Beranda / Romansa / DIPTA / BAB 145 Setelah Bangun

Share

BAB 145 Setelah Bangun

Penulis: Adw_Canss781
last update Tanggal publikasi: 2026-07-29 23:53:20

Saat semuanya benar-benar berhenti, jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.

Aira bahkan tidak sempat berkata apa-apa. Begitu tubuhnya menyentuh ranjang, matanya langsung terpejam. Tenaganya benar-benar habis. Napasnya pelan, teratur. Wajahnya masih menyisakan lelah dan juga damai.

Dipta yang masih terjaga hanya bisa menatapnya beberapa detik. Lalu perlahan dia menarik tubuh Aira ke dalam dekapannya.

Aira tidak bereaksi. Sudah terlalu lelah bahkan untuk sekadar menggerakkan tubuh. Senyum ke
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • DIPTA   BAB 146 Lokasi Proyek

    Mereka sampai tepat pukul 10.00. benar-benar pas. Area proyek sudah cukup ramai. Beberapa tim dari PT Arkananta Konstruksi Nusantara sudah lebih dulu berada di lokasi, lengkap dengan helm proyek dan rompi keselamatan. Begitu mobil Dipta berhenti, beberapa pasang mata langsung menoleh. Dipta turun lebih dulu,angkahnya tegas seperti biasa. Aura dingin, profesional, tetap ada, namun hari ini ada yang beda. Wajahnya lebih “hidup”, matanya lebih terang. Bahkan garis tegas di wajahnya terlihat lebih ringan. Kalau orang tidak tahu mungkin dikira benar-benar habis dapat proyek besar. Sementara di sisi lain, Aira turun dari mobil. Secara tampilan tetap rapi, cantik dan profesional. Make-up tipisnya berhasil menutupi lingkar hitam di bawah mata. Namun raut wajahnya, masih ada sisa kelelahan meski samar tapi terasa dan cara jalannya yang sedikit lebih hati-hati cukup menjelaskan segalanya bagi orang yang peka. Dipta melirik sekilas. 'Kayaknya masih capek ya…' Belum sempat mereka melangkah le

  • DIPTA   BAB 145 Setelah Bangun

    Saat semuanya benar-benar berhenti, jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Aira bahkan tidak sempat berkata apa-apa. Begitu tubuhnya menyentuh ranjang, matanya langsung terpejam. Tenaganya benar-benar habis. Napasnya pelan, teratur. Wajahnya masih menyisakan lelah dan juga damai. Dipta yang masih terjaga hanya bisa menatapnya beberapa detik. Lalu perlahan dia menarik tubuh Aira ke dalam dekapannya. Aira tidak bereaksi. Sudah terlalu lelah bahkan untuk sekadar menggerakkan tubuh. Senyum kecil muncul di wajah Dipta. Tangannya mengusap punggung Aira pelan. Sesekali dia menunduk, memberi kecupan singkat di dahi, di pelipis bahkan di bibirnya dengan lembut. “Istri kecil…” gumamnya pelan. Kalimat itu terdengar hampir seperti kebiasaan lama. Namun maknanya sekarang sudah berbeda. Dulu, Aira adalah gadis yang lugu, polos dan penurut. Apa pun yang dia katakan, Aira ikuti. Sekarang Dipta menatap wajah Aira lagi. “Udah nggak kecil lagi ternyata…” bisiknya sambil terkekeh pelan. Aira se

  • DIPTA   BAB 144 Hukuman

    Waktu terasa berjalan lambat. Napas yang tadinya tidak teratur, perlahan mulai kembali normal. Keheningan memenuhi kamar itu, tapi bukan keheningan yang canggung justru terasa hangat dan penuh sisa-sisa emosi yang belum sepenuhnya hilang. Lebih dari satu jam berlalu, Dipta akhirnya bergerak lebih dulu. Dia menatap Aira yang masih berbaring membelakanginya, tubuhnya terlihat lemas, napasnya pelan, jelas kelelahan. Senyum tipis muncul di wajah Dipta. Dia mendekat sedikit, lalu memberi kecupan singkat di dahi Aira. “Terima kasih…” ucapnya pelan. Aira tidak menjawab hanya menarik napas pelan, masih terlalu lelah untuk bicara. Dipta terkekeh kecil. 'Dia yang mulai… dia juga yang tumbang duluan.' batinnya. Tangannya terangkat, mengusap lembut kepala Aira, menyelipkan beberapa helai rambut yang berantakan ke belakang telinga. “Ini cobaan… atau keberuntungan ya…” gumamnya pelan, setengah bicara pada dirinya sendiri. Cobaan karena semua ini berawal dari emosi Aira yang dipantik ol

  • DIPTA   BAB 143 Malam Panjang

    Pintu kamar terbuka pelan. Dipta masuk sambil membawa beberapa kantong makanan di tangannya. Suasana kamar langsung terasa sunyi dan sepi. “Aira?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Dia melangkah lebih masuk, menaruh makanan di meja kecil. Matanya menyapu ruangan, tapi memang tidak ada siapa-siapa. Alisnya sedikit berkerut. “Kemana dia…” Lalu terdengar suara air dari kamar mandi. “Oh…” gumamnya pelan, mengangguk kecil. Mungkin lagi di kamar mandi. Tanpa pikir panjang, Dipta mulai membuka satu per satu bungkus makanan, menatanya di atas meja. Gerakannya rapi, teratur, seperti biasa. Sementara itu, di balik pintu kamar mandi Aira berdiri di depan cermin. Dia baru saja selesai mencuci tangan. Perlahan, dia menyemprotkan parfum tipis di pergelangan tangan dan lehernya. Aroma lembut langsung menyebar, tidak menyengat, tapi cukup untuk meninggalkan kesan. Tangannya lalu mengambil lip balm dioleskan tipis di bibirnya. Matanya menatap bayangannya sendiri. Ingatan itu kembali pada ucapan S

  • DIPTA   BAB 142 Rencana Aira

    Setelah sampai di hotel, keduanya tidak langsung banyak bergerak. Seharian di luar, berpindah dari meeting ke lokasi proyek, lalu ke mall, cukup menguras tenaga. Begitu pintu kamar tertutup, suasana langsung terasa lebih tenang. Aira meletakkan kantong-kantong belanjaannya di dekat sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya perlahan ke atas tempat tidur. Dia menarik napas panjang, meregangkan tubuhnya sedikit. “Capek juga” gumamnya pelan. Dipta tidak langsung menjawab. Dia hanya meletakkan barang-barang yang dibawanya dengan rapi, lalu duduk di kursi dekat meja, menyandarkan tubuh sejenak. Capek jelas tapi yang lebih terasa justru pikirannya. Masih tertinggal di butik, di percakapan dengan Rendra. Baru saja suasana mulai hening, ponsel Aira berdering. Nama yang muncul di layar langsung membuatnya sedikit tersenyum. “Bunda” ucapnya pelan. Dia langsung mengangkat panggilan itu. Belum sempat bicara banyak, suara kecil yang sangat dikenalnya langsung terdengar dari seberang. “Mamaaa!”

  • DIPTA   BAB 141 Rencana untuk Dipta

    Di sisi lain lokasi proyek, Dipta sedang berbicara dengan Rendra Wijaya cukup serius, membahas teknis lanjutan. Sementara itu, agak menjauh dari mereka, Aira berdiri dengan notenya sedang fokus mencatat seolah tidak peduli dengan sekitar. Langkah kaki seseorang mendekat, Sania. “Sibuk ya.” Aira tidak langsung menoleh dan masih menulis. “Namanya juga kerja.” jawabnya singkat. Sania tersenyum tipis, nada bicaranya masih ringan. “Kamu memang kelihatan profesional.” Aira berhenti menulis, baru menoleh. “Terima kasih.” Beberapa detik awal masih normal. Sampai arah pembicaraan mulai berubah. Sania melirik ke arah Dipta yang sedang berbicara di kejauhan. “Dipta memang seperti itu kalau kerja.” Aira diam menunggu. “Tapi kamu jangan salah paham ya…” lanjut Sania pelan. Aira menatapnya lurus sekarang. “Maksudnya?” Sania tersenyum lebih tipis dan lebih tajam. “Perhatian yang kamu lihat sekarang…" dia berhenti sejenak. “…itu belum seberapa.” Hening. Aira tidak langsung jawab. Sania l

  • DIPTA   BAB 68 Rencana Menuju Satu Titik

    Malam di apartemen Singapura terasa lebih tenang dari biasanya. Humaira Navya Aruna duduk di ruang tamu, berhadapan dengan dua orang paling penting dalam hidupnya sekarang, Arjito Rajendra dan Linda. Di meja kecil itu hanya ada teh yang sudah mulai dingin. Namun percakapan yang akan terjadi tidak

  • DIPTA   BAB 62 Keputusan

    Malam itu terasa panjang. Dipta bahkan tidak ingat sejak kapan ia benar-benar mencoba tidur. Ia hanya berbaring, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang terus berputar tanpa henti. Foto itu masih ada di sampingnya, surat itu belum ia lipat kembali dan setiap kali ia memejamkan mata yang mun

  • DIPTA   BAB 61 Putri yang Hilang

    Dipta berdiri di depan nakas, tangannya sudah hampir menyentuh kotak kecil itu kado dari Aira. Jaraknya tinggal beberapa senti, tapi seperti ada sesuatu yang menahan. Ia hanya menatapnya, diam dan ragu. "Tok.Tok." Pintu diketuk pelan, sebelum sempat menjawab, pintu itu sudah terbuka. Hadiyasa M

  • DIPTA   BAB 60 Kedatangan dan Pukulan Kenyataan

    Rumah itu berdiri jauh lebih megah dari yang terakhir kali ia ingat. Arjito Rajendra berdiri di depan gerbang besar, matanya menatap lurus ke arah bangunan luas dengan arsitektur modern yang menjulang elegan. Dulu, tempat ini tidak seperti ini. Masih besar, iya. Tapi belum semewah dan sedingin seka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status