MasukDipaksa menggugurkan kandungan saat perceraian baru saja terjadi, membuat Alisha nekat melarikan diri. Namun, apa jadinya jika hal itu justru membuatnya kembali bertemu dengan masa lalu yang telah ia lupakan. Tetapi, masih menyimpan dendam padanya? Akankah Alisha menemukan bahagia?
Lihat lebih banyak'Apa Dia bilang? Anak haram?! Siapa yang Dia panggil anak haram?!'Aku menggeram marah. Suara gemeletuk gigiku terdengar beradu.Kesal! Aku teramat kesal. Terlebih saat menyadari tubuh Marissa bergetar dengan raut pucat pasi. Gegas kutarik lembut tangannya, membuatnya mendongak dengan sorot berkaca-kaca. Aku lantas memberikan senyum teduh yang kurasa bisa menguatkan dirinya."Jangan khawatir! Mommy akan melindungi kamu," bisikku. Gadis kecil itu, yang semula kulihat terpana, akhirnya mengangguk kuat sambil tersenyum lebar, tampak merasa senang karena mendapatkan perlindungan dariku. Ia bahkan mengulas senyum bahagia, yang tentu saja ikut menular padaku. "Mommy," panggilnya pelan sambil menggoyangkan ujung jaket ku. "Ya, Sayang," sahut ku lembut. "Icha takut," rengeknya sambil merapatkan tubuh padaku, membuatku merasa sedih sekaligus bertekad untuk melindunginya, apapun y
Richard terdiam. Bingung dan enggan memberikan penjelasan. Ia justru bergegas pergi tanpa sepatah katapun terucap. Aku yang melihat kepergiannya, hanya bisa menghela napas berat. Jujur saja aku merasa sedih. Namun, apa yang bisa kulakukan sekarang, jika dia tidak mau memberikan penjelasan. Aku lantas menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh pada Bik Ratmi yang balas menatapku teduh. "Kenapa Dia tidak mau menjawab pertanyaanku, Bik?" Bik Ratmi menepuk pelan pundak kiriku. "Tuan sedang sibuk mempersiapkan tour ke Jepang bulan depan, Neng. Jadi, mungkin karena itu Beliau belum bisa menjawab pertanyaan Neng Lisha." Mendengar hal itu, aku terpaksa mengangguk kecil, berusaha mengerti meskipun beribu pertanyaan kini mengganjal di lubuk hati. Terlebih kala teringat pertemuan dengan wanita yang mengaku sebagai ibunya itu di ruang makan. "Sudah larut malam. Sebaiknya Neng Lisha beristirahat. Besok Neng akan mulai bertugas mengantar jemput Nona Marissa sekolah, bukan?" Suara Bik
Ruangan itu terasa lebih hening dan menyesakkan, hanya detak jarum jam yang membuat suasana sedikit lebih hidup. Richard bahkan terlihat menunduk enggan menoleh ataupun bersuara sepatah katapun. Membuat sosok yang kini tengah duduk di seberangnya mendengkus keras pertanda kesal diabaikan. "Jelasin sama mama, Ri! Kenapa wanita sialan itu ada di luar?" Suara Nadhira berdesis dengan urat-urat wajah sedikit menonjol di balik wajah keriput nya. Bagaimanapun juga ia sekarang berusia 67 tahun, sementara Richard adalah putra bungsu kesayangannya. "Mama apain Dia?" Bukannya menjawab, Richard justru balik bertanya sambil mengangkat pandangan, balas menatap lurus sang bunda. Sorot matanya terlihat tajam, seolah-olah tengah membangun perisai guna melindungi sesuatu atau seseorang. "See?! Kamu gak berubah, Ri." Nadhira terlihat kecewa karena lagi-lagi sang putra tercinta berani melawannya karena orang yang sama. Ia sama sekali tidak berusaha menutupi wajah sedihnya itu, justru memperlih
Suasana tiba-tiba terasa hangat dan intim, bahkan kami tanpa sadar mendekatkan wajah masing-masing. Namun, dering ponsel yang terdengar nyaring membuyarkan momen tersebut, sekaligus membuat kami berdua seketika memasang raut kikuk. Wajahku bahkan memerah, kutundukkan kepala. Sementara Richard, aku tidak tahu. Aku hanya mendengar pria itu berdehem sebentar, lalu tanpa sepatah kata pun terucap, ia menjauh. Bertepatan dengan langkah kaki terdengar semakin kecil, ku beranikan diri mendongak. Napas yang semula kutahan, seketika ku hembuskan sembari mengusap dada, guna menenangkan debaran jantung yang menggila. "Ya Tuhan, barusan apa?" batinku menggumam. Tangan kananku terkepal, mengetuk kepala bagian samping kanan bersama decak sebal keluar dari celah bibir. Suasana pun kembali hening. Hanya bunyi jarum jam yang terdengar di tengah kesunyian. Aku lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Mataku tertumbuk pada sebuah pigura berukuran besar yang terpasang di dinding ru






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak