تسجيل الدخول“Sedang memikirkan apa kamu?”
Axel seolah dapat melihat perubahan wajah Nasya yang panik setelah tahu akan ke apartemen bersamanya. Walaupun sedikit ragu-ragu, tapi akhirnya Nasya memberanikan diri bertanya. “Kita mau apa di apartemen, Pak?” “Ada banyak yang harus kita bahas.” Suara Axel terdengar enteng. “Kenapa harus di apartemen?” Nasya sampai memiringkan tubuhnya untuk dapat menatap lurus ke arah Axel. “Agar lebih leluasa.” Nasya hanya bisa menelan salivanya. Ia memikirkan leluasa seperti apa yang dimaksud oleh Axel dan harus dilakukan di apartemen. Kemarin saja ada kakaknya, Axel berani menciumnya. Bagaimana nanti jika di apartemen hanya ada mereka berdua? Bisa-bisa akan ada hal yang tak tertuga terjadi. Ingin rasanya Nasya menolak, tapi ia tidak punya keberanian untuk itu. Bukankah Axel sudah bilang untuk mengikuti semua perintahnya selama jadi pacar pura-pura Axel. Dengan jantung berdebar-debar, Nasya duduk manis di mobil yang mengantarkannya ke apartemen Axel. Ini adalah kali pertama Nasya ke apartemen Axel. Ia belum pernah diminta Axel untuk sekadar datang atau untuk bekerja di apartemen. Apartemen Axel berada di kawasan elit. Jelas harga satu unit apartemen sangatlah fantastis. Apalagi fasilitas yang didapat sangat lengkap. Sesampainya di apartemen, Nasya dibuat tercengang dengan isi di dalam apartemen. Semua dekorasinya sangat estetik dan mewah. Di sana juga terdapat kaca besar yang menghadap keluar. Menampilkan pemandangan kota dari ketinggian. Beginilah hidup orang kaya. Tinggal di tempat mewah, fasilitas lengkap, dan pemandangan indah. Berbeda dengannya yang hanya tinggal di kamar kecil bekas gudang. Ironi sekali melihat perbedaan itu. “Duduklah.” Mendengar itu Nasya segera duduk di sofa yang berada di ruang keluarga. Sofa itu nyaman, tapi tidak membuat Nasya nyaman karena jantungnya berdegup terus. “Karena akhir pekan kamu akan bertemu dengan kakakku, maka kita harus menyamakan jawaban.” Axel tampak serius bicara. Walaupun sama-sama serius dalam bicara, tapi Nasya merasakan aura yang berbeda dengan saat Axel bicara serius di kantor. “Jadi jika kakakku nanti tanya sejak kapan kita berpacaran. Kamu harus jawab jika kita sudah satu tahun pacaran.” Axel kembali melanjutkan penjelasannya. Setahun? Skenario yang dibuat Axel benar-benar luar biasa. Tidak tanggung-tanggung dengan membuat mereka sudah pacaran lama. “Pak, tapi jika setahun, sepertinya sedikit janggal.” Suara Nasya terdengar ragu. “Kenapa janggal?” Dahi Axel berkerut dalam. “Jika kita sudah setahun menjalin hubungan, saya sudah sangat mengenal Pak Axel?” Axel tampak memikirkan apa yang dikatakan Nasya. “Saya saja tidak tahu apa yang Pak Axel suka dan tidak suka.” “Nanti aku tinggal buatkan daftar apa yang biasa aku suka dan tidak suka.” Nasya hanya bisa pasrah mengikuti semua perintah Axel. Pria itu adalah pemegang kendali. Jadi ia harus menurut. “Satu lagi, jika kakakku tanya, di mana saja kita berkencan, bilang saja jika kita selalu berkencan di apartemen ini.” Axel kembali bersuara. Kencan di apartemen? Apa yang dikira-kira dipikirkan kakak Axel jika tahu adiknya kencan di apartemen. Membayangkan pikiran negatif kakak Axel, rasanya Nasya tidak sanggup. Di apartemen, Axel membuat skenario hubungan mereka. Ia meminta Nasya untuk mengingat semuanya. Jangan sampai ada yang salah dan membuat keluarganya curiga. “Menurutmu apa yang kurang sebagai pasangan yang sedang pacaran?” Axel menatap Nasya. Wajahnya tampak masih belum puas dengan yang sudah direncanakannya. Pandangan pacaran versi Nasya pastinya berbeda dengan Axel. Jadi ia ragu mengatakannya. “Kamu pacaran ‘kan sebelumnya. Jadi coba kamu jelaskan kira-kira apa yang kurang untuk sandiwara kita?” Nasya tampak berpikir. Hubungannya dengan mantan kekasihnya tidak seperti pasangan pada umumnya. Mereka justru jarang berkencan karena harus sibuk bekerja. Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Kita harus punya foto, Pak.” Mata Axel langsung berbinar. “Kamu benar, kita harus punya foto.” Ia langsung berdiri dan berpindah ke samping Nasya. Apa yang dilakukan Axel membuat Nasya mengernyit. “Pak Axel mau apa?” tanyanya. “Kita harus punya foto.” Axel mengeluarkan ponsel dari kantung celananya. Kemudian mengarahkan ponsel ke arahnya dan Nasya. Nasya langsung refleks tersenyum saat kamera membidik ke arahnya. Satu foto akhirnya didapat. Axel melihat ke layar ponselnya. Nasya pun juga ikut melihat ke ponsel Axel. Gambar tidak terlalu buruk. Senyum mereka sempurna. “Ini masih aneh, coba kamu mendekat,” pinta Axel. Ia kembali mengarahkan kamera ke arahnya. Nasya perlahan mengikis jarak di antara mereka. Kini mereka benar-benar sangat dekat. “Lebih dekat lagi.” Mata Nasya membulat sempurna. Ia terlalu terkejut. Padahal ia sudah sangat dekat. Karena Nasya yang terlalu lama, akhirnya Axel menarik wanita itu dan membawanya ke dalam pelukan. “Senyum,” ucap Axel. Alih-alih tersenyum, Nasya justru memandangi Axel penuh keterkejutan. Bagaimana bisa Axel menyuruhnya tersenyum di saat berada dalam situasi intim seperti ini?“Sedang memikirkan apa kamu?” Axel seolah dapat melihat perubahan wajah Nasya yang panik setelah tahu akan ke apartemen bersamanya. Walaupun sedikit ragu-ragu, tapi akhirnya Nasya memberanikan diri bertanya. “Kita mau apa di apartemen, Pak?” “Ada banyak yang harus kita bahas.” Suara Axel terdengar enteng. “Kenapa harus di apartemen?” Nasya sampai memiringkan tubuhnya untuk dapat menatap lurus ke arah Axel. “Agar lebih leluasa.” Nasya hanya bisa menelan salivanya. Ia memikirkan leluasa seperti apa yang dimaksud oleh Axel dan harus dilakukan di apartemen. Kemarin saja ada kakaknya, Axel berani menciumnya. Bagaimana nanti jika di apartemen hanya ada mereka berdua? Bisa-bisa akan ada hal yang tak tertuga terjadi. Ingin rasanya Nasya menolak, tapi ia tidak punya keberanian untuk itu. Bukankah Axel sudah bilang untuk mengikuti semua perintahnya selama jadi pacar pura-pura Axel. Dengan jantung berdebar-debar, Nasya duduk manis di mobil yang mengantarkannya ke apartemen Axel
“Kamu sudah memutuskan pacarmu ‘kan?” Axel menoleh ke belakang di mana Nasya berada. “Sudah, Pak. Tadi pagi saya sudah memutuskan hubungan dengannya.” Nasya menjawab sambil mengintip dari balik tubuh Axel. Ia memilih bersembunyi agar mantan kekasihnya itu tidak melihat dirinya. Axel tampak menimbang sesuatu, kemudian bersuara kembali, “Kalau begitu, ayo.” Ia mengayunkan langkahnya dengan percaya diri menuju ke lobi. Kini tubuh Nasya terlihat jelas saat tubuh Axel perlahan menjauh. Nasya menekuk bibirnya kesal. Axel memang tidak pengertian sekali. Padahal ia sedang menghindar dari mantan kekasihnya itu. Sekarang, mau tidak mau, Nasya harus menghadapi mantan kekasihnya itu. Dengan ragu-ragu, Nasya terus mengikuti dari belakang dengan membawa tas dan berkas milik Axel, layaknya sekretaris pada umumnya. Sedangkan, Axel berjalan dengan tenang menuju ke lobi. Seperti biasa ia tampak berwibawa dan gagah. Tangannya dimasukkan ke saku celananya dan langkahnya terlihat tenang. Kehadiran
Tawaran untuk mendapatkan beasiswa memanglah menggiurkan, apalagi dijamin sampai lulus. Ke depan paling tidak, Nasya tidak akan pusing dengan biaya kuliahnya. Hidup akan terasa lebih ringan, jika biaya kuliah aman. Namun, menjadi kekasih pura-pura Axel masih belum bisa diterima akal sehatnya, jadi ia masih belum menjawab permintaan atasannya itu. Selama perjalanan pulang, Nasya memikirkan tawaran Axel, sampai tanpa terasa langkah Nasya sampai juga di rumah. Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba saja pintu sudah terbuka. Tampak wanita paruh baya di balik pintu. Ia adalah Bu Lisa—ibu tiri Nasya. Seolah hidup ringan yang sedang dibayangkan Nasya, sirna begitu saja melihat ibu tirinya itu. Selama ini Nasya tinggal bersama dengan ayah, ibu tiri, dan adik tirinya. Ibu kandung Nasya meninggal saat Nasya umur delapan tahun. Kemudian ayahnya menikah lagi dan dikaruniai satu anak laki-laki. Nasya pikir kedatangan ibu baru akan mengisi kekosongan karena sang ibu meninggal, tapi nyatanya tid
Nasya membelalak. Ucapan Axel itu terdengar begitu enteng dan tak berperasaan sama sekali. Padahal ia sedang meminta seseorang untuk mengakhiri sebuah hubungan. “Dari tadi kamu suka, ya, bikin saya bicara dua kali.” “Maaf, Pak, tapi … tidak bisa, Pak.” Nasya tercekat ketika melihat ekspresi wajah Axel yang berubah datar dan dingin. Mungkin atasannya ini kaget karena Nasya bisa menolak perintah Axel. Jangankan Axel, ia sendiri pun kaget bisa menolak perintah pria itu. Tapi, bagaimana tidak? Ini kehidupan pribadinya, tidak ada hubungannya dengan urusan pekerjaan. Lagipula yang menyeret Nasya masuk ke hubungan pribadi Axel juga pria itu sendiri. Sekarang, mengapa atasannya mengatur kehidupannya? Hening di antara mereka tapi Nasya bisa melihat Axel menghela napas kecil. “Maaf.” Tiba-tiba kata itu yang keluar dari mulut atasannya. Nasya kembali mengerjap. Wah, ada apa dengan atasannya hari ini? “Apa, Pak?” Axel kembali menghela napas dan memutar tubuhnya ke arah meja kerja, mengu
Kekasih?! Nasya terperangah mendengar itu. Hubungan mereka tak sedekat itu untuk disebut sebagai sepasang kekasih. Jangankan kekasih, bahkan membicarakan urusan pribadi saja mereka tidak pernah. Mereka profesional, hanya bicara urusan pekerjaan. Ia tahu jika Axel sedang berdebat dengan kakaknya, tapi bukan berarti ia harus ditarik ke dalam lingkaran perdebatan itu. Ia tak mau terlibat dengan atasan yang terkenal tegas dan galak itu. Apalagi sebagai pasangan. “Kakak tidak percaya dia itu kekasihmu.” Suara remeh kakak Axel terdengar lagi, tapi Nasya tetap tidak berani untuk membuka matanya. Sampai— “Kakak ingin bukti?” Tubuh Nasya membeku, cengkeraman Nasya di leher Axel menguat, dan bola matanya terbuka cepat, melebar sempurna, ketika Nasya merasakan bibir Axel menempel bibirnya! “AXEL, KAMU GILA?!” Suara Bu Aletha terdengar jauh lebih kencang daripada sebelumnya bahkan rasanya bisa menembus layar laptop Axel, namun yang Nasya rasakan justru dengungan. Atasannya ini memang g
“Aku mau membatalkan perjodohan ini.” Suara Axel–CEO Davis Grup terdengar begitu ringan. Seolah kalimat yang keluar dari mulutnya itu bukan sesuatu yang besar baginya. Sayangnya, bagi Anasya Raveena–sekretaris Axel, yang baru saja mendorong pintu ruangan CEO, langsung membeku di tempat mendengar kalimat itu. Reflek tangannya yang memegangi gagang pintu dan hendak mendorong pintu, langsung terhenti. “Apa kamu gila membatalkan perjodohan ini?” Suara wanita terdengar begitu kencang. Karena mereka sedang melakukan panggilan video, jadi Nasya–panggilan akrab Annasya Raveena, mendengar pembicaraan itu. Masalahnya, pembicaraan itu terdengar pembicaraan pribadi, jadi rasanya Nasya tidak berani mendengarkan semua itu. ‘Aku masuk atau tidak?’ Nasya benar-benar bingung dalam situasi ini. Pembicaraan ini tak ada urusan pekerjaan sama sekali. “Anggap saja aku gila.” Suara Axel kembali terdengar. Ia yang duduk di kursi kebesarannya, tampak tenang saja. “Dengar, Mama dan Papa a







