MasukPagi di kantor pusat Utama Group terasa sangat tenang. Keheningan ruangan hanya diisi oleh ketikan ritmis papan ketik para pegawai yang fokus menuntaskan pekerjaan mereka.Sementara itu, di dalam ruang kerjanya yang luas, Andien menatap layar ponsel genggamnya yang menampilkan linimasa media sosial.Manik matanya bergerak cepat, menyisir setiap unggahan dengan harapan menemukan sekelumit berita tentang penemuan anak hilang—atau laporan hilangnya seorang pria secara misterius.Tringgg! Tringgg!Ponselnya mendadak bergetar, memunculkan nama Ghina di layar. Ghina adalah seorang hacker ulung langganan Andien yang terkenal dingin, sangat disiplin, dan efisien dalam menyusupi jaringan digital paling rumit sekalipun.Tanpa membuang waktu berpikir, Andien langsung menggeser tombol hijau."Halo..." Jawab Andien begitu sambungan terhubung."Halo, Bu Andien. Saya ingin melaporkan semua temuan saya secara terperinci. Apa boleh saya bertemu langsung dengan Ibu?" Tanya Ghina dari seberang sana, mem
Malam semakin larut saat mobil Adrian perlahan berhenti di depan kediaman mewah milik Marcus. Perasaan Adrian berkecamuk hebat; amarah, rasa kecewa, serta keletihan yang menumpuk beradu dalam dadanya.Ting nong! Ting nong!Jemari Adrian memencet tombol bel di samping gerbang tinggi itu berkali-kali tanpa jeda, menuntun rasa gusar yang meluap.Suara statis interkom menyala. "Maaf, mencari siapa?" Tanya suara pria berwibawa di balik interkom."Saya Adrian, mencari Saifanny," Jawab Adrian singkat dan tajam.Keheningan melingkupi selama beberapa detik. Adrian menduga penjaga pintu sedang meminta instruksi terlebih dahulu dari sang pemilik rumah sebelum mengizinkannya masuk.Engsel gerbang besi berderit terbuka. Seorang penjaga membimbing Adrian melangkah menyusuri pelataran menuju ruang tengah.Di sana, Saifanny terlihat sedang berjalan bolak-balik di dekat sofa panjang dengan raut wajah yang tidak tenang.Adrian menghembuskan napas panjang menyaksikan pemandangan itu. Ia paham betul bahw
Cahaya matahari sore menerobos masuk dari jendela kaca besar di samping tempat tidur, memantulkan hamparan ombak pantai yang bergulung eksotis di bawah sana.Bima menggerakkan kelopak matanya perlahan. Sensasi sentuhan kain seprai yang halus di bawah punggungnya terasa sangat kontras dengan rasa sakit yang berdenyut-denyut hebat di bagian belakang kepalanya. Ia tidak lagi berada di atas kursi kayu jati tempatnya diikat kaku sebelumnya.Bima mencoba menggerakkan raga, namun suara gemerincing besi serta tarikan kencang mendadak menahan kedua tangan dan kakinya."Astaghfirullah..."Kalimat itu menjadi bisikan pertama yang lolos dari bibirnya saat matanya terbuka sepenuhnya. Kesadarannya menyapu ruangan, menyadari bahwa ia telah dipindahkan ke dalam sebuah kamar mewah yang asing.Ia mungkin telah lolos dari belenggu kursi jati Jepara yang menyiksa pergelangan tangannya, namun penderitaan baru di atas ranjang ini justru terasa jauh lebih memulihkan sekaligus memalukan bagi harga dirinya.B
Marcus melangkah pelan menuruni anak tangga rumah mewahnya. Saifanny, yang baru saja melangkah keluar dari area dapur, menatap pergerakan pria itu dengan dahi berkerut heran."Kamu mau ke mana?" Tanya Saifanny tepat ketika Marcus menginjakkan kaki di ujung tangga."Orang suruhanku sudah melacak siapa yang meletakkan seragam Mabelle di depan pagar. Aku akan pergi ke alamat orang itu," kata Marcus, nada suaranya terdengar sangat pelan dan rapuh.Saifanny mengerutkan alisnya, naluri pelindungnya seketika tersulut."Kalau begitu aku ikut," ucap Saifanny mantap tanpa keraguan.Namun Marcus menggelengkan kepalanya cepat."Jangan, Saifanny. Ini berbahaya. Aku tidak mau mengambil resiko jika terjadi sesuatu padamu," kata Marcus, memasang raut wajah dipenuhi kecemasan yang teramat sangat.Marcus melangkah mendekat, mengunci pandangannya tepat di manik mata Saifanny. Perlahan, kedua tangannya terulur meraih dan menggenggam erat jemari Saifanny."Kumohon tetaplah di sini. Aku... membutuhkan alas
Matahari mungkin sudah terbit, atau mungkin sudah tenggelam lagi. Bima tidak tahu. Di tempat penyekapan yang pengap itu, waktu telah kehilangan seluruh maknanya.Kegelapan total menyelimutinya karena selembar kain hitam terikat sangat erat, menutupi kedua matanya. Ia sama sekali tidak tahu sedang berada di ruangan apa—hanya aroma lembap, debu, dan bau karat yang menusuk tajam ke dalam indra penciumannya.Kedua tangan Bima yang terikat sangat kencang mulai terasa lemas tak berdaya. Serat kain dan tali kasar serta sudut ukiran kayu mulai mengikis kulit pergelangan tangannya yang mati rasa.Namun, rasa perih di tangannya kalah oleh alarm dehidrasi yang sudah berdering hebat selama lebih dari 18 jam terakhir.Sejak diikat di kursi jati itu, ia tidak diberi setetes air pun. Setiap embusan napasnya terasa seperti pasir yang menggesek tenggorokan.Bima mencoba menelan ludah, tetapi kelenjar air liurnya sudah mengering total. Lidahnya terasa tebal, kaku, dan menempel erat di langit-langit mul
Pagi hari yang tenang di kediamannya memberikan Marcus kepuasan yang mendalam. Ia menyeruput kopi hangat di genggamannya perlahan, menikmati aroma kedamaian yang fana.Saifanny kini sepenuhnya berada di bawah atap rumahnya, dan ia bersiap menggunakan taktik manipulasi apa pun agar wanita itu terus bertahan lebih lama di sisinya.Senyuman puas tersungging tajam di bibir Marcus. Ia merasa menang atas seluruh strategi isolasi emosional yang telah ia rancang dengan begitu presisi.Namun, kedamaian itu pecah seketika ketika kenyataan pahit mengetuk pintunya.Tok! Tok!Pintu kamar Mabelle diketuk dari luar."Tuan, ini saya," kata Erin setengah berbisik dengan nada cemas."Masuk," perintah Marcus singkat.Erin melangkah masuk membawa sebuah paperbag yang berisi seragam sekolah Mabelle yang telah diberi bercak noda merah menyerupai darah kotor.Erin meletakkan paperbag itu di atas karpet beludru, lalu mendekati Marcus dengan raut wajah penuh keresahan."Tuan, saya ada kabar buruk," kata Erin,
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah







