تسجيل الدخول“Kamu sudah memutuskan pacarmu ‘kan?” Axel menoleh ke belakang di mana Nasya berada.
“Sudah, Pak. Tadi pagi saya sudah memutuskan hubungan dengannya.” Nasya menjawab sambil mengintip dari balik tubuh Axel. Ia memilih bersembunyi agar mantan kekasihnya itu tidak melihat dirinya. Axel tampak menimbang sesuatu, kemudian bersuara kembali, “Kalau begitu, ayo.” Ia mengayunkan langkahnya dengan percaya diri menuju ke lobi. Kini tubuh Nasya terlihat jelas saat tubuh Axel perlahan menjauh. Nasya menekuk bibirnya kesal. Axel memang tidak pengertian sekali. Padahal ia sedang menghindar dari mantan kekasihnya itu. Sekarang, mau tidak mau, Nasya harus menghadapi mantan kekasihnya itu. Dengan ragu-ragu, Nasya terus mengikuti dari belakang dengan membawa tas dan berkas milik Axel, layaknya sekretaris pada umumnya. Sedangkan, Axel berjalan dengan tenang menuju ke lobi. Seperti biasa ia tampak berwibawa dan gagah. Tangannya dimasukkan ke saku celananya dan langkahnya terlihat tenang. Kehadiran Axel selalu mencuri perhatian. Semua orang menyapa dengan hormat saat Axel melintas. Tak ada satu pun orang yang berani mendongak saat ada Axel datang. Mereka semua menundukan pandangan. Romi yang tak menyadari siapa Axel justru mengabaikan pria itu. Matanya hanya tertuju pada Nasya yang berjalan di belakang Axel. Ia tak melepas Nasya, seperti sedang menatap buruan. Saat Nasya keluar dari pintu lobi, pandangannya bertemu dengan Romi. Kesempatan itu tidak dilepas begitu saja oleh Romi. Ia langsung meraih tangan Nasya. “Nasya, kita perlu bicara.” Jantung Nasya seketika berdegup dengan kencang. Wajahnya seketika menegang. Ia takut membuat Axel marah. Baik karena sebagai sekretaris Axel pun juga sebagai kekasih pura-pura pria itu. Langkah Axel langsung ikut berhenti. Ia yang sedang akan masuk ke mobil, memutar tubuhnya. Dengan gerakan cepat ia berjalan kembali arah Nasya dan mencengkram tangan Romi. “Lepaskan!” Tatapannya begitu tajam menghujam dan suaranya sedingin es. Alih-alih takut, Romi justru tampak menatap balik dan menantang Axel. “Siapa kamu?” tanyanya. “Saya atasan Nasya.” Cengkeraman tangan yang diberikan Axel semakin kencang. Seolah menyalurkan ancaman yang besar di sana. Berada dalam situasi canggung seperti ini membuat Nasya bingung. Ia takut pertengkaran ini akan menarik perhatian orang. “Lepaskan aku, Rom,” pinta Nasya. Romi melepaskan tangannya yang mencengkram tangan Nasya ketika tahu yang di hadapannya sekarang adalah atasan Nasya. Terlebih lagi Nasya memohon padanya. Bersamaan dengan itu Axel pun melepaskan cengkraman di tangan Romi. Ia langsung menarik Nasya ke belakang tubuhnya. Melindungi Nasya dari mantan kekasihnya itu. Seolah urusan Romi sekarang hanya dengannya. “Saya ingin bicara dengan Nasya.” Tatapan Romi lurus pada Axel. Sudut bibir Axel terangkat sedikit. “Ini kantor dan masih jam kerja. Jadi jangan ganggu Nasya.” Suaranya begitu terdengar tegas. Nasya patut bersyukur karena Axel menyelamatkannya. Ia juga sedang tidak mau menjelaskan apa-apa pada mantan kekasihnya itu. Karena semua sudah jelas. Harusnya pria itu sadar dengan kesalahannya. Romi tak berkutik. Axel menoleh ke arah Nasya yang ada di belakangnya. “Ayo, klien sudah menunggu,” ajaknya. Ia memberikan ruang untuk Nasya berjalan lebih dulu. Buru-buru Nasya mengangguk. Tanpa menatap Romi, ia masuk ke mobil. Disusul oleh Axel kemudian. Napas lega terasa jelas dari Nasya. Ia beruntung bisa lepas dari Romi yang menuntut penjelasan. Saat mobil melaju, ekor mata Nasya sempat menangkap Romi yang memandangi mobil Axel. Ada rasa kecewa yang masih tersimpan di sudut hatinya. Pria yang begitu dicintainya, ternyata tega menyakitinya dengan begitu kejam. “Kamu menyesal putus dari mantan kekasihmu?” Suara Axel tiba-tiba saja memecah keheningan di dalam mobil. Pandangan Nasya buru-buru beralih pada Axel. Ia menggeleng dengan cepat. “Tidak, Pak,” jawabnya. Untuk apa Nasya menyesal? Baginya pria yang sudah mengkhianati tidak pantas untuk dipertahankan. “Bagus.” Pandangan Axel lurus ke depan. Mereka menuju ke restoran tempat bertemu klien. Ada beberapa kerjasama yang sedang Axel kerjakan. Pertemuan berjalan dengan semana mestinya. Tidak ada kendala. Sebagai sekretaris, Nasya tahu tanggung jawabnya. Memastikan semua sesuai dengan rencana atasannya. “Setelah ini apa jadwalku?” Axel yang baru saja masuk mobil, menatap Nasya. Nasya melihat jadwal Axel di tablet yang dibawanya. “Di sini sudah tidak ada jadwal bertemu klien. Apa Pak Axel mau kembali ke kantor?” Suara Nasya terdengar lembut dan sopan. “Tidak.” Axel menggeleng. “Lalu, Pak Axel mau ke mana?” “Ke apartemenku.” “Pak Axel mau pulang? Kalau begitu, saya akan naik taksi saja untuk kembali ke kantor.” Nasya memasukkan tabletnya ke dalam tas. “Kamu tidak perlu kembali ke kantor.” Ucapan itu membuat Nasya seketika menoleh. Ia tampak semringah. Jika ia tidak kembali ke kantor, artinya ia akan pulang cepat. Dengan begitu ia bisa bersantai di rumah. Sayangnya, sebelum kebahagiaan pulang cepat itu didapat, semua langsung sirna dengan satu kalimat perintah dari Axel. “Kamu ikut denganku.” Tunggu …. Ikut dengan Axel artinya ikut ke apartemen Axel. Seketika pikiran Nasya melayang memikirkan hal yang tidak-tidak. Bayangan ciuman kemarin pun langsung terlintas.“Sedang memikirkan apa kamu?” Axel seolah dapat melihat perubahan wajah Nasya yang panik setelah tahu akan ke apartemen bersamanya. Walaupun sedikit ragu-ragu, tapi akhirnya Nasya memberanikan diri bertanya. “Kita mau apa di apartemen, Pak?” “Ada banyak yang harus kita bahas.” Suara Axel terdengar enteng. “Kenapa harus di apartemen?” Nasya sampai memiringkan tubuhnya untuk dapat menatap lurus ke arah Axel. “Agar lebih leluasa.” Nasya hanya bisa menelan salivanya. Ia memikirkan leluasa seperti apa yang dimaksud oleh Axel dan harus dilakukan di apartemen. Kemarin saja ada kakaknya, Axel berani menciumnya. Bagaimana nanti jika di apartemen hanya ada mereka berdua? Bisa-bisa akan ada hal yang tak tertuga terjadi. Ingin rasanya Nasya menolak, tapi ia tidak punya keberanian untuk itu. Bukankah Axel sudah bilang untuk mengikuti semua perintahnya selama jadi pacar pura-pura Axel. Dengan jantung berdebar-debar, Nasya duduk manis di mobil yang mengantarkannya ke apartemen Axel
“Kamu sudah memutuskan pacarmu ‘kan?” Axel menoleh ke belakang di mana Nasya berada. “Sudah, Pak. Tadi pagi saya sudah memutuskan hubungan dengannya.” Nasya menjawab sambil mengintip dari balik tubuh Axel. Ia memilih bersembunyi agar mantan kekasihnya itu tidak melihat dirinya. Axel tampak menimbang sesuatu, kemudian bersuara kembali, “Kalau begitu, ayo.” Ia mengayunkan langkahnya dengan percaya diri menuju ke lobi. Kini tubuh Nasya terlihat jelas saat tubuh Axel perlahan menjauh. Nasya menekuk bibirnya kesal. Axel memang tidak pengertian sekali. Padahal ia sedang menghindar dari mantan kekasihnya itu. Sekarang, mau tidak mau, Nasya harus menghadapi mantan kekasihnya itu. Dengan ragu-ragu, Nasya terus mengikuti dari belakang dengan membawa tas dan berkas milik Axel, layaknya sekretaris pada umumnya. Sedangkan, Axel berjalan dengan tenang menuju ke lobi. Seperti biasa ia tampak berwibawa dan gagah. Tangannya dimasukkan ke saku celananya dan langkahnya terlihat tenang. Kehadiran
Tawaran untuk mendapatkan beasiswa memanglah menggiurkan, apalagi dijamin sampai lulus. Ke depan paling tidak, Nasya tidak akan pusing dengan biaya kuliahnya. Hidup akan terasa lebih ringan, jika biaya kuliah aman. Namun, menjadi kekasih pura-pura Axel masih belum bisa diterima akal sehatnya, jadi ia masih belum menjawab permintaan atasannya itu. Selama perjalanan pulang, Nasya memikirkan tawaran Axel, sampai tanpa terasa langkah Nasya sampai juga di rumah. Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba saja pintu sudah terbuka. Tampak wanita paruh baya di balik pintu. Ia adalah Bu Lisa—ibu tiri Nasya. Seolah hidup ringan yang sedang dibayangkan Nasya, sirna begitu saja melihat ibu tirinya itu. Selama ini Nasya tinggal bersama dengan ayah, ibu tiri, dan adik tirinya. Ibu kandung Nasya meninggal saat Nasya umur delapan tahun. Kemudian ayahnya menikah lagi dan dikaruniai satu anak laki-laki. Nasya pikir kedatangan ibu baru akan mengisi kekosongan karena sang ibu meninggal, tapi nyatanya tid
Nasya membelalak. Ucapan Axel itu terdengar begitu enteng dan tak berperasaan sama sekali. Padahal ia sedang meminta seseorang untuk mengakhiri sebuah hubungan. “Dari tadi kamu suka, ya, bikin saya bicara dua kali.” “Maaf, Pak, tapi … tidak bisa, Pak.” Nasya tercekat ketika melihat ekspresi wajah Axel yang berubah datar dan dingin. Mungkin atasannya ini kaget karena Nasya bisa menolak perintah Axel. Jangankan Axel, ia sendiri pun kaget bisa menolak perintah pria itu. Tapi, bagaimana tidak? Ini kehidupan pribadinya, tidak ada hubungannya dengan urusan pekerjaan. Lagipula yang menyeret Nasya masuk ke hubungan pribadi Axel juga pria itu sendiri. Sekarang, mengapa atasannya mengatur kehidupannya? Hening di antara mereka tapi Nasya bisa melihat Axel menghela napas kecil. “Maaf.” Tiba-tiba kata itu yang keluar dari mulut atasannya. Nasya kembali mengerjap. Wah, ada apa dengan atasannya hari ini? “Apa, Pak?” Axel kembali menghela napas dan memutar tubuhnya ke arah meja kerja, mengu
Kekasih?! Nasya terperangah mendengar itu. Hubungan mereka tak sedekat itu untuk disebut sebagai sepasang kekasih. Jangankan kekasih, bahkan membicarakan urusan pribadi saja mereka tidak pernah. Mereka profesional, hanya bicara urusan pekerjaan. Ia tahu jika Axel sedang berdebat dengan kakaknya, tapi bukan berarti ia harus ditarik ke dalam lingkaran perdebatan itu. Ia tak mau terlibat dengan atasan yang terkenal tegas dan galak itu. Apalagi sebagai pasangan. “Kakak tidak percaya dia itu kekasihmu.” Suara remeh kakak Axel terdengar lagi, tapi Nasya tetap tidak berani untuk membuka matanya. Sampai— “Kakak ingin bukti?” Tubuh Nasya membeku, cengkeraman Nasya di leher Axel menguat, dan bola matanya terbuka cepat, melebar sempurna, ketika Nasya merasakan bibir Axel menempel bibirnya! “AXEL, KAMU GILA?!” Suara Bu Aletha terdengar jauh lebih kencang daripada sebelumnya bahkan rasanya bisa menembus layar laptop Axel, namun yang Nasya rasakan justru dengungan. Atasannya ini memang g
“Aku mau membatalkan perjodohan ini.” Suara Axel–CEO Davis Grup terdengar begitu ringan. Seolah kalimat yang keluar dari mulutnya itu bukan sesuatu yang besar baginya. Sayangnya, bagi Anasya Raveena–sekretaris Axel, yang baru saja mendorong pintu ruangan CEO, langsung membeku di tempat mendengar kalimat itu. Reflek tangannya yang memegangi gagang pintu dan hendak mendorong pintu, langsung terhenti. “Apa kamu gila membatalkan perjodohan ini?” Suara wanita terdengar begitu kencang. Karena mereka sedang melakukan panggilan video, jadi Nasya–panggilan akrab Annasya Raveena, mendengar pembicaraan itu. Masalahnya, pembicaraan itu terdengar pembicaraan pribadi, jadi rasanya Nasya tidak berani mendengarkan semua itu. ‘Aku masuk atau tidak?’ Nasya benar-benar bingung dalam situasi ini. Pembicaraan ini tak ada urusan pekerjaan sama sekali. “Anggap saja aku gila.” Suara Axel kembali terdengar. Ia yang duduk di kursi kebesarannya, tampak tenang saja. “Dengar, Mama dan Papa a







