LOGINPagi di Jakarta tidak lagi terasa biasa. Di beberapa kanal berita bisnis, forum internal, dan media sosial profesional, narasi tentang Aira mulai berubah arah. Bukan karena rumor berhenti namun karena “dibantah dengan cara yang tepat”. Hadiyasa Mahesa tidak banyak bicara di publik. Namun timnya bergerak cepat di belakang layar. Sementara itu di Rajendra Engineering, Dipta Niskala Mahesa sudah menyiapkan satu pola, bukan klarifikasi emosional, hanya koreksi data. Internal memo & media counter. “Tidak ada hubungan struktural pribadi dalam proses kerja Aira di perusahaan.” “Seluruh akses dan jabatan diberikan berdasarkan evaluasi kinerja internal.” “Isu pribadi tidak memiliki relevansi terhadap operasional perusahaan.” Bahasanya memang di buat dingin namun sangat mengguncang dan efektif. Dipta juga memberi satu kalimat tambahan Di dalam meeting internal, dia hanya berkata, “Kita tidak membalas rumor dengan emosi, kita balas dengan fakta yang tidak bisa dipelintir.” Di
Gedung Rajendra Engineering hari itu terasa berbeda. Bukan karena aktivitas tapi karena satu nama yang mulai mengubah cara semua orang bekerja. Arjito Rajendra, setelah kehadirannya kemarin, tidak ada lagi yang menganggap ini kunjungan biasa. Pagi ini, berubah jadi sesuatu yang lebih serius. Ruang meeting internal, semua kepala divisi sudah dipanggil. Tidak ada agenda resmi sebelumnya dan tidak ada email panjang, hanya satu kalimat. “Audit internal langsung oleh pemegang saham mayoritas aktif.” Bisik-bisik mulai muncul. “Pemegang saham?” “Bukannya ini perusahaan Dipta yang jalan?” “Tunggu, Pak Arjito masih punya saham?” Arjito masuk Pintu terbuka. Langkahnya tenang, tidak membawa banyak orang. Hanya satu folder kecil di tangan, ia duduk tidak banyak basa-basi. “Kita mulai.” Suara datar tapi langsung membuat ruangan diam total. Di sisi kanan Arjito ada Dipta tidak bicara banyak, hanya membuka laptop dan menyiapkan data real-time. Aira duduk di sebelahnya, lebih t
Malam sudah benar-benar larut ketika mobil memasuki area rumah. Lampu pagar Arjito Rajendra sudah menyala dari tadi dan dia sudah berdiri di depan pintu rumah. Diam, tegak seperti memang menunggu sejak lama. Di dalam mobil, Aira baru membuka mata pelan. “Udah sampai?” Dipta mengangguk. “Iya.” Aira menghela napas kecil. “Aku ketiduran lagi.” Dipta melirik sekilas. “Kamu capek.” ucanya singkat tapi ada maknanya. Mobil berhenti, Aira turun duluan. Baru dia sadar, Arjito sudah berdiri di depan. Tatapannya tidak keras tapi juga tidak ringan. Aira langsung sedikit menunduk. “Ayah…” Arjito hanya mengangguk. “Masuk.” perintah Arjito singkat, tidak ada pertanyaan dulu. Dipta turun terakhir. Pandangan mereka bertemu, cukup lama tak ada yang memutus. Lalu, Arjito menoleh ke Dipta. “Kamu ikut masuk.” Nada datar dan jelas. Di dalam rumah, Aira sempat melangkah ke arah tangga. Arjito langsung berkata pelan, “Kamu mandi. Istirahat.” Aira berhenti. “Tapi Yah—” Arjito memoto
Malam itu di Jakarta, hujan turun pelan. Di dalam Rajendra Engineering, sebagian besar lantai sudah kosong. Tidak dengan satu ruangan kecil di sisi belakang gedung, di ruang IT Dipta berdiri diam di belakang layar monitor. Aira duduk di kursi depan, menatap data yang baru saja mereka kunci. “Dia sudah mulai panik.” IT mengangguk cepat. “Log aksesnya berubah pola sejak dua puluh menit lalu, Pak.” Dipta langsung menyipitkan mata. “Jelaskan.” “Dia coba login dari tiga device berbeda dalam waktu singkat…" ucap IT, ia berhenti sejenak. "dan satu di antaranya pakai VPN luar negeri.” Aira langsung menoleh. “Dia mau hapus jejak.” Dipta mengangguk pelan. “…atau dia disuruh hilang.” Sunyi sejenak, lalu IT menambahkan cepat. “…dan ada satu hal lagi.” Dipta menatapnya. “Apa?” “File yang dia akses terakhir… sedang dicoba dihapus dari server internal.” lanjut IT itu. Aira langsung berdiri. “Cepat blokir.” Dipta mengangkat tangan. “Sudah.” ucapnya tenang namun terdengar ding
Sore di Jakarta terasa lebih cepat gelap. Di dalam mobil yang melaju pelan, Andine tidak banyak bicara. Ayahnya, Dodi Prasetya, duduk di sebelahnya sambil melihat tablet. “Kita terlalu cepat buka kartu tadi.” Suara Dodi datar. Andine menoleh sedikit. “Tapi kalau tidak dibuka, mereka akan terus tekan kita.” Dodi diam sebentar. “Tekanan bukan masalah... yang jadi masalah adalah arah tekanan.” Andine menatap keluar jendela. “Mereka mulai lihat cash flow.” Dodi mengangguk kecil. “…dan itu berarti kita tidak bisa main di angka lagi.” Andine menghela napas. “Kalau begitu kita pakai cara lain.” Dodi meliriknya. “Hati-hati... Dipta bukan tipe yang bisa dipaksa lewat satu jalur.” Andine tersenyum tipis. “Aku tahu.” Tapi senyum itu tidak sampai mata. Beberapa jam kemudian, Andine sudah di ruangannya sendiri. Lampu redup, laptop terbuka. Beberapa file lama dibuka ulang, file internal Rajendra Engineering bagian operasional Aira dan bukan itu saja folder lain seperti data karyaw
Pagi di Rajendra Engineering terasa berbeda. Bukan karena pekerjaan. Namun karena sistem internal baru saja berubah. Dipta berdiri di depan layar monitor IT. “Filter semua akses.” Nada suaranya datar dan tegas. “Semua file yang menyangkut Aira.” Tim IT saling pandang. “Pak, itu termasuk—” “Iya.” Dipta memotong. “…semua.” Aira berdiri di belakangnya, Aira sedikit terdiam. “Pak, itu terlalu—” Dipta menoleh. “Terlalu apa?” Aira ragu untuk mengatakan, tapi tetap ia ucapkan. “Terlalu ketat.” Dipta langsung menjawab. “Justru karena itu.” Ia menatap layar lagi. “…kamu sekarang bukan cuma target kantor, tapi target luar juga.” Di luar gedung, telepon, grup chat, media kecil, forum anonim mulai ramai. “Sekretaris CEO punya anak…” “Tapi nggak pernah ada suami terlihat…” “Anaknya siapa?” “Kok sering bareng CEO?” Meski begitu yang paling berbahaya bukan pemberitaannya, melainkan yang paling berbahaya foto. Aira sedang menggandeng anak kecil, Askara saat di taman atau men
Sejak malam itu tidak ada yang benar-benar membaik. Aira tetap di kamarnya lebih banyak diam dan lebih banyak menatap kosong. Tangisnya tidak lagi sekeras hari pertama, namun bukan berarti hilang, justru lebih sunyi dan lebih dalam. Empat hari ia tidak sekolah, tidak keluar kamar kecuali ke kamar
Langkah Aira menghilang dengan cepat, tanpa ragu dan tanpa menoleh, yang tertinggal di sana bukan cuma keheningan. Justru kesunyian yang berat, seperti udara tiba-tiba berubah. Tidak ada yang langsung bicara, tidak ada tawa dsn tidak ada candaan lanjutan. Padahal beberapa menit lalu, mereka masih t
Perjalanan pulang terasa seperti mimpi yang terlalu panjang. Aira tidak benar-benar ingat bagaimana ia keluar dari klinik, tidak ingat bagaimana ia naik kendaraan dan tidak ingat jalan yang ia lewati. Semuanya seperti lewat begitu saja, seolah tubuhnya berjalan sendiri, sementara pikirannya terting
Sore itu, sebuah kafe tidak jauh dari pusat kota cukup ramai. Di salah satu sudut, empat orang sudah duduk santai sejak tadi. Angger bersandar di kursi, kakinya selonjoran, Bayu sibuk dengan minumannya dan Raka lebih banyak diam, memainkan sendok di gelasnya. Sementara David tampak santai, ponselny







