تسجيل الدخولDipaksa menggugurkan kandungan saat perceraian baru saja terjadi, membuat Alisha nekat melarikan diri. Namun, apa jadinya jika hal itu justru membuatnya kembali bertemu dengan masa lalu yang telah ia lupakan. Tetapi, masih menyimpan dendam padanya? Akankah Alisha menemukan bahagia?
عرض المزيد'Brengsek!' batinku memaki dengan keras. Aku bahkan menggertakkan gigiku bersama tubuh menegang. Namun, aku sadar ini bukan saatnya untuk meladeni ucapannya. Terlebih Marissa lebih penting daripada mereka semua. Lalu, dengan seluruh keberanian dan kekuatan penuh, ku dorong kuat pundak Sandra hingga terjengkang mundur. "Minggir!" bentak ku dengan keras sambil berjalan melewatinya tanpa melepaskan genggaman tangan, membuat Marissa mengikutiku. Meskipun aku tidak bisa menampik, jika jantungku sudah seperti genderang yang sedang ditabuh. Bersamaan dengan suara pekikan yang terlontar dari bibir merahnya, melengking sangat keras, "Arghhh!" Aku dan Marissa terus berjalan. Namun, dari belakang terdengar lengkingan suaranya, "Heh! Wanita sundal! Berani sekali kamu mendorong ku sampai hampir jatuh?!"
Lebih terkejut lagi, saat kurasakan sebuah tangan memegang pundak kananku. Aku tanpa sadar menegang. "Mommy, Ibu itu siapa?" Pertanyaan Marissa membuatku menunduk, menatap ke arahnya yang balas menatapku polos. "Mommy gak kenal," sahut ku berbisik yang dibalas Marissa dengan mulut membulat. "Ayo pergi!" ajakku sambil mengulas senyum tipis. Marissa mengangguk pelan. Kami pun kembali melanjutkan langkah. Namun, suara Sandra justru kembali terdengar, "Kamu Alisha, bukan? Mantan istri Dokter Kennan!" "Maaf, kamu salah orang," sahut ku cepat sembari mengubah gaya bicara, berharap dirinya tidak mengenali. "Masa sih?" Aku enggan berbalik, malah mempercepat laju kaki. Namun, lagi-lagi kami harus menghentikan langkah saat Ibu Avan justru menghadang dengan kedua tangan terentang lebar. "Mau apalagi sih?!" tanyaku menggeram marah sambil menahan suara agar tetap terdengar rendah. "Kamu dan anak kamu belum minta maaf sama saya dan anak saya. Jadi, kalian tidak boleh pe
"Wah! Wah! Wah! Ada apa ini? Kok rame?!" kami berempat serentak berbalik ke belakang dan mendapati seorang wanita dewasa berpenampilan glamor, dengan dandanan cetar membahana layaknya seorang artis papan atas, tengah berjalan dengan gayanya yang angkuh bersama beberapa bodyguard mengelilingi. "Eh, Mommy Ellie ternyata!" Ibu Avan terkekeh, terlihat jelas layaknya seseorang yang tengah menjilat. Yang dipanggil hanya mendelik sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan dengan angkuh, tampak memindai sekitar. "Ada apa ini? Kok rame?!" tanya Mommy Ellie angkuh. Ibu Avan terlihat kesal diperlakukan seperti itu, yang terlihat jelas dari raut mukanya, tidak enak dilihat, walaupun hanya sekejap. Namun, bergegas tersenyum lebar, penuh maksud tersembunyi. "Biasa, Mommy Ellie. Ada sampah yang harus dibersihkan," sahut Ibu Avan menyindir.
'Apa Dia bilang? Anak haram?! Siapa yang Dia panggil anak haram?!'Aku menggeram marah. Suara gemeletuk gigiku terdengar beradu.Kesal! Aku teramat kesal. Terlebih saat menyadari tubuh Marissa bergetar dengan raut pucat pasi. Gegas kutarik lembut tangannya, membuatnya mendongak dengan sorot berkaca-kaca. Aku lantas memberikan senyum teduh yang kurasa bisa menguatkan dirinya."Jangan khawatir! Mommy akan melindungi kamu," bisikku. Gadis kecil itu, yang semula kulihat terpana, akhirnya mengangguk kuat sambil tersenyum lebar, tampak merasa senang karena mendapatkan perlindungan dariku. Ia bahkan mengulas senyum bahagia, yang tentu saja ikut menular padaku. "Mommy," panggilnya pelan sambil menggoyangkan ujung jaket ku. "Ya, Sayang," sahut ku lembut. "Icha takut," rengeknya sambil merapatkan tubuh padaku, membuatku merasa sedih sekaligus bertekad untuk melindunginya, apapun y
Hari ini hari keempat aku berada di rumah sakit ini. Beruntung seorang perawat bersedia membawaku pergi ke taman belakang rumah sakit saat kukatakan jika aku merasa bosan terus menerus berada di dalam kamar. Perutku bahkan sudah terasa lebih baik daripada sebelumnya dan nanti siang dokter akan me
"Mati kamu wanita sialan!" "Ya, Dia pantas mati! "Bunuh saja! Bunuh!" "Sekalian hancurkan makam ibunya!" "Ya ... ya! Hancurkan! Hancurkan!" Suara-suara sumbang terdengar tumpang tindih. "Tidak! Jangan lakukan itu! Jangan sentuh makam ibuku!" aku berteriak kencang, mencegah mereka berti
"Sepertinya Dia sudah sadar?" Samar terdengar suara dengung di sekitar saat kelopak mataku perlahan terbuka. Silau! Tanganku perlahan terangkat ke atas guna menghalau sinar terang yang terasa menusuk. "Matikan lampunya! Jangan lupa panggil Dokter Raline. Katakan padanya jika pasien kamar 3
Aku terus berlari menyusuri lorong, tidak perduli pada apapun lagi. Sayangnya tepat di belokan, langkahku harus terhenti saat mendapati sebuah jalan buntu. Aku pun memindai sekeliling, hingga menemukan sebuah pintu kecil dan bergegas masuk ke dalamnya yang ternyata adalah lemari loker khusus temp












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
التقييمات
المراجعاتأكثر