Mag-log inSteven tidak mengingat Rosemary.
Steven mencintainya sepenuh hati.Steven pada akhirnya melupakan dendamnya.Rosalia berjalan hilir mudik di dalam apartemennya, memikirkan itu semua.Steven setelah sadar dari tidur panjangnya tiba-tiba saja mengalami amnesia parsial. Penjelasan dari dokter akan keadaan Steven saat ini saat dia bertanya mengapa Steven banyak tidak mengingat beberapa kejadian yang pernah berlangsung di dalam hidup pria itu."Apa aku"Apa kamu tidak merasa aneh, Rosa?" Rosalia mengabaikan pertanyaan Hilda, dia tahu jika Hilda sedang cemburu. Steven yang kembali menjalin hubungan dengannya telah memberikan hubungan yang dia inginkan. Hubungan yang pernah dia cemburui saat melihat betapa lembut dan perhatiannya Damian terhadap Rosemary. "Aku tahu kamu cemburu Hilda." Hilda menghembuskan asap rokok dari bibirnya, dia memang cemburu, sangat cemburu, tetapi kali ini bukan hanya rasa cemburu, ada rasa curiga dengan sikap Steven Hill yang tiba-tiba berubah tidak lagi mengejar Rosemary sebagai target balas dendam. Dia telah mencoba menghapus memori tentang Rosemary di dalam ingatan Steven Hill saat pria itu terbaring koma dan pada akhirnya pria itu mengingat kembali sosok Rosemary bahkan kembali mengatur rencana balas dendamnya. Pertanda hipnotis yang telah dia lakukan gagal. Pria yang begitu ingin menghancurkan seseorang, tiba-tiba melupakan tujuan hidupnya dan bersikap normal bahkan cenderung manis serta perhatia
Rosalia memejamkan matanya, dia baru saja pulang dari kencannya bersama Steven. Perlakuan Steven membuatnya merasa dimabuk cinta, tidak seperti dulu di mana kegiatan mereka lebih banyak dihabiskan dengan bercinta. Kali ini semua kata-kata Hilda terbantahkan, Steven tidak mencari kehangatan tubuhnya. Pria itu bahkan hanya memberikan ciuman selamat malam karena Rosalia harus bekerja keesokan harinya. Semua berjalan begitu lambat dan manis seperti keinginannya jika suatu saat dia kembali menjalin cinta. Dada Rosalia menjadi berdebar-debar dengan sikap manis Steven yang lembut dan penuh perhatian, pria itu juga tidak lagi bicara tentang Rosemary yang membuat dirinya semakin merasa tenang. Tidak ada lagi tatapan penuh dendam si mata Steven, yang dia lihat hanyalah tatap teduh yang membuatnya semakin merasa kali ini mereka berada di hubungan yang benar. Steven berusaha mencintai dirinya dengan perlahan, tetapi pasti begitu juga dengan dirinya. Bukan lagi cinta cinta dipenuhi dengan na
"Steve?" Rosalia segera memayungi tubuh Steven yang basah di bawa guyuran hujan. Wajah pria itu tampak pucat, rambut-rambut kasar tampak tumbuh tidak terawat di wajah Steven. "Apa yang harus aku lakukan, Rosa?" Raut wajah Rosalia tampak bingung melihat penampilan dan mendengar suara parau pria itu. Tanpa ragu dia segera membawa Steven menuju kamar apartemennya. Dia segera membawakan jubah mandi agar pria itu dapat berganti pakaian untuk sementara dan merasa hangat setelah terguyur oleh air hujan, Rosalia segera mengeringkan pakaian basah Steven pada mesin pengering pakaian. Jantungnya berdebar cepat, Steven telah rapi kembali. Wajahnya terlihat bersih setelah bercukur dan tanpa sadar Rosalia memperhatikan tubuh Steven yang terpahat indah, dulu dia tidak begitu memperhatikan Steven. "Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu menangis?" Steven menghela nafasnya. "Aku tidak bisa berpisah denganmu, hidupku menjadi kacau sejak kita berpisah. Aku sudah selesai dengan dendam ku terhadap Ros
Hantaman benda keras hampir menghancurkan tempurung kepala Ella, melihat hasil pemeriksaan dan penjelasan dari dokter membuat tubuh Steven terasa dingin. Di dalam pikirannya, Damian Reeves berusaha membungkam Ella sebagai satu-satunya orang yang mengenal wajah dari kekasih Mattiash. Dia masih menduga jika Rosemary adalah kekasih Mattiash. Sulit baginya untuk membayangkan Rosalia yang memiliki sikap lemah lembut mampu melukai seseorang, ditambah Rosalia juga tidak memiliki seseorang yang bisa diandalkan."Biarkan aku yang menjaga bibi, anda bisa pulang terlebih dahulu."Steven menganggukkan kepalanya. "Apa kamu sama sekali tidak mengenal atau pernah melihat kekasih Mattiash. "Gery terdiam, dia tidak yakin apakah dia dapat mengatakan jika dia pernah melihat kekasih majikan bibinya atau dia diam demi menutupi kesalahannya. Steven menatap tajam ke arah Gery yang terlihat bimbang. "Aku hanya ingin tahu apa kamu pernah melihat perempuan itu atau tidak? Aku tidak akan menghukummu. "Mat
Udara terasa begini dingin meskipun hari ini Pinehill sedang dihujani sinar matahari, kabut sama sekali tidak muncul bahkan langit yang biasanya diselimuti awan saat ini berwarna biru cerah. "Apa maksud kalian?" Steven berjalan mondar-mandir dihadapan tiga pekerja lainnya. Tukang kebun yang biasa merawat tanaman dan rumput mansion, istri dari tukang kebun yang sering membantu Ella membersihkan rumah dan keponakan laki-laki Ella yang juga sering membantu membersihkan serta menjaga rumah. "Bibi dipukul oleh seseorang, sekarang dia mengalami koma." Jawaban dari keponakan laki-laki Ella yang bernama Gary membuat Steven memijat pelipisnya. Dia terlambat datang, seseorang berusaha menghilangkan saksi untuknya. "Apa pelakunya sudah ditemukan? " Ketiga orang tersebut menggelengkan kepala mereka serentak. "CCTV?" "Tidak ada CCTV di tepi hutan, Paman Caine menemukan bibi tergeletak di tepi hutan. " Gary kembali menjawab pertanyaan Steven. "Tepi hutan?" Kali ini mereka bertiga ser
"Tidak bisa, aku tidak akan mengijinkannya." Kening Steven berkerut, dia sudah tahu jawaban yang akan diberikan oleh pria yang ada di hadapannya. Dia hanya sedang mencoba dan juga meyakinkan dirinya jika Rosemary memang bersalah. "Apa kamu pikir aku dan istriku berbohong?" Pertanyaan yang membuat wajah Steven memerah malu seakan-akan dia sedang tertangkap mencuri permen. "Aku mengenal istriku sejak dia masih kecil, hingga dia beranjak dewasa dan menjadi dewasa. Aku selalu mengawasinya dengan baik, bahkan saat dia berada di Waterbay dan aku berada di Brighton, aku masih mengawasinya. Tidak hanya aku, tetapi juga kakaknya, jadi tidak ada celah baginya untuk bermalam dengan seorang pria bahkan sampai hamil. Tidak ada kesempatan yang ku berikan untuk dia mengenal pria lain selain aku dan kakaknya." Steven kehilangan rasa percaya dirinya dan keyakinannya melihat tatapan Damian dan bagaimana pria itu mendominasi dirinya. Dia tahu jika pria yang berada di hadapannya saat ini sedang ti
Matahari bersinar terang di atas puncak gunung, memantulkan cahaya putih yang menyilaukan. Suhu udara sangat dingin, menusuk sampai ke tulang, tapi itu tidak menyurutkan semangat Rosemary dan Gabriella dalam menggulung bola salju dari tumoukan salju tebal di halaman villa. Rosemary da
Adam menelan ludahnya, menyadari kebodohannya mengikuti Damian yang tidak bisa jauh dari Rosemary."Kita bisa sewa villa satu lagi. Biarkan mereka bersenang-senang." protes Adam saat Damian memutuskan tetap berada di villa yang sama dengan Rosemary dan Gabriella. "Kamu juga sudah sanga
Sinar matahari sore masuk melalui celah tirai jendela yang tebal, menerangi debu-debu halus yang berterbangan di udara. Di ruang kerja yang luas dan bergaya minimalis modern itu, suasana terasa sangat profesional namun tetap hangat.Di sebuah meja kerja besar yang terbuat dari kayu wal
"Aku mencintaimu, Rosemary. Lebih dari apapun di dunia ini," gumam Damian di antara ciumannya."Aku juga mencintaimu, Damian... Sangat mencintaimu," jawab Rosemary dengan suara manjanya, matanya berkaca-kaca karena perasaan bahagia dan gairah yang bercampur menjadi satu.Per







