LOGINClara terdiam sesaat, ia menjadi bingung dengan sikap Zevko. Rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan pria ini. Bukankah seharusnya dia senang jika project ini sukses. Tapi mengapa dia bilang tidak peduli dengan project?
"Lalu bagaimana dengan rapat nanti siang? Tidak mungkin untuk dibatalkan karena waktunya sudah mepet. Semua sudah bersiap."
"Kamu tahu apa yang harus kamu katakan nanti. Tanpa tanda tanganku, laporan itu tidak sah."
"Baiklah, aku pemisi."
Clara segera meninggalkan ruangan Zevko dengan kesal. Ia sudah susah payah menyusun laporan itu dan berkali-kali mengeceknya, tapi dengan seenaknya dibilang sampah.
Clara duduk termangu, kekesalan masih melintasi wajahnya. Teman-temannya segera menghampiri.
"Clara, bagaimana?" tanya Emma yang sudah berdiri di sampingnya.
"Kenapa, Clara. Wajah kamu kusut banget, apa kamu dimarahi pak Zevko?" Melly menimpali sambil menyodorkan minuman kaleng.
"Makasih Mel," jawab Clara sambil membuka kaleng dan menenggak isinya. Ia menatap kedua temannya dengan lesu. "Laporannya ditolak."
"Hah? Terus?"
"Mau tidak mau harus dilakukan survey ulang."
"Survey ulang?!" Melly dan Emma berseru dengan kompak. Keduanya menjadi skeptis, karena jika dilakukan survey ulang itu berarti melibatkan mereka juga.
"Terus kapan survey ulangnya, Cla?"
"Kemungkinan lusa. Tapi untuk jelasnya akan dibicarakan dalam rapat nanti."
"Jujur, aku males banget balik ke sana lagi. Meski baru di pinggiran hutan, tapi sudah bikin merinding." Emma duduk dengan lesu.
"Iya, aku juga. Kalau pemandangan sih sangat indah, tapi aura di sana sedikit horor. Bagaimana kalau tiba-tiba ada manusia serigala muncul, terus ada pamvire. Iiih, serem."
"Huh, dasar kau, Mel. Kebanyakan nonton film horror sih."
Clara menggeleng-gelengkan kepala melihat kedua temannya yang sedang berdebat kecil. Dalam hati, ia membenarkan apa yang mereka takutkan. Ingin sekali dia menceritakan kepada mereka pengalaman buruknya di tengah hutan itu. Namun Clara harus membungkam mulutnya. Ia ingat ancaman Zevko yang sepertinya tidak ingin ada seorang pun yang tahu, Seolah ada rahasia di hutan itu yang ia tutupi. Dan Clara berekad untuk mencari tahu.
Beberapa menit kemudian Clara masuk ke ruang meeting. Dia harus memberikan laporan dan analisa mengenai survey yang dia lakukan kemarin.
Clara berdiri untuk melakukan presentasi, Zev duduk dengan tenang diantara para staf lainnya.
Di awal Clara dapat membeberkan analisanya dengan baik, namun dia terdiam manakala menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya.
"Bagaimana ini Clara? Laporan Anda tidak lengkap. Terutama mengenai area barat."
Clara terdiam sesaat, ia melirik Zevko sekilas sebelum memberikan jawaban. "Maaf pak, kemarin kabut turun cukup tebal di area itu, sehingga saya tidak bisa melakukan pengamatan lebih seksama."
Manager itu terdiam, dia beralih menatap Zevko. "Bagaimana ini, Pak Volkov?"
"Survey ulang," jawab Zevko tanpa ragu. "Saya sendiri yang akan turun untuk memastikan."
"Baiklah. Di area itu akan di bangun sarana rekreasi, karena di sana ada aliran sungai dan jeram yang bagus. Tolong koordinasikan semua tim agar bekerja maksimal."
Clara melihat pada Zevko, ada yang ingin dia tanyakan, namun pria itu mengacuhkannya. Dia hanya sibuk dengan catatan-catan di mejanya.
Seusai meeting Clara segera menuju cafe yang ada di area kantor. Ia segera memesan kopi untuk menghilangkan kepenatannya. Pikirannya campur aduk, seolah banyak benang-benang kusut yang harus diurai.
"Hai, Clara. Sendirian aja. Boleh aku temani?"
Seorang pria menyapa Clara, tanpa menunggu jawaban Clara ia sudah duduk di depannya. Dia adalah John, karyawan dari perusahaan yang sama namun dari divisi yang berbeda.
Sudah menjadi rahasia umum jika John naksir Clara. Dia sering membantu Clara dan selalu berusaha memberikan perhatian. Namun Clara bersikap wajar, dia hanya menanggapi seperlunya.
"Kamu sepertinya sangat letih, wajahmu pucat. Apa kamu sakit?"
"Tidak, aku baik-baik saja."
"Hmm, Clara, Bagaimana kalau nanti aku antar kamu pulang. Kamu terlihat kurang sehat, bahaya kalau harus nyetir mobil sendiri."
Belum sempat Clara menjawab tawaran John, tiba-tiba terdengar suara dingin yang mengejutkan mereka berdua. "Tidak perlu! Clara harus lembur malam ini."
Clara dan John tersentak, keduanya segera menoleh ke sumber suara. Zevko telah berdiri di depan meja mereka. Wajahnya dingin dan angkuh.
"Tapi Clara sepertinya tidak sehat, Pak. Lihat wajahnya pucat."
Alih-alih menanggapi ucapan John, Zev menatap Clara dengan tajam. "Clara, ke ruangan saya sekarang."
Usai berkata, Zevko segera berbalik meninggalkan meja Clara. Clara menatap John sekilas, lalu bangun dan menyusul Zevko.
Zevko sedang sibuk di depan layar laptopnya ketika Clara masuk. Dan lagi, Clara mencium aroma hutan pinus dan tanah basah yang menyegarkan setiap kali dia masuk ke ruangan Zevko. Padahal menurut teman-teman Clara, ruangan Zevko biasa saja, sama seperti ruangan lainnya.
Zevko mengambil map dan menyodorkannya di meja. "Kerjakan ini, jangan pulang sebelum selesai."
Clara terdiam, namun bathinnya merutuk. 'Sialan kau, Zev. Kamu sepertinya sengaja menekanku.'
Clara segera mengambil map di atas meja, is memeriksanya dengan teliti hingga tidak menyadari jika Zevko sudah berdiri di dekatnya. Jarak mereka sangat dekat, membuat Clara terkesiap setelah menyadari hembusan napas hangat di keningnya.
Clara segera menutup map dan mendekapnya di dada. Ia mundur selangkah, namun terhimpit dinding. Zevko mengurungnya dengan kedua lengan kekarnya. Ia tidak berkata, hanya diam seolah sedang meneliti wajah Clara.
"Kamu pucat. Apa kamu takut? Kalau tidak sanggup menangani project ini, lebih baik ajukan pengunduran diri segera. Aku tidak sudi ada orang lemah di timku."
Terdengar suara Zevko pelan, namun cukup jelas di telinga Clara. Kata-kata itu tajam dan menusuk.
"Siapa bilang aku tidak sanggup," jawab Clara sambil mendongakan wajah, Ia menatap langsung pada pria yang sedang mencoba mengintimidasinya.
Untuk sesaat keduanya terdiam, tatapan mereka saling mengunci, jarak mereka sangat dekat hingga napas keduanya saling bergumul.
"Bagus. Kalau begitu bersiaplah. Besok kita akan kembali ke sana untuk survey ulang."
"Apa? Besok?"
"Kenapa? Takut?"
"Bukannya tadi kamu bilang lusa?"
"Lebih cepat lebih baik. Aku harus mempertanggung jawabkan langsung ke dewan direksi, Jadi, survey ulang dipercepat. Aku sudah mengatur segalanya."
"Tapi teman-teman dan tim belum siap kalau mendadak gini."
Tiba-tiba mata Zevko berkilat yang mebuat Clara merinding, seolah ada kemarahan di sana.
"Siapa yang menyuruhmu membawa tim?"
"Lalu?"
"Hanya kita berdua."
"B-berdua?"
"Ya, Clara. Hanya kamu dan aku."
Gideon terdiam, sedangkan Clara dan Zevko membisu, menunggu apa yang akan dikatakan paman Clara. Gideon menghela napas sebelum akhirnya membuka suara. "Begini, Alpha. Aku baru saja mendapatkan informasi bahwa para tetua itu menyusun sebuah rencana…."Gideon tidak melanjutkan kalimatnya. Ia memperhatikan reaksi Zevko dan Clara."Rencana? Rencana apa, Gid?""Mereka akan menekanmu agar segera mengangkat seorang Luna.""Tentu, Gid. Itu sebabnya aku di sini untuk menjemput Lunaku," jawab Zevko santai, tangannya meraih punggung tangan Clara dan mengecupnya."Tidak, Alpha. Yang mereka maksud bukan Cla. Tapi seorang wanita dari darah serigala murni. Mereka tidak akan menerima Luna dari darah manusia."Zevko terdiam. Kini wajahnya berubah menjadi serius. Sedangkan Clara masih membisu, ia mencoba memahami situasi yang sedang terjadi."Aku tahu, Gid," jawab Zevko dengan suara acuh. "Beberapa waktu lalu, saat aku masih di kota, para tua bangka itu mengirim utusan untuk menyampaikan pesan mereka.
Sementara itu, Zevko segera memacu mobilnya menuju pinggiran hutan, memutari pondok Hallow yang telah lama tutup. Ia segera menghentikan mobilnya di bawah pohon oak raksasa yang tersembunyi dari dunia luar.Zevko terdiam sesaat, menetralkan perasaannya yang berkecamuk menahan kerinduan yang dalam pada sang mate yang sedang berlatih keras di dalam sana. Clara tidak tahu kedatangannya karena Gideon memutus mind-link mereka agar Clara bisa fokus berlatih."Gideon. Aku di depan gerbang kastil. Aku akan menjemput Lunaku." Zevko segera menghubungi Gideon melalui tautan pikiran."Maaf, Alpha. Jangan sekarang. Cla belum benar-benar siap." Terdengar jawaban Gideon yang membuat Zevko mendengus kesal."Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu.""Alpha, apa tidak sebaiknya Anda kembali ke pack? Anda sudah terlalu lama meninggalkan pack. Nanti, aku sendiri yang akan mengantarkan Clavira jika ia sudah siap.""Tidak, Gid. Aku tidak akan kembali tanpa mate-ku."Akhirnya Gideon pun menyerah dengan keke
Sementara sang Alpha dalam perjalanan pulang dari dunia manusia, suasana di aula utama Pack Volkov justru terasa mencekam. Udara di dalam ruangan besar berbatu kuno itu terasa berat dan menekan. Dewan tetua tengah mengadakan rapat darurat secara tertutup untuk membahas pembangkangan pimpinan tertinggi mereka. Di kursi pimpinan dewan yang terletak di bagian depan aula, duduk Tetua Silas—pimpinan dewan tetua yang paling kolot dan selalu mengedepankan tradisi darah murni di dalam pack."Jadi, Alpha menolak mentah-mentah peringatan yang kita kirimkan?" Suara berat Tetua Silas menggema memecah keheningan, dipenuhi nada tidak suka yang amat kentara.Di tengah ruangan, utusan pack yang sebelumnya dikirim untuk menemui Zevko di kota menunduk dalam. Tubuhnya bergetar samar dan keringat dingin membasahi tengkuknya saat mengingat kembali betapa mengerikannya intimidasi aura Zevko tempo hari."Benar, Tetua Silas. Alpha Zevko bahkan mengancam akan merobek mulut siapa saja yang berani mengusik urus
Keesokan harinya, Zevko telah bersiap untuk menghadap ke kantor pusat. Tujuan utamanya menyusup ke perusahaan properti itu telah tercapai; Menggagalkan project besar mereka.Kini, saatnya Zevko kembali ke dunianya yang sebenarnya. Kembali ke pack, membereskan berbagai isu tak sedap yang mulai merebak di kalangan para tetua.Zevko telah mengenakan stelan jasnya dengan rapi. Ia kembali duduk di meja kerjanya, memeriksa ulang draf pengunduran dirinya. Di sampingnya, ia juga mengambil map berisi berkas pengunduran diri Clara yang sudah ditandatangani oleh gadis itu jauh-jauh hari dan disimpan dengan aman oleh Zevko.Zevko tersenyum tipis. Sesuai rencana rahasia mereka, hari ini mereka akan mengajukan pengunduran diri secara bersamaan. Ia sama sekali tidak peduli pada penilaian manusia atau pertanyaan-pertanyaan kepo dari divisi HRD mengenai alasan seorang supervisor lapangan dan analis datanya keluar pada hari yang sama. Jika mereka berani bertanya macam-macam, Zevko tinggal melempar satu
Zevko tersentak. Ia langsung berdiri dari kursi kerjanya, matanya yang berkilat keemasan memindai setiap sudut ruangan. Kantornya tertutup rapat, pendingin ruangan pun diatur pada suhu normal, tapi bulu kuduknya meremang oleh rasa dingin yang sangat familiar.Hawa dingin yang membawa aroma musim dingin dan wangi tubuh Clara. "Cla?" bisik Zevko, suaranya tercekat di tenggorokan."Zev...!"Suara itu kembali terdengar, kali ini berupa bisikan halus yang menggema langsung di dalam kepalanya lewat jalur mate bond yang sempat tersumbat. Suara Clara terdengar samar, terengah-engah, dan sarat akan perjuangan, seolah gadis itu sedang mengerahkan seluruh tenaganya di suatu tempat yang jauh.Bersamaan dengan itu, dada Zevko berdenyut seolah dihantam gelombang energi perak. Sisi serigalanya di dalam dada langsung melolong resah, mencakar ingin keluar untuk melindungi pasangannya.Zevko tahu apa yang sedang terjadi. Clara sedang menghadapi ujian dari Gideon, dan di tengah rasa terdesaknya, alam baw
Setelah kepergian utusan pack, keheningan kembali menguasai ruangan. Zevko mengendurkan dasinya dengan kasar, lalu menjatuhkan dirinya kembali ke kursi kerja."Apa kamu baik-baik saja, Zev?" tanya Alec pelan, melangkah mendekat."Para tetua sialan itu mulai melunjak karena aku terlalu lama membiarkan mereka," geram Zevko. Ia meraih ponselnya di atas meja, berniat mengirim pesan atau menelepon Clara untuk menenangkan diri—seperti yang biasa ia lakukan setelah hari yang melelahkan.Namun, dahi Zevko mendadak berkerut dalam saat menatap layar ponselnya. Aplikasi komunikasi khusus yang terhubung dengan laptop Clara di kastil tiba-tiba mati total. Indikatornya menunjukkan status Disconnect secara paksa, seolah-olah seluruh jaringan di area kastil lenyap ditelan bumi.Zevko mencoba menekan tombol panggil ulang, namun gagal. Tepat pada detik itu, dada Zevko mendadak berdenyut nyeri. Lewat jalur mate bond, ia bisa merasakan ada riak energi yang sangat dingin, pekat, dan bergejolak hebat dari
Zevko mengecup kening Clara dan kedua kelopak mata indah gadis itu, ia melakukannya dengan sangat lembut dan penuh kasih, dilanjut dengan pagutan ringan di bibir, kemudian mendekapnya dengan erat.Kedua tubuh itu bermandikan peluh yang bercampur dengan aroma pinus dan vanilla yang telah menyatu. Ked
"Cla, ada apa, sayang?" Zevko menepuk-nepuk pipi Clara pelan, suaranya yang berat dan serak khas bangun tidur terdengar begitu menenangkan.Clara membuka mata sepenuhnya. Jantungnya masih berdegup kencang seolah habis lari maraton. Ia langsung duduk, mengabaikan selimut yang melorot, dan memperhati
Clara membeku, tatapannya terpaku pada mata Zevko yang memendarkan gelombang yang besar, yang menghanyutkannya ke dalam gejolak yang tak bisa terbantahkan. Di dalam netra kelabu itu, Clara tidak lagi menemukan sosok sang supervisor dingin, melainkan putaran gairah yang menuntut penyerahan total.Zev
Hening. Seketika suasana di ruang kabin itu mendadak sunyi. Clara menatap Zevko, menunggu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang hampir membuatnya gila. Jantungnya berdegup keras, menunggu kenyataan apa yang sebenarnya dibalik itu semua.Di sisi lain, Zevko terdiam mendengar pertanyaan Clara. Sebe







