مشاركة

Dalam Dekapan Atasanku
Dalam Dekapan Atasanku
مؤلف: Myafa

Bab 1

مؤلف: Myafa
last update تاريخ النشر: 2026-07-18 16:08:42

“Aku mau membatalkan perjodohan ini.”

Suara Axel–CEO Davis Grup terdengar begitu ringan. Seolah kalimat yang keluar dari mulutnya itu bukan sesuatu yang besar baginya.

Sayangnya, bagi Anasya Raveena–sekretaris Axel, yang baru saja mendorong pintu ruangan CEO, langsung membeku di tempat mendengar kalimat itu.

Reflek tangannya yang memegangi gagang pintu dan hendak mendorong pintu, langsung terhenti.

“Apa kamu gila membatalkan perjodohan ini?”

Suara wanita terdengar begitu kencang. Karena mereka sedang melakukan panggilan video, jadi Nasya–panggilan akrab Annasya Raveena, mendengar pembicaraan itu.

Masalahnya, pembicaraan itu terdengar pembicaraan pribadi, jadi rasanya Nasya tidak berani mendengarkan semua itu.

‘Aku masuk atau tidak?’

Nasya benar-benar bingung dalam situasi ini. Pembicaraan ini tak ada urusan pekerjaan sama sekali.

“Anggap saja aku gila.” Suara Axel kembali terdengar. Ia yang duduk di kursi kebesarannya, tampak tenang saja.

“Dengar, Mama dan Papa akan marah jika mendengar semua ini. Terlebih kamu tidak punya alasan tepat menolak perjodohannya ini.”

Suara wanita yang Nasya ketahui jika itu adalah Bu Aletha—kakak Axel terdengar begitu kencang. Membuat Nasya sedikit ketakutan.

“Dari tadi aku sudah bilang bukan? Aku tidak menyukainya, Kak.” Nada suara Axel terdengar kesal. Nada suaranya pun juga sudah meninggi, mengimbangi lawan bicaranya.

Mendengar Axel berteriak memang bukan hal baru bagi Nasya. Itu sudah seperti makanan sehari-hari. Apalagi jika sedang rapat suaranya bisa menggelegar satu ruangan.

Di situasi seperti ini, mengantarkan dokumen ke ruangan Axel bukanlah pilihan tepat. Mengingat Axel sedang berdebat dengan kakaknya.

Akhirnya, Nasya memutuskan untuk mengurungkan niat mengantarkan dokumen. Ia mundur dan menarik pintu untuk menutupnya.

Sayangnya, tepat saat itu, ia yang melihat ke arah Axel, tak sengaja saling berpandangan. Axel menatap ke arah pintu dan melihatnya di sana.

‘Aduh! Aku ketahuan.’

Jantungnya berdegup kencang. Ia takut jika sampai Axel marah karena baru saja ia mendengarkan obrolan pribadi pria itu.

“Sayang, sedang apa kamu di sana?”

Nasya tercenung, mengerjapkan bola matanya beberapa kali dan memutar kepalanya, memastikan bahwa mungkin ada orang lain dan Axel sedang berbicara pada orang itu.

“Sayang, kenapa diam saja?” Suara Axel terdengar lagi.

“Sayang? Siapa ‘sayang’ yang kamu maksud, Axel?!” Suara Bu Aletha juga terdengar lagi, lebih kencang daripada sebelumnya.

Nasya menelan salivanya. Namun, tidak ada orang lain selain dirinya di ruangan ini. “Saya, Pak?”

Tetapi pertanyaannya tidak dijawab Axel, alih-alih atasannya itu kembali berkata, “Masuk, Sayang. Tepat sekali, aku ingin mengenalkanmu pada seseorang.”

Axel menatap Nasya, bibirnya tersenyum tapi tatapan matanya menyeramkan, seakan ada laser jika Nasya tidak menuruti perintah Axel.

Tak ada pilihan lain. Nasya harus masuk.

Dengan langkah berat, Nasya masuk ke ruangan CEO. Udara dingin di ruangan CEO membuatnya semakin gemetar.

Sepanjang langkahnya menuju ke meja kerja Axel, pandangan Nasya terus tertunduk. Ia tak berani menatap atasannya itu.

Namun, ekor mata Nasya menangkap jika Axel sedang memerhatikannya. Ia memandangi Nasya dari kepala hingga ke ujung kaki.

“Pak, maafkan saya. Saya tidak bermaksud mendengarkan obrolan pribadi Anda.” Nasya menatap Axel dengan wajah polosnya. Ia berharap jika Axel akan memaafkannya dan melepaskannya.

“Tidak masalah jika kamu dengar.”

Mata Nasya berkedip beberapa kali untuk menyadarkan dirinya dengan apa yang baru saja didengarnya.

‘Jika tidak masalah mendengar, kenapa aku ditarik?’

Pertanyaan itu berputar di kepala Nasya. Ia bingung dengan situasi yang dihadapinya sekarang.

“Axel, kamu dengar aku? Kenapa kamu justru pergi?”

Suara Bu Aletha kembali terdengar.

Jantung Nasya semakin berdegup ketika matanya menangkap sepasang sepatu pantofel mengilap di depan kakinya. Dan belum sempat Nasya mencerna yang terjadi, tangannya sudah ditarik Axel.

Terlalu cepat, hingga Nasya terduduk di atas pangkuan Axel di kursi kebesarannya. Refleks Nasya melingkarkan lengannya di leher Axel dan menutup mata.

“Aku di sini, Kak.”

“AXEL, APA YANG KAMU LAKUKAN?! SIAPA WANITA ITU?!”

Mendengar teriakan dari Bu Aletha, Nasya berjengkit kaget, dan semakin membuat Nasya memejamkan matanya.

Kini, tubuhnya ikut berdesir hebat ketika Nasya merasakan sebuah lengan kekar melingkar di pinggangnya, dan satu tangan besar lainnya membelai sisi wajah Nasya.

“Axel, jelaskan padaku. Sekarang!”

“Apa lagi yang perlu dijelaskan, Kak?” Axel menjawab dengan santai. “Sudah jelas aku tidak bisa melanjutkan perjodohan karena aku sudah memiliki kekasih.”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (2)
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Beugh terjebak nih
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
hallo kak aku datang
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 6

    “Sedang memikirkan apa kamu?” Axel seolah dapat melihat perubahan wajah Nasya yang panik setelah tahu akan ke apartemen bersamanya. Walaupun sedikit ragu-ragu, tapi akhirnya Nasya memberanikan diri bertanya. “Kita mau apa di apartemen, Pak?” “Ada banyak yang harus kita bahas.” Suara Axel terdengar enteng. “Kenapa harus di apartemen?” Nasya sampai memiringkan tubuhnya untuk dapat menatap lurus ke arah Axel. “Agar lebih leluasa.” Nasya hanya bisa menelan salivanya. Ia memikirkan leluasa seperti apa yang dimaksud oleh Axel dan harus dilakukan di apartemen. Kemarin saja ada kakaknya, Axel berani menciumnya. Bagaimana nanti jika di apartemen hanya ada mereka berdua? Bisa-bisa akan ada hal yang tak tertuga terjadi. Ingin rasanya Nasya menolak, tapi ia tidak punya keberanian untuk itu. Bukankah Axel sudah bilang untuk mengikuti semua perintahnya selama jadi pacar pura-pura Axel. Dengan jantung berdebar-debar, Nasya duduk manis di mobil yang mengantarkannya ke apartemen Axel

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 5

    “Kamu sudah memutuskan pacarmu ‘kan?” Axel menoleh ke belakang di mana Nasya berada. “Sudah, Pak. Tadi pagi saya sudah memutuskan hubungan dengannya.” Nasya menjawab sambil mengintip dari balik tubuh Axel. Ia memilih bersembunyi agar mantan kekasihnya itu tidak melihat dirinya. Axel tampak menimbang sesuatu, kemudian bersuara kembali, “Kalau begitu, ayo.” Ia mengayunkan langkahnya dengan percaya diri menuju ke lobi. Kini tubuh Nasya terlihat jelas saat tubuh Axel perlahan menjauh. Nasya menekuk bibirnya kesal. Axel memang tidak pengertian sekali. Padahal ia sedang menghindar dari mantan kekasihnya itu. Sekarang, mau tidak mau, Nasya harus menghadapi mantan kekasihnya itu. Dengan ragu-ragu, Nasya terus mengikuti dari belakang dengan membawa tas dan berkas milik Axel, layaknya sekretaris pada umumnya. Sedangkan, Axel berjalan dengan tenang menuju ke lobi. Seperti biasa ia tampak berwibawa dan gagah. Tangannya dimasukkan ke saku celananya dan langkahnya terlihat tenang. Kehadiran

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 4

    Tawaran untuk mendapatkan beasiswa memanglah menggiurkan, apalagi dijamin sampai lulus. Ke depan paling tidak, Nasya tidak akan pusing dengan biaya kuliahnya. Hidup akan terasa lebih ringan, jika biaya kuliah aman. Namun, menjadi kekasih pura-pura Axel masih belum bisa diterima akal sehatnya, jadi ia masih belum menjawab permintaan atasannya itu. Selama perjalanan pulang, Nasya memikirkan tawaran Axel, sampai tanpa terasa langkah Nasya sampai juga di rumah. Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba saja pintu sudah terbuka. Tampak wanita paruh baya di balik pintu. Ia adalah Bu Lisa—ibu tiri Nasya. Seolah hidup ringan yang sedang dibayangkan Nasya, sirna begitu saja melihat ibu tirinya itu. Selama ini Nasya tinggal bersama dengan ayah, ibu tiri, dan adik tirinya. Ibu kandung Nasya meninggal saat Nasya umur delapan tahun. Kemudian ayahnya menikah lagi dan dikaruniai satu anak laki-laki. Nasya pikir kedatangan ibu baru akan mengisi kekosongan karena sang ibu meninggal, tapi nyatanya tid

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 3

    Nasya membelalak. Ucapan Axel itu terdengar begitu enteng dan tak berperasaan sama sekali. Padahal ia sedang meminta seseorang untuk mengakhiri sebuah hubungan. “Dari tadi kamu suka, ya, bikin saya bicara dua kali.” “Maaf, Pak, tapi … tidak bisa, Pak.” Nasya tercekat ketika melihat ekspresi wajah Axel yang berubah datar dan dingin. Mungkin atasannya ini kaget karena Nasya bisa menolak perintah Axel. Jangankan Axel, ia sendiri pun kaget bisa menolak perintah pria itu. Tapi, bagaimana tidak? Ini kehidupan pribadinya, tidak ada hubungannya dengan urusan pekerjaan. Lagipula yang menyeret Nasya masuk ke hubungan pribadi Axel juga pria itu sendiri. Sekarang, mengapa atasannya mengatur kehidupannya? Hening di antara mereka tapi Nasya bisa melihat Axel menghela napas kecil. “Maaf.” Tiba-tiba kata itu yang keluar dari mulut atasannya. Nasya kembali mengerjap. Wah, ada apa dengan atasannya hari ini? “Apa, Pak?” Axel kembali menghela napas dan memutar tubuhnya ke arah meja kerja, mengu

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 2

    Kekasih?! Nasya terperangah mendengar itu. Hubungan mereka tak sedekat itu untuk disebut sebagai sepasang kekasih. Jangankan kekasih, bahkan membicarakan urusan pribadi saja mereka tidak pernah. Mereka profesional, hanya bicara urusan pekerjaan. Ia tahu jika Axel sedang berdebat dengan kakaknya, tapi bukan berarti ia harus ditarik ke dalam lingkaran perdebatan itu. Ia tak mau terlibat dengan atasan yang terkenal tegas dan galak itu. Apalagi sebagai pasangan. “Kakak tidak percaya dia itu kekasihmu.” Suara remeh kakak Axel terdengar lagi, tapi Nasya tetap tidak berani untuk membuka matanya. Sampai— “Kakak ingin bukti?” Tubuh Nasya membeku, cengkeraman Nasya di leher Axel menguat, dan bola matanya terbuka cepat, melebar sempurna, ketika Nasya merasakan bibir Axel menempel bibirnya! “AXEL, KAMU GILA?!” Suara Bu Aletha terdengar jauh lebih kencang daripada sebelumnya bahkan rasanya bisa menembus layar laptop Axel, namun yang Nasya rasakan justru dengungan. Atasannya ini memang g

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 1

    “Aku mau membatalkan perjodohan ini.” Suara Axel–CEO Davis Grup terdengar begitu ringan. Seolah kalimat yang keluar dari mulutnya itu bukan sesuatu yang besar baginya. Sayangnya, bagi Anasya Raveena–sekretaris Axel, yang baru saja mendorong pintu ruangan CEO, langsung membeku di tempat mendengar kalimat itu. Reflek tangannya yang memegangi gagang pintu dan hendak mendorong pintu, langsung terhenti. “Apa kamu gila membatalkan perjodohan ini?” Suara wanita terdengar begitu kencang. Karena mereka sedang melakukan panggilan video, jadi Nasya–panggilan akrab Annasya Raveena, mendengar pembicaraan itu. Masalahnya, pembicaraan itu terdengar pembicaraan pribadi, jadi rasanya Nasya tidak berani mendengarkan semua itu. ‘Aku masuk atau tidak?’ Nasya benar-benar bingung dalam situasi ini. Pembicaraan ini tak ada urusan pekerjaan sama sekali. “Anggap saja aku gila.” Suara Axel kembali terdengar. Ia yang duduk di kursi kebesarannya, tampak tenang saja. “Dengar, Mama dan Papa a

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status