مشاركة

Cinta Panas Sang Penyamar
Cinta Panas Sang Penyamar
مؤلف: Maey Angel

bab 1

مؤلف: Maey Angel
last update تاريخ النشر: 2026-03-10 20:42:49

"Pelan sedikit, Sayang... kamu terlalu bersemangat malam ini."

“Tapi aku menyukaimu, Dokter. Ah…”

" Uhm…"

Suara desahan itu pecah di antara deru napas yang memburu. Di bawah temaram lampu kamar yang diset redup, Daffi mencengkeram bahu Sisi, mencoba menahan ritme gerakan wanita itu yang terasa begitu menuntut hampir seperti sebuah serangan daripada sebuah kemesraan.

Tangan Daffi terulur, membuat Sisi benar benar mengerang.

“Kamu basah, Sayang."

Sisi tidak menjawab. Ia justru menarik kerah piyama Daffi, mendekatkan wajah pria itu ke ceruk lehernya. Aroma sandalwood dan antiseptik khas rumah sakit menguar dari kulit Daffi, sangat kontras dengan aroma parfum maskulin tajam yang biasa dihirup Sisi di medan laga.

" Uhm…”

"Diamlah, Dokter," bisik Sisi dingin di telinga suaminya. "Anggap saja ini kompensasi karena aku harus berpura-pura menjadi menantu salihah di depan Ayahmu seharian tadi."

Daffi terkekeh pendek, meski napasnya masih tersengal. Ia membalikkan posisi dengan satu gerakan cepat, mengunci pergelangan tangan Sisi di atas bantal. Matanya menatap manik mata Sisi yang datar tak ada cinta di sana, hanya ada adrenalin dan pelepasan stress.

Gedebug!

Sisi mengusap keningnya yang menghantam lantai kamar. Dia menggerutu karena ternyata memimpikan hal yang tidak tidak pasal saran menikah dengan Daffi yang terbawa mimpi. Ditambah semalam dia baru saja melihat video yang sahabat nya kirim dan membuat dia

" Sial! Ternyata mimpi!" Sisi mengecek celana yang dia pakai, takut benar benar basah karena mimpi tadi.

" aman,” ujarnya karena mimpinya tidak meninggalkan jejak basah di celana.

Setelah mimpi tadi, Sisi berusaha bangkit dan berjalan menuju meja rias, mengambil ponsel yang terenkripsi khusus. Sebuah notifikasi masuk.

" Jangan sampai Andini menikah dengan Daffi. Lindungi dia. Kamu harus menjaga dua demi aku, jika perlu kamu menyamar jadi calon pengantin Daffi.”

Rahang Sisi mengeras. Mimpi tadi benar benar pertanda jika dia memang harus berhadapan dengan Dokter dingin bernama Daffi.

Melindungi Andini adalah tugas suci, namun menjadi istri seorang anak ulama besar di Surabaya adalah penyamaran yang paling menguras tenaga.

“Benar benar tugas menyebalkan¡"

Sisi melempar ponsel, dia benar benar frustasi dengan tugas ini. Besok, dia yakin akan menyamar kembali jadi gadis pendiam dan bodoh demi menyenangkan hati atasannya itu.

**

“Hubungi Ayahmu, Nak. Hubungi dia sekarang juga,” ucap Abah.

" Tidak bisa, Abah.” Sisi menggeleng. Dia tak ingin berbohong jika memang dia tak punya ayah atau saudara laki laki.

“Kamu tak ingin menghubungi Ayahmu? Kamu dipaksa Daffi, hm?” tanya Ibnu yang memang merasa janggal dengan pilihan anaknya-Daffi.

“Ayah sudah tiada, adik dan kakak, juga sudah tak ada yang laki laki.” Sisi menjawabnya dengan mata terpejam dan wajah yang menunduk. Kepura puraan yang terlihat nyata.

“Yatim piatu?”

Sisi mengangguk lagi.

“Abah jangan mendesaknya. Untuk wali, kita nggak boleh sembarangan, Abah. Jadi, Daffi akan datangi keluarganya. Agar nanti bisa dilaksanakan dengan khidmat.” Daffi pun mengambil langkah ini. Selain untuk menjeda waktu, dia juga bisa memilih pilihan untuk Sisi agar bisa mengambil keputusannya sendiri.

“Paman, Uwa atau siapapun yang bisa jadi wali kamu?” Ibnu sepertinya tak puas dengan jawaban yang dia dapat.

“Saya tak punya keluarga,” lirih Sisi terlihat pasrah.

“Kalau begitu, nikahkan saja, Abah. Perkara sah atau tidak, itu urusan sama yang di Atas dan dosa, biar dia yang tanggung kalau bohong.”

“Ya sudah, nanti setelah Isya kita akan langsungkan akad sirr. Daffi, persiapkan mahar. Carikan saksi dan wali hakim untuk Sisi sekalian,” ucap Abah yang tak mungkin ditentang Daffi lagi.

“Nikah langsung?" pekik Sisi dan semua menatapnya, termasuk Daffi.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Cinta Panas Sang Penyamar    110

    Tery ngakak, “Daripada lo dikasih nama Gendhis Sugiyo, udah syukurin aja. Lagian nama doang, yang penting wajah lo udah cakep. Sekarang kalau selfie udah nggak perlu aplikasi 360 lagi.”Aisy menghela napas panjang, lalu menatap pemandangan dari jendela hotel.“Gue pengin pergi ke tempat yang nggak banyak orang tahu. Yang tenang, ada pantainya, tapi sinyalnya tetap ada. Gue mau nulis, ngedit, sambil healing. Ya, gue mau jadi penulis aja lah. Biar nggak perlu mikir keras dan bisa jebolin aplikasi menulis buat bikin genre yang dramatis dan romantis.”“Tumben banget lo ngomong kayak penulis konten inspiratif. Ada apa, Momo?”“Panggil gue Sisi udah deh, kayak dulu aja,” potong Aisy cepat.Tery kembali cekikikan. “Sisi udah mati. Yang sekarang itu Momosy Edigowa, warga dunia maya dengan wajah baru dan identitas yang udah dipoles dari kepala sampai dagu. Kalau lo ke kantor kelurahan, disuruh fingerprint, lo bisa ditangkep karena nggak match.”

  • Cinta Panas Sang Penyamar    109

    Aisy menerimanya dengan pelan, rasa terharu pun menyeruak. Dia dikelilingi orang baik, bahkan Dokter yang mendampinginya pun begitu baik dengan memberikan cermin  kecil berhiaskan  batu permata yang jelas bukan murah harganya.“Wah, Dokter baik sekali. Apa hanya Aisy saja yang diberi? Saya tidak? Wah, ini tak adil,” ledek Tery.“Tenang saja, untuk sahabat terbaik pasien saya ini, saya persiapkan gantungan kunci. Ini sama bagusnya kok, ada lambang bulan dan bintang di s iini dan kamu bisa menyimpannya sebagai kenang kenangan.”Tery menerima gantungan kunci berbentuk  bulan dan bintang yang sama mewahnya. Meski belum tentu apa itu lapis batu permata atau bukan seperti milik  Aisy, tapi Tery senang mendapatkan kebaikan itu juga.“Makasih banyak, Dokter Lie. ANda baik sekali, semoga Tuhan memberkati…”“Sama sama, kalian adalah contoh sahabat selamanya dan semoga keberuntungan selalu menyertai kita.”“Ter

  • Cinta Panas Sang Penyamar    108

    Tiga hari yang melelahkan. Operasi plastik yang dilakukan hampir 100 persen selesai. Wajah Aisy yang baru akan tercipta. Meski DNA tak mungkin akan berubah, tapi jelas kecantikan Aisy yang biasa biasa saja akan berubah memancar setelah ini.Tery dengan siap menunggu di rumah sakit itu. Pasca operasi, dia yang mengurus semuanya. Dari cara makan Aisy yang kesulitan, pergi ke WC sampai semua yang Aisy butuhkan, Tery yang membantunya. Hari ini, pelepasan perban di wajah Aisy.  Tery menggenggam tangan Aisy erat-erat. Tangannya hangat, tapi ada sedikit getar di sana. Mungkin karena gugup, mungkin karena khawatir akan reaksi Aisy setelah melihat wajah barunya. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara jarum jam yang berdetak lambat, seperti sengaja memberi efek dramatis.“Deg degan ya? Artinya lo masih hidup, Sy,” jawab Tery membuat Aisy tersenyum dalam hatinya.  Dia belum bisa berbicara dan makan dengan baik karena bibirnya ditutup perban dan tak

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 107

    Dokter Lie tersenyum, “ minggu ini. Nanti persiapkan untuk semua kondisinya karena pemeriksaan dalam tiga hari ini mempengaruhi operasi plastik yang akan kamu jalani. Kamu siap kembali merasakan sakit?” tanya Dokter Lie.“Sakit macam apa yang belum ia alami, Dok? Sakit migren, sakit jiwa, sakit cacar, sakit parah sampai sakit hati dia juga sudah biasa, DOk. Gak akan mempan sakit lama lama di tubuhnya,” sahut Tery.“Biasa aja ngomongnya, semangat amat dukung orang sakit biar nambah sakit,” gerutu Aisy.“Ya, usahakan tetap fit dan jangan ada beban pikiran. Proses pemulihan setelah operasi wajah itu bukan cuma fisik, tapi mental juga harus kuat,” ujar Dokter Lie sambil mencatat sesuatu di tablet medisnya.Aisy mengangguk pelan, lalu menatap Tery. “Berarti, minggu ini ya. Kalau gagal, gue jadi muka dua dong? Separuh wajah lama, separuh wajah baru. Serem juga…”“Kalau gitu, lo bisa jadi bintang film horor. Judulnya: Se

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 106

    Aisy merasa jika waktu berlalu begitu lama. LUka di kaki dan tangan sudah kering, hanya masa penyembuhan yang katanya butuh satu minggu menjadi lebih lama karena Aisy tak mau diam. Ke WC atau jalan ke balkon ruangan, dia tak mau ditemani. Alhasil, lebih lama ada di rumah sakit itu.Tery kembali dari luar, dia melihat Aisy yang sedang menikmati pemandangan di luar.“Kek gersang banget di luar sana, Te,” ucap AIsy saat melihat di luar,“Cuaca di sini sedang panas panasnya, di Jepang malah ada banyak orang meninggal gara gara suhu panas yang tinggi. Makanya lo harus banyak minum dan jangan suka turun dari ranjang sendiri begini. Mau sembuh gak sih?”“Kapan jadwal operasi, Te? Gue udah nggak sabar balik Indo, kangen sama suasana di sana.”“Mulai deh mulai!” sungut Tery meletakan barang yang dia beli.“Habisnya gimana, sekacau kacaunya INdo … mau liburan ke gunung tinggal naik bis aja nyampe. Di sini, mau

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 105

    “Mulai deh. Udah lah, gak usah mikir itu lagi. Takut gue sama lo,” ucap Tery. Dia pun mengambil ponsel dan mengirim pesan pada seseorang yang jauh di sana.“Penjahat itu sempat menyebut nama kedua orang tua gue saat hendak menghabisi gue dan bahkan, nama Ayah Edi pun disebutnya. Apa mungkin, dia dalang dari kematian kedua orang tua gue ya?” tanya Aisy dalam dalam dan penuh kebingungan..Tery menoleh, menyimpan ponselnya. “Maksud lo?”“Ada sesuatu yang aneh. Gue ngerasa, penyerangan itu bukan sekadar serangan. Kayak… kayak ada pesan yang mau dikasih tahu sama gue.”Tery menyipit. “Lo mulai mikir konspirasi?”“Gue gak yakin. Tapi insting gue bilang, ini ada hubungannya sama masa lalu gue. Entah siapa yang masih simpan dendam, atau… siapa yang sengaja kasih peringatan.”Tery menunduk sebentar, lalu menatap Aisy. “Lo mau nyari tahu?”Aisy mengangguk pelan. “Gue gak bisa hidup tenang ka

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 95

    Daafi terdiam, kata cucu bukanlah kata singkat tanpa makna. Tapi bisa jadi hal berat yang akan sulit dia kabulkan. “Biar saja, mereka tidak tahu juga kalau_”“Apa Gus nggak mau sedikit berusaha menerimaku? Bagaimanapun, aku berhak meminta hal itu sebagai nafkah, bukan?”

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 94

    Hari hari sebagai Dokter yang ditugaskan di UGD membuat Daffi mulai kembali nyaman dengan pekerjaannya. Meskipun masalah dengan keluarga besar di Surabaya masih berlanjut, namun pernikahan dia dengan Ainah mampu membungkam beberapa mulut orang orang yang menginginkan dia menikah dengan wanita mus

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 93

    Daffi duduk di teras penginapan, menatap langit yang mulai tenang. Sunset mulai turun perlahan, seindah apapun senja, tetap tak mampu menenangkan pikirannya. Kenangan tentang Andini dan Sisi dan janji-janji lamanya seperti diputar kembali di kepalanya. Andini hadir sebagai pengingat yang kejam.B

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 92

    Daffi tak menjawab. Jemarinya yang tadi menggenggam tangan Ainah perlahan melemah, lalu terlepas. Pandangannya kosong, seperti melihat masa lalu yang kembali menghantamnya tanpa ampun.Ainah mematung, antara bingung dan gelisah. Siapa Andini sebenarnya? Dan kenapa wajah Daffi tampak seolah ingin ka

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status