Home / Romansa / DIPTA / BAB 73 Duri dan Pantikan Bara Kecil

Share

BAB 73 Duri dan Pantikan Bara Kecil

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-05-08 13:53:10

Dipta baru sampai di rumahnya sendiri malam itu. Bukan rumah orang tuanya, hanya rumah pribadi yang biasanya sunyi dan memang sengaja ia biarkan sunyi.Ia masuk, menutup pintu, lalu melepas jasnya pelan. Tidak langsung mandi, ia hanya berdiri sebentar di tengah ruang tamu. Lalu satu per satu ingatan hari itu muncul lagi.

Di mobil sore tadi, Aira yang duduk di sampingnya, pura-pura fokus ke tablet padahal jelas tidak sepenuhnya tenang. Nada suaranya saat menjawab telepon. “Iya, nanti Mama beli
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 146 Lokasi Proyek

    Mereka sampai tepat pukul 10.00. benar-benar pas. Area proyek sudah cukup ramai. Beberapa tim dari PT Arkananta Konstruksi Nusantara sudah lebih dulu berada di lokasi, lengkap dengan helm proyek dan rompi keselamatan. Begitu mobil Dipta berhenti, beberapa pasang mata langsung menoleh. Dipta turun lebih dulu,angkahnya tegas seperti biasa. Aura dingin, profesional, tetap ada, namun hari ini ada yang beda. Wajahnya lebih “hidup”, matanya lebih terang. Bahkan garis tegas di wajahnya terlihat lebih ringan. Kalau orang tidak tahu mungkin dikira benar-benar habis dapat proyek besar. Sementara di sisi lain, Aira turun dari mobil. Secara tampilan tetap rapi, cantik dan profesional. Make-up tipisnya berhasil menutupi lingkar hitam di bawah mata. Namun raut wajahnya, masih ada sisa kelelahan meski samar tapi terasa dan cara jalannya yang sedikit lebih hati-hati cukup menjelaskan segalanya bagi orang yang peka. Dipta melirik sekilas. 'Kayaknya masih capek ya…' Belum sempat mereka melangkah le

  • DIPTA   BAB 145 Setelah Bangun

    Saat semuanya benar-benar berhenti, jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Aira bahkan tidak sempat berkata apa-apa. Begitu tubuhnya menyentuh ranjang, matanya langsung terpejam. Tenaganya benar-benar habis. Napasnya pelan, teratur. Wajahnya masih menyisakan lelah dan juga damai. Dipta yang masih terjaga hanya bisa menatapnya beberapa detik. Lalu perlahan dia menarik tubuh Aira ke dalam dekapannya. Aira tidak bereaksi. Sudah terlalu lelah bahkan untuk sekadar menggerakkan tubuh. Senyum kecil muncul di wajah Dipta. Tangannya mengusap punggung Aira pelan. Sesekali dia menunduk, memberi kecupan singkat di dahi, di pelipis bahkan di bibirnya dengan lembut. “Istri kecil…” gumamnya pelan. Kalimat itu terdengar hampir seperti kebiasaan lama. Namun maknanya sekarang sudah berbeda. Dulu, Aira adalah gadis yang lugu, polos dan penurut. Apa pun yang dia katakan, Aira ikuti. Sekarang Dipta menatap wajah Aira lagi. “Udah nggak kecil lagi ternyata…” bisiknya sambil terkekeh pelan. Aira se

  • DIPTA   BAB 144 Hukuman

    Waktu terasa berjalan lambat. Napas yang tadinya tidak teratur, perlahan mulai kembali normal. Keheningan memenuhi kamar itu, tapi bukan keheningan yang canggung justru terasa hangat dan penuh sisa-sisa emosi yang belum sepenuhnya hilang. Lebih dari satu jam berlalu, Dipta akhirnya bergerak lebih dulu. Dia menatap Aira yang masih berbaring membelakanginya, tubuhnya terlihat lemas, napasnya pelan, jelas kelelahan. Senyum tipis muncul di wajah Dipta. Dia mendekat sedikit, lalu memberi kecupan singkat di dahi Aira. “Terima kasih…” ucapnya pelan. Aira tidak menjawab hanya menarik napas pelan, masih terlalu lelah untuk bicara. Dipta terkekeh kecil. 'Dia yang mulai… dia juga yang tumbang duluan.' batinnya. Tangannya terangkat, mengusap lembut kepala Aira, menyelipkan beberapa helai rambut yang berantakan ke belakang telinga. “Ini cobaan… atau keberuntungan ya…” gumamnya pelan, setengah bicara pada dirinya sendiri. Cobaan karena semua ini berawal dari emosi Aira yang dipantik ol

  • DIPTA   BAB 143 Malam Panjang

    Pintu kamar terbuka pelan. Dipta masuk sambil membawa beberapa kantong makanan di tangannya. Suasana kamar langsung terasa sunyi dan sepi. “Aira?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Dia melangkah lebih masuk, menaruh makanan di meja kecil. Matanya menyapu ruangan, tapi memang tidak ada siapa-siapa. Alisnya sedikit berkerut. “Kemana dia…” Lalu terdengar suara air dari kamar mandi. “Oh…” gumamnya pelan, mengangguk kecil. Mungkin lagi di kamar mandi. Tanpa pikir panjang, Dipta mulai membuka satu per satu bungkus makanan, menatanya di atas meja. Gerakannya rapi, teratur, seperti biasa. Sementara itu, di balik pintu kamar mandi Aira berdiri di depan cermin. Dia baru saja selesai mencuci tangan. Perlahan, dia menyemprotkan parfum tipis di pergelangan tangan dan lehernya. Aroma lembut langsung menyebar, tidak menyengat, tapi cukup untuk meninggalkan kesan. Tangannya lalu mengambil lip balm dioleskan tipis di bibirnya. Matanya menatap bayangannya sendiri. Ingatan itu kembali pada ucapan S

  • DIPTA   BAB 142 Rencana Aira

    Setelah sampai di hotel, keduanya tidak langsung banyak bergerak. Seharian di luar, berpindah dari meeting ke lokasi proyek, lalu ke mall, cukup menguras tenaga. Begitu pintu kamar tertutup, suasana langsung terasa lebih tenang. Aira meletakkan kantong-kantong belanjaannya di dekat sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya perlahan ke atas tempat tidur. Dia menarik napas panjang, meregangkan tubuhnya sedikit. “Capek juga” gumamnya pelan. Dipta tidak langsung menjawab. Dia hanya meletakkan barang-barang yang dibawanya dengan rapi, lalu duduk di kursi dekat meja, menyandarkan tubuh sejenak. Capek jelas tapi yang lebih terasa justru pikirannya. Masih tertinggal di butik, di percakapan dengan Rendra. Baru saja suasana mulai hening, ponsel Aira berdering. Nama yang muncul di layar langsung membuatnya sedikit tersenyum. “Bunda” ucapnya pelan. Dia langsung mengangkat panggilan itu. Belum sempat bicara banyak, suara kecil yang sangat dikenalnya langsung terdengar dari seberang. “Mamaaa!”

  • DIPTA   BAB 141 Rencana untuk Dipta

    Di sisi lain lokasi proyek, Dipta sedang berbicara dengan Rendra Wijaya cukup serius, membahas teknis lanjutan. Sementara itu, agak menjauh dari mereka, Aira berdiri dengan notenya sedang fokus mencatat seolah tidak peduli dengan sekitar. Langkah kaki seseorang mendekat, Sania. “Sibuk ya.” Aira tidak langsung menoleh dan masih menulis. “Namanya juga kerja.” jawabnya singkat. Sania tersenyum tipis, nada bicaranya masih ringan. “Kamu memang kelihatan profesional.” Aira berhenti menulis, baru menoleh. “Terima kasih.” Beberapa detik awal masih normal. Sampai arah pembicaraan mulai berubah. Sania melirik ke arah Dipta yang sedang berbicara di kejauhan. “Dipta memang seperti itu kalau kerja.” Aira diam menunggu. “Tapi kamu jangan salah paham ya…” lanjut Sania pelan. Aira menatapnya lurus sekarang. “Maksudnya?” Sania tersenyum lebih tipis dan lebih tajam. “Perhatian yang kamu lihat sekarang…" dia berhenti sejenak. “…itu belum seberapa.” Hening. Aira tidak langsung jawab. Sania l

  • DIPTA   BAB 54 Yang Takut dan yang Kembali Mendekat

    Pintu kamar tertutup. Begitu kunci terpasang, Aira langsung bersandar di baliknya. Tubuhnya perlahan merosot ke bawah, tangannya menutup mulutnya sendiri, menahan suara yang sejak tadi ia paksa untuk tidak keluar dan saat itu juga semuanya pecah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi, diam tanp

  • DIPTA   BAB 51 Semakin Menjauh

    Beberapa hari sebelum ujian akhir sekolah dimulai, Dipta semakin jarang punya waktu. Jadwalnya penuh dari pagi sampai sore di sekolah untuk tambahan belajar dan try out, malamnya di rumah atau di apartemen dengan buku-buku dan materi ujian. Karena itu, saat suatu sore Dipta tiba-tiba berkata, “Be

  • DIPTA   BAB 28 Sesi Belajar dan Kedekatan Yang Meningkat

    Hening menyelimuti apartemen. Lampu kuning lembut dari plafon menyorot ke meja belajar mereka. Aira duduk di kursi, buku catatan dan pulpen di tangan, tapi matanya tak lepas dari Dipta. Dipta berdiri di dekat papan tulis, menunjukkan diagram anatomi tubuh manusia. Tapi jaraknya kini lebih dekat dar

  • DIPTA   BAB 14 Perbedaan dan Gesekan

    Aira terbangun bahkan sebelum alarmnya berbunyi. Langit di luar jendela kamarnya masih berwarna abu-abu pucat. Cahaya pagi belum sepenuhnya masuk, tapi cukup untuk membuat bayangan lemari dan meja belajarnya terlihat jelas. Ia menatap langit-langit beberapa detik, lalu semalam kembali. Cahaya layar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status