Home / Romansa / DIPTA / BAB 7 Perhatian

Share

BAB 7 Perhatian

Author: Adw_Canss781
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-26 18:05:31

Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beberapa hari terakhir, pemuda dari kelas XII IPS 1 yang tinggi, rapi, dan selalu tampak fokus. Namanya Dipta. Meski mereka tidak sekelas dan memiliki jurusan berbeda, ada sesuatu pada aura Dipta yang sulit dijelaskan. Matanya sesekali menatap kosong, tapi selalu penuh perhatian terhadap apa yang ia lakukan.

Aira menghela napas dan menepuk buku pelan, mencoba menenangkan pikirannya. "Ah.. Jangan mikirin dia terus, Aira…”, gumamnya pelan.

Tapi bayangan pemuda itu terus muncul dalam benaknya, membuat hatinya berdebar saat ia menoleh ke lorong, kantin, atau perpustakaan dan tempat-tempat mereka kadang kebetulan bertemu.

Jam kosong pertama dimulai. Aira membawa buku catatan Biologi menuju kantin, menyesuaikan diri dengan ritme sekolah baru. Di lorong, ia menatap ke arah kelas XII IPS 1, dan di sana ia melihat Dipta sedang berjalan santai. Kebetulan, mereka berjalan searah di lorong yang sama.

“Eh… kau dari kelas IPA 2, kan?”, sapanya rendah tapi cukup terdengar.

Aira tersipu, menundukkan kepala. “Y-ya… kakak kelas dari IPS 1…”

Dipta tersenyum tipis, aura tenangnya membuat Aira menahan senyum. “Aku sering melihatmu di perpustakaan… sibuk sama catatan, ya?”

Aira mengangguk pelan. “Iya… kadang aku butuh waktu sendiri buat belajar. Tapi… masih menyesuaikan diri.”

Tatapan Dipta hangat tapi tetap misterius. Mereka berjalan berdampingan sebentar sebelum Dipta berbelok ke kelasnya. Momen itu singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Aira berdegup lebih cepat.

“Aduh.. Kenapa malah deg-degan gini sih?”, gumamnya dalam hati, menepuk buku dengan tangan gemetar sedikit.

Beberapa jam kemudian, Aira menuju perpustakaan untuk mencari buku tambahan Biologi. Beberapa buku terlihat terlalu ringkas, beberapa terlalu tebal. Saat ia membolak-balik rak, seseorang melangkah pelan di dekatnya. Aira menoleh, dan ternyata itu Dipta. Ia sedang mengambil buku untuk keperluan belajarnya, tapi kebetulan berada di rak yang sama dengan Aira.

“Hmm… buku ini terlalu ringkas. Kau mau aku tunjukkan yang lebih lengkap?”, tanyanya.

Aira tersipu, menundukkan kepala. “Oh… iya, kalau nggak merepotkan, terima kasih…”

Dipta menyingkirkan beberapa buku agar Aira bisa melihat bab yang tepat. “Bab ini lebih jelas. Kalau mau, aku bisa jelaskan sedikit intinya”, katanya sambil tersenyum samar.

Aira mengangguk pelan, wajahnya memerah. Ia mulai menyadari ada perhatian khusus dari pemuda tinggi itu, tapi belum tahu alasannya.

Di sisi lain, beberapa teman Dipta. Angger, Raka, Bayu (XII IPA 3), dan David (XII IPA 2) menyadari perubahan strategi Dipta.

“Hmm… Dipta mulai serius ya? Padahal katanya cuma ikut taruhan…”, gumam Angger, matanya mengikuti gerak-gerik Dipta dari jauh.

Bayu mengangguk. “Dia lebih menonjol dari kita… terutama soal Aira. Efeknya paling terasa.”

Raka tersenyum tipis. “Deg-degannya paling nyata kalau sama Aira. Kita kalah jauh.”

David tetap observatif. "Ini mulai jadi kompetisi serius. Tapi Aira sepertinya belum sadar apa pun.”

Mereka semua tahu, meski Dipta jarang bicara, aura dominannya sudah mulai terasa. Karena mereka berbeda jurusan, interaksi mereka dengan Aira terjadi di area bersama, kantin, lapangan, atau perpustakaan. David, yang masih sama jurusan IPA, punya sedikit keuntungan untuk interaksi lebih dekat, tapi tetap menahan diri, pelan-pelan.

Di kelas Bahasa Inggris, Aira sedang mengerjakan tugas kelompok. Duduk bersebelahan dengan teman sekelasnya, ia sesekali menatap ke lorong di mana ia melihat Dipta sesekali lewat sambil membawa buku. Ia tersenyum sendiri, merasakan gejolak hati yang aneh.

Seorang teman bertanya, “Kamu kenapa, Aira? Kok sering senyum-senyum sendiri?”

Aira hanya tersipu. “Ah… nggak ada apa-apa…”

Dalam hatinya, ia berpikir, “Kenapa setiap dia lewat, rasanya ada yang beda?”

Malamnya, Aira duduk di meja belajarnya di rumah. Ia masih memikirkan hari itu, tatapan singkat, senyum samar, dan ucapan Dipta yang terdengar ringan dan hangat.

“Kenapa rasanya ada yang berbeda sama kakak kelas itu…?” gumamnya, tersenyum tipis.

Ibunya menepuk bahunya. “Hari pertama sekolah baru pasti terasa aneh. Tapi kamu kelihatan menikmati, kan?”

Aira mengangguk. “Iya, Bu… teman-temannya ramah. Tapi aku… merasa penasaran sama satu kakak kelas dari IPS 1…”

Ibunya tersenyum, sambil berlalu pergi membiarkannya sendiri. Aira menulis beberapa catatan tambahan, menutup buku, dan berbaring sejenak sambil tersenyum.

“Besok… harus lebih fokus… tapi rasanya juga ingin lihat dia lagi", pikirnya menatap langit-langit kamar dengan harap-harap canggung.

°

Esoknya, suasana perpustakaan sekolah terasa tenang, hanya terdengar suara halaman buku yang dibolak-balik dan langkah kaki pelajar yang mondar-mandir. Aira duduk di meja pojok dekat jendela, membuka buku Biologi tebal yang baru ia pinjam. Ia mencoba fokus, tapi pikirannya terus melayang ke kakak kelas yang sering ia lihat belakangan ini Dipta.

Beberapa hari terakhir, Aira menyadari ada sesuatu yang berbeda, tatapan sekilas Dipta, komentar ringan tapi hangat, dan momen-momen kebetulan di area bersama yang membuatnya sedikit tersipu. Tapi ia masih bingung, apakah semua ini hanya kebetulan, atau memang perhatian khusus?

Saat Aira sedang mencari buku Biologi tambahan, seseorang lewat di rak yang sama. Aira menoleh, dan ya, lagi-lagi Dipta. Ia tampak sengaja memperhatikan beberapa buku di rak samping, tapi kebetulan berada dekat Aira.

“Hmm… kau tampak kesulitan memilih, ya?”, tanya Dipta rendah, tatapannya intens tapi tidak mengintimidasi.

Aira tersipu, menundukkan kepala. “Ah… iya, aku masih menyesuaikan diri dengan buku-buku ini… kadang terlalu ringkas, kadang terlalu tebal.”

Dipta tersenyum tipis, gesturnya tenang saat menunjuk buku yang menurutnya tepat. “Kalau mau, aku bisa tunjukkan yang lebih lengkap. Bab ini jelas dan gampang dimengerti.”

Aira mengangguk perlahan. Wajahnya merah muda, jantungnya berdetak lebih cepat. “Kenapa tiba-tiba deg-degan lagi sih, tiap dia ada di dekatku?”, pikirnya, menutup buku sebentar sambil menatap rak lain.

Dipta menyingkirkan beberapa buku agar Aira bisa melihat bab yang tepat. Ia menjelaskan sedikit intinya, suara rendah tapi terdengar jelas. “Jadi intinya, kalau fokus di diagram ini, konsepnya lebih mudah dipahami. Kau bisa pakai cara ini untuk belajar sendiri.”

Aira menatapnya, mencoba mencatat sambil tersenyum malu. “Oh… iya… terima kasih. Aku nggak nyangka bisa dijelaskan sebentar aja tapi langsung ngerti.”

“Ya… kadang sederhana itu lebih efektif,” kata Dipta, menatapnya sebentar sebelum mengalihkan pandangan ke rak lain.

Aira menelan ludah. Ada sesuatu di cara Dipta menatapnya, tidak menghakimi, tapi seakan memperhatikan dengan detail. Deg-degan muncul lagi, tapi ia tetap berusaha tenang.

Beberapa menit kemudian, Aira mencoba mengambil buku lain di rak yang sedikit tinggi. Tanpa sadar, tangannya gemetar.

“Perlu bantuan?” suara rendah Dipta terdengar di dekat bahunya.

Aira menoleh, sedikit tersipu. “Ah… iya, kalau nggak merepotkan…”

Dipta dengan cepat dan halus mengambil buku itu dan menyerahkannya ke Aira. Mata mereka bertemu sebentar. Ikatan halus itu terasa, senyum samar, pandangan intens tapi tidak lama, cukup untuk membuat Aira sadar ada sesuatu yang berbeda.

“Kenapa aku merasa dia selalu ada di saat yang tepat… tapi aku masih nggak ngerti alasannya?”, gumamnya dalam hati.

Sepanjang interaksi singkat itu, Aira mulai menyadari. Dipta memperhatikan dengan detail, tapi tidak terlalu mencolok. Gestur dan kata-katanya ringan. Ia merasa dihargai dan diperhatikan, tapi tetap bingung soal maksudnya. Setelah beberapa menit, Dipta melangkah pergi ke rak lain, meninggalkan Aira dengan jantung yang berdegup kencang dan senyum malu di wajahnya.

Aira menghela napas pelan, menatap buku di depannya. “Ah… kenapa rasanya hati ini… berdebar terus ya?”

Dari kejauhan, beberapa teman Dipta (Angger, Raka, Bayu, David) mungkin sedang memperhatikan atau melakukan hal atau urusan mereka masing-masing di perpustakaan. Tapi interaksi Aira dan Dipta tetap terasa lebih intens dan spesial, karena Dipta tahu cara menjaga momen itu agar tidak menonjol, tapi cukup untuk membuat Aira sadar.

Matahari sore hampir condong ke barat. Lapangan sekolah dipenuhi siswa yang sengaja melepas penat setelah jam pelajaran. Aira duduk di bangku pinggir lapangan sambil membaca catatan Biologi yang baru ia salin dari perpustakaan tadi. Angin sore meniup rambutnya pelan, membuat ia sedikit terganggu, tapi ia terlalu asyik dengan catatan itu untuk terlalu peduli.

Tiba-tiba, sebuah bayangan melintasi pandangannya. Dipta berjalan santai di dekat lapangan, tampak casual tapi selalu mengawasi sekeliling. Saat matanya bertemu dengan Aira, ia menyunggingkan senyum tipis tidak terlalu lama, hanya cukup untuk membuat jantung Aira berdegup kencang.

“Aduh… kenapa tiap kali dia menatap, rasanya… aneh banget?”, gumam Aira, menunduk pelan, wajahnya merah muda.

Dipta menghampiri bangku tempat Aira duduk. “Serius amat baca terus… jangan sampai catatan itu bikin pusing,” katanya dengan nada sedikit pedas, tapi rendah dan terdengar santai.

Aira menoleh, mencoba menahan tawa. "Eh… aku biasanya bisa belajar sendiri…”

Dipta mengangkat satu alis, tatapannya intens tapi tidak menakutkan. “Kalau terlalu santai, jangan salahkan aku kalau kau tertinggal.”

Deg-degan Aira meningkat. Tatapan misterius tapi menarik itu membuatnya sulit konsentrasi pada catatan. Ia hanya bisa tersenyum malu, sambil berusaha menulis catatan.

Beberapa teman Dipta dari kelas IPA mulai muncul di area lapangan. Angger, Raka, Bayu mencoba mendekati Aira dengan gaya mereka sendiri, bercanda atau memberi komentar ringan. David tetap observatif, memperhatikan momen-momen antara Dipta dan Aira, tapi tetap sopan karena mereka satu IPA.

“Aku cuma bantuin catatan biologi sedikit… tapi rasanya cukup efektif,” kata Bayu sambil tersenyum, meletakkan buku catatan di samping Aira.

Raka menambahkan dengan humor, “Kalau aku jadi pengamat, deg-degan paling kentara pasti kalau sama aku.”

Aira tersenyum tipis, tapi hatinya tetap terasa hangat dan deg-degan lebih nyata saat Dipta menatapnya sebentar, menegaskan kehadirannya tanpa perlu bicara banyak. Dipta duduk beberapa bangku di dekat Aira, pura-pura melihat catatan sendiri. Sesekali ia menatap Aira sekilas, lama tapi tidak berlebihan. Dan ikatan halus itu, mulai terasa lebih nyata.

Tatapan singkat yang membuat Aira tersipu, senyum samar yang muncul tak sengaja. Aira menyadari bahwa perhatian ini berbeda dari teman-teman lainnya, tapi ia masih bingung dengan maksud Dipta.

Angger, Raka, David, dan Bayu mencoba bersaing dengan cara mereka sendiri, tapi Dipta tetap memimpin secara halus. Menegur ringan jika teman-temannya terlalu berlebihan. Menjaga momen agar Aira tetap nyaman, tapi tetap membangun ketegangan. Tetap diam di saat yang tepat, membuat tatapan dan senyumnya lebih efektif.

Setelah lapangan, Aira menuju kantin untuk membeli minum. Ia duduk sendiri sebentar, membuka catatan. Tiba-tiba, Bayu datang membawa jus.

“Biar aku yang beliin, biar nggak repot,” katanya.

Aira tersenyum malu. “Ah… nggak apa-apa, aku bisa ambil sendiri kok, Kak…”

Bayu mengangkat bahu, tapi tetap tersenyum. “Yaudah… tapi aku cuma bantu.”

Beberapa detik kemudian, Dipta muncul dari sisi lain kantin, membawa buku catatannya. Ia menatap Aira sebentar, senyum tipis kembali muncul.

“Kenapa tiap dia ada, rasanya hati ini berdebar terus ya… tapi aku masih nggak ngerti maksudnya”, gumam Aira, menutup catatannya sebentar dan tersenyum malu.

Malamnya, kamar Aira dipenuhi cahaya hangat dari lampu belajar. Catatan Biologi masih terbuka di meja, tapi pikirannya jauh dari buku. Hari itu terasa berbeda, lebih hidup, lebih seru, tapi juga sedikit membingungkan.

Ia menghela napas pelan, menatap jendela kamar. Suara burung malam dan angin yang masuk lewat jendela membuat pikirannya lebih jernih.

“Kenapa setiap kali dia ada… rasanya jantung ini berdegup aneh?”, gumamnya.

Ia menutup buku sebentar dan menaruh pensil di samping, membiarkan dirinya merenung.

Aira mengingat hari itu di perpmerenung. Cara Dipta menunjukkan buku yang tepat, menjelaskan sedikit intinya. Tatapan intens tapi singkat, membuatnya tersipu. Komentar pedas tapi menyenangkan di lapangan, yang masih terngiang di kepala.

“Kenapa rasanya… berbeda dari teman-teman lain?” pikirnya, tersenyum tipis. Ia menyadari, perhatian Dipta bukan hanya soal bicara atau membantu, tapi juga cara dia hadir di saat yang tepat.

Ia menulis di buku catatannya, tapi bukan soal Biologi. Lebih ke catatan pribadinya.

“Deg-degan… tapi nyaman. Bingung… tapi senang. Kenapa kakak kelas ini selalu muncul di momen yang tepat?”

Ibunya masuk sebentar, membawa segelas teh hangat. “Masih mikirin sekolah baru?”, tanyanya.

Aira tersenyum, menerima teh itu. “Iya, Bu… sekolahnya menyenangkan… tapi ada satu kakak kelas… agak aneh deh rasanya.”

Ibunya tersenyum misterius. “Ah, kenapa aneh? Ada yang spesial ya?”

Aira tersipu, menunduk. “Ah… nggak juga, Bu… cuma… dia… kayak hmm… perhatian tapi misterius gitu.”

Ibunya tertawa ringan. “Kalau begitu… nikmati saja. Tapi jangan sampai lupa belajar, ya.”, nasehat ibunya.

Aira mengangguk sambil tersenyum, merasa nyaman. Kehadiran orang tuanya menenangkan, tapi pikirannya tetap terisi oleh bayangan Dipta dan tatapan intensnya.

Aira juga sadar, beberapa teman Dipta. Angger, Raka, Bayu, dan David kadang ikut muncul di lapangan atau perpustakaan. Meski mereka sopan, Aira merasa sedikit bingung. Kadang ia tersenyum sendiri saat menyadari ada orang yang bersaing untuk perhatian tapi cara mereka berbeda.

“Tapi… rasanya, cara kakak kelas itu… beda. Lebih halus, tapi bikin aku… susah napas.”

Ia menutup catatan dan merebahkan diri sejenak, membiarkan semua perasaan itu mengalir. Senyum tipis muncul, wajahnya memerah sendiri. Dalam pikirannya, Aira belum tahu. Bahwa setiap tatapan, komentar, atau bantuan Dipta bukan sekadar perhatian biasa. Ada strategi halus di balik cara Dipta mendekati dan mengawasinya. Persaingan teman-teman Dipta juga menjadi bagian dari “aturan main” yang tidak ia sadari. Namun, hal itu membuat Aira penasaran dan sedikit tertantang, meski ia sendiri tidak tahu alasannya.

“Entah kenapa, aku ingin tahu lebih banyak tentang dia… tapi juga ingin tetap fokus sama diriku sendiri”, gumamnya.

Ia menatap jendela, bayangan lampu jalan di luar, dan tersenyum. Hari-hari ke depan akan terasa lebih seru dan sedikit membingungkan. Tapi Aira merasa siap, meski rasa penasaran masih menggelayut.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • DIPTA   BAB 122 Amarah Dipta

    Pagi di Jakarta tidak lagi terasa biasa. Di beberapa kanal berita bisnis, forum internal, dan media sosial profesional, narasi tentang Aira mulai berubah arah. Bukan karena rumor berhenti namun karena “dibantah dengan cara yang tepat”. Hadiyasa Mahesa tidak banyak bicara di publik. Namun timnya bergerak cepat di belakang layar. Sementara itu di Rajendra Engineering, Dipta Niskala Mahesa sudah menyiapkan satu pola, bukan klarifikasi emosional, hanya koreksi data. Internal memo & media counter. “Tidak ada hubungan struktural pribadi dalam proses kerja Aira di perusahaan.” “Seluruh akses dan jabatan diberikan berdasarkan evaluasi kinerja internal.” “Isu pribadi tidak memiliki relevansi terhadap operasional perusahaan.” Bahasanya memang di buat dingin namun sangat mengguncang dan efektif. Dipta juga memberi satu kalimat tambahan Di dalam meeting internal, dia hanya berkata, “Kita tidak membalas rumor dengan emosi, kita balas dengan fakta yang tidak bisa dipelintir.” Di

  • DIPTA   BAB 121 Belum Usai

    Gedung Rajendra Engineering hari itu terasa berbeda. Bukan karena aktivitas tapi karena satu nama yang mulai mengubah cara semua orang bekerja. Arjito Rajendra, setelah kehadirannya kemarin, tidak ada lagi yang menganggap ini kunjungan biasa. Pagi ini, berubah jadi sesuatu yang lebih serius. Ruang meeting internal, semua kepala divisi sudah dipanggil. Tidak ada agenda resmi sebelumnya dan tidak ada email panjang, hanya satu kalimat. “Audit internal langsung oleh pemegang saham mayoritas aktif.” Bisik-bisik mulai muncul. “Pemegang saham?” “Bukannya ini perusahaan Dipta yang jalan?” “Tunggu, Pak Arjito masih punya saham?” Arjito masuk Pintu terbuka. Langkahnya tenang, tidak membawa banyak orang. Hanya satu folder kecil di tangan, ia duduk tidak banyak basa-basi. “Kita mulai.” Suara datar tapi langsung membuat ruangan diam total. Di sisi kanan Arjito ada Dipta tidak bicara banyak, hanya membuka laptop dan menyiapkan data real-time. Aira duduk di sebelahnya, lebih t

  • DIPTA   BAB 120 Orang Lama Kembali Muncul

    Malam sudah benar-benar larut ketika mobil memasuki area rumah. Lampu pagar Arjito Rajendra sudah menyala dari tadi dan dia sudah berdiri di depan pintu rumah. Diam, tegak seperti memang menunggu sejak lama. Di dalam mobil, Aira baru membuka mata pelan. “Udah sampai?” Dipta mengangguk. “Iya.” Aira menghela napas kecil. “Aku ketiduran lagi.” Dipta melirik sekilas. “Kamu capek.” ucanya singkat tapi ada maknanya. Mobil berhenti, Aira turun duluan. Baru dia sadar, Arjito sudah berdiri di depan. Tatapannya tidak keras tapi juga tidak ringan. Aira langsung sedikit menunduk. “Ayah…” Arjito hanya mengangguk. “Masuk.” perintah Arjito singkat, tidak ada pertanyaan dulu. Dipta turun terakhir. Pandangan mereka bertemu, cukup lama tak ada yang memutus. Lalu, Arjito menoleh ke Dipta. “Kamu ikut masuk.” Nada datar dan jelas. Di dalam rumah, Aira sempat melangkah ke arah tangga. Arjito langsung berkata pelan, “Kamu mandi. Istirahat.” Aira berhenti. “Tapi Yah—” Arjito memoto

  • DIPTA   BAB 119 Semua Jejak yang Terbuka

    Malam itu di Jakarta, hujan turun pelan. Di dalam Rajendra Engineering, sebagian besar lantai sudah kosong. Tidak dengan satu ruangan kecil di sisi belakang gedung, di ruang IT Dipta berdiri diam di belakang layar monitor. Aira duduk di kursi depan, menatap data yang baru saja mereka kunci. “Dia sudah mulai panik.” IT mengangguk cepat. “Log aksesnya berubah pola sejak dua puluh menit lalu, Pak.” Dipta langsung menyipitkan mata. “Jelaskan.” “Dia coba login dari tiga device berbeda dalam waktu singkat…" ucap IT, ia berhenti sejenak. "dan satu di antaranya pakai VPN luar negeri.” Aira langsung menoleh. “Dia mau hapus jejak.” Dipta mengangguk pelan. “…atau dia disuruh hilang.” Sunyi sejenak, lalu IT menambahkan cepat. “…dan ada satu hal lagi.” Dipta menatapnya. “Apa?” “File yang dia akses terakhir… sedang dicoba dihapus dari server internal.” lanjut IT itu. Aira langsung berdiri. “Cepat blokir.” Dipta mengangkat tangan. “Sudah.” ucapnya tenang namun terdengar ding

  • DIPTA   BAB 118 Jejak dan Nama di Balik Akses

    Sore di Jakarta terasa lebih cepat gelap. Di dalam mobil yang melaju pelan, Andine tidak banyak bicara. Ayahnya, Dodi Prasetya, duduk di sebelahnya sambil melihat tablet. “Kita terlalu cepat buka kartu tadi.” Suara Dodi datar. Andine menoleh sedikit. “Tapi kalau tidak dibuka, mereka akan terus tekan kita.” Dodi diam sebentar. “Tekanan bukan masalah... yang jadi masalah adalah arah tekanan.” Andine menatap keluar jendela. “Mereka mulai lihat cash flow.” Dodi mengangguk kecil. “…dan itu berarti kita tidak bisa main di angka lagi.” Andine menghela napas. “Kalau begitu kita pakai cara lain.” Dodi meliriknya. “Hati-hati... Dipta bukan tipe yang bisa dipaksa lewat satu jalur.” Andine tersenyum tipis. “Aku tahu.” Tapi senyum itu tidak sampai mata. Beberapa jam kemudian, Andine sudah di ruangannya sendiri. Lampu redup, laptop terbuka. Beberapa file lama dibuka ulang, file internal Rajendra Engineering bagian operasional Aira dan bukan itu saja folder lain seperti data karyaw

  • DIPTA   BAB 117 Kursi di Meja yang Sama

    Pagi di Rajendra Engineering terasa berbeda. Bukan karena pekerjaan. Namun karena sistem internal baru saja berubah. Dipta berdiri di depan layar monitor IT. “Filter semua akses.” Nada suaranya datar dan tegas. “Semua file yang menyangkut Aira.” Tim IT saling pandang. “Pak, itu termasuk—” “Iya.” Dipta memotong. “…semua.” Aira berdiri di belakangnya, Aira sedikit terdiam. “Pak, itu terlalu—” Dipta menoleh. “Terlalu apa?” Aira ragu untuk mengatakan, tapi tetap ia ucapkan. “Terlalu ketat.” Dipta langsung menjawab. “Justru karena itu.” Ia menatap layar lagi. “…kamu sekarang bukan cuma target kantor, tapi target luar juga.” Di luar gedung, telepon, grup chat, media kecil, forum anonim mulai ramai. “Sekretaris CEO punya anak…” “Tapi nggak pernah ada suami terlihat…” “Anaknya siapa?” “Kok sering bareng CEO?” Meski begitu yang paling berbahaya bukan pemberitaannya, melainkan yang paling berbahaya foto. Aira sedang menggandeng anak kecil, Askara saat di taman atau men

  • DIPTA   BAB 106 Peringatan dari Andine

    Mobil tetap melaju dengan tenang, tidak ada yang mengejar dan tidak ada yang mencurigakan lagi di kaca spion. Seolah semuanya biasa saja tapi justru itu yang bikin Aira tidak bisa benar-benar santai. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi. Matanya melihat ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala

  • DIPTA   BAB 105 Di Buntuti

    Aira mencoba melanjutkan makannya, sendok kembali bergerak. Roti diambil, jus diminum, tidak ada yang benar-benar masuk. Fokusnya sudah hilang, matanya memang ke piring tapi pikirannya ke satu titik yang sama memandang jam tangan itu. “Masih dipakai…” Kalimatnya sendiri terulang. Dan jawaban Dipt

  • DIPTA   BAB 104 Canggung

    Pintu kamar tertutup pelan. ‘Klik.’ Aira bersandar beberapa detik di balik pintu. Tangannya masih menggenggam handle pintu, seolah belum benar-benar siap melepas momen barusan. “Kenapa sih aku ngomong sejauh itu…" gumamnya pelan. Ia menghela napas panjang, lalu akhirnya melepas tangannya dan m

  • DIPTA   BAB 1 Hari Pertama Humaira

    Humaira Navya Aruna atau biasa akrab dipanggil Aira menatap halaman depan sekolah baru itu dengan mata berbinar campur gugup. Gedung tinggi, cat krem yang rapi, kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi yang lembut. Semua terlihat begitu megah, berbeda dari sekolah lamanya yang sederhana. Jalan setap

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status