Share

Bab 2

Penulis: Dea Saputri
last update Tanggal publikasi: 2026-03-26 23:43:18

Prabu Aditya, papi dari Adeline kini menatap putrinya tajam. Penuh tanda tanya, gadis cantik itu justru tersenyum manis ke arahnya. Tidak hanya ada Aditya, melainkan ada Reno Romano, Papa Kenzo yang sedang bertemu dengan mereka ikut bingung.

“Kamu kenapa sayang?” tanya Papi Aditya, masih menaruh kecurigaan dengan Adeline.

“Adel gapapa papi, emangnya kenapa?” tanyanya kembali. Bahkan ia berharap Kenzo tetap diam tidak menyalahkan diri seperti biasanya mengaku membuat nangis Adeline karena masalah sepele.

“Kenzo, kamu apakan Adeline?” tatapan Papi Aditya langsung tajam ke pria tampan disana. Nyatanya, Kenzo tidak melakukan apapun. Hanya melarang Adeline bertemu dengan Galuh saja.

“Tidak terjadi apapun, dia ngambek gagal pulang bareng pacarnya yang jelek itu!” seketika Kenzo mengadu dengan Papi Aditya.

“Adeline, kamu masih berhubungan dengan dia?” tatapannya langsung berubah, terlihat marah dan tidak terima. “Papi sudah menyuruh kamu buat jauhin dia, kamu gak lakuin apa yang papi suruh?”

Adeline diam, tangannya mengepal kuat. Bahkan ia menatap Kenzo dengan sengit penuh permusuhan, “Papi, aku hanya diantar pulang. Dan itu tidak jadi karena Kenzo datang lebih dulu!” ucap Adelin membuat Papi Aditya menatapnya kembali.

“Jauhi dia. Dia bukan orang baik, papi nyuruh kamu seperti ini karena papi sayang sama kamu,” ucapan Aditya membuat Papa Reno terkekeh kecil.

“Adit..., Adit..., kau ini selalu posesif dengan anak sendiri. Biarkan saja, asal masih kau pantau, Adeline berhak menentukan masa depan dan pasangannya sendiri. Sudah sayang, jangan dengarkan kata papimu. Tapi, papa sarankan jangan terlalu dekat dengan orang yang sama sekali kamu gak tahu latar belakangnya,” ucapan Papa Reno membuat Adeline diam.

Nyatanya, tidak ada yang berpihak dengannya.

“Hm, aku akan jauhin dia. Tapi, harus ada sebab akibat dan bukti kenapa aku harus jauh dengan Galuh,” jawab Adeline.

“Lo kecintaan banget dengan dia,” ucapan Kenzo membuat para orang tua geleng kepala seketika.

“Kenzo..., jangan buat mood putriku buruk!” tatapan sengit dari Papi Aditya membuat pria itu menatap datar. Seolah tak takut dengan Aditya.

Kenzo dan Adeline, tidak hanya dekat sekali dua kali. Hubungan mereka tidak bisa ditentukan, bertengkar dan adu mulut sudah hal yang umum bagi mereka. Pernah, dulu Kenzo dalan dengan wanita lain disaat Adeline ingin ditemani. Dan saat itu Adeline mulai berubah, ada sesuatu yang ia tutupi.

Kenzo pun sama, ia juga menyembunyikan sesuatu untuk Adeline.

Lama mereka saling diam, akhirnya Adeline memeluk papinya sedikit membujuk, “Kata Kenzo, papi ada loker ya? Cari sekretaris, dimana?” tanya Adeline.

“Sayang, untuk apa bekerja. Kamu duduk diam, biar papi yang kerja. Asal kamu tahu, kerja itu capek dan berat. Papi gak mau kamu kelelahan,” ini bukan penolakan yang pertama. Cukup dan sangat sering bagi Adeline tidak diizinkan bekerja.

Helaan nafas Adeline terdengar, “Papi aku bosen tahu lulus gak coba pengalaman baru. Aku pengen kayak yang lain, bisa kerja pakai ijazah gitu.”

“Gimana kalau Adeline yang gantiin sekretaris Kenzo? Kebetulan sekretaris Kenzo lagi cuti, gimana?” usul Papa Reno tidak terdengar baik, tapi juga tidak buruk.

“Gak bisa, bukannya papi bilang cari posisi manajer? Untuk sekretaris aku bisa cari sendiri, kalau Adeline yang gantiin aku bisa nambah kerja 5 kali lipat. Aku gak mau, masih ada Zack yang bisa bantu aku.”

Adeline langsung berdiri bahkan tangannya menunjuk ke arah Kenzo, penolakan baru saja membuatnya kesal. “Siapa yang mau jadi sekretaris? Gue ogah banget, kayak gak ada kerjaan lagi aja!” bantah Adeline membuat Papi Aditya dan Papa Reno saling tatap.

Heran, mereka sudah kenal sejak kecil. Tapi tingkah mereka masih kecil, sama - sama gak mau ngalah. Bukan hanya Adeline yang menurut mereka menyebalkan, tapi Kenzo tak kalah menyebalkan membuat hubungan mereka hanya berisi bertengkar dan adu mulut.

“Kenzo kalau sama Adeline ngeselin ya, giliran di luar dia dingin galak serem gitu. Dua kepribadian yang aneh sekali…,” gumam Papi Aditya adu mulut mereka tidak mengejutkan lagi bahkan sudah dianggap biasa.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Candu Obsesi Sahabatku   Bab 14

    Bab 14Adeline diam, ia akui jika terlalu banyak hal yang terjadi antara dirinya dan Kenzo. Semuanya hanya mereka yang tahu. Seperti sekarang ia memeluk erat Kenzo bagaimana jika kedua orang tua mereka tahu? Bahkan Adeline begitu nyaman ada dipelukannya. Adeline berpacaran dengan Galuh tanpa ada kontak fisik, hanya sebatas hal wajar. Pelukan saja jarang, apa lagi ciuman bibir panas dan liar seperti tadi. Lama terdiam dengan pikirannya sendiri, ia tertidur dalam dekapan Kenzo. “Kenapa lo gak pernah ngerti kalau gue suka sama lo, Adeline. Gue bahkan benci saat lo deket dengan laki-laki manapun selain gue. Karna lo hanya milik gue.”Kenzo ikut terpejam, ia tidur dengan Adeline bersama di satu bed rumah sakit ini. *Adeline membuka, tak ada siapapun. Hening, merasa haus ia mencoba bangun secara perlahan. Terlihat masih lemas, tapi ia mencoba meraih gelas di dekatnya. Sialnya ia kesulitan hingga suara pintu kamar mandi terbuka ada Kenzo segera berjalan ke arahnya. “Minum, aku haus.” “

  • Candu Obsesi Sahabatku   13

    Bab 13 “Kemana?” bisik pelan Adeline tidak mau ditinggalkan oleh Kenzo. Ia merasa takut jika sendirian.“Aku di sofa,” ucapnya namun Adeline menggelengkan kepala.“Gue gak mau ditinggal.”“Aku kamu, Adeline. Kenapa ngomongnya masih gitu hmm? Kita bukan orang kemarin, kita sudah lama kenal lho.” Ucap Kenzo namun gadis itu hanya tersenyum kecil dan tetap geleng kepala.“Jangan pergi, di sini saja.” Adeline menahan tangan Kenzo untuk tetap disini, ia bahkan menggenggam tangan Kenzo dengan erat tidak mau ditinggal sama sekali.“Aku disini, tidurlah.”Adeline memejamkan mata, ia bangun dan duduk kembali. Meminta Kenzo mendekat dan tak terduga memeluknya. Kenzo hanya tersenyum kecil membalas pelukan Adeline. “Kenapa? Ada sesuatu hem? Katakan saja!” ucap Kenzo.“Engga ada, aku cuma pengen peluk.”Adeline yang biasanya keras kepala, angkuh sekarang menjadi sosok diam. Tak ada senyuman dan cerewet dari mulutnya. Kenzo hanya bisa pasrah menunggu Wanita itu hingga benar – benar sembuh dari keja

  • Candu Obsesi Sahabatku   12

    Bab 12Tubuh Adeline menegang kaku, melihat Kenzo menggendongnya ke dalam kamar mandi. Ada rasa malu, bahkan ia butuh karena idak tahan lagi. “Bisa? Mau dibanu lepas celananya?” tanya Kenzo menggoda Adeline membua wanita itu melotot langsung.“Gila lo, udah deh sana keluar!” dalam sekejab sikapnya langsung berubah menjadi galak dan judes. Bukan apa, jusru Kenzo merasa gemas dengannya, ia mengacak – ngacak pelan rambut Adeline.“Aku hanya bercanda, panggil kalau selesai.”Kenzo meninggalkan Adeline sendiri di kamar mandi, perasaannya berdebar begitu kencang. Tak lama Mami Angelin datang bersama suaminya mereka melihat taka da Adeline disana.“Kemana Adeline Ken?” tanya Papi Aditya.“Kamar mandi,” ujarnya pelan. “Sudah selesai kerjaan mami?” tanya Kenzo kembali apalagi Anjelin baru saja keluar sudah datang kembali.“Belum, kebetulan papi datang. Besok saja, kita sudah kabari kok.”Tak lama suara Adeline memanggil Kenzo, “Ken… gue udah selesai.” Kenzo langsung masuk ke kamar mandi, meli

  • Candu Obsesi Sahabatku   11

    Bab 11 Adeline menatap datar Kenzo, perasaannya masih bingung dan bimbang dengan semua yang terjadi kali ini. Nyatanya, dengan Galuh ia tidak benar – benar ada rasa. Bahkan pria itu tega menjebak dirinya untuk tidur dengan pria lain, gila bukan? Kenzo, sahabatnya yang selalu ada untuknya. Bahkan Adeline yakin jika hari ini pria itu memiliki jadwal yang padat. Sayangnya dia selalu meluangkan waktu untuk dirinya. Belum lagi Kenzo bicara pintu kamar diketuk, masuklah Zack membawa bunga dan beberapa coklat kesukaan Adeline. Pria itu langsung menerimanya, “Lo bisa keluar!” ucap Kenzo tidak mengizinkan Zack masuk sama sekali. “Gue ke kantor, urus kerjaan lagi. Lo pulang sendiri bisa? Atau nanti gue pelru ke sini lagi?” tanya Zack dengan Kenzo. “Gue bisa sendiri, lo urus kantor.” “Oke, gue duluan. Semoga Adeline cepat sembuh,” gumam pelan Zack yang bisa dikatakan menggoda Kenzo seperti biasa. “Gak usah banyak omong lo.” Kenzo memberikan ke Adeline, ia tahu wanita di depannya mas

  • Candu Obsesi Sahabatku    Bab 10

    Bab 10 Sejak ucapan Kenzo kemarin, Adeline semakin diam dan tidak banyak bicara. Bahkan Mami Angelin sudah membujuk Adeline untuk melanjutkan pemeriksaan dengan dokter psikolog sayangnya Adeline hanya diam tidak melawan seperti biasanya. “Sayang, ada masalah? Bagaimana konsultasi dengan dokter Silvi? Semua baik – baik saja kan?” tanyanya memeluk Adeline yang baru saja keluar dari ruangan dengan mata sembab bahkan tatapannya kosong. “Aku baik mam, aku ingin pulang. Aku gak mau dirawat di sini, aku baik – baik saja!” pinta Adeline membuat Mami Angelin mengerutkan kening. Dari raut wajahnya tidak setuju, kondisi Adeline belum membaik masih butuh pantauan dari dokter untuk pemeriksaan lanjut. “Sayang, tunggu 2 hari lagi ya?” ujarnya. “Iya, terserah mami saja.” Adeline duduk di kursi roda, di dorong oleh perawat untuk masuk ke dalam kamar inapnya kembali. Tatapannya kosong, ia memilih memejamkan mata. Ucapan Kenzo semakin terlintas. Bagaimana jika orangtua mereka tidak setuju? H

  • Candu Obsesi Sahabatku    Bab 9

    Bab 9 “Kamu disentuh dimana?” tanya Kenzo dengan tegas dengan aura yang dingin membuat Adeline menatapnya langsung. “Dia cengkram wajahku, ini…, dia tarik tangan bahkan dia hampir lepasin baju aku.” Bukan Adeline yang keras kepala, kali ini hanya sisi manja dan manis di depan Kenzo, menggunakan kata aku – kamu. Bukan lo – gue seperti biasa yang tidak akur saling adu mulut. Tanpa menunggu lama, Kenzo menyentuh tangan bahkan mencium tangan Adeline. Tidak hanya itu saja, ia mencium wajah Adeline dengan ciuman lembut dan usapan lembut seolah menghilangkan bekas menjijikan yang baru saja di dapatkan oleh Adeline. CUP. CUP. CUP. Entah berapa kali kecupan, Adeline hanya memejamkan mata. Membiarkan Kenzo menghapus jejak menjijikan yang membuat dirinya kotor dan tidak suci kembali. Adeline yang bisa keras kepala, bahkan kini hanya menangis dengan ketakutan. Takut, bayangan Kenzo datang terlambat pasti dia sudah hancur. “Aku sudah hilangkan semuanya, tidak ada bekas sia*alan itu lagi!

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status