Share

32. Khilaf

Author: MyMelody
last update publish date: 2024-08-11 23:58:34

“Terima kasih sudah berinisiatif mengadakan acara ini,” bisik Natalia sambil menyesap minuman di dalam gelas di depannya.

“You’re welcome. Melihatmu bahagia seperti ini, merupakan kehormatan bagiku.”

Bara yang duduk di depan Natalia sambil menikmati kecantikan wanita itu. Suasana bar itu sudah mulai sepi karena teman-teman sekerja mereka sudah pulang duluan. Kini hanya tinggal Bara dan Natalia yang masih bertahan dan minum-minum.

Natalia yang sudah dalam pengaruh minuman yang telah dikonsumsin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (33)
goodnovel comment avatar
Milda Yanti
Kamu yg meluk2 bara jeh Nathalie , dasar kamunya yg mancing2
goodnovel comment avatar
Jihan Khanaya
salut juga sih sama Natalia yang gk tergoda meskipun dalam keadaan mabuk tapi Natalia masih waras. walaupun kerjaan nya paling penting tapi Natalia nya gk pernah sedikit pun mau selingkuh
goodnovel comment avatar
Kaizan Ragiel Trate
hampir saja Natalia...dan bara melakukan nya...mlh g jadi...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   187. Kemenangan

    Melihat Grace yang sudah terlelap akibat pengaruh obat penenang, Gabriel perlahan melepaskan genggaman tangannya dari jemari wanita cantik itu. Gabriel menatap wajah Grace yang lembut, sungguh hatinya meleleh hanya dengan melihatnya tertidur pulas seperti itu.Ia bangkit dari tepi tempat tidur, melangkah pelan menembus temaram kamar menuju jendela kayu yang telah terpaku rapat dari luar. Gabriel menarik napas dalam-dalam. Balutan perban di lengan kirinya mengencang, meletupkan rasa nyeri menusuk dari luka jahitan yang tadi sempat dijahit Dokter Frans setelah kondisi Grace mulai membaik.Baginya, rasa sakit di fisiknya sama sekali tak sebanding dengan emosi yang menggemuruh di dalam dadanya. Dari balik celah gorden, ditatapnya pekatnya malam. Rahangnya mengeras kaku, menahan amarah yang siap meledak. Di saat yang sama, sebuah keputusan pahit berputar tanpa arah di benaknya.Peringatan Dokter Frans semalam terus bergema bagaikan dentang lonceng kematian saat dia berbicara pribadi dengan

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   187. Lebih dari Apapun

    Suara doppler yang memantulkan detak jantung bayi kembar kami perlahan-lahan mulai melambat dari frekuensi kencang yang menakutkan, berubah menjadi irama yang lebih stabil.Cairan obat penenang dan penghenti kontraksi yang dialirkan perawat melalui jarum infus di punggung tanganku mengalir pelan dan dingin ke dalam pembuluh darah. Nyeri hebat yang tadinya meremas rahimku bagai dicengkeram sesuatu yang menyakitkan perlahan-lahan menumpul. Rasa mules itu meluruh, berganti dengan rasa pegal yang berat dan gelombang kantuk luar biasa yang melumpuhkan seluruh otot tubuhku."Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi, Grace," bisik Gabriel. Tangannya yang bebas membelai lembut rambutku yang lepek oleh keringat dingin, mengusapnya berkali-kali dengan kehangatan yang berusaha meredam badai di dalam dadaku. "Percayalah padaku. Cobalah untuk tidur dan beristirahat. Jangan pikirkan apa pun lagi. Ada aku di sini."Di bawah pengaruh obat penenang yang mulai menguasai kesadaranku, ketakuta

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   186. Teror yang Mulai Berjalan

    Natalia berdiri di ruang tamu. Rumah mewah itu tampak sepi dan sunyi, hanya diterangi lampu temaram di sudut ruangan. Tampaknya para asisten rumah tangganya sudah berada di alam mimpi.Dibukanya lagi pesan yang sudah terkirim ke nomor Grace. Walaupun belum pernah hamil, Natalia tahu betul bagaimana kondisi psikologis wanita berbadan dua. Satu saja benih ketakutan yang ditanam di saat yang tepat akan berkembang menjadi kepanikan hebat.Ketakutan itu akan berubah menjadi paranoia, memicu stres berat, meningkatkan tekanan darah, dan pada akhirnya ... rahim Grace melemah dan tidak akan sanggup menahan beban guncangan emosional tersebut."Kamu ingin menjadi pahlawan untuknya malam ini, Gabriel?" bisik Natalia lirih pada bayangan suaminya di dalam benaknya. "Lakukanlah. Peluk dia sesuka hatimu malam ini. Tapi kamu tidak akan bisa berada di sampingnya setiap jam, setiap menit, dan setiap detik.".Natalia melangkah melintasi aula utama yang megah. Tanpa kehadiran Gabriel, rumah ini terasa beg

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   185. Sandiwara yang Sempurna

    "Hmm, pesan itu akan menjadi teror tak kasat mata," bisik Natalia dingin. Setiap kali Grace melihat ponselnya, atau ada suara asing di luar jendela, Grace akan teringat pada ancaman itu sampai stres tinggi mengguncang kesehatannya dan memicu kontraksi fatal.'Aku akan lihat sampai seberapa kuat dia bertahan terhadap teror yang aku siapkan.'Natalia duduk beberapa saat sebelum akhirnya mengambil keputusan lain. Untuk memastikan Gabriel tidak mencurigainya sama sekali, Natalia menyimpan ponsel sekali pakai itu ke tempat paling dalam di tas kecilnya, lalu membuka ponsel pribadinya. Ia mendial nomor Gabriel.Sambil menunggu sambungan diangkat, Natalia mengubah raut wajah dan nada suaranya secara drastis, dari sosok wanita berdarah dingin menjadi seorang istri manis, manja, dan sama sekali tidak tahu apa-apa.Nada dering ketiga baru disambungkan."Halo, Natalia?" suara Gabriel terdengar di seberang sana. Suaranya serak, terengah-engah, dan ada jeda kecanggungan yang sangat jelas."Sayang .

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   184. Teror

    "S-suami? Maksud kamu?""Nyonya pernah bilang sama aku kalau dia single, bukan?"Pertanyaan itu meluncur dingin, memutus seluruh rentetan amarah Natalia seketika. Ruangan privat itu mendadak hening mencengkeram, hanya menyisakan deru napas Natalia yang tertahan di tenggorokan."Siapa yang bersama dia saat itu?" tanya Natalia gugup."Aku tak tahu, tapi dia memanggil pria itu dengan nama 'Gabriel.'"Mata Natalia melebar sempurna. Bibirnya yang beroleskan lipstik merah menyala sedikit terbuka, tapi tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari mulutnya.Rasa tidak percaya, kecemburuan yang membakar, dan kenyataan pahit bahwa suaminya, Gabriel, ternyata menginap dan masih terus memberikan nafkan batin pada wanita sewaan itu, menghantam batin Natalia jauh lebih menyakitkan daripada kegagalan rencana pembunuhan itu sendiri."Gabriel ... ada di sana?" gumam Natalia pelan, hampir seperti bisikan tak percaya. Wajahnya yang tegar mendadak runtuh, menyisakan kekosongan yang memyedihkan di bal

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   183. Suami?

    Sementara di luar sana, di bawah naungan malam yang kian larut, pria bertopeng yang baru saja melompati tembok beton itu berlari menyusuri gang-gang sempit pemukiman elite. Ia melepaskan topengnya yang telah basah oleh darah dari hidungnya yang patah akibat sundulan Gabriel, lalu membuangnya ke dalam tong sampah besi bersama belati yang tersisa.Sambil menahan sakit yang membakar, jemarinya yang gemetar meraba saku celana hitamnya, menarik sebuah burn-phone—ponsel sekali pakai yang khusus ia gunakan untuk pekerjaan kotor ini.Ia mendial satu-satunya nomor yang tersimpan di memori gawai tersebut. Dan hanya dua kali nada dering bergema, suara seorang wanita yang anggun, dingin, dan tanpa celah menyapa dari seberang sambungan."Bagaimana?""Saya perlu bertemu sekarang," jawab pria itu dengan suara serak, terengah-engah menahan rasa sakit di dadanya. "Di kafe biasa. Di ruang privat bagian belakang."Ada jeda sejenak di seberang sana. Suara helaan napas yang tidak sabar dan sarat akan tek

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   154. Rantai Besi

    Pria itu mendekati dan meraih wajahku. Aroma tubuh dan mulutnya membuat aku ingin muntah. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Siapa gerangan pria ini sebenarnya."Diam!! bentaknya kasar.“Kenapa aku harus diam, orang jahat?!” sentakku tak mau kalah."Tutup mulutmu, sebelum aku yang menutupnya."Aku t

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   150. Cap-Cay

    Aku menahan napas, jantungku berdegup kencang. Aku harus menyembunyikan kehamilan ini. Tak boleh ada seorang pun yang tahu, termasuk mama. Biarlah aku sendiri yang menanggung semua ini.Tangan mama semakin dekat, dan aku tak tahu harus berbuat apa. Satu gerakan salah saja, semuanya bisa terbongkar.Kr

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   149. Curiga

    “Aku akan melakukan yang terbaik untuk papa.”“Bagus, Nona. Dalam minggu ini, kami akan memulai terapi saraf, dan memberikan rangsangan otak untuk mengaktifkan kembali jaringan-jaringan otak yang masih berfungsi dari Pak Kristanto.”Aku hanya mengangguk, menahan luapan bahagia yang nyaris pecah. Lalu

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   148. Merespon

    "Tunggu! Apakah Nona Grace baik-baik saja?""Kenapa?" tanyaku sambil berbalik dengan alis bertaut."Nona terlihat pucat dan letih. Apakah Nona sedang sakit?"“A-aku baik-baik saja.” “Nona bisa tunggu di sini sampai Ibu Kristianto selesai terapi.”“Tidak, terima kasih.”Tanpa berkata apa-apa lagi, aku seg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status