LOGIN"Terima kasih, Tante ...." Suara Emma lirih seperti berusaha menahan haru yang ada Rosalinda menggeleng dengan manik mata penuh kasih sayang. "Nggak boleh nangis loh." Emma buru-buru mengusap sudut matanya. "Iya." "Nanti topinya basah." Mereka berdua tertawa bersamaan, membuat beberapa asisten rumah tangga ikut terkekeh. "Aku bantuin bagian apa nih, Tante?" "Sebentar." Rosalinda berjalan pelan dan berdiri di belakang Emma. "Boleh Tante ikatin rambutmu?" Emma yang masih terharu karena perhatian Ibu Rosalinda, hanya bisa mengangguk tanpa bertanya lebih. "Boleh." Dengan sangat hati-hati, Rosalinda menyisir rambut Emma menggunakan jemarinya. Helai demi helai dirapikan. Diikat membentuk ekor kuda sederhana. Lalu topi koki putih itu dipasang perlahan. Sesekali beliau merapikan rambut yang masih keluar. "Nah." Rosalinda mundur selangkah. "Sekarang baru cocok." Emma melihat pantulan dirinya di kaca microwave. Dia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. "Lucu ...." Rosalinda
Jarum jam baru menunjukkan pukul delapan pagi di hari Sabtu yang cerah itu. Namun, dapur rumah keluarga Kai sudah jauh dari kata sepi.Rosalinda berdiri di tengah kitchen island sambil mengenakan celemek berwarna krem. Rambutnya diikat rapi ke belakang. Di hadapannya, beberapa asisten rumah tangga hilir mudik membawa aneka bahan makanan yang baru selesai dicuci."Ayamnya sudah dimarinasi?""Sudah, Bu.""Kentangnya?""Sudah dikupas dan dipotong, Bu."Rosalinda mengangguk, tetapi beberapa detik kemudian kembali bertanya."Bumbu untuk semur sudah lengkap, kan? Pala, cengkeh, kayu manis?""Asisten tersenyum kecil. "Sudah lengkap, Bu."Rosalinda menghela napas lega.Hari ini ia memang sengaja ingin mengajak Emma memasak menu rumahan. Bukan makanan yang terlalu mewah, melainkan hidangan sederhana yang jika dimasak sepenuh hati rasanya tak kalah dengan restoran berbintang.Di atas meja telah tersusun rapi bahan-bahan untuk membuat semur daging sapi, ayam goreng lengkuas, sayur asem khas Sund
Begitu keluar dari ruang kerja Raka, Emma menghapus sudut matanya yang berembun. “Aku harus pergi dari sini sebelum pertahananku jebol,” gumam pelan. Jarak dari mansion Raka ke halte bis sekitar sepuluh menit. Emma mempercepat langkah kakinya karena sudah hampir jam lima sore. Untunglah bis datang tepat waktu sehingga Emma masih bisa mengunjungi sang ayah di rumah sakit. Tak lama kemudian ponsel Emma bergetar, dari banner notifikasi, dia melihat siapa pengirim pesan tersebut. Kai: [Emma, besok sibuk nggak? Mama gue mau ajak lo masak bareng katanya.] Emma membaca ulang pesan itu beberapa kali. Ia menimbang sejenak karena besok dia harus tetap datang mengajar Lilis. Selain itu, dia juga harus minta ijin pada Raka, orang yang paling ingin dia hindari saat ini. Cukup sudah keberaniannya mengajak Raka ngomong tadi. Namun, menolak ajakan Mama Kai, rasanya sangat tidak sopan setelah wanita itu memperlakukannya dengan sangat baik waktu lalu. Setelah berpikir beberapa saat, akhirny
Emma mengembuskan napas perlahan. Dia sebenarnya tidak ingin bertemu, tak ingin membuka percakapan yang mungkin berakhir canggung. Namun, wajah sedih Lilis tadi terus terbayang di kepalanya. Gadis remaja itu tidak pantas ikut terluka karena masalah orang dewasa. Akhirnya Emma berdiri. “Tolong aku, Tuhan,” doanya penuh harap. Dia melangkah menuju lantai lantai bawa. Koridor rumah keluarga Mahendra terasa sunyi. Lampu-lampu gantung memancarkan cahaya keemasan yang lembut. Semakin dekat ke ruang kerja Raka, langkah Emma justru semakin lambat. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Aneh. Padahal mereka sudah pernah melakukan hal yang jauh lebih intim daripada sekadar berbicara. Namun, sekarang ... Mengetuk pintu ruangan itu terasa jauh lebih sulit. Dengan jantung yang berdegup kencang, Emma mengulurkan tangan dan mengetuk daun pintu kokoh itu. Beberapa detik berlalu. Tidak ada jawaban dari dalam. Emma hampir menyerah dan hendak berbalik, Namun, akhirnya terdengar suara berat da
Lilis memutar-mutar pensil di jemarinya sambil menatap soal aljabar yang memenuhi buku latihan."Kak Emma.""Hm?""Siapa sih yang pertama kali bikin huruf dicampur angka? Pengen aku protes."Emma menahan tawa. "Maksudmu variabel?""Iya. Kenapa nggak sekalian aja ditulis angkanya? Hidup ini udah ribet, masa matematika ikut-ikutan bikin misteri."Emma hanya bisa menggelengkan kepala saat mendengar protesan si Lilis."Kalau angkanya sudah diketahui, namanya bukan dicari lagi.""Aku curiga yang bikin aljabar itu lagi gabut," ungkap Lilis dengan keyakinan yang salah. Emma mengambil buku Lilis."Coba lihat. Misalnya ada dua pensil sama tiga pensil.""Mudah.""Nah, sekarang jumlah pensilnya belum diketahui. Makanya kita pakai x."Lilis mengangguk pelan."Oh ... jadi x itu cuma nama sementara?""Betul."Lilis terdiam beberapa detik, lalu mendadak berseru, "Kasihan juga ya."Emma mengernyit. "Siapa?""Si x. Dari dulu dicari-cari orang, ketemu juga nggak."Emma tak mampu menahan tawanya. Ia sa
Tatapan Bima beralih dari Emma ke meja kantin, dan kembali ke Emma, lalu balik menatap nanar deretan hidangan yang tersaji di hadapannya. Nasi goreng sudah mulai dingin, aroma sate taichan yang menggugah selera, hingga minuman buat sahabat-sahabatnya yang belum tersentuh sama sekali. Semuanya mendadak kehilangan daya pikat. "Apa aku bagikan saja ke mahasiswa lain?" pikir Bima Tenggorokannya terasa tersumbat, menyisakan rasa kesat yang begitu pahit saat ia memaksa menelan sesuap makanan. Usaha kerasnya untuk merayakan kembali kebersamaan mereka justru berakhir menjadi panggung sandiwara yang sunyi. Sepasang matanya beralih, menyorot tajam pada pusat dari segala perubahan ganjil ini: Emma. Dada Bima bergemuruh oleh letupan amarah. Gadis itu baru saja menginjakkan kaki di Adiwangsa, tapi sudah berhasil memporak-porandakan tatanan yang mereka bangun selama ini. Keinginan untuk melenyapkan eksistensi Emma dari lingkaran mereka—kalau bisa, menendangnya keluar dari gerbang kampus in
Lilis menyilangkan tangan di depan dada. “Pokoknya kalau bukan Kak Emma, aku nggak mau belajar!”“Kamu tuh—” Raka menarik napas panjang, urat di lehernya nyaris kelihatan. “Lilis, jangan bikin drama.”“Drama apaan! Justru kalau Kak Emma nggak jadi tutorku, maka akan terjadi drama.”Emma yang masih
Ia menatap dirinya lebih lama. Ada jeda. Seakan ia menunggu seseorang di balik cermin itu menyangkal ucapannya. Namun. Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya dirinya sendiri.Emma menghela napas panjang, mengambil tasnya, lalu berbalik.“Pulang saja …” suaranya serak. “Besok … dipikirin lagi.”Lorong ka
Emma menyeka sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu menarik napas panjang sekali lagi—lebih dalam, lebih teratur. Seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia masih bisa berdiri, masih bisa berjalan, masih bisa menghadapi semuanya.Perlahan, kakinya melangkah menuruni undukan t
Keputusan itu tak menunggu lama untuk diberitahukan kepada Emma.Kini, ia kembali duduk di tempat yang sama, dengan punggung tegak menegang. Kedua tangannya menggenggam erat, menguatkan dirinya sendiri untuk mendengar hal yang paling buruk sekalipun.Di hadapannya, dosen dan para staf berjejer deng







