LOGINUntuk sesaat Clara membeku. Zevko ini benar-benar gila. Baru saja dia kembali dari hutan itu, besok harus kembali lagi ke sana? Namun, Clara tak punya pilihan selain mengikuti kemauan Zevko. Selain untuk membuktikan profesionalitasnya, dia juga memang ingin ke sana, untuk mencari tahu rahasia apa yang disembunyikan Zevko.
Clara menghela napas pelan, ia menurunkan pandangannya. "Baiklah. Kalau gitu aku selesaikan berkas-berkas ini dulu."
"Bagus!" jawab Zev sambil menarik tubuhnya menjauh, dia kembali ke mejanya. "Satu hal lagi, Clara. Jauhi laki-laki itu."
"Apa? Laki-laki? Siapa?"
"Jangan pura-pura bodoh." Zevko berkata tanpa menoleh, matanya fokus pada layar laptopnya.
"Siapa maksudmu? John?"
"Dia mau mengantarmu pulang, kan?"
"Haha, memang mengapa kalau aku pulang bareng dia?"
Tiba-tiba Zevko mengangkat wajahnya, tatapannya berkilat tajam menusuk ke jantung Clara, membuat gadis itu ciut seketika.
"I-iya, aku hanya bercanda. Siapa juga yang mau diantar. Aku bisa pulang sendiri."
"Ingat Clara. Fokus saja pada pekerjaanmu. Dan satu hal penting, jangan biarkan siapapun tahu mengenai kejadian di hutan itu."
"Iyaa, aku paham.Gak perlu mengingatkanku berkali-kali. Permisi."
Clara meninggalkan ruangan Zevko dengan kesal. Tanpa membuang-buang waktu lagi ia bergegas mengerjakan pekerjaannya. Tubuhnya terasa lelah, ia ingin segera pulang dan tidur. Berkali-kali ia menguap, namun Clara berusaha menahannya. Entah sudah berapa cup kopi ditenggaknya, tapi tak bisa menahan kantuk yang menyerang. Hingga akhirnya ia menenggelamkan kepalanya di meja, terlelap karena kantuk yang tak bisa dibendung lagi.
Clara tertidur sangat nyenyak, bahkan teman-temannya memanggilpun tak digubrisnya lagi. Clara sendirian di ruangan itu hingga malam tiba.
Di luar hujan sangat deras, kabut pun turun menyelimuti kota. Suasana malam itu sangat mencekam. Clara bergegas ke area parkir, sunyi, tidak ada siapapun. Ia segera masuk ke dalam mobil, dan sialnya mobil tidak mau hidup.
"Ah, sial. Kenapa lagi sih nih mobil. Baru bulan lalu di service."
Clara menggerutu kesal. Tiba-tiba kedua matanya melihat bayangan berkelebat. Karena penasaran dia pun keluar, menoleh ke kiri dan kanan, tapi tidak ada siapapun. Namun ketika Clara membalikan badan hendak masuk kembali ke dalam mobil, matanya terbelalak. Sesosok makhluk berbulu hitam dengan cakar tajam dan taring panjang berdiri di depannya, matanya yang kuning menatapnya seolah sedang mengawasinya.
Clara terpekik, ia mundur, namun makhluk itu mengurung Clara dengan kedua lengannya. Clara tak bisa bergerak, napasnya memburu, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Ia sangat ketakutan.
Makhluk itu menatapnya, mendekatkan moncongnya ke lehernya lalu mengendusnya.
"Ti-tidak, tolong ja-jangan…"
"Mate…."
Tiba-tiba terdengar suara berat dari mulut makhluk itu. Ia menempelkan moncongnya ke leher Clara, membuat Clara menjerit histeris.
"Tidaaaaak!!"
"Clara, bangun!!"
Seseorang mengguncang-guncang bahu Clara. Gadis itu membuka mata dan mengangkat kepalanya perlahan, napasnya masih tersengal-sengal. Demi melihat Zevko, Clara segera berdiri dan berhambur memeluknya dengan ketakutan.
"Zev, tolong aku. Makhluk itu, makhluk itu menggigitku."
"Makhluk apa Clara. Tidak ada apa-apa di sini. Kamu bukannya kerja malah tidur."
Clara membuka matanya, ia melihat sekeliling, ternyata dia masih di kantor. Sial, ternyata mimpi. Tapi semua terasa begitu nyata. Clara meraba lehernya di tempat bekas gigitan makhluk tadi, masih terasa berdenyut dan gatal. Namun tidak ada luka di sana.
Clara hendak kembali ke kursinya, namun Zevko menahan Clara sehingga gadis itu tetap berada di pelukannya. Untuk sejenak keduanya saling bertatapan, jantung Clara berdegup keras, namun dia tidak bisa beralih dari tatapan Zevko yang menguncinya.
Zevko menundukan wajahnya, menempelkannya ke leher Clara seolah sedang menghirupnya.
"Zev, a-apa yang kamu lakukan?"
"Memeriksa lehermu, tadi kamu memeganginya. Tapi tidak ada apa-apa di sini."
Clara menghela napas lega. Tapi dia masih bisa merasakan denyutannya. "Tapi, tadi makhluk itu menggigitku di sini."
"Sudahlah, aku antar kamu pulang." Zevko melepaskan pelukannya.
"Tidak, terima kasih. Aku bisa pulang sendiri."
Zevko tidak berbicara lagi, ia segera meninggalkan gadis itu sendirian. Clara segera membereskan barang-barangnya, lalu turun ke area parkir. Ia masuk ke dalam mobilnya, namun sial, mobilnya mati.
Clara mulai merasa tidak enak, kejadiannya sangat persis seperti dalam mimpinya. Dia menyesal karena menolak tawaran Zevko untuk mengantarnya pulang. Clara tidak mau apa yang dilihatnya di dalam mimpi menjadi nyata. Tanpa pikir panjang dia ke luar untuk mencari Zevko. Namun dia menubruk seseorang yang tiba-tiba berdiri di depannya.
"Kamu kenapa lagi, Clara?"
"Oh, Zev. Ee–itu, mobilku mati, aku nebeng kamu ya."
Alih-alih menjawab, Zevko langsung menggenggam tangan Clara dan membawanya ke dalam mobilnya. Mobil itu pun segera meninggalkan gedung kantor, membelah hujan badai yang sangat deras.
Malam itu tidak ada kendaraan yang berani melintas, karena jarak pandang menjadi sangat terbatas. Namun Zevko melajukan mobilnya dengan santai, seolah matanya dapat menembus kegelapan di depannya.
Ketika di persimpangan dekat taman kota, Zevko terpaksa menghentikan mobilnya. Sebuah bayangan hitam berkelebat memotong laju mobinya.
Zevko menajamkan pandangannya. Bayangan itu masuk ke dalam taman, menghilang diantara rerimbunan pohon.
"Ada apa, Pak?" tanya Clara heran. Tentu saja Clara tidak bisa melihat kelebatan bayaangan tadi.
"Clara, kamu tunggu di dalam mobil. Ingat! jangan keluar!"
"Terus kamu mau ke mana? Aku takut sendirian."
"Sudahlah, pokoknya kamu diam di dalam mobil, jangan keluar sampai aku kembali, paham?"
"Oke."
Zevko segera mengenakan mantelnya, lalu ke luar dan masuk ke dalam taman. Ia berdiri mengamati sekelilingnya. Tatapannya tajam menyapu area taman. Tiba-tiba dia menggeram dan berteriak rendah.
"Keluar kalian!"
Mate: Pasangan takdir yang ditetapkan Moon Goddes/Dewi bulan
Gideon terdiam, sedangkan Clara dan Zevko membisu, menunggu apa yang akan dikatakan paman Clara. Gideon menghela napas sebelum akhirnya membuka suara. "Begini, Alpha. Aku baru saja mendapatkan informasi bahwa para tetua itu menyusun sebuah rencana…."Gideon tidak melanjutkan kalimatnya. Ia memperhatikan reaksi Zevko dan Clara."Rencana? Rencana apa, Gid?""Mereka akan menekanmu agar segera mengangkat seorang Luna.""Tentu, Gid. Itu sebabnya aku di sini untuk menjemput Lunaku," jawab Zevko santai, tangannya meraih punggung tangan Clara dan mengecupnya."Tidak, Alpha. Yang mereka maksud bukan Cla. Tapi seorang wanita dari darah serigala murni. Mereka tidak akan menerima Luna dari darah manusia."Zevko terdiam. Kini wajahnya berubah menjadi serius. Sedangkan Clara masih membisu, ia mencoba memahami situasi yang sedang terjadi."Aku tahu, Gid," jawab Zevko dengan suara acuh. "Beberapa waktu lalu, saat aku masih di kota, para tua bangka itu mengirim utusan untuk menyampaikan pesan mereka.
Sementara itu, Zevko segera memacu mobilnya menuju pinggiran hutan, memutari pondok Hallow yang telah lama tutup. Ia segera menghentikan mobilnya di bawah pohon oak raksasa yang tersembunyi dari dunia luar.Zevko terdiam sesaat, menetralkan perasaannya yang berkecamuk menahan kerinduan yang dalam pada sang mate yang sedang berlatih keras di dalam sana. Clara tidak tahu kedatangannya karena Gideon memutus mind-link mereka agar Clara bisa fokus berlatih."Gideon. Aku di depan gerbang kastil. Aku akan menjemput Lunaku." Zevko segera menghubungi Gideon melalui tautan pikiran."Maaf, Alpha. Jangan sekarang. Cla belum benar-benar siap." Terdengar jawaban Gideon yang membuat Zevko mendengus kesal."Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu.""Alpha, apa tidak sebaiknya Anda kembali ke pack? Anda sudah terlalu lama meninggalkan pack. Nanti, aku sendiri yang akan mengantarkan Clavira jika ia sudah siap.""Tidak, Gid. Aku tidak akan kembali tanpa mate-ku."Akhirnya Gideon pun menyerah dengan keke
Sementara sang Alpha dalam perjalanan pulang dari dunia manusia, suasana di aula utama Pack Volkov justru terasa mencekam. Udara di dalam ruangan besar berbatu kuno itu terasa berat dan menekan. Dewan tetua tengah mengadakan rapat darurat secara tertutup untuk membahas pembangkangan pimpinan tertinggi mereka. Di kursi pimpinan dewan yang terletak di bagian depan aula, duduk Tetua Silas—pimpinan dewan tetua yang paling kolot dan selalu mengedepankan tradisi darah murni di dalam pack."Jadi, Alpha menolak mentah-mentah peringatan yang kita kirimkan?" Suara berat Tetua Silas menggema memecah keheningan, dipenuhi nada tidak suka yang amat kentara.Di tengah ruangan, utusan pack yang sebelumnya dikirim untuk menemui Zevko di kota menunduk dalam. Tubuhnya bergetar samar dan keringat dingin membasahi tengkuknya saat mengingat kembali betapa mengerikannya intimidasi aura Zevko tempo hari."Benar, Tetua Silas. Alpha Zevko bahkan mengancam akan merobek mulut siapa saja yang berani mengusik urus
Keesokan harinya, Zevko telah bersiap untuk menghadap ke kantor pusat. Tujuan utamanya menyusup ke perusahaan properti itu telah tercapai; Menggagalkan project besar mereka.Kini, saatnya Zevko kembali ke dunianya yang sebenarnya. Kembali ke pack, membereskan berbagai isu tak sedap yang mulai merebak di kalangan para tetua.Zevko telah mengenakan stelan jasnya dengan rapi. Ia kembali duduk di meja kerjanya, memeriksa ulang draf pengunduran dirinya. Di sampingnya, ia juga mengambil map berisi berkas pengunduran diri Clara yang sudah ditandatangani oleh gadis itu jauh-jauh hari dan disimpan dengan aman oleh Zevko.Zevko tersenyum tipis. Sesuai rencana rahasia mereka, hari ini mereka akan mengajukan pengunduran diri secara bersamaan. Ia sama sekali tidak peduli pada penilaian manusia atau pertanyaan-pertanyaan kepo dari divisi HRD mengenai alasan seorang supervisor lapangan dan analis datanya keluar pada hari yang sama. Jika mereka berani bertanya macam-macam, Zevko tinggal melempar satu
Zevko tersentak. Ia langsung berdiri dari kursi kerjanya, matanya yang berkilat keemasan memindai setiap sudut ruangan. Kantornya tertutup rapat, pendingin ruangan pun diatur pada suhu normal, tapi bulu kuduknya meremang oleh rasa dingin yang sangat familiar.Hawa dingin yang membawa aroma musim dingin dan wangi tubuh Clara. "Cla?" bisik Zevko, suaranya tercekat di tenggorokan."Zev...!"Suara itu kembali terdengar, kali ini berupa bisikan halus yang menggema langsung di dalam kepalanya lewat jalur mate bond yang sempat tersumbat. Suara Clara terdengar samar, terengah-engah, dan sarat akan perjuangan, seolah gadis itu sedang mengerahkan seluruh tenaganya di suatu tempat yang jauh.Bersamaan dengan itu, dada Zevko berdenyut seolah dihantam gelombang energi perak. Sisi serigalanya di dalam dada langsung melolong resah, mencakar ingin keluar untuk melindungi pasangannya.Zevko tahu apa yang sedang terjadi. Clara sedang menghadapi ujian dari Gideon, dan di tengah rasa terdesaknya, alam baw
Setelah kepergian utusan pack, keheningan kembali menguasai ruangan. Zevko mengendurkan dasinya dengan kasar, lalu menjatuhkan dirinya kembali ke kursi kerja."Apa kamu baik-baik saja, Zev?" tanya Alec pelan, melangkah mendekat."Para tetua sialan itu mulai melunjak karena aku terlalu lama membiarkan mereka," geram Zevko. Ia meraih ponselnya di atas meja, berniat mengirim pesan atau menelepon Clara untuk menenangkan diri—seperti yang biasa ia lakukan setelah hari yang melelahkan.Namun, dahi Zevko mendadak berkerut dalam saat menatap layar ponselnya. Aplikasi komunikasi khusus yang terhubung dengan laptop Clara di kastil tiba-tiba mati total. Indikatornya menunjukkan status Disconnect secara paksa, seolah-olah seluruh jaringan di area kastil lenyap ditelan bumi.Zevko mencoba menekan tombol panggil ulang, namun gagal. Tepat pada detik itu, dada Zevko mendadak berdenyut nyeri. Lewat jalur mate bond, ia bisa merasakan ada riak energi yang sangat dingin, pekat, dan bergejolak hebat dari
Hening. Suasana di ruangan itu menjadi sedikit kaku dan tegang. Emma, Melly dan Clara saling berpandangan begitu Zevko selesai memberi perintah. "Cla, kayaknya Pak Zevko benar-benar marah soal tadi," bisik Emma dengan cemas. Clara hanya mengangguk pelan, ia menarik napas pelan lalu merapikan blaze
Suara Zevko merendah, sarat dengan beban yang tak terlihat. "Duniaku tidak akan semudah dan tak seindah yang kamu bayangkan di kantor ini, Cla. Menjadi pendampingku artinya kamu harus meninggalkan semua pencapaianmu di sini, meninggalkan rutinitas analis yang kamu cintai. Apa kamu tidak akan menyes
Clara masih berdiri sambil memejamkan mata, namun tiba-tiba hening tak terdengar suara Zevko lagi. "Zev, apa aku sudah boleh membuka mata?"Clara mencoba bertanya, namun tetap hening tidak ada jawaban dari pria itu. Perlahan Clara membuka matanya. Ia terkejut dengan apa yang ia lihat di hadapannya.
Clara terbangun saat jam weker meraung-raung di meja nakas. Ia baru tertidur menjelang fajar karena harus menyelesaikan membuat laporan. Clara menguap, masih ada sisa-sisa kantuk, namun ia merasa tubuhnya lebih ringan meskipun dia kurang tidur.Clara terkejut melihat jarum jam, dia nyaris terlambat







