menurunkan badan, berlutut di depan Ayyana yang duduk di kasur. Ia menatap Ayyana dengan perasaan bersalah yang amat dalam. "Maaf Aya," ucapnya meraih tangan Ayyana. Kalimat itu bu







